Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Masalah gitar


__ADS_3

Siang hari.


Mereka sudah ada diruang latihan sebelum pak Edo dan Dendi datang. Bahkan pun mereka datang lebih awal dari yang di jadwalkan.


"Wah.... Alat-alat bandnya bagus-bagus ya." Kata Yayah.


"Iya nih, aku gak sabar pengen cepet-cepet latihan." Angel yang terlihat sedang mencoba memainkan drum.


Keempat sahabat ini terlihat sangat kagum dengan alat-alat band yang begitu keren.


Di ruangan pak Edo.


"Anak-anak itu dihari pertama saja sudah bikin ulah, bayangkan saja bagaimana hari-hari berikutnya." Gerutu Dendi.


"Kenapa kamu yang menggerutu, anak-anak itu kan bikin masalahnya padaku?" Kata pak Edo sambil bersiap-siap untuk menuju ke ruang latihan.


"Bayangkan saja, padamu saja mereka berani begitu apalagi padaku."


"Sudahlah, lebih baik kita langsung keruang latihan."


Diruang latihan.


Ina, Sasa dan Angel mereka sedang sibuk memainkan alat musik yang mereka pegang masing-masing, sedang Yayah ia sibuk mencari keberadaan mik.


"Aduh kemana sih miknya, masa iya sih gak disediain." Gerutu Yayah.


"Cari dulu yang bener, siapa tau keselip dimana gitu. Gak mungkin mereka gak nyediain mik." Kata Sasa.


Pak Edo dan Dendi pun datang.


"Sedang nyari apa kamu?" Tanya pak Edo dengan suara tagasnya yang khas.


"I.... Ini pak, aku lagi nyari mik. Tapi gak ketemu," ucap Yayah dengan gugup.


Pak Edo tersenyum tipis. "Sampai lebaran dinosaurus pun tidak akan ketemu, karena saya tidak menyimpan mik di ruangan ini, saya menyimpannya di ruangan saya." Kata pak Edo. Lalu dia mengeluarkan hpnya dari saku jasnya dan menelpon seseorang.


"Tolong ambilkan mik yang berada di laci meja kerja saya, segera!"


"Baik pak." Suara orang diseberang sana.


Pak Edo pun langsung mematikan panggilannya.

__ADS_1


Cuma ngambil mik diruangannya pun harus minta tolong sama orang dulu buat ngambilin, dasar pak Edo. Gerutu Sasa dalam hati.


"Maaf kak aku mau nanya, kok miknya gak disimpan diruangan ini aja pak?" Tanya Yayah. "Kenapa harus diruangan Bapak?"


"Itu untuk keamanan, karena mik itu harganya mahal, saya yakin kalian tidak akan mampu untuk membelinya."


Keempat sahabat ini sepertinya sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh pak Edo. Tapi mau bagaimana lagi, pak Edo adalah manager mereka.


Issss, dia ini. Dari pada pak Edo mah mendingan kak Dendi. Kak Dendi itu orangnya keliatan kalem dan baik, gak kayak pak Edo! Lagi-lagi Sasa menggerutu dalam hati.


Mereka pun memulai latihan bandnya dengan dilatih oleh Dendi. Dendi sudah tidak perlu repot-repot lagi mengajarkan mereka satu-persatu dalam menggunakan alat-alat band, karena keempat sahabat ini sudah mahir dalam menggunakan alat-alat band.


"Wah, rupanya kalian sudah hebat ya menggunakan alat-alat band ini." Kata Dendi. "Untuk Ina kamu dari tadi salah memegang gitarnya, bukan seperti itu cara memegangnya tapi seperti ini." Dendi yang mencontohkan cara memegang gitar dengan benar.


Ina pun memperagakan apa yang tadi dicontohkan Dendi. "Masih salah bukan seperti itu." Kata Dendi.


"Apakah seperti ini kak cara memegangnya?" Sela Angel sambil merebut gitar itu dari Ina dan memperagakan cara memegang gitar.


Dendi tersenyum sambil bertepuk tangan. "Iya seperti itu Angel, kamu pintar ya." Puji Dendi yang membuat Angel senang tapi justru itu membuat Ina kesal.


"Ini sudah jam istirahat, sekarang kalian istirahat dulu sebentar nanti kita akan lanjut setelah ashar." Kata Pak Edo kemudian berlalu bersama Dendi.


Tapi ada satu hal yang tidak biasa, yaitu Ina yang tidak kelihatan ngobrol dengan Angel, atau lebih tepatnya dia tidak menggubris Angel.


Bukan hanya Angel yang merasa begitu, tapi Yayah dan Sasa pun merasa kalau Ina tidak ingin bicara dengan Angel.


"Temen-temen aku permisi dulu ya." Kata Yayah sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana Yah?" Tanya Ina.


"Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar." Katanya kemudian berlalu.


"Udah jam 3 sore lewat nih, kita ke ruang latihan yuk. Takutnya keduluan sama pak Edo dan kak Dendi." Kata Ina sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.


Sasa dan Angel mengangguk, dan mereka langsung menuju ke ruang latihan.


Di kamar mandi.


Yayah terlihat ragu-ragu ingin menelpon Emaknya. Karena saat Yayah mengumumkan dia lolos audisi dan pamit pada keluarganya, hanya Emak yang terlihat biasa saja dan tidak mengatakan apa-apa selain "Hati-hati neng."


Mak, Eneng rindu sama Emak, tapi Eneng juga gak berani buat nelpon emak. Gumam Yayah dalam hati.

__ADS_1


Dari awal Emak memang tidak setuju kalau Yayah ikut audisi band, dan menjadi anggota band. Terlihat jelas raut wajah kecewa Emak saat Yayah bilang kalau dia lolos audisi band.


Itu benar-benar membuat Yayah ragu untuk menelpon Emak sekarang. Dan akhirnya Yayah pun memutuskan untuk tidak dulu menelpon Emak sekarang-sekarang ini.


Di ruang latihan.


Ina, Angel dan Sasa asyik latihan sambil menunggu pak Edo dan kak Dendi datang.


"Ina kamu inget kan cara megang gitar? Tangannya itu harus begini." Kata Angel sambil memperagakan cara memegang gitar.


"Lo gak perlu deh sok bisa, lagian gitarisnya itu gue bukan Lo!" Bentak Ina.


"Aku cuma ngasih tau kamu aja, kok kamu malah ngebentak aku?!" Kata Angel.


"Jangan sok ngasih tau gue dan gue gak butuh Lo kasih tau." Kemudian pergi sambil membanting pintu.


"Ina mau kemana?" Seru Sasa.


"Kok dia sampe marah begitu. Emangnya aku salah apa sih sama dia, aku kan cuma mau ngasih tau dia aja." Ujar Angel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tak lama Ina pergi, datang Yayah sambil tangannya sibuk mengikat rambutnya yang hanya sebahu.


"Hey, aku nyariin kalian di taman ternyata kalian udah kesini." Kata Yayah sambil menunjukkan wajah pura-pura marah.


"Aduh maaf, sangking takutnya keduluan pak Edo datang kesini kita jadi lupa ngasih tau kamu." Kata Sasa sambil membantu Yayah merapikan rambutnya.


Yayah melihat ke sekeliling mencari keberadaan Ina. "Kalian kok cuma berdua aja, kemana Ina?" Tanya Yayah.


"Tadi Ina keluar ruangan karena marah sama Angel, sebenarnya ini karena salah paham sih." Kata Sasa.


"Yaudah aku nyari Ina dulu ya, takut pak Edo keburu datang." kata Angel yang beranjak dari duduknya.


"Biar aku aja, kalo lagi marah Ina suka susah dibujuknya," ujar Yayah sambil berlalu keluar mencari Ina.


Di taman.


Ina duduk di kursi taman dengan perasaan marah dan kesal, semua itu terlihat jelas diwajahnya.


**Bersambung....


Jangan lupa like, coment, rate, beri hadiah dan vote. Terimakasih 😊**

__ADS_1


__ADS_2