
Yayah sangat menyayangi murid-muridnya. Walau terkadang mereka susah diatur, tapi itu sama sekali tidak mengurangi rasa sayangnya kepada murid-muridnya. Marahnya seorang guru bukanlah marah yang sebenarnya, itu adalah bukti kasih sayang guru kepada muridnya. Agar muridnya tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan kelak muridnya itu menjadi orang yang sukses.
Yayah merebahkan dirinya di sofa ruang tengah, ia sesekali memijat-mijat bahunya karena kelelahan memberikan dan menjelaskan materi bimbel kepada murid-muridnya. Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Yayah.
Pelayan datang dengan membawa segelas jus jeruk segar untuk Yayah, pelayan itu meletakkan jus itu di atas meja yang berada di depan Yayah.
"Ini minumannya, Nona."
"Hmmm.... Terimakasih." Yayah memejamkan matanya dengan harapan mengurangi rasa pusing di kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi." Menunduk hormat sebelum pergi.
"Nona sedang kelelahan?"
"Iya." Masih memejamkan matanya sambil memijit-mijit pelipisnya.
Tangannya terhenti saat ia merasa sangat mengenali suara itu. Saat Yayah membuka matanya, benar saja itu adalah Arsalan yang sedang berdiri di depannya.
Di belakang Arsalan berdiri sekretarisnya yang bernama Kin, ia tersenyum ramah dan menunduk hormat kepada Yayah.
"Sayang, kamu sudah pulang? Aku kira kamu akan pulang pada saat makan malam nanti."
"Aku sengaja pulang lebih cepat, aku sangat rindu ingin bersama istri ku ini." Mencium kening istrinya.
Yayah menatap malu ke arah Kin, ia merasa tidak enak karena Arsalan tiba-tiba mencium keningnya di depan Kin.
Sementara itu, Kin mengalihkan pandangannya ke arah lain saat tiba-tiba Arsalan mencium kening istrinya.
Tuan apakah anda mengundang saya makan malam hanya untuk melihat semua ini. Batin Kin.
"Eh, sekretaris Kin apa kabar?" Berusaha untuk mengusir kecanggungan.
"Saya baik, Nona." Tersenyum sambil menunduk hormat.
"Aku sengaja mengundang Kin makan malam, karena Ibu dan Ayah akan berkunjung dan makan malam di sini bersama dengan kita. Kin sudah di anggap sebagai keluarga oleh kami, jadi akan terasa lengkap keluarga ini jika Kin juga ikut makan malam bersama kita." Jelas Arsalan.
"Ibu dan Ayah akan berkunjung dan makan malam di sini? Kenapa kamu tidak bilang sayang, mungkin dari tadi aku sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Ibu dan Ayah." Protes Yayah.
Arsalan tersenyum, saat istrinya marah dia malah jadi kelihatan menggemaskan menurutnya. Apalagi pipinya yang cabi itu membuat tangan gatal ingin mencubitnya.
__ADS_1
"Sayang kamu tidak perlu melakukan semua itu, aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan semuanya. Lebih baik sekarang kamu naik ke atas dan bersiap-siaplah."
"Kalau begitu aku duluan ke kamar untuk bersiap-siap." Setelah mendapat jawaban Arsalan, Yayah pun langsung berlari kecil menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Setelah Yayah, Arsalan dan Kin selesai bersiap-siap, tak berapa lama Ibu dan Ayah pun datang. Mereka menyambut kedatangan Ibu dan Ayah dengan hangat.
Mereka makan malam bersama sambil mengobrol-ngobrol hangat. Tapi karena satu pertanyaan yang terlontar dari mulut Ibu, membuat kecanggungan di antara mereka.
"Yayah, Arsalan. Jadi kapan kalian akan memberi Ibu seorang cucu." Pertanyaan yang paling Yayah hindari dari Ibu dan Ayah mertuanya ini. Yayah tahu suatu saat nanti mertuanya ini akan menanyakan masalah cucu, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Tuhan belum menghendaki untuk kami memiliki keturunan, tapi kami akan berusaha. Lagi pula kami masih muda, masih memiliki banyak waktu untuk memiliki anak." Yayah menatap suaminya, ia bertanya melalui sorot matanya apakah perkataannya ini benar atau tidak.
"Kalian memang masih muda, tapi Ibu dan Ayah sudah tua. Ibu sudah ingin bermain dengan cucu Ibu."
Saat mendengar penuturan dari Ibu, Yayah jadi merasa bersalah. Sebenarnya Yayah belum ada rencana ingin memiliki anak untuk sekarang-sekarang ini, masih banyak mimpi yang harus ia gapai.
"Kin, kalau kamu apakah sudah ada rencana kapan akan menikah." Tanya Ayah yang membuat Kin hampir tersedak saat mengunyah makanannya.
Kin menelan makannya dengan perlahan. "Saya belum memiliki rencana untuk menikah sekarang-sekarang ini, Tuan besar."
Kenapa aku jadi kebawa-bawa seperti ini. Batin Kin.
"Ayah ini bagaimana, calon saja dia belum punya. Memangnya siapa yang mau menikah dengan es balok seperti dia." Sela Arsalan yang di susul dengan tawanya.
Terimakasih atas ejekannya Tuan Muda.
Sementara itu Ibu dan Yayah hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat Arsalan yang selalu jahil kepada Kin.
"Untuk Yayah dan Arsalan, Ibu akan selalu menunggu kabar baik dari kalian."
Selesai makan malam, Ibu dan Ayah pamit untuk pulang. Arsalan dan Yayah sebenarnya sudah memaksa agar Ibu dan Ayah tidur di rumah mereka. Tapi Ibu dan Ayah tetap kekeh ingin pulang dengan alasan ingin menghadiri acara ulang tahun sahabatnya.
Tak lama Ibu dan Ayah pulang, Kin pun pamit pulang kepada Arsalan dan Yayah.
Di kamar, Yayah tampak termenung karena teringat dengan ucapan Ibu mertuanya yang sudah menginginkan cucu. Yayah merasa takut karena kalau di pikir-pikir sudah lama ia berumah tangga dengan Arsalan, namun belum ada tanda-tanda tentang kehamilan.
Arsalan yang baru keluar dari kamar mandi tampak bingung melihat istrinya yang sedang melamun. "Ada apa sayang, kenapa kamu melamun?" Mengelus-elus lembut rambut istrinya.
"Kamu pasti kepikiran dengan ucapan Ibu, ya."
__ADS_1
"Aku takut sayang, aku takut kalau nantinya kamu akan pergi meninggalkan aku karena aku belum memberikan keturunan untuk kamu." Dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hey, siapa yang akan meninggalkan kamu hah?! Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, walau sekalipun nantinya kamu tidak bisa memberikan keturunan untukku, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."
"Aku takut, aku takut kalau kejadian masa lalu akan terulang kembali. Aku takut kamu meninggalkan aku sama seperti dia dulu." Sudah berlinang air mata.
Arsalan menghela nafas. "Jangan samakan aku dengan laki-laki bodoh itu yang telah menyia-nyiakan kamu. Dengar ini! Aku berjanji akan selalu setia bersama mu, sampai kita sudah tidak bernafas lagi." Memeluk istrinya tercinta.
"Sayang."
"Iya sayang."
"Bukankah kamu ada janji ya sama aku."
Yayah melepas pelukannya. "Janji apa?" Tanyanya bingung.
"Kamu kan akan melanjutkan bercerita kepada ku."
Ingatan mu begitu bagus sekali Tuan Muda.
"Baiklah, aku akan cerita." Dengan senyum yang mengembang.
☀️☀️☀️☀️
Yayah merasa senang karena puisi yang ia buat di muat di Mading. Saat Yayah sedang melihat karyanya itu di mading, tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menyenggolnya.
"Maaf aku gak sengaja." Ujar seorang laki-laki sambil menyatukan kedua telapak tangannya meminta maaf.
"Iya tidak apa-apa." Yayah dengan ramah. Tapi ia merasa baru melihat dia di sekolah dan merasa asing dengan laki-laki ini. "Mmm.... Murid baru, ya?"
"Iya, nama ku Ardin pindahan dari Jakarta." Sambil menyodorkan tangannya.
"Yayah, kelas 9B." Membalas jabatan tangan Ardin. "Kelas berapa?"
"Kelas 9D."
Tak berapa lama datang Ina, Angel dan Sasa sambil tertawa-tawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan. Mereka menghampiri Yayah yang sedang berdiri di depan mading.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan cara baca, like, rate dan coment. Jangan lupa juga untuk Vote. Terimakasih 😊