Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Cinta Tuan Muda


__ADS_3

Semua orang langsung bertepuk tangan memberikan apresiasi kepada Yayah, berbarengan dengan Ina, Angel dan Sasa yang maju ke depan menghampiri Yayah. Mereka berempat pun saling berpelukan.


Pak Bowo tidak mau kehilangan moment yang sangat luar biasa ini, ia pun memfoto keempat sahabat itu tanpa sepengetahuan mereka.


☀️☀️☀️☀️


"Sayang sudah dulu ya ceritanya, aku ngantuk." Rengek Yayah.


"Yasudah kalo begitu kamu tidur, tapi ceritanya lanjutan besok ya saat aku pulang kerja nanti."


Ku mohon Tuan muda, kenapa kamu ini begitu kepo tentang diriku. Padahal aku yakin cerita tentang dirimu lebih menarik.


"Sayang."


Karena tidak ada respon, Yayah menusuk-nusuk hidung suaminya.


"Hmm.... Ada apa, katanya kamu sudah ngantuk." Dengan masih memejamkan matanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Katakan." Sudah membuka matanya.


Yayah tampak berfikir, ia merasa ragu apakah pertanyaannya ini benar atau tidak untuk ditanyakan. "Sayang, kenapa kamu mencintaiku?" Tanyanya dengan takut-takut. Belum ada jawaban sama sekali dari suaminya. "Sayang jawab dong."


"Karena kamu itu bodoh dan ceroboh." Jawaban yang telak. Yayah sampai tidak bisa berkata apa-apa pada suaminya. Akhirnya ia pun memilih untuk tidur sambil memeluk erat tubuh suaminya. Jahat sekali. Batin Yayah.


Aku mencintaimu karena kamu memiliki hati yang bersih. Kepolosan dan keceriaan mu yang membuat aku tertarik padamu. Batin Arsalan, suami Yayah dengan senyum tipisnya sambil menenggelamkan wajah istrinya ke dada bidangnya.


Malam semakin larut, mereka pun tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing.


Paginya seperti biasa, Yayah dan Arsalan sarapan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas mereka.


"Sayang, hari ini aku akan makan malam di rumah." Arsalan lalu mengunyah makanan di mulutnya.

__ADS_1


"Baik sayang, nanti aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkan makanan kesukaan mu." Yayah tersenyum senang lalu menuangkan air kedalam gelas suaminya.


Arsalan meneguk air minum yang telah di sediakan istrinya sampai habis. Arsalan dan Yayah pun selesai dengan sarapan mereka.


Yayah dengan sigap membawakan tas kerja suaminya dan merapikan dasi suaminya. "Sayang aku berangkat kerja dulu." Yayah mengangguk dan tersenyum pada Arsalan suaminya. Lalu ia mencium punggung tangan suaminya, di susul dengan Arsalan mencium kening istrinya.


Sebelum masuk ke dalam mobil Arsalan melambaikan tangan kepada Yayah, yang dibalas dengan lambaian tangan juga oleh Yayah. Mobil pun melaju sampai hilang di belokan. Yayah melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, waktu menunjukkan jam 06.11, Yayah pun langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, Yayah pun berjalan menuju mobil pribadinya.


"Selamat pagi, Nona." Sapa Jajang orang yang di utus oleh Arsalan untuk menjadi supir pribadi Yayah.


Jajang adalah orang yang baik, usianya masih muda tapi dia sudah harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya sudah lama meninggal, sedangkan Ibunya sudah sakit-sakitan. Jajang adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya di penjara karena ketahuan mencuri obat di sebuah apotek, sebenarnya kakaknya terpaksa mencuri karena dia tidak sanggup membeli obat untuk ibunya.


Awal pertemuan Jajang dan Arsalan terjadi karena ketidak sengajaan. Saat itu Arsalan dan sekretarisnya yang bernama Kin sedang menuju keluar kota untuk urusan bisnis, tiba-tiba Kin menghentikan mobil Arsalan yang di kendarainya karena melihat seseorang tergeletak tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Dan orang itu adalah Jajang. Arsalan dan Kin pun segera membawa Jajang ke rumah sakit terdekat, setelah diperiksa ternyata Jajang mengalami dehidrasi. Saat sudah sadar Jajang menceritakan tentang kondisi keluarganya kepada Arsalan dan Kin. Karena tidak tega dengan kondisi yang dialami oleh Jajang, Arsalan pun mempekerjakan Jajang sebagai supir pribadi istrinya.


"Iya, selamat pagi." Yayah menjawab sapaan Jajang.


Dengan sigap Jajang membukakan pintu mobil untuk Yayah. Mobil Yayah yang dikendarai Jajang melaju dengan kecepatan sedang, tidak ada yang bersuara baik Yayah maupun Jajang. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu sekolah SMA tempat Yayah mengajar.


"Siap, Nona." Jawab Jajang cepat.


"Yasudah, kalau begitu saya masuk ke ruang guru, ya." Berlalu meninggalkan Jajang yang masih setia berdiri di tempatnya, saat Yayah sudah masuk ke ruang guru barulah Jajang beranjak dari tempatnya berdiri lalu pergi.


Di ruang guru, Yayah sedang sibuk memeriksa hasil ulangan bahasa Indonesia murid-muridnya. Karena sangking terlalu fokusnya, Yayah sampai tidak mendengar suara bel yang menandakan bahwa kelas akan segera dimulai.


Cukup lama Yayah berkutat dengan kertas-kertas ulangan murid-muridnya, lalu datang seorang murid yang bernama Aksan menghampiri Yayah. Aksan adalah ketua murid kelas 12D.


"Selamat pagi, Bu." Aksan mengetuk pintu ruang guru. Kebetulan di ruang guru hanya ada Yayah, karena guru yang lain sudah pergi ke kelas mereka masing-masing sesuai dengan mata pelajaran dan jadwal mereka.


"Pagi. Iya, ada apa Aksan?" Tanya Yayah yang kebetulan sudah selesai memeriksa hasil ulangan murid-muridnya.


"Maaf Bu, sekarang di kelas 12D ada jadwal mata pelajaran Ibu."


"Memangnya bel masuk sudah berbunyi?"

__ADS_1


"Sudah, Bu."


Yayah menepuk keningnya. Kenapa ia sampai tidak mendengar suara bel masuk, untung saja Aksan datang dan mengingatkannya. Yayah dan Aksan pun langsung berjalan menuju ke kelas 12D. Sesampainya di kelas 12D, Yayah meletakkan hasil ulangan murid-murid kelas 12D di atas mejanya.


"Selamat pagi semuanya." Seru Yayah dengan senyuman khasnya yang selalu disukai oleh murid-muridnya kelas 12D.


"Pagi, Bu." Sahut semua murid kelas 12D.


Tanpa banyak bicara lagi, Yayah pun menyuruh Aksan selaku ketua murid untuk membagikan hasil ulangan harian bahasa Indonesia ke kelas 12D.


Terlihat jelas, tampak semua murid kelas 12D tersenyum senang melihat hasil ulangan mereka yang mendapat nilai tinggi.


"Ibu bangga kepada kalian, terimakasih karena telah belajar dengan baik selama ini. Kalian adalah anak murid Ibu yang baik, rajin, cerdas, disiplin dan juga kreatif. Tidak terasa Senin depan kalian sudah akan menghadapi ujian nasional, kalian harus belajar dengan rajin. Semoga kalian semua lulus dengan nilai terbaik dan kalian menjadi orang yang sukses."


Suasana di kelas 12D pun berubah menjadi haru, semua murid tampak berkaca-kaca mendengar kata-kata Yayah. Setelah lulus nanti mereka pasti akan merindukan guru kesayangan mereka ini, guru yang selalu sabar membimbing mereka. Mereka sangat menyayangi wali kelas tercinta mereka.


"Yasudah, Ibu akan memberikan materi yang akan di bahas nanti saat bimbel sore." Saat Yayah akan menulis di papan tulis, tangannya terhenti saat ia mendengar ucapan salah satu muridnya.


"Kami pasti akan sangat merindukan Ibu guru kami tercinta." Ucap Aya sang murid berprestasi di kelas.


Yayah berbalik dan menghampiri Aya, ia langsung memeluk murid yang sangat di sayanginya itu. Semua murid kelas 12D pun berdiri dan menghampiri Yayah. Ia pun menyalami satu per satu murid-muridnya itu. Sampai bel pergantian jam pelajaran berbunyi.


"Sudah bel, Ibu belum sempat memberikan kalian materi yang akan dibahas pada saat bimbel nanti sore. Tapi kalian jangan lupa buka buku paket bahasa Indonesia halaman 29 sampai 32, nanti materi di halaman 29 sampai 32 akan Ibu bahas di bimbel nanti sore. Belajar yang rajin, ya. Selamat pagi."


"Pagi, Bu." Serempak semua murid kelas 12D. Kemudian Yayah pun berlalu meninggalkan kelas 12D dengan perasaan yang campur aduk.


Yayah sangat menyayangi murid-muridnya. Walau terkadang mereka susah diatur, tapi itu sama sekali tidak mengurangi rasa sayangnya kepada murid-muridnya. Marahnya seorang guru bukanlah marah yang sebenarnya, itu adalah bukti kasih sayang guru kepada muridnya. Agar muridnya tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan kelak muridnya itu menjadi orang yang sukses.


Bersambung....


☀️☀️☀️☀️


Jangan lupa dukung penulis dengan cara like, coment, rate dan juga Vote. Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2