Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Mengejar impian bersama


__ADS_3

"Maaf, Ma. Tapi hati Sasa tetap sakit dan mungkin sekarang rasa sakit itu menjelma menjadi kebencian kepada laki-laki yang ku sebut Papa itu." Kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.


Mama hanya terdiam sambil menatap kain yang di pegangnya itu. Ia berpikir, andai Sasa anaknya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah Sasa malah akan berbalik membencinya.


Keesokan harinya. Terlihat Yayah sudah rapih dengan seragam sekolah, ia berdiri di depan cermin dan mengalungkan dasi ke lehernya. Namun, pagi ini wajahnya tak seceria biasanya. Wajah yang biasa cerah bagaikan mentari pagi yang indah, kini terlihat murung dan gelap bagaikan awan hitam pekat yang siap memuntahkan air hujan.


Matanya berkaca-kaca, di dalam hatinya ada kemarahan dan kekecewaan. Semua ini terjadi karena saat pagi-pagi buta tadi ia menghampiri Emak yang sedang memasak di dapur. Yayah menceritakan tentang rencananya dan sahabat-sahabatnya yang akan mengikuti audisi band. Namun tanpa di sangka, jawaban Emak jauh dari harapan Yayah. "Nanaonan sih, naon mangfaatna emang?!" (Terjemah: Apa-apaan sih, apa manfaatnya emang?!)


"Mak, ieu hobi Yayah. Kajeunnya Yayah ngiluan." (Terjemah: Mak, ini hobi Yayah. Boleh ya Yayah ikutan). Rengek Yayah.


Namun percuma saja, Emak masih tidak mengijinkan. Dan itu membuat Yayah marah dan kecewa. Yayah menatap cermin dengan tatapan marah, ia pun bisa melihat pantulan wajahnya yang terlihat marah itu.


Yayah Pamit berangkat ke sekolah kepada Emak dan Abah, setelah pamit tanpa banyak bicara lagi Yayah langsung cepat-cepat pergi.


Abah menatap heran putrinya itu, karena tidak seperti biasanya Yayah melewatkan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. "Bah, tah kopina." (Terjemah: Bah, ini kopinya). Kata Emak sambil menaruh segelas kopi di meja.


"Mak, si Eneng kunaon meuni cambeutut kitu isuk-isuk? Teu ngilu sarapan tadi ge." (Terjemah: Mak, Si Eneng kenapa cemberut begitu pagi-pagi? Gak ikut sarapan tadi juga).


Tapi Emak hanya diam tak menjawab.


Di sekolah, Yayah yang biasanya ceria dan cerewet, sekarang dia hanya berdiam diri di kelas padahal sekarang adalah jam istirahat.


Tina teman sebangku Yayah pun merasa heran melihat temannya itu tak seceria biasanya. "Yayah, are you ok?"(Terjemah: Yayah, kamu baik-baik saja?) Tanya Tina yang dari tadi berdiri di samping Yayah.


"I'm fine, don't worry." (Terjemah: Aku baik-baik saja, jangan khawatir). Yayah dengan senyum di paksakan.


Tapi Tina rupanya tahu kalau temannya ini tidak sedang baik-baik saja. "Kita ke kantin yuk! aku udah lapar banget nih. Nanti aku turaktir." Kata Tina dengan bahasa Indonesia yang belum lancar.


Tina adalah murid baru pindahan dari India, dia baru beberapa bulan di Indonesia. Tapi hebatnya Tina, dia sangat mudah menyesuaikan diri dan bergaul dengan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Traktir, not a turaktir." (Terjemah: Traktir, bukan turaktir). Ujar Yayah membetulkan perkataan Tina.


"Oh, i forget." (Terjemah: Oh, aku lupa). Menepuk keningnya. "now, shall we go to the canteen ?! I am very hungry." (Terjemah: Sekarang, bisakah kita pergi ke kantin?! aku sangat lapar). Merengek sambil mengusap-ngusap perutnya.


"Ok, but I'm not eating." (Terjemah: Ok, tapi aku gak ikut makan). Beranjak dari duduknya.


"Why?" (Terjemah: Kenapa?)


Yayah hanya tersenyum hambar kepada Tina.


Pulang sekolah, Yayah langsung masuk ke dalam kamar, tanpa mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah. Yayah tahu apa yang dia lakukan ini salah, tapi Yayah sungguh kecewa kepada Emak yang tidak mengijinkannya untuk ikut audisi band. Itu hobinya dan dia menyukainya, mempunyai grup band itu bukanlah sesuatu yang di larang. Lalu apa salahnya Yayah mengikuti audisi band itu, tega sekali Emak melarangnya.


Yayah benar-benar sangat bingung, apa yang akan ia katakan pada sahabat-sahabatnya nanti. Pasti mereka akan sangat kecewa padanya.


Hiks!


Sungguh situasi yang sangat membingungkan. Tok....Tok....Tok..... Suara pintu di ketuk. " Neng, tos uwih?" (Terjemah: Neng, udah pulang?) Terdengar suara Abah yang memanggil namanya.


"Kunaon? Abah ningal Eneng ceurik." (Terjemah: Kenapa? Abah lihat Eneng nangis). Abah menatap bingung wajah putrinya.


Yayah menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya sebelum bercerita, setelah di rasa hatinya sudah mulai tenang, Yayah pun menceritakan semuanya kepada Abah.


Abah tersenyum setelah mendengar cerita putrinya itu. "Udag, udag kabe'h mimpi mane'h jeung babaturan mane'h." (Terjemah: Kejar, kejarlah semua mimpi mu dan teman-teman mu).


"Tapina, Emak kumaha?" (Terjemah: Tapi, Emak bagaimana?)


"Emak jadi urusan Abah."


Yayah tersenyum bahagia karena Abah mendukungnya. Yayah berharap semoga Abah bisa meyakinkan Emak, dan supaya Emak memberikan restu dan dukungan kepadanya.

__ADS_1


Akhirnya hari Audisi band pun tiba, Yayah, Ina, Angel dan Sasa berharap semoga kerja keras dan latihan mereka selama ini tidak sia-sia.


Mereka menatap gedung megah yang akan mereka masuki itu, perasaan mereka begitu campur aduk. Dengan memantapkan hati mereka memasuki gedung audisi yang megah itu, setelah mengambil nomor urut di dekat pintu masuk ke empat sahabat ini pun duduk di kursi peserta.


Ke empat sahabat ini sempat menjadi pusat perhatian karena alat musik yang mereka bawa, tatapan para peserta lain begitu meremehkan.


"Mau audisi band apa audisi marawis? Pake bawa dumbuk batu segala." Sindir salah satu peserta audisi yang di susul gelak tawa semua peserta.


"Kalian boleh menghina kami, tapi kami akan buktikan kalau kami mampu dan bisa lolos audisi!" Kata Yayah dengan berapi-api.


Ina, Angel dan Sasa pun menenangkan Yayah. "Udah jangan di dengerin, kita harus buktikan kepada mereka kalau kita pasti akan lolos audisi dan mengalahkan mereka." Ujar Ina.


Satu per satu para peserta memasuki ruangan tertutup untuk audisi sesuai nomor urut. Ina, Angel, Yayah dan Sasa pun tak henti-hentinya berdoa, mereka berharap semoga mereka dapat menampilkan penampilan yang terbaik dan bisa lolos audisi.


Tak terasa hari sudah mulai sore, dan nomor peserta mereka tak kunjung juga di panggil. "Aku ke toilet dulu ya, kebelet." Kata Yayah.


"Mau di anter gak?" Tanya Sasa.


"Gak usah, lagian toilet juga deket kok." Langsung berlari menuju ke toilet.


Setelah selesai dengan urusannya di toilet, Yayah pun langsung cepat-cepat menuju ke kursi peserta lagi. Tapi ia tidak sengaja menabrak seseorang.


"Aduh maaf, aku gak sengaja."


"Iya gak apa-apa kok."


Tiba-tiba Yayah terdiam saat melihat siapa orang yang telah di tabraknya.


**Bersambung....

__ADS_1


Dukung penulis dengan cara baca, like, rate, coment dan vote, jangan lupa juga beri hadiah ya😊


Terimakasih**


__ADS_2