Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Tidak sama lagi


__ADS_3

Tak berapa lama, Emak dan Halimah datang membawa tiga gelas teh dan beberapa makanan ringan dengan nampan.


"Silahkan teh dan makanan ringannya." Halimah dengan hati-hati meletakkan teh dan makanan ringan di atas meja.


"Hampura nya, Emak cuma bisa nyuguhan ieu hungkul." (Terjemah: Maaf ya, Emak cuma bisa menyuguhkan ini saja).


"Teu nanaon Mak, sakieu ge' geus nuhun." (Terjemah: Gak apa-apa Mak, segini juga sudah terimakasih). Yayah yang dengan perlahan menyeruput teh yang di suguhkan oleh Emak dan Halimah.


"Geuning enteh na ngar mawa opat gelas hungkul, ari nu Abah mana?" (Terjemah: Kok teh nya cuma bawa empat gelas aja, punya Abah mana?) Tanya Abah yang kembali menggulung sarung di pinggangnya yang hampir melorot.


"Ih Abah, piraku nginum kopi bari nginum teh ongkoh." (Terjemah: Ih Abah, masa minum kopi sambil minum teh juga). Abah terperanjat karena Emak mencubit pinggangnya.


Yayah dan Halimah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Emak dan Abah mereka. "Era atuh di tingali ku nu se'je'n.'' (Terjemah: Malu dong di lihat sama yang lain).


"Yasudah sekarang kalian te'h istirahat dulu di kamar. Tapi Kin sama Jajang teu nanaon kalo tidur berdua? Da di sini mah kamar tidurnya ngepas." Jelas Emak.


"Tidak apa-apa, Nyonya, justru saya sangat berterimakasih." Ujar Kin sopan.


"Segala manggil 'Nyonya'.... Emak ini mah bukan, Nyonya." Menepuk-nepuk pundak Kin seperti yang Emak lakukan pada putranya Rian, yaitu adik kedua Yayah.


Mereka pun menuju ke kamar yang telah di siapkan, hari sudah mulai sore. Kin dan Jajang tampak sudah terlelap dalam tidur karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh.


Sementara itu, Yayah terlihat sedang menidurkan Arsalan layaknya seorang anak kecil. Arsalan tampak menikmati tidur dalam pelukan istrinya. Yayah mengecup lembut kening suaminya, lalu ia pun beranjak keluar kamar.


Terlihat di luar rumah Emak dan Abah sedang duduk santai sambil mengobrol. "Mak, Abah. Yayah te'h bade' jalan-jalan heula nya," (Terjemah: Mak, Abah. Yayah mau jalan-jalan dulu ya,) sambil menyalami Emak dan Abah.

__ADS_1


"Nyaentos, kade' Neng di jalan na. Tuh motor Abah aya di hareupeun gerbang." (Terjemah: Yaudah, hati-hati di jalan. Tuh motor Abah ada di depan gerbang). Tunjuk Abah pada motor bodongnya yang selalu ia bawa saat melihat ladang.


"Gadag Abah mah, motor te'h sok di teundeun di hareupeun gerbang, kumaha mun aya nu nyokot." (Terjemah: Kebiasaan Abah mah, motor suka di simpan di depan gerbang, gimana kalau ada yang ngambil). Kata Emak sambil menuangkan teh ke cangkir aluminium Abah.


"Kajeun lah ceubang motor bodong.'' (Terjemah: Gak apa-apa lah cuma motor bodong). Jawab Abah sambil menyeruput teh.


Sementara itu Yayah berkeliling kampung dengan motor bodong Abahnya. Rasanya kerinduan di hati Yayah belum sepenuhnya terobati walau sudah berkeliling kampung.


Yayah menghentikan motornya, ia melihat ke sekeliling. Semua tampak berbeda, tidak sama lagi. Bahkan sawah yang dulu terhampar luas jalan yang biasa ia lalui saat akan berangkat ke sekolah pun sudah berubah menjadi perumahan elit.


Dalam batin Yayah, ia bertanya mana kampungnya yang dulu? Kampung yang sejuk, kampung yang memiliki sungai jernih tempat para Emak mencuci pakaian. Kampung yang yang di hiasi oleh hamparan sawah yang luas, kampung yang memiliki lapangan rumput yang luas tempat ternak makan, dan tempat bermain anak-anak kampung. Kemana semua itu?


Yayah melihat sungai yang sudah jadi kurus itu. Dulu ia dan teman-teman satu kampungnya sering mandi di sungai itu, tapi sekarang melihatnya saja Yayah sudah merasa jijik, entah apa yang orang-orang itu lakukan hingga sungai yang dulu berair jernih sekarang malah menjadi hitam pekat.


Yayah merasa kasihan kepada anak-anak kampung sekarang yang tak bisa melihat betapa indahnya kampung ini dulu, yang tidak bisa merasakan betapa jernih dan segarnya air sungai di kampung ini dulu. Tapi anak-anak kampung sekarang juga beruntung. Beruntung karena akses jalan menuju ke sekolah tidak susah sepertinya dulu. Dulu saat berangkat dan pulang sekolah Yayah harus melewati jalan setapak yang becek dan licin di sawah.


Ia turun dari motor, lalu berjalan melihat-lihat perumahan elit yang entah kapan sudah di bangun. Yayah pun mencari di mana letak saung (gubuk) yang dulu menjadi beskem tempat ia dan sahabat-sahabatnya kumpul.


Yayah menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah berwarna hijau, ia sangat yakin kalau letak saung (gubuk) itu di sana, sebelum rumah berwarna hijau itu di bangun.


"Neng Yayah?" Yayah terperanjat saat ada yang menyebut namanya. "ieu te'h bener Neng Yayah?" (Terjemah: Ini bener Neng Yayah?) Tanyanya yang tak lain adalah Mang Otong.


"Mang Otong."


"Ya Allah. Neng meuni tos lila karak amprok deui." (Terjemah: Ya Allah. Neng sudah lama baru bertemu lagi).

__ADS_1


Yayah langsung mencium tangan laki-laki yang sudah paruh baya itu.


" Mang, kumaha kabarna?" (Terjemah: Mang, gimana kabarnya?)


"Alhamdulillah, sehat Neng. Ngar ieu we'h buuk gaya pisan meuni ngabodasan." (Terjemah: Alhamdulillah, sehat Neng. Tapi ini rambut gaya banget pake nge putihin). Mengelus rambutnya yang sudah memutih.


"Keren kateumpo na Mang." (Terjemah: Keren kelihatannya Mang). Sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Bisa wae si Eneng mah." (Terjemah: Bisa aja si Eneng).


Yayah dan Mang Otong pun mengobrol kan banyak hal, mulai dari hal remeh temeh sampai hal yang terbilang agak serius seperti menceritakan tentang pernikahannya dengan Arsalan.


"Teu nyangka Mamang te'h masih inget ke'ne'h ka Yayah, padahal geus lila teu amprok." (Terjemah: Gak nyangka Mamah masih ingat sama Yayah, padahal sudah lama gak ketemu).


"Mamang mah moal poho ka jalmi nu unggal isuk me're' Mamang sarapan, anu senyum Jeung seuri na jadi penyemangat jeung Mamang. Kumaha Mamang bisa poho ka jalmi nu bageur pisan kos Eneng." (Terjemah: Mamang tidak akan lupa ke orang yang setiap pagi memberi Mamang sarapan, yang senyum dan tawanya menjadi penyemangat untuk Mamang. Bagaimana Mamang bisa lupa ke orang yang baik seperti Eneng).


Yayah terharu mendengar perkataan Mang Otong. Memang benar kebaikan seseorang tak akan pernah bisa di lupakan dan akan selalu di ingat, walau sekecil apapun kebaikan itu.


Walaupun kebaikan yang dilakukan itu sudah jauh bertahun-tahun lamanya, tapi tak akan pernah bisa terlupakan.


**Bersambung....


☀️☀️☀️☀️


Mohon dukungannya dengan cara baca, like, rate, coment dan vote. Terimakasih 😊**

__ADS_1


__ADS_2