
Sementara itu Kin hanya diam mendengarkan pertengkaran kedua suami istri itu, sedangkan Jajang ia masih tetap fokus menyetir.
Cinta memang membuat orang jadi hilang akal. Lihat Tuan Muda, marah hanya karena hal sepele seperti itu. Batin Kin.
Kin bisa berpikir seperti itu karena jujur saja dia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kepada wanita mana pun, kecuali pada ibunya.
Sementara itu Arsalan dan Yayah masih berdebat hanya karena masalah hp.
"Sayang! Layar hp ku bisa retak nanti kalau kamu melemparnya begitu." Menunjukkan sikap protesnya.
"Oh. Jadi hp mu itu lebih berharga, baiklah kalau begitu." Memalingkan wajahnya dari Yayah.
Hey! Kenapa kamu yang marah, harusnya kan aku yang marah. Kamu telah melempar tas dan hp ku, tapi malah kamu yang marah.
Yayah mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan. Semoga saja suaminya sudah tidak marah lagi.
"Sayang, kamu tahu dari mana kalau adik ku menjadi ustadzah mudah?" Membelai pipi suaminya.
Tapi jawaban Arsalan malah membuat Yayah menghela nafas panjang.
"Memangnya apa yang aku tidak tahu tentang mu, sekarang kamu sedang mengalihkan topik pembicaraan agar aku tidak marah saja aku tahu."
Yayah pun memilih untuk diam saja, kalau dia bicara atau membalas perkataan Arsalan, takutnya malah akan memperpanjang masalah yang sepele ini.
Perjalanan dari Ibu Kota ke kampung Yayah cukup jauh, kalau jalanan tidak macet kurang lebih bisa 4 jam sampai di kampung. Dan sekarang sepertinya mereka sedang beruntung, karena jalanan kota terlihat sedang lancar.
Tapi tetap saja, perjalanan yang memakan banyak waktu ini membuat Yayah bosan. Yayah sudah mencoba berbagai cara untuk mengusir rasa bosannya. Mulai dari mengubah-ubah posisi duduk, memainkan rambut Arsalan, meminta Kin untuk memutar lagu, sampai mencoret-coret buku tidak jelas. Tapi semua itu rasanya percuma saja, tidak mengusir rasa bosannya.
"Sayang, tadi kamu melempar tas milik ku kemana?" Menggoyang-goyangkan bahu suaminya.
Arsalan yang sudah tertidur pun kembali membuka matanya dengan malas. "Mau apa? Mau memainkan benda mati sialan itu."
"Sayang, itu kan hp ku, kenapa kamu menyebut hp ku sialan?" Protes Yayah sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Tapi, Arsalan hanya diam saja tidak menggubris perkataan Yayah. Dan itu membuat Yayah semakin kesal.
"Jajang, berapa lama lagi kita akan sampai ke kampung ku? Kamu mengendarai mobil lambat sekali." Jajang pun menjadi kambing hitam karena kekesalannya kepada Arsalan.
Mungkin bagi orang lain di marahi seperti ini hanya masalah kecil, tapi tidak untuk Jajang, karena ini untuk pertama kalinya Yayah memarahi dirinya. "Maafkan saya, Nona." Gumam Jajang.
Setelah melewati perjalanan yang jauh dan membosankan, mereka pun akhirnya sampai di jalanan perkampungan. Itu berarti mereka sudah hampir sampai ke rumah Emak dan Abah Yayah.
Arsalan menatap Yayah yang sedang tertidur pulas di pangkuannya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Yayah menguap beberapa kali sampai akhirnya membuka matanya.
"Ada apa sayang?" Mengucek-ngucek matanya. Yayah melihat ke arah Arsalan dengan tatapan bingung. Bagaimana mungkin dia bisa berada di pangkuan Arsalan, karena dia merasa sebelum tidur, dia dan suaminya duduk berjauh-jauhan.
"Kita sebentar lagi sudah mau sampai ke rumah Emak dan Abah." Ujar Arsalan sambil mengusap-usap mata istrinya yang terlihat sayu.
Yayah melihat ke luar jendela mobil. Benar, ini memang jalanan kampungnya. Yayah hampir saja tidak mengenalinya, karena terlihat banyak sekali perubahan di kampungnya. Yayah menatap toko pakaian yang ada di pinggir jalan, ia ingat betul dulunya tempat itu adalah lapangan tempat anak-anak kampung bermain bola, dan sekarang di sana sudah di bangun toko pakaian.
Mobil pun berhenti tepat di depan rumah orang tua Yayah. Setelah Yayah, Arsalan dan yang lainnya turun dari mobil, tak berapa ada seorang gadis muda berhijab membukakan pagar. "Teh Yayah?!" Gadis itu langsung memeluk Yayah dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, teteh sehat. Meuni geulis euy ustadzah muda te'h, pangling." (Terjemah: Alhamdulillah, teteh sehat. Cantik sekali ustadzah muda ini, pangling).
Halimah hanya tersenyum malu karena di panggil ustadzah muda cantik oleh Yayah. Halimah adalah adik pertama Yayah, ia menjalani pendidikannya di sebuah pesantren Putri yang tak jauh dari kampung. Sekarang Halimah menjadi guru mengaji di kampung, karena kepandaiannya dalam mengaji ia pun di juluki sebagai ustadzah muda.
"Kak Arsalan apa kabar?" Beralih mencium punggung tangan kakak iparnya.
"Aku baik." Arsalan tersenyum kepada adik iparnya.
Halimah mengangguk sopan kepada Sekretaris Kin dan Jajang, yang juga di balas anggukan.
"Mari masuk ke dalam, Emak dan Abah pasti sangat bahagia melihat kalian datang." Halimah mempersilahkan masuk.
"Mak.... Abah.... Aya semah." (Terjemah: Mak.... Abah.... Ada tamu). Seru Halimah.
"Saha Neng?" (Terjemah: Siapa Neng?)
__ADS_1
Langkah Emak terhenti di ambang pintu saat melihat siapa tamu yang di maksud oleh Halimah. Emak menghampiri Yayah, kemudian meraba wajah Yayah dengan tangan gemetar. "Ya Allah." Emak tidak bisa lagi membendung air matanya saat melihat putri pertamanya yang selalu ia rindukan.
"Emak." Yayah memeluk Emak dengan erat, melepas kerinduan yang selama ini menyelimuti hatinya.
Arsalan menghampiri Emak dan mencium punggung tangannya. "Emak, apa kabar?" Ucap Arsalan dengan sopan.
"Alhamdulillah, Emak te'h sehat. Jang, kumaha kabarna?" (Terjemah: Alhamdulillah, Emak sehat. Nak, bagaimana kabarnya?)
"Arsalan pun juga baik." Tersenyum sambil mengangguk sopan.
"Hayu atuh asup, Abah mah keur ngopi di leubeut." (Terjemah: Ayo masuk, Abah lagi ngopi di dalam). Mempersilahkan masuk.
Terlihat Abah di dalam sedang nonton TV sambil sesekali menyeruput kopi di cangkir aluminium nya.
"Abah," ucap Yayah dengan suara bergetar menahan tangis.
Abah pun langsung mengalihkan pandangannya dari TV dan menengok ke asal suara. "Masya Allah." Abah langsung menggulung sarung di pinggangnya yang hampir melorot, lalu menghampiri Yayah dan memeluknya. "Neng, kumaha kabarna geulis?" (Terjemah: Neng, bagaimana kabarnya cantik?) Mengelus-elus rambut Putrinya.
"Alhamdulillah, baik Bah." Mencium punggung tangan Abahnya, yang di susul oleh Arsalan yang juga mencium punggung tangan Abah.
"Kin, kamu juga ikut?" Abah menepuk-nepuk pundak Kin.
"Iya Tuan." Seperti biasa hanya mengangguk sopan.
"Abah. Bukan Tuan, kan sama Abah udah di kasih tahu dari dulu jangan panggil Tuan. Kin, Jajang ayo sini ikut duduk, kalian gak pegel berdiri terus." Kin dan Jajang pun akhirnya menuruti Abah untuk duduk.
Tak berapa lama, Emak dan Halimah datang membawa tiga gelas teh dan beberapa makanan ringan dengan nampan.
Bersambung....
☀️☀️☀️☀️
Dukung penulis dengan cara baca, like, rate, coment dan vote. Terimakasih
__ADS_1