Mentari Ku Cahaya Hidupku

Mentari Ku Cahaya Hidupku
Pengakuan cinta Halimah


__ADS_3

Band GTB bubar satu tahun setelah mereka lulus sekolah SMA, lalu keempat sahabat ini melanjutkan pendidikan mereka ke universitas yang dituju masing-masing.


Bahkan pun Yayah terpilih sebagai mahasiswa yang memenangkan beasiswa kuliah di Belanda. Lalu setelah itu keempat sahabat ini sudah tidak bertemu lagi, bahkan pun mereka sudah tidak memiliki kontak satu sama lain.


☀️☀️☀️☀️


Semua kenangan itu masih melekat jelas di ingatannya, air matanya mengalir kala kerinduan mulai memenuhi ruang hatinya.


Yayah tersadar dari lamunannya kala mendengar burung merpati bernyanyi saling bersahut-sahutan. Kemanakah ketiga sahabatnya itu, bagaimana kabar mereka, sungguh Yayah sangat merindukan ketiga sahabatnya itu.


Hari sudah mulai senja, dia pun langsung melajukan motor tua Abahnya untuk segera pulang. Yayah takut Arsalan akan marah karena dia tidak izin dan mengajaknya ikut jalan-jalan keliling kampung.


Dan benar saja, saat Yayah sudah sampai didepan rumah orang tuanya, terlihat Arsalan sedang duduk di kursi depan rumah sambil memasang wajah cemberut.


Lihatlah wajahnya, ditekuk begitu seperti martabak. Astaga Tuan Muda kau ini pemarah sekali.


Setelah mengstandarkan motor milik Abah, Yayah langsung menghampiri Arsalan.


"Habis dari mana?" Tanya Arsalan dengan wajah yang dingin.


"Aku habis jalan-jalan keliling kampung, sudah lama aku tidak main kesini. Jadi aku ingin melihat-lihat kampung." Memasang wajah semanis mungkin untuk meluluhkan hati suaminya.


Arsalan menatap tajam istrinya. Hey matamu itu, kenapa menatap ku seperti itu? Tuan muda tingkah mu seperti anak kecil saja.


"Kenapa tidak mengajak ku? Kamu pikir memangnya hanya kamu saja yang ingin jalan-jalan keliling kampung, hah!"


"Iya sayang, kita bisa jalan-jalan lagi keliling kampung besok, sekarang sudah sore dan aku ingin mandi."


Arsalan mendekati Yayah, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. "Habis kau malam ini." Bisik Arsalan yang membuat Yayah bergidik ngeri. Yayah langsung berlari masuk kedalam.


Sementara itu Halimah dan Kin sedang membantu Abah membabad rumput liar di kebun cabe milik keluarga Yayah.


Halimah tampak mencuri-curi pandang kepada Kin, dia merasa senang karena bisa dekat berdua dengan kin. Tapi Halimah tetap menjaga jarak antara dirinya dan Kin.


"Tuan Kin." Halimah mencoba untuk memulai percakapan.


"Iya Nona Halimah, ada apa?" Tanya Kin yang masih sibuk mencabuti rumput-rumput liar.


"Emmm.... Tuan Kin suka disini?"


"Tentu saja saya suka Nona, disini suasananya begitu tenang tidak seperti suasana kota yang bising."

__ADS_1


Halimah tersenyum tipis, senang karena Kin menjawab pertanyaannya. "Tuan Kin, apakah anda sudah memiliki kekasih?" Tanyanya dengan tanpa sadar. Kin terkejut mendengarnya.


Melihat wajah terkejut Kin, membuat Halimah menjadi sangat malu. "Maafkan kelancangan saya Tuan Kin."


"Tidak apa-apa Nona, saya belum memiliki kekasih." Halimah tersenyum lebar mendengarnya.


Dia berfikir kalau Kin adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, sebab itulah Halimah menyukai Kin. Halimah sebenarnya berencana ingin menyatakan cinta kepada Kin. Halimah adalah adik dari istri majikannya, jadi Halimah berpikir tidak akan membuat Kin marah dengan pernyataan cintanya.


Tapi Halimah mengurungkan niatnya karena dia adalah seorang wanita, jadi tidaklah pantas rasanya apabila dia menyatakan perasaannya duluan kepada laki-laki.


"Halimah, Kin. Ayo masuk, tos sore." Seru Abah yang menyuruh Halimah dan Kin untuk masuk karena hari sudah sore.


Kin dan Halimah pun masuk kedalam rumah dan membersihkan diri.


Terlihat di dapur, Emak dan Yayah sedang masak untuk makan malam. Tangan Emak tampak lincah memotong-motong sayuran.


"Mak dieu Eneng weh nu motongan na." (Terjemah: Mak sini biar Eneng saja yang memotongnya).


"Geus ku Emak weh, maneh nyiapkeun piring, sendok jeung gelas dimeja." (Terjemah: Udah sama Emak aja, kamu siapkan piring, sendok sama gelas dimeja).


Yayah pun langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Emak. Akhirnya makan malam sudah siap, Emak dan Yayah memanggil yang lain untuk segera makan.


Selesai makan malam mereka berbincang-bincang diruang tengah.


Halimah mengikuti Yayah dari belakang. "Teteh Halimah bantuannya." Ujar Halimah.


"Oh ok."


Halimah sesekali melirik Yayah, terlihat dia begitu ingin mengatakan sesuatu kepada kakaknya itu.


Menyadari sikap adiknya Yayah pun langsung menatapnya. "Ada apa Halimah, kamu teh sepertinya ingin mengatakan sesuatu?"


Mendengar perkataan kakaknya Halimah menjadi sedikit terkejut. Halimah terdiam sejenak sebelum menjawab. "Teteh, Halimah gak tau ini benar atau salah, tapi Halimah benar-benar yakin dengan perasaan Halimah."


"Perasaan naon maksudnya? Langsung ka intina weh."


Halimah menghela nafas. "Halimah Cinta sama Tuan Kin."


Sendok yang dipegang Yayah terjatuh saat dia mendengar perkataan adiknya itu. Dia benar-benar tidak menyangka seorang Halimah, adik perempuannya yang pemalu bisa mengatakan itu.


"Kamu serius, Halimah?"

__ADS_1


"Insya Allah. Halimah serius teteh, Halimah cinta kepada Tuan Kin."


"Panggil saja dia sekretaris Kin." Sela Yayah.


Yayah menatap adik perempuannya dengan lekat, terdapat harapan dan keseriusan dimata adiknya itu. Yayah tersenyum sambil mengelus kepala Halimah. "Kalau memang hati mu itu sudah mantap, teteh akan coba bicara dulu kepada Arsalan. Semoga saja Arsalan bisa membantu."


"Nuhun pisan teteh," memeluk kakaknya dengan perasaan yang bahagia.


Setelah menyuguhkan teh manis kepada Abah dan yang lainnya, Yayah langsung meminta Arsalan untuk masuk kedalam kamar bersamanya.


"Ada apa, hmm?"


"Aku ingin membicarakan sesuatu, ini menyangkut Halimah dan sekretaris Kin."


"Halimah dan Kin?" Tanya Arsalan bingung.


Yayah pun menceritakan pembicaraannya dengan Halimah saat didapur kepada Arsalan. Terlihat Arsalan sedang berpikir serius. "Maaf sayang aku tidak yakin Kin akan menerima adik mu Halimah, kamu kan tau sendiri bagaimana dingin dan cueknya Kin." Jelas Arsalan.


"Tapi setidaknya kita mencoba dulu, ayolah sayang bicara kepada sekretaris Kin." Yayah mulai memperlihatkan sikap manjanya.


"Ok baiklah. Kenapa adik mu harus mencintai Kin, kenapa tidak Jajang saja. Hmm, merepotkan sekali."


"Sayang jangan gitu dong, diakan adik ku."


"Iya iya, dia adik mu dan kau istriku." Kata Arsalan sambil mencubit pipi Yayah.


*


Kin sedang duduk sambil ngobrol dengan Jajang diruang tengah, sedangkan yang lain sudah memasuki kamar tidur masing-masing. Tak lama, Arsalan datang dan bergabung dengan mereka.


"Selamat malam Tuan Muda," Kin.


"Malam Tuan Muda," Jajang.


Arsalan hanya mengangguk sebagai sahutan. "Jajang tolong tinggalkan kami berdua, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Kin."


"Baik Tuan Muda, saya permisi." Menunduk hormat kemudian berlalu.


Arsalan melihat Kin dengan lekat, Kin yang mengetahui itu merasa tidak nyaman.


Ada apa dengan anda Tuan Muda, kenapa melihat saya dengan tatapan aneh seperti itu. Batin Kin.

__ADS_1


**Bersambung....


Jangan lupa like, coment, rate, beri hadiah dan vote. Terimakasih 😊**


__ADS_2