
Setelah sampai di kantor Angga langsung masuk kedalam ruangannya dan diikuti oleh Bima, Angga yang binggung langsung mengalihkan pandangannya pada Bima.
"Bim kamu kenapa ikutin aku, bukannya masuk keruangan kamu "
Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu tersenyum binggung "emm ehh iya maaf Angga cuman mau bilang aja nanti kita pulang sama sama lagi ya"
"Ya tentu, biasa aku tunggu diparkiran aja ya "
"Ok sip, aku masuk dulu keruanganou ya "
"Iya Bima "
Setelah kepergian Bima Angga hanya bisa mengerutkan keningnya saja, ada apa dengan Bima tak seperti biasannya, dia begitu kaku seperti ada yang sedang disembunyikan oleh Bima.
"Kenapa ya sama Bima, kok aneh, atau cuman fikiran aku aja ya, yaudah deh mending kerja aja, harus cepet cepet kerja nih, biar cepet pulang dan ketemu sama Arum "
Baru juga datang Angga sudah memikirkan pulang saja, Angga langsung saja duduk ditempat duduknya dan langsung menyalakan laptopnya, lalu Angga larut dalam pekerjaannya yang lumayan banyak.
...***...
Arum yang baru selesai membereskan rumah, langsung melihat jam dinding, ibu mertuanya dan juga sahabatnya sudah pada pulang, sekarang tinggal Arum saja dirumah sendirian.
"Emm sekarang aku lakuin apa ya, semuanya udah beres, apa lagi ya "
Arum yang binggung langsung duduk dan menyalakan televisi lalu mengambil camilan dan memakannya, Arum fokus saja menonton tv namun lama kelamaan dirinya bosan dan mematikan tv-nya.
Saat Arum melihat kearah luar rumah, dirinya malah melihat sosok perempuan yang pernah dirinya lihat, kalau tidak salah didepan rumah ibu mertuanya, sosok perempuan itu hanya diam sambil menatap dirinya.
__ADS_1
Arum yang tak mau lagi bermasalah dengan mereka langsung melengos dan masuk kedalam kamarnya, lalu mengunci pintunya.
"Jangan sampai dia tahu, kau aku bisa melihatnya, ingat Arum kamu jangan sampai menolong mereka lagi, ingat itu jangan sampai "
"Kamu pasti bisa lihat aku kan "
Arum yang kaget mencoba untuk rileks kembali, lalu keluar dari dalam kamarnya, dia juga keluar dari rumah dan pergi berjalan jalan saja, semoga saja dirinya bisa bertemu dengan seseorang.
Saat Arum berbelok dirinya melihat ada seorang tukang bakso, Arum segera berjalan kearah sana dan memesan satu porsi untuk dirinya. Pedangangnya seorang perempuan mungkin ya lebih tua dari dirinya.
"Ini teh pesananya "
"Ehh iya makasih teh "
"Sama sama teh, ehh tunggu teteh bukan orang sini ya, atau baru pindahan soalnya saya baru pertama kali lihat teteh didaerah sini "
"Ehh iya teh, baru aja pindah kemarin malem perkenalkan teh saya Arum " sambil mengacungkan tangan untuk bersalaman.
"Iya teh Amin, teteh udah lama dagang baksonya "
"Alhamdullilah udah lama teh Arum, lumayan lah untuk tambah tambah dan bantu suami juga "
"Emm iya bener juga ya teh, dari pada diem ya teh"
"Iya teh Arum, teh Arum sendiri, kerja atau udah bersuami "
"Aku gak kerja teh, soalnya suamiku gak ngebolehin aku untuk kerja "
__ADS_1
"Hemm enak ya teh, dapat suaminya yang bisa membahagian istrinya "
Arum hanya tersenyum dan memakan baksonya kembali lalu tiba tiba teh Neneng berbicara kembali pada Arum " kalau saya jadi teteh pasti seneng deh, soalnya saya juga dagang bakso kayak gini ya gara gara kurang ya teh, sebenernya saya gak mau kayak gini pengennya kayak teteh diem aja dan suami yang nafkahi tanpa saya harus ikut andil, maklum suami saya juga dagang bakso, kadang suka kurang pemasukan tuh, jadi saya harus ikut kerja "
Arum yang takut salah bicara berfikir harus berbicara apa, namun untungnya ada yang beli, jadi Arum tenang dan menghembuskan nafasnya, dengannya cepat Arum memakan bakso itu.
Supaya cepat habis saja dan tak menjawab apa yang teh Neneng ceritakan tadi, dirinya binggung harus jawab apa, takutnya malah salah bicara dan buat hati teh Neneng sakit nanti, dirinya disini orang baru jangan sampai membuat masalahkan.
Arum yang sudah selesai langsung membayar "makasih ya teh Neneng baksonya enak, saya pulang dulu ya teh "
"Aduh saya yang makasih karena teteh udah beli, nanti kesini lagi atuh teh main main ya "
"Iya teh pasti, yaudah permisi ya teh "
Arum kembali berjalan dan pergi kewarung sayur, membeli sayur dan juga daging ayam, setelah selesai Arum kembali pulang kerumah.
Dirinya harus memasak untuk sang suami, ya meskipun untuk nanti sore tapi tetap saja dirinya harus belanja karena tak ada sedikit pun makanan dirumahnya, maklum belum belanja sama sekali.
Saat masuk kedalam rumah Arum melihat perempuan itu yang masih saja duduk, namun Arum tak menghiraukannya dirinya langsung saja masuk dan pergi kearah kulkas, memasukan semuanya dan kembali masuk kedalam kamar.
Dan tanpa Arum sadari hantu itu ikut dan duduk disamping Arum "aku tahu kamu bisa melihat aku, jangan pura-pura tidak bisa melihatku kau juga sudah membantu salah satu hantu di sana kan lalu kenapa saat aku berbicara padamu kau sama sekali tidak menggubrisku, aku hanya ingin meminta bantuan seperti perempuan itu meminta bantuan padamu kau juga pasti bisa kan membantuku"
Arum mengalihkan pandangannya dan menatap perempuan itu "iya memang waktu itu aku membantunya tapi aku tidak akan pernah membantu lagi kalian, maaf kita ini sudah berbeda alam dan aku tidak akan pernah bisa membantu terus-menerus makhluk seperti kalian, maafkan aku bukannya aku sombong atau apapun aku sudah berjanji pada suamiku untuk tidak membantu kalian lagi tolong kalian jangan pernah ganggu hidupku lagi biarkan aku tenang hidup bersama suamiku "
"Apakah kau yakin tidak akan membantuku, aku sangat membutuhkan bantuanmu kalau bukan dirimu aku harus meminta bantuan pada siapa di dunia ini tidak banyak yang bisa melihat makhluk seperti diriku, kau adalah orang istimewa yang bisa melihat kami makhluk yang tak kasat mata"
"Maaf sekali lagi aku minta maaf padamu dan juga teman-temanmu aku tidak akan pernah bisa membantu kalian lagi, aku dan kalian berbeda memang aku memiliki sesuatu yang istimewa tapi aku tidak mungkin setiap saat harus membantu kalian. Aku mempunyai kehidupan baru dan aku tidak bisa terus-menerus seperti dulu jadi maafkan aku, aku tidak bisa membantumu ataupun teman-temanmu nanti "
__ADS_1
Dan Arum bernafas lega saat melihat hantu itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Untung saja dia tidak memaksa seperti hantu yang waktu itu mengacak-ngacak rumah kontrakannya.
Semoga saja hantu itu tidak kembali lagi pada dirinya dan tidak meminta bantuan lagi, dirinya tidak mau bertengkar kembali dengan Angga karena masalah ini sudah cukup masalah yang lalu membuat dirinya dan juga Angga menjadi bertengkar.