
Sasa yang memejamkan matanya dengan cepat membukannya, kenapa dirinya tak jatuh jatuh malah menggantung seperti ini. Sasa segera mengangkat kepalanya dan melihat Arum yang sedang memegang tangannya.
"Pegang tangan kakak ya Sasa "
"Enggak kak lepas, aku mau mati aja, aku udah capek hidup di dunia ini. Aku udah lelah dengan semua apa yang terjadi dalam hidup aku. Dan aku tidak mau menanggung malu ini sendirian tolong biarkan aku mati kak "
" Maksud kamu apa, menanggung malu apa, cepet pegang tangan Kakak. Kakak akan menarikmu ya jangan lepaskan tangan kakak "
Dengan sekuat tenaga Arum menarik Sasa dan akhirnya Sasa selamat, Sasa menindih badan Arum dengan cepat Sasa bangkit dan duduk menyender pada tembok.
" Apa yang kamu lakukan, Apa kamu sudah gila mau bunuh diri apa dengan bunuh diri semua masalah yang kamu hadapi akan selesai, tidak kan Allah membenci orang yang melakukan bunuh diri kamu ini melewati batas. Apakah kamu mau nantinya bergentayangan bergentayangan, kamu tidak akan diterima karena belum saatnya kamu mati "
Sasa hanya bisa menangis dan tak bisa menjawab apa apa, menundukan kepalanya.
Arum segera mengangkat dagu Sasa dan mengusap air matanya "jelaskan pada kakak, apa yang terjadi "
Sasa masih enggan dan mengalihkan pandangannya pada Arum. Namun Arum tak sama sekali menyerah kembali membuat Sasa harus menatap Arum
"Ayo jelasin sama kakak yang sebenernya, jangan ada yang di umpet umputin lagi "
"Aku hamil kak "
"What hamil, kenapa bisa, sama siapa kenapa bisa terjadi, kamu gak bohongin kakak kan "
"Engga kak, Sasa berkata jujur sama kakak, Sasa beneran hamil Sama pak Bima, Sasa enggak mikir kalau dampaknya bakal kayak gini. Sekarang pak Bima enggak mau tanggung jawab sama sekali atas kehamilan Sasa. Sasa nggak mau bikin ayah kecewa, gak mau bikin orang-orang yang kenal sama sama malu juga . Mending Sasa mati aja biar Sasa aja yang tahu sama Tuhan"
"Kamu bodoh berfikir untuk bunuh diri, kenapa kamu kasih sesuatu yang berharga dalam hidup kamu buat laki kaki yang bukan suami kamu. Seharusnya kamu itu nggak kasih itu. Seharusnya itu untuk suami kamu bukan buat orang lain, kenapa sih harus lakuin itu ada apa "
"Dulu nilai Sasa paling jelek kak di kelas dan Farah selalu membully aku karena nilai aku kecil dan jelek dalam bidang matematika. Aku malu kak aku malu, dan pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekati Pak Bima dan memberikan tubuhku untuk sebuah nilai, untuk itu agar aku tak dibully lagi aku kira itu akan terjadi hanya sekali, tapi malah berkali-kali, tapi aku sama sekali tak menolaknya karena aku mencintai Pak Bima"
"Kakak Tak habis pikir dengan kamu Sasa, tunggu di sini jangan kemana mana, kakak akan menemui Pak Bima dan kamu Jangan melakukan hal bodoh lagi seperti tadi. Awas aja kalau kamu sampai bunuh diri"
Arum segera pergi meninggalkan Sasa sendirian, dirinya memang akan menemui Pak Bima dan akan meminta tanggung jawab atas perbuatannya ini.
__ADS_1
Sungguh menyedihkan seorang guru mau menerima apa yang diberikan muridnya seharusnya dia menolak karena dia tahu ini tidak benar, kenapa dia terima dengan tangan terbuka, seharusnya dia menasehati Sasa bukannya seperti ini memanfaatkan keadaan.
Arum segera mengetuk pintu ruangan pak Bima, lalu masuk Saat Pak Bima sudah menyuruhnya masuk "eh ada Bu Arum Ada apa nih bggak biasanya nih ke ruangan saya"
"Bapak harus tanggung jawab"
"Tanggung jawab apa, Saya tidak melakukan apa-apa pada bu Arum kenapa minta tanggung jawab sama saya"
"Aaya bukan mau minta tanggung jawab untuk diri saya, tapi saya minta keadilan untuk Sasa. Bapak telah menghamili Sasa dan saya minta bapak segera menikahinya, Sasa anak baik-baik jangan hancurkan masa depannya Pak"
"Dengar ya bu kalo Sasa perempuan baik-baik dia tidak mungkin memberikan sesuatu hal yang paling dijaga oleh seluruh wanita pada saya. Lalu kenapa sekarang minta tanggung jawab pada saya. Mungkin saya rasa sebelumnya Sasa sudah memberikan keperawanannya pada orang lain kan, sebelum kepada saya. Gak ada yang tahu kan dia saja memberikan kepada saya dengan sukarela. Oh ya Kalau Ibu mau saya menikahi Sasa ada syaratnya "
"Apa syaratnya "
Pak Bima dengan perlahan mendekati Arum lalu membisikan "tidur dulu bersama saya bagaimana"
Arum segera mendelik lalu membalikan badannya dan bertatapan langsung dengan pak Bima.
"Bagaimana bu " sambil memegang bahu Arum
Setelah agak jauh dari pak Bima, Arum menyenderkan tubuh nya, lelah sekali rasannya berlari seperti tadi.
"Apa yang kau lakukan disana, kenapa kau ada disana apa kau sudah gila "
Arum segera membalikan badannya dan menatap sosok itu "aku terpaksa kak "
"Karena apa, kenapa kau sampai ada disana ada apa, apa yang terjadi jelaskan padaku "
"Aku hanya ingin menolong Sasa, dia di hamili oleh guru itu dan aku meminta pertanggung jawabannya "
"Kenapa harus kau "
"Ya karena Sasa sudah kesana tapi tidak digubris dan malah di usir makannya aku mencobanya, siapa tau kan oleh ku bisa, aku hanya mencobannya "
__ADS_1
"Iya tapi kau sudah mencelakan dirimu sendiri, kalau aku tak datang menolongmu bagaimana, bagaimana bila dia melakukan sesuatu yang menjijikan kau ini perempuan sadarlah jika kemana mana kau harus ditemani "
"Ya aku tau maafkan aku, kau jangan marah marah terus dong, aku kan gak salah apa apaa "
"Gak salah gimana, kamu tuh udah buat kesalahan, masih aja ngeyel ya, awas aja lakuin hal kaya gini lagi, aku pukul kamu ya "
"Jahat banget kamu mau mukul aku, sejak kapan kamu kasar "
"Ya karena aku kesel sama kamu, kesel kamu seenaknya aja "
"Iya maaf maaf, aku akan menemui Sasa dulu."
Arum segera berlari kembali dan kembali ketempat semula, ketempat dimana Sasa berada. Dan syukurlah Sasa ada disana masih duduk, Arum segera ikut duduk dan Sasa langsung mengalihkan pandangannya.
"Gimana kak "
"Dia kasih sarat "
"Apa kak "
"Tubuh kakak "
"Apa, tapi kakak gak kasihkan sama laki laki itu atau menstujuinnya tolong jangan kak dia jahat "
"Kakak belum jawab "
"Pokokknya jangan ya kak, aku gak mau kakak menjadi korban selanjutnya dia jahat gak tau diri dan gak punya perasaan "
"Terus kamu gimana "
"Udah kakak gak usah fikirin aku "
"Besok kedokter ya kakak anter kita periksa "
__ADS_1
"Engga kak aku malu " sambil menundukan kepalanya