Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Asrama


__ADS_3

Tiba-tiba semua murid digiring untuk kumpul di lapangan berjejer rapih sesuai kelas masing-masing. Angga yang masih mengantuk segera membuka kedua bola matanya melihat didepannya ada keresek dan saat dibuka itu makanan.


Angga merilik Arum yang sedang menatapnya lalu sama-sama memberikan senyum "makan ya " ucap Arum tanpa suara. Angga hanya mengangguk segera bangit untuk segera pergi ke lapangan.


Semua murid segera berbondong-bondong untuk segera pergi kelapangan, berbaris dengan rapi sesuai kelas mereka masing-masing. Lalu naik lah kepala sekolah keatas podium.


"Selamat pagi semuanya anak-anak " salam pak kepala sekolah.


"Pagi pak " jawab mereka dengan serentak.


"Baik kita mulai saja, untuk semua murid yang bapak cintai dan sayangi bapak ingin memberi kabar bahwa sekarang untuk seluruh murid bapak harus mengikuti sekolah asrama yang ada di daerah pegunungan, mengapa bapak mengadakan ini untuk membuat kalian semua menjadi mandiri, kita semua disana tak akan lama hanya 1 bulan saja. Sama kita belajar namun sedikit berbeda kita semua harus mandiri tanpa orang tua ya anak-anak untuk keselamatan kalian bapak jamin tak akan terjadi hal-hal diluar nalar. Untuk pembimbing disan sudah tersedia. Nanti sepulang sekolah wali kelas kelas membagikan surat pengumuman untuk orang tua kalian. Besok kita berangkat sekarang kalian semua boleh pulang untuk membeskan keperluan kalian semua untuk disana nantinya. Jika memang nanti ada orang tua kalian yang keberatan boleh langsung hubungi saya. Tapi sebelum kalian pulang kalian harus dibagi kelompok terlebih dahulu satu kelompok 5 orang ya "


Hati Arum saat mendengar tentang acara yang akan diadakan oleh sekolah menjadi tidak tenang entah kenapa seperti akan ada sesuatu yang terjadi nantinya disana ditempat itu, entah apa yang akan terjadi namun Arum yakin kejadian ini akan membekas disemua orang yang ikut kesana.


Setelah kepala sekolah selesai berbicara mereka semua disuruh untuk segera masuk kedalam kelas dan membuat kelompok sesuai dengan intruksinya.


"Rum kita sekolompoknya 4 an aja " kata Hanin saat sudah sampai dikelas.


"Tapi kan Han, kata kepala sekolah harus 5 orang "


"Ya gapapa kita berempat aja ya kan Bell" jawab Hanin meminta persetujuan.


"Iya bener udah lah kita empatan aja biar aku nanti yang bilang sama bu guru "


Semua sudah siap dengan kelompoknya, hanya Tinah yang belum mendapatkan kelompok, semua orang menolaknya tak ada satu pun orang yang mau satu kelompok dengan Tinah.

__ADS_1


Segera Tinah duduk kembali di tempat duduknya merenung sendirian Bagaimana nasibnya ini. apa tak ada sama sekali yang mau satu kelompok dengannya lalu harus dengan siapa dia.


Arum yang melihatnya sangat kasihan tak ada yang mau satu kelompok dengan Tina. Kalau nanti dia ngotot untuk mengajak Tinah satu kelompok dengan nya pasti teman-temannya akan marah.


Tiba-tiba datang wali kelasnya nya"Bagaimana Apakah kalian sudah memiliki kelompok "ucap wali kelasnya.


Semua serentak berkata sudah namun "saya belum Bu" Ucap Tinah sambil menundukkan kepalanya."


"Kenapa kamu belum mendapatkan kelompok, siapa di sini yang masih kurang kelompoknya"


Lalu Hanin dengan memberanikan diri berucap" Bu mana ada yang mau satu kelompok sama orang kaya Tina, dia tuh jahat Bu "


"Hanin kamu tak boleh begitu bagaimana Tinah adalah teman kalian semua memang dia melakukan hal yang sangat jahat. Namun sebagai manusia kita harus saling memaafkan tak boleh memendam kebencian "nasehat wali kelasnya.


"Iya sudah sekarang Tinah satu kelompok dengan kelompok hanin karena kalian kan kurang satu orang benar"


"Ya sudah kalau kalian ngotot ibu yang akan membagikan kelompok kalian semua"


"Jangan dong bu " ucap anak-anak yang lain dan meminta untuk Hanin serta kelompoknya meminta untuk menerima Tinah saja. Karena ya mereka juga gak mau satu kelompok dengan Tinah takut kejadian yang Arum alami terjadi pada mereka.


"Ya udah Tinah kamu masuk kelompok Hanin, tak boleh ada penolakan lagi, kalau sampai terjadi ibu panggil kepala sekolah kesini.


Jadi kelompok Hanin mau tak mau harus menerima Tinah dengan hati berat mereka masing-masing yang lain bernafas lega akhirnya tak satu kelompok dengan Tinah.


Tinah hanya tersenyum senang, lihat saja apa yang akan dirinya lakukan pada Arum ,akan dirinya balaskan atas kesialan yang diberikan Arum padanya.

__ADS_1


Tinah segera menghampiri kelompoknya namun tak ada satu pun yang menyapa Hanin, dia lalu duduk dipinggir Arum dengan perlahan Arum menggeser kursinya untuk memberinya tempat duduh.


Bella yang melihatnya segera membangunkan Arum dan menyuruh Arum untuk duduk dibangkunya saja berdua, Arum langsung pindah dan tak menghiraukan Tinah yang matanya sudah menatapnya dengan sengit.


"Kenap lo liat Arum kaya mau mangsa dia aja " tanya Hanin


"Apaaan sih Hanin, kamu dari dulu sama aku aku sewot banget sih, apa coba aku salahnya sama kamu "


"Ga usah so deh loh, gue tau lo tadi cuman pura-pura memeles gitu dihadepan bu guru biar dikasihanin kan. Lo tuh terlalu banyak drama tau idupnya ubah deh, gue tuh sebenerna ga sudi satu kelompok sama orang yang sukanya drama terus"


"Ya udah lo bilang aja sama bu guru, gue juga sebenernya ga sudi satu kelompok sama kalian semua ngebosinin banget "


"Jangan belagu loh, disini ga adakan yang mau satu kelompok sama orang kaya lo, masih unting kita mau " ucap Bell dengan berani.


"Bodo " jawab Tinah sambil melengos pergi.


Namun Bella yang tak terima segera mengejar Tinah tanpa aba-aba Bella menarik rambut Tinah lalu menampar pipi Tinah dengan keras, sampai satu kelas tak ada yang mau memisahkan mereka.


Tinah langsung tersungkur, memegang pipinya yang sakit dan perih sekali, Arum yang akan kedepan ditahan oleh Hanin. Hanin menggelengkan kepalanya untuk tak ikut campur urusan Bella dan Tinah biarkan saja.


Nanti takutnya Arum malah jadi yang disalahkan lagi jadi lebih baik diam saja tak usah ikut-ikutan. Arum hanya diam dan langsung duduk kembali melihat pertengkaran Bella dan Tinah.


Tinah segera bangun dan ingin membalas kelakuan Bella namun sebelum tangan itu melayang kepipi Bella, Bella sudah memegang tangan itu dan memelintir tangannya kebelakang.


"Lepas Bell lepas, lo gila ya " teriak Tinah sudah sangat kesakitan.

__ADS_1


"Lo lepasin aja sendiri, bukannya lo orangnya hebat " tantang Bella.


Namun seketika Tinah tergeletak pingsan, Bella segera melepaskannya dan membiarkan Tinah didepan kelas tanpa menolong Tinah sama sekali, yang lain juga malah diam dan sibuk kembali dengan kesibukan masing-masing.


__ADS_2