
"Permisi " ucap Arum sambil mengetuk pintu rumah seseorang
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan menampakan seorang perempuan muda yang wajahnya sangat jutek "Ada apa, ada perlu apa"
" Aku ingin bertemu pak Paul,"
"Dia sudah mati, tak usah kau datang datang kemari dia sudah tidak ada " sambil pintu di tutup.
Kembali Arum mengetuk pintu, namun sama sekali tak dibuka "aku akan menunggumu di sini sampai kau mau buka lagi pintunya" teriak Arum
Arum terus saja mengetuk pintunya tanpa henti. Tak peduli kalau perempuan itu akan marah ataupun mengusirnya atau mendorongnya mungkin, bisa jadi kan tapi dirinya akan diam karena butuh informasi tentang pak Paul.
Setelah beberapa jam berlalu tiba-tiba pintu dibuka untung saja Arum gak jatuh " apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan kau ini sangat berisik. "
"Aku hanya ingin tahu tentang pak paul, jika dia sudah tidak ada aku turut berduka cita ya, aku ingin mengetahui tentang sesuatu hal tentang Putri Ayu Ningsih maksudku kedekata mereka"
" Baiklah ayo masuk kedalam rumah"
Arum dengan senang hati segera masuk ditemani oleh kakak tingkat itu, namun kakak tingkat entah kenapa dia malah naik ke lantai dua, jadi Arum membiarkannya saja.
" Apa yang ingin kau ketahui tentang ayahku "
"Oh hai aku Arum kau" sambil mengulurkan tangannya.
"Tak usah banyak basa-basi, Ayo cepat apa mau mu "
Arm segera menarik tangannya sambil menggerutu kesal dengan perempuan ini sungguh tidak baik jutek banget.
"Baiklah aku hanya ingin tahu tentang hubungan pak Paul dan juga Putri Ayu. Apa mereka punya hubungan spesial, karena kata pak Dimas dokter kepercayaan Putri Ayu kalau ayahmu dan Putri Ayu itu memiliki hubungan terlarang, dan mereka juga mempunyai anak yang bernama Saidah apakah benar "
"Dengarkan aku baik-baik, ayahku tidak pernah berhubungan dengan Putri Ayu sampai mempunyai hubungan spesial, malahan ibuku menjadi sekretaris kepercayaan Putri Ayu tapi dia entah kemana dia menghilang begitu saja "
__ADS_1
" ibumu ? jadi ibu mu juga bekerja dengan Putri Ayu"
"Iya ibuku adalah sekretaris kepercayaan Putri Ayu, dan ayahku dia adalah pengacara Putri ayu, aku hidup Sebatang Kara setelah ayahku meninggal, dan aku juga masih tidak tahu ibuku sekarang ada di mana "
"Lalu tentang peninggalan Putri Ayu maksudku warisan Putri Ayu, apakah jatuh ke tangan ayahmu"
"Tidak warisan itu jatuh pada tanggal dokter Dimas, mana mungkin Ayahku kalau mendapatkan warisan kami tidak akan tinggal di rumah gubuk ini, kami akan tinggal di istana Kau tidak lihat keadaan rumah kami yang seperti gubuk gini. Kalau kami mendapatkan warisan kami kaya"
"Baiklah tapi kata Pak Dimas ayahmu yang mendapatkan warisan. Dan dia tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan Saidah entah pergi kemana"
"Dengar ya ayah ku tak menerima sepeser pun uang dari warisan Putri Ayu. Jadi kau ditipu oleh Pak Dimas. Dia yang mendapatkan semua harta Putri Ayu, sudah sudah pembicaraan ini sudah tidak benar udah pergilah, jangan ganggu aku lagi aku sudah menjelaskan apa yang perlu kau dengar saja, sudah pergi Jangan ganggu aku lagi " sambil mendorong Arum pergi.
"Baiklah terimakasih atas informasi mu nona "
Tanpa menjawanya, perempuan itu langsung menutup pintu rumahnya.
" Bagaimana Apakah kau mendapatkan sesuatu" ucap kakak tingkat itu
"Yah aku mendapatkannya, aku mendapatkan kalau istri pak Paul juga bekerja dengan Putri Ayu sekretaris Putri Ayu"
"Entahlah aku pun jadi pusing. Apakah kau bisa membawaku ke tempat kejadian, ke tempat di mana Putri Ayu Ningsih meninggal"
"Tentu boleh, nanti malam kita ke sana ya. Mana mungkin siang-siang tidak asik, mending malam kau pasti akan melihat yang seru-seru "
"Baiklah Baiklah aku maka aku akan menjadi pemberani hanya untukmu "
" Baguslah, Ayo kita pulang"
Arum segera mengangguk dan segera pergi dengan bergandengan tangan, seperti biasannya.
**
__ADS_1
Sedangkan disekolah, Sasa sedang di peganggi oleh teman Farah, yaitu Chika dan Novia, sedangkan yang satu lagi memegang tepung dan juga air yang sangat menyengat, bau sekali.
"Tolong lepaskan aku Farah. Apa yang kau akan lakukan. Aku ingin pergi tolong lepaskan" minta Sasa dengan panik
"Tidak bisa bukannya kau sekarang ulang tahun ya, jadi harus dirayakan kau harus dilumuri tepung, telur dan air Siapa tahu jadi kue kan"
"Tidak lepaskan aku, jangan lakukan itu padaku aku tidak mau. Nanti junga masih ada jam sekolah ayo lepaskan aku Farah"
" Ayo cepat kesini berikan tepung itu Dea, "ucap Farah
Dea dengan senang hati memberikan tepung itu, Farah dengan tidak kasihannya dia melemparkan tepung ke arah Sasa, dan dia juga mengambil telur yang isinya sudah bau sekali dia melemparkannya ke tubuh Sasa satu persatu.
Sampai-sampai kepala Sasa jadi sakit, karena telur itu, terakhir diguyurkannya air yang berbau itu. Lalu Chika dan juga Novi segera melepaskan Sasa karena tidak ingin terkena bau yang sangat menyengat itu.
Tiba-tiba saja Farah menyuruh Chika dan Novi kembali membawa Sasa, dengan senang hati mereka berdua melakukan apa yang diperintahkan oleh Farah.
Sasa dibawa ke asrama dan dia dimasukkan ke dalam lemari yang akan sulit untuk ditemukan oleh seseorang,lalu dikunci dia di dalam sana.
"Farah Apakah itu tidak keterlaluan, bagaimana kalau Sasa kehabisan nafas "ucap Dea
"Sudahlah kau jangan menghiraukannya. Biarkan dia kehabisan nafas biar dia mati. Biar dia tahu rasa kalau aku tidak main-main untuk menyuruh dia menjauh dari Pak Bima Kenapa sih dia sangat sulit sekali untuk menjauhi Pak Bima"
Setelah mengatakan itu Farah, Chika dan Novi segera pergi, sedangkan Dea masih serba salah harus mendiamkan Sasa atau pergi. Tapi kalau dia sampai menyelamatkan Sasa nanti dirinya yang akan dibuly oleh Farah.
"Maafkan aku Sasa " Dea segera menutup telingannya karena mendengar teriakan Sasa yang meminta tolong.
Dengan cepat Dea berlari meninggalkan tempat itu, membiarkan Sasa ada didalam lemari, entah sampai jangka kapan.
"Tolong siapapun " teriak Sasa sambil mengedor gedor pintu lemarinya.
"Kak Arum tolong Sasa, Sasa dikunci didalam lemari tolong kak Arum " teriak Sasa kembali namun tidak ada yang mendengarkannya, karena lemari ini ada didalam sebuah ruangan dan jarang sekali dilewati oleh siapa siapa
__ADS_1
"Tolong aku, tolong aku pak Bima, tolong aku kak Arum "
Sasa yang mulai lelah akhirnya diam dan tak akan menghabiskan tenagannya, semoga saja ada yang menolongnya.