Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Geledek putra petir


__ADS_3

“Ayo cepat... Lawan dia dia pakai semua senjata! Segera lepaskan.“ Para detektif yang rata-rata kemampuannya diatas rata-rata itu, soalnya IQ nya saja diatas 132 semua, terus memberi semangat. Dan saran-saran yang sekiranya bisa memenangkan pertandingan kali ini. Kalau tidak demikian, maka jagoan kita itu akan loyo, bagaikan kurang gizi dan cemberut dalam menangani musuh besarnya itu.


“Oke... Oke.... “


As Kriting mantap dan siap menyerang. Kapan lagi kalau bukan sekarang. Semuanya sudah terlanjur basah. Semua senjata sudah terpasang. Lengan sudah tergulung. Dan baju seragam sudah dipakai. Makanya harus segera diluapkan segenap amarahnya itu.


As Kriting segera melakukan ancang-ancang dan berikutnya langsung menyerang musuh. Dengan diikuti tepukan bergemuruh para penonton bioskop yang menyaksikannya. Pertanda bakalan ada rame-rame yang memakan hingga lima puluh persen dana produksi.


Dengan senjata pelontar, dia ambil senjata di lengannya. Kemudian dia menyerang dengan lemparan yang sangat tepat ke arahnya. Dua rudal Scud kecil namun kekuatannya sangat dahsyat itu meluncur dengan sangat cepat dari balik lengannya, mengarah pada titik fokus yang sudah ditargetkan oleh As Kriting.


Musuh rupanya kurang menyadari akan datangnya bahaya. Dia hanya berkelit tipis, namun tak mampu menghindari bidikan target yang sudah di fokuskan padanya itu.


Peluru itu terus memburu ke arahnya. Dan meledak tepat pada sasaran.

__ADS_1


Si Bledeg langsung terkena lemparan yang sangat cepat dan keras tersebut.


Dia terjungkal. Rasanya bagaikan terkena sambaran petir saja. Kuat dan menyiksa.


Namun bangkit lagi.


Bledeg bersiap bakalan melakukan serangan balasan dan di tangannya dikerahkan segala kemampuan. Segala petir ribuan volt. Segala bintik merah Jupiter dia genggam dalam genggaman tangannya. Sejuta topan badai dia persiapkan guna memukul balik. Setelah kekuatan terkumpul segera memukulnya.


Lalu dia mendekati musuhnya. Dengan tali temali yang dia lemparkan pada suatu pegangan di sisi gedung menjulang, kemudian hinggap didekat musuh dan memukul bertubi-tubi.


Musuh balas menyerang. Dia seakan tak merasakan pukulan maut lawan. Dan menendangnya sekuat tenaga tepat ke arah As Kriting. Di area sekitar perut agak ke bawah sedikit. Berikutnya di pukul dengan geledek saktinya. As Kriting tak sempat mengelak. Begitu saja akhirnya dia terjungkal. Kekuatan yang lawan berikan demikian kuat, dan tak sanggup dia panggul sendirian. Itulah akhirnya. Dia mesti merasakan jatuh diatas tanah yang keras. Padahal jatuh di aspal tidak seindah jatuh diperlukan mantan.


As Kriting hanya bisa meringis kesakitan. Dia berusaha menenangkan diri dulu. Menggeleng-gelengan kepalanya yang demikian berputar hebat untuk kemudian pelan-pelan bangkit kembali. Berdiri gagah agak sempoyongan, lalu mulai menyerang lagi guna melakukan perlawanan tandingan.

__ADS_1


Di lemparnya senjata lontar berikutnya.


Kemudian memukul dengan hantaman besi.


Dan dilepaskan tali lentur namun kuat untuk kemudian mengikatkan pada musuh, dan ditarik lagi sambil senjata ledak dilepaskan .


Geledek terkena ledakan. Dia terdorong ke belakang. Kemudian terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Rasanya bagai tenggelam dalam lautan luka dalam.


Musuh kali ini terdesak hebat. Itu masih diserang lagi dengan senjata-senjata dahsyat. Akhirnya si Bledeg terdorong hebat sampai terjungkal ke belakang dan berikutnya beberapa kali berguling-guling untuk kemudian mundur menjauh.


“Akhirnya dia mau mundur,“ semuanya pada lega.


Namun para Profesor berujar, “jangan senang dulu kita. Dia pasti akan menyusun kekuatan yang ampuh lainnya yang lebih hebat. Diambilnya segala bintik merah lain yang kekuatannya lebih dari emprat ratusan tahun. Juga mengambil banyak listrik PLN demi kepentingannya sendiri itu. Semuanya untuk kembali merebut apa yang jadi ambisinya.“

__ADS_1


__ADS_2