Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Lebur


__ADS_3

Mereka satu per satu lebur, setelah terkena senjata canggih milik As Kriting yang demikian berharga itu. Senjata yang modern, kali ini sangat berguna. Sudah ditemukan manfaatnya, bisa membantu meringankan pekerjaan, serta bisa melakukannya pada jenis yang lain.


“Ternyata semuanya merupakan kloningan dari yang satu itu. Dan dibuat pada sebuah laboratorium canggih.“ Membuat semuanya kembar. Layaknya Kurawa yang kembar seratus. Dia hanya dari satu gumpalan daging. Yang terlahir akibat kemarahan. Yang meledak-ledak. Meluap-luapkan. Dan keluar rasa amarah yang memunculkan berbagai amarah. Kembar. Semuanya dari satu. Waktunya sama. Asalnya sama. Dan potongan-potongan yang terbuat juga sama. Hanya bentuk dan rupanya yang berbeda. Juga kesaktian serta nasibnya yang berikutnya membedakan. Namun kematiannya juga sama, oleh satu orang. Yang menggambarkan mereka sebenarnya satu daging saja.


“Begitu yah.“


“Aku melihatnya sendiri,“ jelas detektif yang baru kembali. Dia menceritakan semua yang ada di rumah musuh. Bagaimana segala keanehan benar-benar menghiasi keseluruhannya.


“Tinggal satu yang kepayahan itu.“


Terlihat orang itu begitu sakit, akibat terkena senjata-senjata sakti, baik dari As Kriting maupun tujuh detektif lainnya. Sesuatu beban yang demikian berat. Melebihi batas. Sehingga dia tak kuasa. Tapi itu juga sudah merupakan suatu kemampuan yang lebih. Jika dibandingkan dengan apa yang mesti diterima oleh manusia biasa. Mungkin manusia lain sudah hancur lebur berantakan, tapi dia tidak. Menandakan kekuatannya memang luar biasa. Bagaimana tidak, senjata yang mengenainya demikian ampuh, sakti dan modern yang memang diperuntukkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban pemiliknya.


“Lihat masih ada.“


“Benar.“

__ADS_1


“Kita ledakkan dia juga.“


“Ayo.“


Mereka mulai melancarkan serangan ke arahnya. Tembakan-tembakan, dan lemparan batu baterai juga ditujukan padanya. Semua demi kemenangan. Takut kalau yang satu itu juga akan berbuat nekat. Melawan kepungan para jagoan yang kali ini tengah uforia melihat kemenangan yang sudah ada didepan mata batin.


“Sebentar! Cukup!“


“Dia minta berhenti...“ para detektif diam. Tak ada yang bergerak. Hanya bingung yang dirasa. Senjata-senjata yang siap tembak, kini diurungkan. Meskipun begitu semua masih tetap waspada. Menghadapi segala kemungkinan kalau musuh berbicara lain. Yang tiba-tiba melakukan manauver sikapnya. Yang minta berhenti namun berikutnya justru menyerang dikala semuanya tengah lengah. Itu yang dikawatirkan. Makanya kewaspadaan perlu selalu dijaga, agar hal buruk tak terjadi.


“Iya kita belum mengenainya, dengan tepat,” ujar seorang detektif sembari masih melempar kerikil-kerikil tajamnya.


Dia yang asli. DNA maupun segala kesaktian diturunkan pada kembarannya, yang jumlahnya sangat banyak itu. Dengan di klonang-kloning, menggunakan teknik tercanggihnya. Sehingga menghasilkan sosok yang serupa dalam jumlah tak sedikit itu.


“Kamu rupanya.“

__ADS_1


“Iya, saya teman bos dulu itu.“


Rupanya dia itu si pahlawan bertopeng musuh, yang bersenjatakan halilintar sakti tersebut, salah satu pemilik yayasan yang diserahi harta sang jutawan untuk dikelola.


“Kami hanya membantu yayasan.“


“Supaya?“


“Ada pemasukan yang cukup banyak. Buat kas dan keperluan sehari-hari lainnya.“


Beberapa perabot yang dianggap usang pada rumah mewah milik si dermawan yang besar itu, mereka jual sebagai pemasukan buat kegiatan sehari-hari yayasan. Koran-koran bekas, termasuk yang belum dibaca, tapi sudah kedaluarsa, dan yang datangnya kesorean. Termasuk mumi itu. Karena kotaknya sangat bagus dan bernilai hingga lumayan mahal kalau sampai balai lelang dan menghasilkan banyak pundi-pundi uang.


“Tapi kami terkejut.“


“Karena itu?“

__ADS_1


“Benar. Ada yang keliru dengan tindakan kami. “


__ADS_2