
Si As Kriting sudah siap. Dia mendengar seruan dari para temannya yang memerlukan banyak bantuan. Dia telah mengenakan kostum sakti. Berikut senjata-senjata yang mengerikan dalam kostum mahal itu.
Lengan yang penuh dengan senjata-senjata rahasia. Yang diisikan memenuhinya. Sehingga kalau dia ingin mengeluarkan, maka tinggal pencet, atau cuma dengan kode password yang hanya dia yang mengerti, maka senjata rahasia itu akan meluncur memburu musuh di manapun berada sesuai dengan target serangan dengan ketelitian yang tak sampai 0,9 degree.
Sabuk senjata. Ini juga sangat efisien. Karena pada bagian tersebut ada sedikit ruang rahasia sebagai penyimpanannya. Tentunya sudah dirakit sedemikian rupa sehingga sang pemakai nyaman mengenakannya sekaligus mudah dalam pemakaian.
Serta kaki yang terlindung. Bersenjata komplit. Sepatu serta kaos kakinya. Penuh materi kimia yang membahayakan. Jangankan sampai kena, mencium baunya saja, sudah sanggup menjadikan musuh terkapar.
Semua demi kemenangan si bos.
“Oh ini yang ditunggu,“ kata Geledek sakti yang sangat senang dengan kemunculan jagoan kita itu. Bakalan dia hancurkan. Serta akan selesai segala urusan yang remeh ini.
“Memang kamu menunggu, ngapain?“
“Katanya kamu lawan ku?“
“Ah, enggak. Siapa bilang?“
“Mereka ini.“
“Mereka saja yang suruh melawan, kenapa mesti saya?“
“Bagaimana sih, membuatku bingung ini.“
“Jangan bingung-bingung dong, lebih baik mundur saja. Nanti mampir di es doger, minum puas, serta akan kami bayari. Atau minta poin dan koin buat membaca, tenang saja. Semua bisa kita negosiasikan.“
__ADS_1
“Nah itu, kamu mengingatkan. Aku tak akan mundur.“
“Katanya mau?“
“Tidak. Sebelum kami membawa barang impian kami.“ Si Bledeg bersikukuh.
“Sudah dibilang mereka kan, kalau tak akan diserahkan.“
As Kriting juga tak mau menyerahkan barang rebutan itu. Dia apalagi yang paling berkompeten. Karena benda tersebut dari temannya. Temannya teman dia. Bukan teman siapa-siapa. Para detektif apalagi si geledek. Tapi temannya. Mau tidak mau dia mesti mempertahankannya.
“Terimalah.... “
Melihat musuh yang ada didepannya, dan sudah buntu segala nego, si Bledeg Sakti langsung menghantamkan petir saktinya dan hampir mengena untung semuanya telah menghindar dulu. Kalau tidak, mereka bakalan gosong seperti si mumi kutukan yang kali ini tengah diperebutkan itu.
Mereka terkejut. Terhentak. Terhenyak.
Kekuatan lawan demikian hebat. Sampai-sampai segala senjata kepunyaan mereka langsung gosong terkena serangannya.
Mobil, ambulan, peluru sakti berkekuatan perak penghancur, sampai rudal antar benua antar propinsi hancur.
Segalanya rusak sebelum difungsikan, akibat kekuatan musuh yang demikian dahsyat, langsung mengenainya.
“Wah gawat, dia mengeluarkan Bledek, petir.“
“Hati- hati kalau begitu,“ kata para detektif memberi saran agar sang jagoan kita itu bisa sedikit waspada dan tak gegabah bah...
__ADS_1
“Kita mengalah saja lah,“ ujar As Kriting saat mengetahui lawan demikian hebat dan sangat ganas kala mengeluarkan senjata andalannya. Demikian saja dia langsung keder. Supaya tidak terjadi kerugian yang bertambah parah kalau terus melakukan perlawanan sengit dan sangit.
“Masa super hero ngalah...“ Para detektif keheranan pada bos mereka yang demikian pasrah menghadapi keadaan yang bagi mereka dianggap masih sangat sepele. Tidak lebih berat dari membebaskan para tawanan perang di gunung. Atau pada perang besar lain semisal perang dunia ketiga atau perang paregrek yang demikian fenomenal. Ini bagi mereka masih dalam skala kecil. Satu banding cepek palingan.
“Jadi bagaimana,“ ujar As Kriting merasa serba salah kala mengatasi persoalan pelik ini. Belum lagi kalau nanti seragam kebanggaannya itu bakalan kotor atau sampai bolong. Kan sayang. Mana sulit belinya lagi. Juga laundry belum tentu mau menerimanya, akibat terlampau jorok.
“Lawan dulu. Entar kalau sudah bonyok. Baru kita mengalah,“ saran detektif Item. Rasanya masih ada kemungkinan. Kemungkinan babak belur atau menang sekalipun.
Sama-sama kemungkinan pahit. Tapi karena masih mungkin, maka perjuangan hebat yang akan mengurai jawabannya itu. Kalau terus berusaha dan tidak menyerah hingga titik terakhirnya, maka kemenangan yang gemilang bakalan dicapai. Juga akan bangga untuk beberapa langkah selanjutnya, yang menjadi dasar gerakan itu.
“Yah, sakit dong ini badan,“ ujar As Kriting sang superhero jagoan, sembari mengerutkan kening, kala mendengar hal yang sangat dihindarinya itu.
“Kita coba dulu.“ Para detektif tetap memberi arahan agar As Kriting jangan menyerah sebelum menghadapi kenyataan yang masih ada kemungkinan baik bakalan didapat. Kalau menyerah, nanti musuh bakalan senang. Guling-guling, ketawa-tawa, joged, karaokean dan kejadian lain yang membuat mereka geram. Bahkan nasib buruk yang kemungkinan mereka terima adalah tidak diterimanya lagi mereka sebagai kekuatan utama dalam pengamanan lingkungan.
Semua tak percaya dan akan beralih pada organisasi lain yang kali ini tengah gencar-gencarnya melakukan promosi dan unjuk gigi. Menonjolkan gigi, serta kemampuan hebat yang para superhero lain itu dimiliki. Bakalan semakin terpuruk nantinya.
“Pakai apa ya senjata yang efektif buat menghadapinya?“
As Kriting masih memperhatikan kira-kira bakalan menggunakan senjata apa kali ini. Buat mengimbangi kekuatan musuh yang sudah disaksikan bersama, memang sangat ampuh dan kekuatannya demikian super sekali, sangat dahsyatnya, bila dibandingkan dengan senyuman mu....
“Itu segala-gala senjata yang ada di lengan dikeluarkan saja semua, sampai musuh benar-benar kewalahan nantinya menerima perlakuan tidak sewajarnya dari kita yang punya senjata dahsyat. “
Saran para detektif agar semua dikeluarkan.
“Oke, kita coba dengan orasi dulu. lalu umpatan, terus pakai senjata lempar dan tumpul baru pakai senjata ampuh yang meledak. Tentunya protokol kesehatan jangan sampai dilewatkan.“
__ADS_1
“Memangnya mau demo, pakai acara begituan?“
“Kirain....“