
Dan setelah berhasil memundurkannya, si Bledeg Sakti itu, kali ini mereka tinggal saling pandang, antara bingung mau apa kegiatan selanjutnya atau tengah berpikir apa yang sebaiknya kali ini bakalan dilakukan dengan mumi. Bahkan ada yang sejenak mendiamkan diri. Untuk lebih bisa tenang, melalaikan apa yang baru saja berlangsung. Pada satu rasa ngeri, berikutnya pemikiran yang lebih, dan hasil yang mesti didapat lebih hebat.
Kenyataannya hanya itu yang dapat dilakukan. Tanpa berarti apa-apa. Namun berharap, bahwa kali ini merupakan pembelajaran. Pada segala yang diperbuat, mesti ada hasil yang bisa diambil sisi baiknya.
“Bagaimana dengan mumi itu?“
Akhirnya ada yang ber-ide untuk melanjutkan penyelesaian kasus pada suatu yag semula menjadi titik pemikiran itu. Mumi. Mumi anak. Bukan mumi mami-mami ternyata. Karena lelaki. Andai wanita, bisa jadi.
“Kita makamkan secara layak.“ Usul seseorang. Cara semacam itu seperti yang kebanyakan dilakukan oleh beberapa orang andai menemukan rekan mereka dalam kondisi aneh.
Caranya dikubur? Memangnya mesti demikian? Karena hal itu tak seperti keinginan ayahnya. Yang mesti bisa memegang wujudnya secara langsung. Walau sekitarnya jelas tak menghendaki. Ada yang ngeri, ada yang cuma kasihan. Ngeri kalau mesti membayangkan mayat masih dapat dilihat. ini berbeda dengan yang lainnya. Hingga membawa imajinasi pada rasa takutnya. Atau Cuma kasihan. Iba dengan kondisi nasibnya. Yang beda dengan kebanyakan. Diperlakukan dengan tak sewajarnya.
Semua yang kali ini kebingungan, apa cara yang umum dilakukan, setelah menemukan suatu jazad yang sebelumnya tak demikian cara memperlakukannya.
Atau di kremasi? Agar tubuh kering itu, tak menghantui dan barangkali saja ada bakteri berbahaya yang menyelimutinya hingga akhirnya bisa ikut hancur lebur.
__ADS_1
Tapi sesuai keinginan ayah dia yang sangat mencintainya hingga dibuat jadi mumi.
“Kayaknya lebih baik kita biarkan demikian.“
“Jadi mumi.“
“Sudah jadi kan?“
“Bagus sih.“ Sembari manggut-manggut kala memandang mumi yang unik ini. Karya yang luar biasa. Perpaduan antara yang asli dengan kreasi manusia. Yang semestinya, dan buatan.
“Jangan sendirian dalam melihatnya, kalau begitu.“
“Namun disini aneh kalau model begitu,“ ujar beberapa diantaranya, yang tak pernah mendapati cara penguburan yang sangat berbeda itu. Atau malah bukan penguburan. Tepatnya memperlakukan jazad.
“Kita tempatkan saja pada suatu kotak kayu sarkofagus, lalu dimakamkan secara adat sini, sehingga dia terlihat seperti penguburan biasa, namun juga tak mengingkari keinginan awal ayahnya yang menginginkan dia jadi mumi. Kali aja dia tenang dalam damainya itu, namun juga melegakan sang ayah yang sangat sayang kepadanya, meskipun tak kesampaian sepenuhnya. Dan nggak mengejar- ngejar dalam mimpi As Kriting. “
__ADS_1
“Benar itu. Nanti aku tidak mau dikejar- kejar terus. Kalau dia penasaran. Dan minta ketenangan. Aku juga bisa tenang. Pingin tidur nyenyak,“ ujar As Kriting.
Demikianlah, mereka akhirnya memakamkan kembali mayat anak sang jutawan dengan dihadiri oleh orang-orang terdekat. Yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Dalam empat peti sarkofagus kerennya. Serta dengan menggunakan peralatan yang umum dilakukan.
“Beres.“
“Semua sudah sesuai dengan yang berlaku disini.“
“Tinggal meninggalkannya dalam kesendiriannya yang damai.“
“Dan kita sedikit berlibur.“
“Mencari tempat yang bisa menghilangkan penat. “
Setelahnya mereka bisa tenang. Lalu istirahat. Serta memperbaiki yang rusak.
__ADS_1
“Gua samplak loe!” kata Detektif Item yang curiga, dengan semua tatapan rekannya yang terasa aneh, makanya tiap ada yang lewat langsung diumpat. Daripada keduluan dihina, mendingan marah lebih dulu, maka akan merasa puas akan tindakan kacaunya itu.