Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Mencari data


__ADS_3

“Kalau begitu kalian ke sana!“ ujar Bos Tur memerintahkan para detektif supaya menyelidiki keadaan sebenarnya di negeri aslinya itu. “Sendiri ya....“


“Berdua lah bos,“ ujar detektif yang disuruh. Setidaknya supaya ada teman mengobrol saat diperjalanan. Atau kalau yang satu ditangkap musuh, yang lain bisa menyelamatkan diri atau membantu menolongnya.


“Jangan ah. Banyak makan biaya,“ ujar si Bos memperhitungkan kira-kira seberapa banyak keuangan yang nanti bakalan keluar dari sakunya.


“Bagaimana lagi. Kalau urusan mau selesai, ya mesti berangkat dengan pembiayaan yang memadai, agar dalam melaksanakan tugas juga nyaman kan. Atau Bos saja yang pergi. Nanti kan gratis, tinggal mengepakkan jubah sakti, terbang dengan kecepatan tahun cahaya, tak lama sudah sampai.“


Bos Tur berpikir sejenak, “Ya sudah sana berangkat. Aku disini saja lah, kalau-kalau musuh menyelinap kemari, siapa yang akan menghadapinya nanti, sementara si mumi jelas-jelas masih dalam ruang museum umum pribadi kita,“ akhirnya si Bos yang sangat dermawan itu membiarkan semuanya melaksanakan tugas sesuai tupoksi yang mesti diselesaikan.


“Sebentar kita mau menghitung dulu seberapa banyak dan seberapa hebat kita nanti mengeluarkan keuangan perusahaan. “


Detektif cantik dan detektif ganteng yang bakalan pergi, mereka yang akhirnya diutus, soalnya dua Profesor itu, bakalan membuat senjata canggih, untuk menghadapi lawan, kalau sewaktu-waktu hendak meminta bonyok kepalanya.


“Nanti kita mampir ke Roma irama. Sembari beli spaghetti. Melihat menara condong. Melempar koin di kolam patung kuda itu. Sama mandi di sungai Tiber.“


“Ya nggak bisa. Palingan singgah di Dubai. Transit sebentar lanjut lagi, hingga lapangan pesawat di dekat piramid dan ibukota itu,“ ujar Bos.


“Yah... dapat capek doang kalau begini namanya.“

__ADS_1


“Tugas ya dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dan jangan banyak mengeluh apalagi protes. “


“Pesangonnya yang banyak ya bos,“ ujar keduanya berharap agar paling tidak bisa jalan-jalan santai, selagi bisa ke luar negeri itu


“Tidak ada. Palingan UMR, tambah makan doang. Nggak ada lembur dan uang lelah,“ jelas sang bos menguraikan semua peraturan yang berlaku di perusahaan kali ini dan sepanjang segala masa.


Lo...


“Lembur boleh, tapi tak ada tambahan gaji. Kau cukup dengan pendapatan per bulan itu.“


“Payah.“


Stt....


“Waduh apa ini?“ Semua heran. Semua bertanya-tanya. Ada sesuatu yang aneh. Suara misterius.


“Keanehan apalagi ini?“


Terdengar suara lirih. Sangat lirih. Lebih rendah dari lubang hitam supermasif manapun. Bahkan mendekati angka 57 dibawah oktaf c. Namun baunya melebihi segala bangkai di kali Ciliwung.

__ADS_1


“Gua kentut.“


“Yah.... “


“Sakit perut nich,“ kata Bos beralasan. Mau ditahan tak bisa. Dikeluarkan mengganggu. Akhirnya demikian yang terjadi.


“Payah kau bos.“


“Mau ditahan sakit. Ya sudah. “


Padahal dia sudah menahan sedemikian hebat. Namun kelepasan juga. Kali ini yang penting semuanya lega. Baik perut maupun semua hidung.


“Yuk ah berangkat.“


“Nanti disini, cuma dikentutin si bos doang.“


“Segera kita siapkan segala bekal dan bekal yang lain.“


Mereka mempersiapkan sedikit perbekalan, yang diperlukan dan paling penting saja. Supaya tak terlampau berat dan simple dalam membawanya. Karena mereka rencananya tidak akan berlama-lama tinggal di negeri yang panas dengan suhu 41 derajat, sementara di rumah palingan hanya 26 derajat.

__ADS_1


__ADS_2