Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Musuh datang


__ADS_3

Belum sempat mereka santai dalam istirahatnya, terdengar suatu suara yang tak asing. Musuh itu terlihat kembali.


“Wah mereka datang lagi.“


Dilihatnya si Geledek Sakti itu masuk ke pekarangannya. Dengan sikap yang demikian mantap dalam melakukan tantangan mengerikan.


Mendengar hal itu, si As Kriting keluar dari kamar pribadinya. Dia kemudian mengamati keadaan. Dan memastikan kalau si sakti itu datang kembali.


“Ayu ngumpet,“ ujarnya kemudian.


“Lo ....“


“Bagaimana?“


“Lawan lah!“


“Kan sudah tahu dia gawat!“ kata As Kriting. “Mana senjata kita belum siap,“ ujar As Kriting yang merasa kalau bajunya banyak yang kosong. “Tak ada senjata sama sekali. Profesor belum mencipta lagi. Yang kemarin sudah habis kita pakai. Bagaimana ini?“


“Mana dia juga tengah mencari alat dan bahan. Atau jangan-jangan dia juga terkena masalah dalam perjalanannya. “


“Lawan pakai alat seadanya. Kalau tidak, kita tak bakalan selamat. Kelihatannya dia demikian berambisi untuk melakukan penyerangan. Bahkan mungkin sampai pembunuhan berencana pada kita,“ ucap para detektif yang penuh kekhawatiran andai bencana nanti akan lebih besar jika musuh berhasil mengalahkan mereka. Untuk itu dia berusaha menguatkan diri sang super hero agar melakukan perlawanan sebisa mungkin.


“Biar aku pakai kostum seadanya dan bakalan aku lawan lagi dia. Masa kemarin sudah menang. Kali ini enggak. Kan ini hanya pengulangan kemarin,“ kata As Kriting meyakinkan diri kalau kali ini juga bakalan bisa memenangkan pertarungan.


“Kalian tanya-tanya dulu buat mengulur waktu, sementara aku mau pakai kostum dan mengisi senjata sampai penuh agar siap menghadapinya. Dan tanya juga berapa IQ-nya sehingga dia berani kembali kemari, sedangkan masih hangat dalam ingatan kita, kalau kemarin dia mundur teratur.“


“Wah, saya pekewuh, nggak tega bos.“

__ADS_1


“Kenapa? “


“Ya nggak enak rasanya. Terasa tidak sopan.”


“Buat lama-lama.“


“Tetap tak berani saya bos. Takut dia tersinggung. “


“Ya sudah, kalau begitu langsung berantem saja ya, daripada membuatnya tersinggung“


“Itu bos sangat bijak dalam memutuskan suatu perkara. “


Benar. Mereka mencoba mengulur waktu. Membiarkan sahabatnya mengganti pakaian yang penuh senjata. Sehingga melawan nanti benar-benar bisa menghadapi kemampuan musuh yang sudah diketahui kalau kehebatannya itu sangat menakutkan.


Lumayan lama kala si Bos memakainya. Maklum dalam mengenakannya tersebut sembari siul-siul dan bergoyang-goyang sebentar sebagai usaha menenangkan diri menghadapi permasalahan yang nanti akan menghadang.


“Serahkan dia.“


“Tidak ya.“


“Akan kita selesaikan dengan pukulan maut ku.“


Berikutnya si Bledek memukul. Dia mengeluarkan segenap kemampuannya. Menyalurkan segala energi elektriknya melalui dua lengan kuat itu.


Semburat cahaya menderu tajam. Bagai larikan kilat yang berkelok seperti ekor naga yang menggeliat.


Sekeluarnya itu, dari tangan dengan menghasilkan kekuatan hebat, meluncur dengan kuat dan berakhir dengan menghantam tembok depan. Yang langsung runtuh.

__ADS_1


“Wah dia mulai menyerang rupanya.“


Para detektif terkejut. Mereka hanya bisa bertahan diri dibalik dua tangan yang menangkap di kepalanya. Mencari barang-barang yang bisa menyembunyikan. Serta telungkup pada bagian terlindung. Menunggu datangnya bantuan atau kepergian musuh.


“Ih aku terkejut.“


“Aku malah sampai terjungkal dan masuk parit. “


“Aku lebih untung, cuma kejatuhan meja bundar.“


Si Bledek tak menghiraukan semua peringatan, kata-kata dan hiba para detektif agar berlama-lama menunggu siap. Berikutnya pukulan disusul berkali-kali. Tangannya terus mengeluarkan kilat yang ganas.


“Ayo sembunyi kalau begitu.“


Si Bledek sudah mempermainkan kesaktiannya dalam memanggil guntur geni dan kekuatan alam lainnya. Kekuatan yang sangat besar. Antara pertemuan positif dan negatif, yang dipadukan hanya pada diri seorang bledeg sakti itu. Dan menjadi kekuatan diri sebagai jagoan hebat.


“Pukul mundur dia.“


“Sebentar mana topeng gue,“ ujar As Kriting yang sudah siap semuanya tinggal penutup wajah yang belum.


“Sudah dicuci kali.“


“Waduh....“


“Sudah pakai saja masker sama kaca pelindung muka itu.“


“Memang dia virus.“

__ADS_1


__ADS_2