Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Keletakan mumi


__ADS_3

Semua kembali menyelidiki si mumi. Barangkali saja ada yang bisa di dapat setelahnya. Tapi sudah buntu. Semua seakan telah terambil semua. Segala pengetahuan akan benda itu sudah didapat. Kelanjutannya mungkin akan diketahui nanti lama-kelamaan.


Tinggal menaruh pada tempat yang tepat guna menjadi pajangan super keren. Yang fantastis.


“Ya sudah, ayo kita taruh di museum saja. Disana tempat yang layak buat segala barang loakan dan tak terpakai.“


“Enak aja. Itu tempat buat menaruh peninggalan penuh dengan memori tahu!“


Jelasnya mengurai akan suatu ruangan yang difungsikan untuk menempatkan benda-benda sangat berkesan akan kegunaan pada masanya.


Banyak benda-benda antik didalamnya. Selain benda sehari-hari ada juga keramik-keramik kuno dengan ciri khas nya yang menandakan dari masa siapa benda tersebut di buat. Misalkan keramik yang kebiruan dari dinasti Ming. Bentuknya bisa guci, atau vas bunga. Dinasti Sung polos kecoklatan. Bentuknya mangkuk, guci, piring gelas, teko tempat air. Yang semuanya memberi kesan akan keindahan pembuatannya.


“Aku bawa tangannya,“ ujar Detektif Cantik.


“Nyari enaknya saja kamu. Membawa yang ringan. Ini mumi bukan tengkorak ya, masih tergabung menjadi satu lah. Tidak copot dan terpisah!“ jelas Detektif ganteng-ganteng serigala.


“Ya sudah bawa sana!“


“Digotong bersama-sama saja. Petinya empat ini, sangat berat dan penuh dengan nuansa yang demikian mengerikan. Banyak bakteri kutukan.“


“Kalau gitu gue yang kaki .“


“Sama juga, masih utuh. Semua bawa aja sekalian digendong. Biar petinya kita angkat beramai-ramai.“

__ADS_1


“Hus... nyari enaknya saja. Mana mau dia digendong. Yang ada bakterinya ke kita semua nanti,“ terangnya. Membayangkan kalau dalam jasat kering tersebut juga masih terdapat mahluk halus yang masih tersisa padanya. Dengan daya tahan yang kuat untuk jangka waktu demikian lamanya, masih bisa bertahan hidup dengan lokasi yang sempit dan lahir berjuta-juta mahluk untuk kemudian mati dan digantikan oleh keturunannya. Begitu terus menerus. Hingga menjangkau angka ribuan tahun. Dalam lokasi yang terbatas itu.


“Lalu bungkusnya?“


“Buang lah....“


“Enggak kita selidiki?“


“Tak....“


“Biar jadi barang loak. Buat para pembersih dan pembakar sampah-serapah.“


“Ya benar. Buat rejeki mereka.“


“Bertujuh kan kuat. Hanya membawa ini. Kalau tidak, kita bawa satu-satu saja.“


Mereka mencoba apa yang direncanakan.


“Wah masih berat yah?“


“Iya... Orang petinya juga banyak.“


“Tapi kita kan bertujuh. Kuat dong beginian doang.“

__ADS_1


“Iya. Tapi yang punya kekuatan cuma yang muda-muda semisal detektif cantik dan yang bangkotan itu tak ada tenaga. “


“Apalagi itu detektif item, keriting rambut, mana ada kekuatannya.“


“Gue jitak lu....“


Yang melemparkan jokes keren itu cuma ngekek.


“Bos... sini deh bos!“ ujar para detektif memanggil si As. “Bisa bantu kita kan? Mengangkat barang milik anda sendiri.”


“Yah... Aku bos disuruh mengangkat begituan, kalian ya....“


“Atau masuk ke peti sekalian bos, tempat ini sayang, kosong.“


“Sembarangan!“


Mereka berusaha berjalan dengan hati-hati dalam mengangkat peti.


Lama-lama dengan berjalan pelan tersebut, sampai juga pada ruangan yang dimaksud.


“Disini saja nih, bisa nakutin si musuh,“ ujar Detektif Cantik. Tangannya merasa sudah capai sekali. Meskipun tak begitu berat. Tapi dalam kondisi penuh hati-hati membuat jarak tak seberapa itu dirasakan demikian melelahkan.


“Tempat apa itu? Nanti bisa membusuk. Merusak barang antik ini,“ ujar lainnya yang merasa lokasi tersebut belumlah tempat yang sesuai buat menempatkan benda yang demikian antik dan sangat bernilai tinggi ini.

__ADS_1


“Kita mesti teliti dan jangan gegabah pada mumi ini.“


__ADS_2