
“Terus Bertahan.“
“Oke....“
Semuanya menjaga posisi. Buat melakukan pertahanan agar mereka tak berhasil memaksakan kehendaknya sendiri dan mengambil yang tak disukai. Bagaimanapun ini wilayah kerja mereka. Kalau musuh sampai menempatinya, maka akan berbahaya. Untuk kondisi serta keadaan berikutnya yang memuat mereka khawatir tak akan bisa melakukan perlawanan lagi, kalau sang musuh akan menyerbu lagi. Sebisa mungkin harus bisa menangani musuh. Merangseknya, kalau perlu membuatnya bertekuk lutut atau bertekuk bukan lutut.
“Tembak dia!“
“Awas yang kiri merangsek maju.“
“Wah gawat!“
“Musuh didepan juga menyerbu.“
“Bagaimana ini?“
“Terus serang dia. “
Mereka terus menembaki musuh, setidaknya agar langkahnya tak demikian leluasa menjangkau pada posisi yang demikian rapuh pertahanan dan keamanannya. Asal terlihat kelebatan bayang, itu yang langsung diberondong dengan muntahan peluru yang meluncur bertubi-tubi. Dengan harapan yang sedikit. Kena atau tidak, yang jelas akan langsung dihujani dengan tembakan-tembakan mengerikan. Syukur-syukur mengenai nya. Maka akan membuat langkah musuh juga terhenti. Serta kemenangan gemilang diraih.
As Kriting bantu menangkis. Tangannya cekatan menghalau lontaran petir yang mengarah nya. Serta lindungan jubah berbahan khusus, anti tembak itu sanggup menahan terjangan lawan.
Dia ikut menembakkan segala senjata yang dipunyai pada seragam kerennya itu. Dengan begitu, musuh juga sulit untuk melancarkan serangan. Selain karena tak fokus, kondisi menahan serangan juga membuatnya buyar dalam konsentrasi. Belum lagi untuk mendatangkan sejuta topan badai, jelas akan semakin ruwet.
“Ayo sini...“ As Kriting menangkis petir musuh yang kekuatannya sampai seperlima bom kacang atom. Membuat segala yang kena meledak dan mengguncang bumi. Hingga tanah yang kena, juga melesak dalam.
“Nggak kena...“
As Kriting melompat-lompat. Kala mereka membidik serangannya pada si bertopeng itu. Setelah agak reda serangannya, lalu menyerang balik. Puluhan pukulan berkekuatan ledakan hebat langsung meluncur darinya. Untuk memburu musuh. Meskipun kali ini tak dibidik seara terarah, tapi puluhan yang keluar membuat musuh kelimpungan. Asal ada gerakan musuh, itu yang dituju untuk sasarannya.
“Terus bos!“
“Ini lagi.“
“Mantap.“
Tangan dan badannya segera meluncur senjata berharga mahal itu. Lagi dan lagi. Seakan tak puas hanya pada kali pertama. Karena mengira bahwa lawan yang banyak itu pastinya tak bakalan kalah hanya oleh sekali tamparan keras sari senjatanya. Makanya sebisa mungkin akan mengeluarkan sebanyak-banyaknya senjata yang mesti mengenai musuh.
“Stt....“ bisik salah seorang detektif.
“Apa?“ kata salah seorang detektif yang lainnya.
“Lihat mereka.“
“Iya.“
__ADS_1
“Kalian segera pergi ke rumahnya. “
“Dia disini kenapa kita malahan kesana-kemari.“
“Selagi dia sibuk disini, coba kita cari keterangan mengenainya. “
“Benar juga.“
“Syukur-syukur kalian bisa melihat kelemahannya untuk kemudian kita hancur luluh kan tempat itu. “
Salah seorang berusaha lari untuk menuju lokasi rumah musuh, biar tahu keadaannya. Kemudian akan dikatakan pada mereka akan kebocoran data. Sehingga musuh akan kewalahan dan pikirannya terbagi-bagi lagi pada pemikiran yang mesti difikirkan ulang.
“Eh... jangan sendirian.“
“Terus....“
“Membawa rekan.“
“Biar dia disini membantu.“
Dia tak tega dengan keberadaan rumah. Dimana musuh masih sangat kuat juga banyak. Belum lagi kalau kembarannya itu bakalan muncul dari ruang-ruang yang tak diketahui. Mereka tentu akan bertambah kuat. Dan sentakan-sentakan menggelegar dari langit, dimana petir-petir buatan itu ganas menyerbu, maka semakin cepat kekalahan yang baka didapat.
“Kami saja yang mengoperasikan segala senjata.“
“Baiklah.“
Dua detektif itu pergi. Tidak hanya berlari. Mereka naik motor super cepat. Meliuk diantara kendaraan lain. Mana sangat rapat, tapi bisa teratasi karena piawainya dalam mengendalikan kendaraan supaya baik jalannya.
Ngebut yang penting tidak benjol, dan sampai rumahnya dalam tempo sesingkat-singkatnya.
“Mana rumahnya....“
“Mana ya....“
“Pakai GSM penunjuk arah.“
“Baiklah.“
“Ketemu....“
“Yang itu. “
Dan benar rumah kosong hampir tak dihuni. Mereka hanya mengandalkan alat canggih, yang demikian mudah diatasi oleh para detektif cerdas-cerdas.
“Bagaimana?“
__ADS_1
“Tembak saja kamera itu.”
Mereka langsung mendobrak gerbang depan. Lalu menembak kamera pengawas, yang andai mengetahui ada penyusup akan mengirim sinyal pada senjata agar menembak yang datang itu.
Berikutnya membobol pintu depan agak ke samping. Sekali tembak, langsung jebol. Bukan karena kuatnya pintu yang tak seberapa. Tapi senjata yang dia bawa memang sangat canggih. Hingga daya ledaknya cukup membuat batu sebesar gajah langsung berkeping-keping. Apalagi Cuma pintu yang terbuat dari bakan demikian, maka tak perlu tenaga banyak juga waktu lama, sudah bisa ditangani.
Motor diletakkanbegitu saja. Dan mereka terus menyusuri pintu berikut lorong-lorongnya. Berikutnya menggeledah tiap ruangan.
“Kosong.“
“Kosong.“
“Dimana dia!“
Kejadian ini sangat cepat dilakukan. Menggeledah tiap ruangan. Menggedor pintu-pintu. Lalu meledakkannya. Hampir tak ada perlawanan.
Pada suatu ruang khusus, terlihatlah segala rahasia. Didalamnya banyak alat-alat aneh. Ada tabung misterius. Yang besarnya seukuran manusia. Dan didalamnya tampak sesuatu.
Ada musuh yang belum keluar. Dia itu yang ada didalamnya. Pada tabung-tabung khusus yang menjadikan mereka semacam bayi tabung. Yang dibesarkan dari tabung, dan dikandung oleh tabung. Hanya bedanya untuk kali ini sangat cepat terjadinya. Tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan menghitung datangnya bulan. Tapi hanya beberapa jam atau bahakan menit, sudah terjadi satu mahluk mengerikan yang mengancam kehidupan mereka, para pemilik mumi misterius.
Mereka ini ternyata kembar semua. Benar. Pada tabung itu, dan juga mereka yang kini menyerang rumah, berdasarkan dari satu jenis yang sama. Dengan kecanggihan teknologi yang mereka punyak itu, mampu menciptakan suatu hal yang sangat anomali. Dengan hasil yang tak diragukan lagi kehebohannya. Semuanya dari kloningan si satu itu, yang kini tengah menggempur rumah Bos.
Semuanya diproses melalui teknologi tabung yang sangat canggih yang kali ini tepat berada di depan mereka, pada suatu ruangan laboratorium pribadi yang keberadaannya tentu sangat dirahasiakan.
Sebentar lagi puluhan akan ikut menggempur.
Untuk mencegah hal itu terjadi, makanya rumah itu diledakkan dengan menggunakan amunium sulfat. Hingga segalanya ambyar, hancur lebur berantakan, karena datangnya hujan ledakan itu. Dan para calon kembaran yang aneh itu demikian saja ikut musnah tak sempat lahir.
“Semua beres. Ayo kita balik.“
“Ayo....“
Sesudahnya mereka kembali ke rumah bos. Dengan kecepatan luar biasa.
Kali ini As Kriting berusaha menyerang balik. Dia mencari celah bagaimana bisa melakukan hal yang tak diduga musuh tersebut.
Lalu dia menderu dengan kondisi musuh masih bertahan pada tembakan para detektif.
Salah satu musuh tertangkap dengan sekuat tenaga di lemparkan pada rekan lainnya dan ambyarrr.
As kriting lalu berusaha menyerang yang lainnya dengan jalan menembakkan senjata di lengannya.
Langsung menderu menghantam musuh dan meledak dengan lemparan tali.
Lalu salah satu yang kena ditarik dan diputar keras serta menghantam dinding kuat. Anehnya langsung lebur.
__ADS_1