
Saat ditinggal itu, yang lain malahan duduk-duduk, sebab sudah sangat mentok pada apa yang diselidiki. Mendinginkan suasana sembari menunggu rekan mereka menyiapkan segala perlengkapan sebagai bagian dari perlawanan serentak.
“Pusing kita, nggak ketemu.“
Yang lain pada duduk di teras malahan, sembari memandang beberapa bagian rumah yang hancur akibat peperangan besar yang belum diperbaiki sambil ngopi. Disitu sangat sejuk. Meskipun belum tertata rapi kembali. Tapi udara demikian cepat berubah, yang ikut merubah perasaan mereka.
“Kita baca buku dan buka-buka internet.“
“Kamu membaca apa?“
“Biasa tentang firaun.“
“Wih....“
“Kamu?“
“Aku cuma membaca sejarah tentang Egypt.“
“Hampir sama dong.”
Yang lain di dalam ruang istirahat, tak jauh dari ruangan museum pribadi.
Mereka demikian saja masuk ke pantry, lalu membikin minuman sendiri. Ada yang me at kopi, ada yang teh. Dan ada yang membuat es selendang mayang. Pokoknya mereka bebas membuat apa yang mereka bisa nyaman.
“Bener kali. Dia cuma ingin mengembalikan benda antik itu.“
“Atau dia ingin harta bos. Harta bos kan banyak. Tidak akan habis untuk tujuh turunan,“ ujar para detektif tersebut yang tak habis-habisnya mengira-ngira, sejauh memang belum ditemukan titik awal yang bisa menguak tabir permasalahan itu.
“Apa hubungannya?“
__ADS_1
“Barangkali saja mereka mengirimkan mumi itu, agar bakteri ganasnya yang telah tersimpan didalam tubuh itu, merasuk ke bos sehingga sakit, lalu kejat-kejat, sebelum meninggal.“
“Masa merebut.“
“Ya barangkali. Saat mengetahui kalau bos tak mengalami kutukan, maka mereka mengirim si manusia sakti itu untuk membawa secara paksa, tapi sebenarnya mau membunuh. Ini terlihat, saat bos mengalami luka parah. Yang keadaannya lebih parah dari bumerang mimisan buatan itu.“
Tapi tetap merasa janggal.
“Kita lihat catatan pengirimannya.“
Mereka melihat data kirim. Kemudian diselidiki. Termasuk dilihat logo perusahaan pengirim.
“Ini catatannya.“
Dalam catatan itu tertera jelas, mengenai alamat pengirim, nama dan data lainnya, juga alamat rumah tersebut.
“Biasa, normal. Dan tak ada yang mencurigakan begitu.“
“Bukan hanya itu dia juga bakalan miskin. Dan tak bakalan sukses menjadi superhero sakti.“
“Apalagi dia kali ini tak keluar dari kamar penyembuhan.“
“Parah sekali mungkin sakitnya.“
“Entah dengan apa dia dalam pengobatannya.”
“Barangkali pakai cairan penyembuh. Dalam kolam bathtub-nya, dia memasukkan segala obat mahal, yang isinya penuh rempah agar kondisi tubuhnya sehat kembali. “
“Wah hangat dong. Kasih cabe yang banyak mantap kali ya....“
__ADS_1
“Bener, cabai sama merica.“
“Biar jadi balado nanti.“
“Hehe... “
Mereka hanya bisa mengekeh membayangkan apa yang terjadi di dalam. Pada kolam penyembuhan yang mahal. Dengan bahan obat yang langka. Sehingga cepat mudah menyembuhkan penyakit yang dialami oleh orang kaya itu.
“Berat banget permasalahan si bos kalau demikian.“
“Jangan-jangan bos memang sakit parah.
Coba kau lihat!“ ujar mereka lagi.
Lalu mereka mendekati.
Dan mencoba mendorong pintu yang sudah lama tertutup.
“Terkunci lah.“
Itu yang akhirnya mereka ungkap.
Berat didorong.
Dan berikutnya membiarkan sang bos yang kali saja hanya ingin merasa tenang di dalam sana.
“Yuk pergi saja.“
“Semoga saja semua tidak benar. Hanya kita saja yang berprasangka buruk.“
__ADS_1
“Karena kita melihat sendiri, sakitnya demikian parah. Kita ikut menyaksikan bos mengalami hal mengerikan.“