
Dan baru menyadari setelah barangnya laku dan terdapat catatan dalam kepengurusan rumah tangga si dermawan itu, kalau kotak sarkofagus itu, ternyata mumi anak bos mereka. Makanya dia berusaha mengejar untuk mengembalikan pada posisi semula. Hingga merasa tak menyalahi aturan terhadap orang yang sudah berjasa besar membantu kelangsungan hidup yayasan.
“Terus bagaimana?“
“Ya sudah, kalau sudah bersama kalian, toh itu juga sudah diberikan oleh rekan di luar sana, yang membeli petinya dari kami.“
“Kami juga kebingungan ini.“
__ADS_1
“Semua kini kami serahkan pengelolaannya pada anda.“
Dia memasrahkan semuanya pada Bos. Entah mau ditaruh dalam museum, atau cuma di alih fungsikan di tempat lain, sudah dilepaskan sepenuhnya. Yang jelas semuanya merasa lega dan lega. Tak ada beban lagi.
“Ya sudah saya mundur,“ ujar dia.
Dan yang lain hanya mendiamkan saja, tak mampu berpikir apa yang mesti dilakukan lagi. Mau menembak juga, tangannya sudah kelu. Apalagi menembakkan kata-kata cinta, jelas sudah tak sanggup.
__ADS_1
“Enggak bilang dari awal dia yah?“ kata Bos Tur. “Yang mungkin akan diselesaikan baik-baik, andai tujuan awal memang untuk hal yang keliru tersebut.“
Semuanya merasa itu suatu akhir. Perjalanan dari suatu misteri. Yang memang terkadang menghiasi kehidupan. Untuk berhasil sibaknya. Tapi tak semua merasa lega. Yang ada hanyalah menanti misteri lain. Yang perlu disingkap. Meskipun kenyataannya tak mengenakkan. Tapi dengan mengetahui akhir dari kesungguhan kisah, akan mengurai satu kebenaran. Yang terkadang tak mengenakkan. Tapi terkuak, tidak selalu berada dalam selubung tak jelasnya.
“Terlanjur bengep begini. Bagaimana ini tuntutannya?“ menggerutu terus dia. Seakan tak ada yang cocok. Dan tak ada yang memuaskan batin. Sebab semuanya telah terjadi. Dan meninggalkan sebentuk bekas. Bekas dari segala kekecewaan. Akibat amarah yang meluap. Sakit yang mendera. Dan berikutnya bercampur aduk. Untuk berakhir pada satu waktu ini. Akhir yang sebenarnya menyedihkan. Untuk raga dan batin. Yang terlanjur sakit. Perih dan gundah. Untuk rasa yang tertumpah. Untuk harapan yang pupus. Tak bisa diuraikan dengan kata-kata. Dan hanya bisa disembuhkan bersama berjalannya waktu. Mungkin sakit di raga yang kelihatan akan segera bisa disembuhkan. Hanya untuk rasa yang tak nampak bada batinnya akan semakin sulit disembuhkan. Seiring daya kinerja otaknya. Yang mungin akan hilang seiring hilang nya suatu ingatan yang masih menggenangi sel-sel otak beku nya. Bisa jadi hanya sesaat. Dalam arti, untuk detik berikutnya sudah sanggup melupakan nya. Sejauh rasa sakit itu masih tertahan. Dan kuat lemahnya menahan juga tergantung pada diri sebuah nama itu. Bisa hanya sekejap. Atau bahkan sampai akhir hayat sejauh masih bisa di ingat, akan tetap menghiasi kemelut di pikirannya. Gejolak dan gelagak dendam itu terus membekas serta membeku pada rongga-rongga kekosongan akan pemberian ampunnya. Dan kini mulai mencoba mengikisnya sedikit demi sedikit akan mencoba menghilangkan nya.
As Kriting merasa sakit-sakit badannya. Menjadi bulan-bulanan buat sang lawan yang sangat sakti alamiah itu. Tapi kini mendiamkannya, palingan nanti akan berobat pada dokter ahli yang canggih. Untuk kemudian melanjutkan kesehariannya lagi dengan nyaman dan bangga sudah berhasil merampungkan satu kasus uniknya yang tak ada penyelesaian, dan hasilnya benar-benar aneh.
__ADS_1