Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Ada yang ingin


__ADS_3

“Hei serahkan mumi itu!“


Seseorang datang dengan sangarnya. Tiba-tiba sekali. Sehingga membuat semua yang ada terkejut. Seakan tersambar petir di siang bolong itu. Sudah tahu kan rasanya, mulai dari telinga yang bergetar, menjalar hingga jantung yang berdebar, rambut berdiri tegak, kepala cekot-cekot dan kaki sampai kesemutan.


Kalau didengar dari suaranya, nampaknya dia mempunyai kekuatan super natural yang demikian hebat. Bisa memanggil petir dan bisa berkawan dengan petir.


Itu belum seberapa. Sebentar lagi mungkin dia akan mengeluarkan kesaktiannya yang berbeda. Agar mereka tahu siapa sebenarnya dia. Mempunyai kekuatan apa. Serta dan merta mesti mengeluarkan harta benda yang diinginkan terutama mumi hebat yang tengah diperbincangkan banyak kalayak.


“Kamu...“ Para Detektif berucap.


“Iya...“


“Berani-beraninya....“


“Masa nggak berani?“ ujarnya.


“Ini si Bledeg Sakti.“ Dia terus saja memperkenalkan diri, segala kemampuan, dan data lainnya sesuai dengan curicullum vitae yang dia tulis saat melamar-lamar.


“Kau bakalan berhadapan dengan super hero As Kriting yang sangat sakti,“ ujar Para Detektif yang mencoba menakut-nakuti musuh. Siapa tahu dengan demikian, musuh tak bakalan berani mengganggu gugat kedaulatan mereka. Sehingga dia akan pergi dengan cara damai, dan tak perlu menggunakan kekuatan, adu tenaga, adu mulut, adu domba dan adu... aduan yang lain.

__ADS_1


“Jelas daku tiada takut, soalnya sangat sakti,“ kata dia cuek saja. Apalagi melihat kemampuan diri yang secara alami sudah memiliki kekuatan yang demikian besar, setara dengan bintik merah darah Jupiter yang melegenda itu.


“Oh kau sakti ya?“ ujar para detektif bertanya, menyelidik dan ingin tahu. Apa kehebatan dan kekuatan musuh yang kali ini tengah berani-beraninya menantang mereka untuk berbagi ilmu. Kalau ketahuan, maka mereka akan menembaknya dengan peralatan rahasia yang tersembunyi di berbagai peralatan, yang langsung membuat musuh hancur lebur.


“Iya lah,“ ujar musuh yang dengan jumawa dan penuh percaya diri bakalan menghadapi semua para pengeroyok yang dia tantang. Meskipun hanya sendirian, dia tak akan takut kalau hanya menghadapi para detektif yang kerempeng-kerempeng dan tak mempunyai kesaktian barang sedikitpun.


“Kenapa kamu begitu menginginkan benda seperti itu?“ tanya para detektif menyelidik. Dia berharap orang yang baru datang itu bersedia menceritakan semua hal, sehingga kalaupun dia mata tak akan penasaran. Atau sedikit banyaknya, bisa dikorek keterangan tentang benda kiriman yang sederhana namun diincar banyak orang tersebut. Kalau sudah ketahuan latar belakangnya, maka dengan mudahnya mereka mengambil keputusan berikutnya. Bisa diberikan secara cuma-cuma, atau diberikan dengan syarat yang berlipat. Mencakup banyak hal juga. Karena akan dikenakan perhitungan khusus. Bisa jadi agar tak rugi. Bagaimanapun, benda itu sudah milik mereka. Jadi bisa diperlakukan sesuai aturan yang berlaku di keluarga. Tidak menutup kemungkinan buat orang sangar yang baru datang itu. Dia mesti memberi keuntungan buat Bos agar bisa menjadi pemasukan yang lumayan.


“Karena dia sangat istimewa buat kami.“


“Istimewanya apa?“


“Kepo lu!“


“Pokoknya istimewa saja.“


“Tak akan kami serahkan kalau cuma dengan alasan demikian.“


Para detektif tetap kukuh pada pendirian sedari awal. Tidak perduli musuh begitu hebat dan menyeramkan. Nanti akan dihadapi, meskipun pelan-pelan. Kalau tidak demikian, maka dengan mudahnya mereka main rampas pada kepemilikan mereka yang sangat banyak itu. Dan lama-lama bakalan habis. Si bos akan sedih. Ya kalau Cuma menangis, masih bisa dihibur dengan dua es krim goreng. Kalau sampai depresi bisa gawat. Bingung mencari rumah sakit. Sementara di banyak lokasi sudah pada tutup karena wabah hebat. Sementara kalau sampai luar negeri tentu banyak makan biaya. Makanya lebih baik membicarakan lagi secara pelan, pelan, dan berusaha agar benda tersebut tak sampai jatuh ke tangan musuh.

__ADS_1


“Ayo berhadapan!“


Para detektif menyadari, kalau-kalau si musuh memang benar-benar hebat, dia bakalan bisa merepotkan atau malahan nantinya akan jadi penyakit. Makanya sebisa mungkin ditahan amarah lawan. Pelan-pelan. Mencoba bicara sehalus mungkin, dan selama mungkin.


Untuk mengulur waktu atau kalau bisa membuat musuh mundur tak jadi berperang. Namun kalau memaksa, mereka mesti menahan sampai si super keren, bos mereka itu, sudah siap untuk menangkis segala serangan yang akan dilancarkan si Geledek itu.


“Kita bicara dulu....“


“Tak ada yang perlu dibicarakan. Kau kasihkan saja barang itu,“ ujar si musuh tanpa ada negosiasi sedikitpun, sekali berucap itu yang dia minta. Tak akan tedeng aling-aling dan tidak mau menarik apa yang sudah menjadi tuntutannya tersebut. Diberikan syukur, kalau tidak maka akan direbut secara paksa. Pokoknya devide et impera, atau triple G lah. Yang pasti benda tersebut mesti jadi miliknya. Meskipun seberapa berat pengorbanan yang harus dikeluarkan.


“Tak ya. Itu barang milik kami. Dan akan dipertahankan sekuat tenaga. Soalnya, mumi itu akan kami selidiki, tentang apa yang jadi kehebatannya. Atau misteri lain yang menghebohkan dan dia punya,“ jelas-jelas tak hendak menyerahkan barang milik mereka yang sudah didanai dengan sangat besar.


Dan menguras banyak kekayaan perusahaan tersebut. Juga tak ingin mengecewakan si pemberi yang begitu menjadi kawan baik bagi bos mereka. Kalau barang pemberian diberikan lagi bukannya akan jadi pamali. Terutama bagi yang menyalahi aturan. Dia nanti akan kena tulah tak mengenakkan. Iya kalau cuma hidung atau bibir yang miring, bisa dibetulkan. Tapi kalau pikiran yang sampai melenceng, maka akan menjadi suatu yang lebih dari gawat. Mesti berobat. Mesti selamatan. Bahkan mesti mendapat karantina yang super ketat. Demi kembali pikiran lurusnya.


“Kalau begitu beneran... Kalian sangat bandel. Kalian akan merasakan kekuatanku. Serta pukulan-pukulan maut yang ku punya. Serta akan menjadi mengerikan kalau mengenai kalian yang lemah...“ ancamnya. Dengan segera dia mengeluarkan kuda-kuda. Demi keluarnya pukulan sakti andalan yang dia miliki secara alamiah. Pemberian dari yang kuasa. Dia tinggal mengolahnya.


Mempergunakan demi kepentingan yang begitu mendesak. Dan tak sembarangan dikeluarkan. Apalagi untuk hal-hal yang tidak perlu. Semisal merebut es krim pada anak kecil, maka tak sampai harus dikeluarkan besar-besaran. Cukup dengan di sentil juga akan nangis si anak.


Semua hanya bisa saling pandang, saling lirik, saling kedip. Mendengar musuh yang demikian sakti bakalan menganiaya mereka. Ini tak bisa dibiarkan. Mesti ada perlawanan sengit yang mesti mereka keluarkan dalam menghadapi tantangan keras tersebut.

__ADS_1


“Awas rasakan ini!“ ujar si lawan sembari bersiap mengeluarkan pukulan tenaga dalam dengan disertai kekuatan supranatural yang enggak natural.


“Sebentar dong. Si As Kriting lagi ganti kostum. Nanti kalau sudah siap. Silahkan kalian saling serang. Maka bakalan kena batunya kamu. Yang berhadapan dengan senjata-senjata canggih kami,“ kata para detektif mencoba menahan, jangan sampai musuh benar-benar mengeluarkan kekuatannya untuk dihantamkan pada mereka. Sedangkan jelas-jelas mereka tak bakalan mampu menahan serangan musuh yang memiliki kekuatan alami tersebut.


__ADS_2