
“Lihat DNA-nya.“
“Ketahuan sekarang.“
Mereka semua manggut-manggut setelah melihat hasil laboratorium yang demikian mencengangkan setelah membacanya. Dari penyelidikan itu pastinya. Setelah melalui berbagai tahapan. Dan ini yang semakin membanggakan. Bukan semata-mata dari dugaan yang sukses. Tapi melalui jerih payah yang dihasilkan dan dikeluarkan sebelumnya. Hasil itu sesuai usaha yang keluar. Usaha yang besar maka hasilnya juga besar. Akan kecewa jika usaha besar namun tak ada hasil atau mendapat kecil saja. Itu yang disebut rugi. Namun tak ada ruginya jika sesuatu itu dimasukkan pada penelaahan suatu pengetahuan, yang nantinya dapat dengan mudah untuk dirangkai demi sesuatu yang lain, yang bisa dipelajari dan dipraktekkan demi terselesaikan nya sebuah bentukan yang bisa di lakukan secara berulang dan pada suatu usaha yang serupa. Hal ini juga yang membuat apa-apa akan semakin mudah. Cepat pula hasilnya. Dan cepat memanfaatkan apa yang sudah dilakukan secara berulang tersebut dalam proses yang lebih cepat serta lebih banyak dalam satu periode waktu yang sama itu.
“Dia anak juragan itu.“
Itu kesimpulan akhir dari semuanya. Terlihat dari catatan kertas resmi. Setelah laboratorium menyelidiki hal demikian. Tak terpungkiri hasil lab itu benar-benar mengejutkan. Baik yang mendengar atau tidak, cuma terkejut saja.
Tapi yang paling mengejutkan tentunya setelah sebagian kebenaran itu terdeteksi. Hingga rangkaian kebenaran lain bakalan segera diketahui. Menepis semua teori aneh sebelumnya dan memicu pada penyelidikan baru dan kesimpulan yang semestinya sangat lain dengan sebelum ini. Kalau kenyataan bahwa dia ini adalah anaknya maka perselingkuhan dan teori pembuatan paksa pada mumi tersebut perlu di ralat.
“Kalau dia anaknya berarti tak dikurung kan?“
“Tidak juga selingkuhannya.“
“Apalagi istri ke sekian yang teramat muda.“
__ADS_1
“Lalu kenapa bisa demikian?“
Benar dia tak di kurung pada suatu tempat khusus karena dendam atau kemungkinan aneh lain dan segala sesuatu yang menyakitkan hanya untuk tercipta suatu benda mainan yang mengerikan ini. Juga tak diisolasi pada ruang gelap agar kurusan dikit supaya air dan daging meluruh dengan sendirinya.
Hingga tercipta suatu benda seni yang demikian sempurna hasilnya. Yang unik dan bukan suatu plagiat. Ini yang menjadikannya benda mahal, tak terkira.
“Kenapa anaknya sendiri mesti dijadikan mumi dan benda seni yang bagi masyarakat umum terasa sangat mengerikan?“
Dengan berbagai kisah tentunya mengekornya. Yang melatar belakangi terciptanya keanehan tersebut. Apakah anaknya nakal jahat dan culas? Yang suka merusak benda orang lain maupun milik sekolah sampai ambyar. Memainkannya sebagai alat mainan tak karuan dengan sesuka hati.
“Barangkali saja anaknya memang genit. “
“Atau malahan sedikit mirip mami-mami. “ Terus di kira-kira segala kemungkinannya. Hal awal sudah ketahuan. Satu kunci kalau bisa dibilang. Dan satu awal demi terbukanya berbagai rangkaian misteri yang melaju pada keadaan yang tak bisa disebut misteri lagi. Itu pertanda akhir dari satu rahasia. Telah terkuak. Dan semua tahu. Berhak tahu. Dan mau tahu. Sebab sudah ada yang memecahkannya. Maka akan tersebar dengan cepat. Layaknya sebuah apa. Yang semakin disimpan akan semakin meluas. Itu untuk satu rasa keingintahuan nya. Itu juga yang mesti dipikirkan bersama. Jika satu misteri itu mesti dipandang kelayakannya. Kalau baik untuk umum, maka mesti diketahui bersama juga. Tapi kalau hal itu justru merugikan, maka lebih baik kalau sebisa mungkin disimpan rapat. Dan dijaga jangan sampai tercemar pada pengetahuan setiap para pendengarnya. Akan berbahaya. Bukan secara fisik saja. Tapi bisa jadi buat pemikiran yang menjadi kacau di kemudian dampaknya. Serta pemanfaatan yang kurang maksimal demi kelangsungan kehidupan yang tertata dan antar satu sosok dengan lainnya saling memanfaatkan kebaikannya. Dalam suatu kebersamaan yang saling menguntungkan pada segalanya itu.
“Yang terlampau dewasa dikala dia masih muda.“
“Nah ini yang benar. Dia ternyata lelaki bukan....“
__ADS_1
“Iya.“
“Lelaki kan ada yang genit. “
“Itu barangkali yang membuatnya dihajar dengan sekali tempelengan. Serta kaki yang dipukul sampai patah. Sehingga dia mesti memakai tongkat dalam beraktifitas. Karena orang tuanya tak menghendaki si lelaki menjadi beralih profesi untuk mengganti kondisinya.“
“Lalu ingin operasi. “
“Membuat pantatnya membesar,“ ujar detektif itu sembari menunjuk, bagian itu yang kini telah mengering. Tapi tulang pinggulnya memang berbeda dengan kebanyakan.
“Dan suka dengan topeng emas,“ yang lain menimpali. Berbagai pendapat langsung mengemuka. Mereka berpikir sendiri-sendiri. Memperkirakan apa yang kemungkinan terjadi berdasarkan apa yang kali ini ada di depan mata mereka.
“Itu hanya perkiraan kan?“
“Tapi ini mendekati kebenaran, sesuai dengan kondisinya yang begitu. Serta catatan mengerikan lainnya. “
Melihat kenyataan bahwa dia, sang anak ini, cacat dan lemah kondisi fisiknya, pasti hal tersebut berbeda dengan kebanyakan anak-anak lain sebayanya. Dan problem semacam itu, tentang kenakalan, tentang segala sesuatu yang sedikit negatif, sangat sulit dilakukanoleh anak yang menderita demikian. Kenakalan yang dibuat paling-paling hanya melempar piring atau botol andai dia merajuk. Atau ngompol sembarangan, karena kamar mandinya sulit dijangkau. Selebihnya hanya mengomel, mengumpat-umpat dengan sumpah serapahnya, dengan bahasa planet yang hanya dia yang tahu.
__ADS_1