
“Rupanya dia memang anaknya yah,” kata para profesor yang ahli soal dokter-dokter an dan ahli hitung-menghitung pada hasil laboratorium. Apalagi setelah melihat hasil DNA dari sang ayah dengan si mumi itu.
“Benar dia anaknya sang jutawan itu,” timpal yang lain membenarkan. Semua sepakat untuk hasil yang diperoleh bersama. Kali ini. Hasil yang sudah jelas. Dan kentara. Karena diselidiki bersama. Bukan berarti semua memegang pada peranan itu. Tapi semua ikut terlibat. Melibatkan diri. Sesuai dengan apa kebiasaannya. Jika satu bisa memegang sebuah alat yang sesuai maka dia yang melakukannya. Sedangkan yang lain mesti mengimbanginya dengan memanfaatkan temannya itu. Tidak saling ganggu. Juga tak menolak hasil sungguh itu. Maka pelaksanaan dalam satu bentuk penelitian tersebut dikemudian akan maksimal hasil yang didapatkan. Untuk kemudian bisa melakukan apa-apa yang berikutnya mesti disimpulkan. Hingga menjadi satu penemuan itu membuat ke ingin tahuan semuanya semakin dipacu demi penelitian lainnya yang lebih mendalam namun berkaitan dengan satu persoalan yang masih terangkai. Dan berikutnya membuat apa permasalahan jadi bisa dipecahkan secara bersama.
Kali ini tak terbantahkan lagi. Hasil laboratorium komplit yang dilakukan oleh para profesional itu, hampir mendekati sempurna. Andai meleset, maka persentase terkecil lah kemungkinannya.
Dengan hasil itu para detektif membandingkan dengan berbagai catatan dan persoalan yang didapat.
Benar. Dia anaknya sang juragan kaya. Anak kandung satu- satunya. Makanya dia sangat sayang meskipun kondisinya demikian tapi dia mampu menerimanya. Apalagi kebanggaan seorang ayah, andai bukan untuk menyayangi benih kandungnya sendiri. Meskipun itu suatu hal yang demikian mengecewakan.
__ADS_1
Terkadang, manusia ingin kesempurnaan. Mendapat apa yang sangat istimewa dan diidamkan. Namun kenyataan terkadang bicara berbeda. Yang diberikan justru suatu hal yang bertolak belakang. Bahkan teramat mengecewakan. Dan kini yang mesti dipahami adalah mampu menerima. Membiarkan yang sudah terjadi berlalu seiring perjalanan waktu. Bersama. Antar dia dan dia. Sang ayah dan mungkin bundanya. Bila telah tiada maka di dunianya akan semakin memikirkannya. Demi membuat sang keturunan terus bisa bahagia. Dalam satu persepsi kata pada rasa di otaknya. Mersa dikasihi, merasa disayang. Terkadang hal sepele ini, mampu membangkitkan satu kekuatan akan daya hayal yang berkaitan juga pada pemikiran serta olah tubuhnya secara nyata pada pemraktekkan sehari-harinya. Semakin kuat jiwanya, semakin mantap rasa ercaya diri dalam menggunakan fisiknya demi usaha yang bisa dilakukan. Manusia punya kemmapuan yang berbeda. Berlainan. Itu juga yang membuat dia mempunyai banyak profesi sesuai dengan kemampuan yang disukainya itu. Maka kala melakukan sesuai kesukaan tadi, dalam menjalankannya juga akan semakin nyaman. Untuk dilakukan berulang kali sepanjang hari-hari kehidupannya yang semakin mewarnai hidup itu.
Memang sangat disayangkan, sang anak yang cuma satu-satunya dan sangat dikasihi itu cacat. Jauh dari gambaran tentang kesempurnaan. Bahwa seorang kaya raya mesti mendapat apa yang sempurna juga. Mesti itu. Keinginnannya. Sayang terkadang tak demikian. Jika bisa ditukar, maka dia akan menukar. Tapi rasa tetap tak bisa digantikan. Rasa kasih, rasa sayang. Itu tak bisa diberikan bagi si tertukar tersebut. Yang membuatnya akan semakin tersiksa kalau terus melakukannya. Meskipun tidak setiap saat. Satu waktu. Bahkan dikala waktu yang menentukan. Baru akan terlihat rasa nelangsanya. Dan ini lebih sering terjadi jika orang tersebut sedang terkena suatu musibah. Dia baru akan merasakan kalau dia tak pernah memberikan yang terbaik buat sang keturunan. Dan kala dia tengah berada pada punak kemegahannya masih akan bahagia dengan kesempurnaan yang semu tadi. Dan si anak yang menderita akan terus menderita. Akan fisik yang tak lengkap, atau rasa kasihnya yang merasa seakan tercampakkan oleh manusia yang semestinya bertanggung jawab penuh akan dirinya yang nelangsa tersebut. Semakin nelangsa lagi kalau memikirkannya. Bagaimana kasihnya hilang. Juga hak warisnya yang melimpah turut lenyap. Akibat dari satu kekurangan yang dimiliki, namun sebenarnya ingin dia tolak. Hanya tak bisa itu yang menjadi persoalan. Dia tak bisa menolak, yang mestinya dia tolak. Segalanya hadir dengan sendirinya. Yang menjadi tanggung jawab untuk membebani kehidupannya juga akan situasi yang sulit, karena dia terlahir dari satu manusia yang menuntut akan kesempurnaan bagi keturunannya itu.
Andai seorang rupawan anaknye jelek, maka apa kata dunia. Mereka tentu bakalan bicara negatif. Kurang. Jauh dari satu kebanggaan. Yang keluar semakin menyakitkan. Bukan secara nyata, tapi pada rasanya. Akan membuat pemikiran yang terus menumpuk demi kekeliruannya itu. Semakin membuat perasaannya rendah diri. Dan terpagut pada satu kata yang kurang memotifasi. Yang berikutnya semakin minder. Dalam hal kekuatan jiwanya. Berikutnya, pada setiap jengkal langkah yang menentukan, terkadang tak akan bisa maksimal. Selalu digelayuti rasa kurang percaya dirinya. Hina.
Kenyataan itu persis seperti mumi sang raja muda yang demikian populer tersebut. Raja padang pasir yang melegenda dan kaya raya.
Boleh dikata, hal yang tampak tersebut dipandang lebih jelek dari anak miskin yang mbrojol, lahir, di pinggir jalan.
__ADS_1
Dan rasa pedih itu belum berahir, saat mendapati sang anak ternyata harus mati muda. Karena kondisi jasmaninya yang memang demikian rapuh.
Makanya dia kemudian berusaha memumikannya. Sebagai bentuk kasih sayangnya dan rasa tak ingin kehilangan itu. Dia merasa kalau dimumikan maka anaknya akan terlihat terus dalam wujudnya yang nyata. Masih ada bentuk fisik yang bisa dia raba. Dan dengan demikian rasa kangen serta merta dapat terhibur kaa memandangnya.
Akhirnya dia menyewa orang-orang atau para ahli yang piawai dalam hal awet-awetan serta mumifikasi. Mereka ini telah terbiasa membuat hal mengerikan itu. Membuat mumi yang awet pada sesuatu. Baik hewan maupun tumbuhan bahkan manusia.
Kondisi aneh dari sang anak yang membuatnya rapuh itu terlihat dari bentukan mumi yang anomali ini, baik luka-luka, patah pada beberapa bagian tubuh, maupun bentukan fisik pantatnya yang besar kayak cewek. Juga bahunya menceng, persis seperti orang habis memikul beban berat atau membawa air di musim kemarau, karena tak kuat menanggungnya.
Jalan pakai tongkat ini sebagai kaki ketiganya agar bisa berpindah lokasi dan menjangkau aktivitas nomalnya supaya tak memerlukan bantuan orang lain.
__ADS_1
“Tapi kita yakin dia bukan Si Tut karena mumi itu berada pada suatu tempat khusus di negerinya sana dengan penjagaan yang sangat ketat dan kompeten. Juga hasil lab yang sudah kita bahas diawal pertemuan tadi.“
Terbentuklah mumi seperti itu, yang bentuknya terlihat seperti aslinya, sudah berusia ribuan tahun dan terkubur dalam balutan waktu, padahal dia baru dibuat belum lama palingan hanya beberapa puluh tahun saja.