Misteri Mumi Kiriman

Misteri Mumi Kiriman
Adu jiwa


__ADS_3

Si Geledek menyerang terus. Dikeluarkan semua kemampuannya. Juga ilmu petir yang dia punya. Sehingga apa yang terkena pukulan mautnya itu menjadi hancur lebur.


Tapi rupanya dia kurang puas. Makanya dia memanggil rekannya. Dan berikutnya terdengar sosok lain didekatnya.


“Payah, lawannya kuat banget. Sudah begitu banyak lagi... aduh,“ As Kriting menggerutu. Mana dia tak bisa mengeluarkan kekuatan. Sejauh ini terus digempur. Dan dia menjadi sasaran utamanya. Kemana dia bergerak, kearah situ juga pukulan halilintar mengarah. Membuat dia tak fokus. Hanya bisa menghindar, dari satu lokasi ke tempat yang lain, dan lebih terlindung.


“Kayaknya mereka benar-benar memiliki kesaktian asli yang dianugerahi oleh alaminya, tidak seperti anda yang hanya buatan kan...“ ujar para detektif yang sama –sama ketakutan, dan hanya bisa berlindung di balik tempat yang lumayan kuat dalam menghadapi pukulan musuh.


“Gawat!“


“Mana badan ini masih pegel semua, akibat penyembuhan tadi belum siap semua. Ini ada yang robek lagi.“


“Waduh....“


“Yuk dijahit,“ ajak As Kriting dari persembunyiannya, agar segera pulih dan melawan musuh juga lebih sakti. Kalau sakit tanpa pengobatan yang berarti bukannya akan bertambah parah. Makanya sebisa mungkin untuk disembuhkan dahulu. Namun kondisi kali ini yang tak memungkinkan. Musuh tak bisa dinegosiasi sedikitpun. Tanpa ada pembicaraan lanjutan. Dan menginginkan pertentangan terus. Itu yang tak bisa disela sedikitpun. Makanya mau tidak mau, mesti bertahan. Dan melawan untuk bertahan hidup.


“Nanti lah Bos....“


“Lo, bagaimana sih ini?“

__ADS_1


“Lawan dulu, orangnya sudah datang itu, kita sambut dulu dengan ramah ya kan, lalu kita jamu dengan jamu yang layak buat musuh. Nanti gampang, kita obati itu punggung.“ Para detektif mencoba memberi pengharapan pada bos agar menguatkan hati. Mau mengeluarkan sedikit tenaganya untuk melakukan kerja berat dalam menghadapi kesaktian musuh. Sebab siapa lagi yang diharapkan. Tak ada. Kalau ada jaraknya sangat jauh. Keburu musuh memporak-porandakan tempat tersebut. Ini yang bakalan gawat. Satu-satunya harapan hanya pada bos mereka yang kaya sekaligus sakti dengan banyaknya persenjataan yang dimiliki.


Saat itu juga As Kriting keluar dari persembunyiannya. Dia meluncur dengan jubahnya. Melayang di atas rumahnya. Dan mengamati musuh dari ketinggian. Dengan tatapan tajam yang diukur melalui lensa pembesar lokasi, sehingga semua yang ada di titik fokus menjadi terlihat sangat jelas.


“Wah mereka sama.“


Mereka terkejut. Rupanya yang datang sama persis dengan yang pertama. Dimana mereka tak melihat bagaimana proses memperbanyak diri itu. Tahu-tahu sudah banyak yang kembar. Dimana kalau orang kembar, biasanya mempunyai perbedaan walau sedikit. Mengenai sifat, maupun bentuk dirinya. Tapi yang ada didepannya itu benar-benar sama persis. Antara bentuk maupun kesaktiannya. Ini yang benar-benar gawat. Bisa jadi preseden buruk ini.


“Rupanya dia membelah diri, mirip bakteri ya...“ ujar mereka berkesimpulan. Akibat sama persis kostum, wujud serta kesaktiannya yang demikian hebat itu. Berikutnya, kalau kali ini menang, bakalan diselidiki bagaimana dia membelah diri. Apakah secara alami atau menggunakan teknologi mutahir yang sangat hebat. Mungkin robotik, cyborg, atau trans. Semua itu mesti dipelajari agar lain waktu saat mereka datang, akan bisa dihadapi dengan senjata penangkal yang sempurna.


“Ayo bos serang balik!“ ujar para detektif yang khawatir kalau Bos tak sempat memukul. Padahal kali ini sudah berada di atas angin, melayang dan dalam satu posisi sudah bagus untuk menyerang musuh. Terlambat sedikit saja, musuh akan menyerang dulu. Menembak dengan senjata petir nya, kalau mengenai, maka akan segera hangus, menjadi hitam kelam.


Dor!


Tembakan tersebut sangat tepat. Peluru itu mengejar ke arahnya. Sensor panasnya benar-benar dikejar. Berikutnya bertemu. Meledak, tepat diarah yang dituju. Terlihat kepulan asap pada tubuh musuh, akibat tepat sasaran dan ledakan yang dihasikan oleh senjata tadi. Bila benda atau manusia biasa tentu akan bolong akibat hebatnya senjata sang jutawan itu.


Terlihat musuh sedikit menghindar. Tapi rudal kecil itu mampu mengejarnya, hingga mengenainya. Hindaran itu tak cukup untuk meloloskan diri.


Namun rupanya dia kuat, seakan tak dirasakan ledakan yang hanya sepele itu. Masih butuh beberapa ledakan lagi untuk bisa menjatuhkannya. Itupun kalau tepat mengenainya. Kalau jauh dan hanya mengenai sedikit, maka semua tadi malahan membuat kekuatannya bertambah.

__ADS_1


“Tembak lagi bos.“


“Sudah lemah dia,“ ujar detektif. Yang melihat keadaan musuh sudah tak seperti pada awal kedatangannya. Karena menahan serangan ledak yang mengenainya. Bayangkan benda kuat saja terkena senjata begitu bisa hancur apalagi manusia, meskipun kuat dia akan goyah juga. Dan andai dikenakan secara terus-menerus, maka akan semakin lemah kondisinya.


“Benarkah?“


Hal ini membuat kegemaran menyerang si As Kriting kambuh. Dia terus mengeluarkan senjatanya yang disimpan di perbagai tempat. Rasa penasaran membuatnya membabibuta. Senjata yang lain tentunya akan mampu menghempaskan musuh. Dan kekuatan lawan sedemikian kuat itu akan sedikit demi sedikit menurun. Dan untuk terakhir kalinya akan bisa membuatnya terjungkal. Itu perkiraannya yang sudah diukur sedemikian rupa. Hingga akan memberikan kemenangan yang diidam-idamkan.


As Kriting terus menembaki musuh untuk menyerang balik, sekaligus melindungi semua anak buah yang dicintainya. Dia tak perduli seberapa besar dana yang dia keluarkan. Yang dia pikir saat itu hanyalah supaya musuh mundur. Dan kemenangan yang di dapat membuatnya merasa sangat membanggakan.


“Mundur bos,“ ujar para detektif yang bersembunyi, namun masih bisa melihat orang-orang itu yang kali ini tengah berdiri disana dan siap menghantamkan kekuatannya balik pada As Kriting.


“Sebentar. Aku habiskan ini senjata. Rame nih,“ kata As Kriting yang lagi asik meluncurkan senjata-senjata andalannya, bak menemukan mainan saja, sembari menghabiskan semua senjata yang bisa dia pakai. Apalagi musuh seakan diam. Dan tak membalas barang sedikitpun. Membuat titik tembakannya semakin akurat.


Ditembakinya terus musuh tersebut. Dan peluru menderu tepat secara beruntun pada daerah yang sama.


Dia baru berhenti menembak, setelah hampir semua peralatan rahasianya habis. Dan badannya terasa sangat ringan. Semuanya itu terus tertuju di satu tempat. Andai kena maka akan hancur. Itu bila mendapati suatu tembok misalnya. Maka tembok tersebut akan bolong, yang kemudian luruh. Tinggal debu yang memburai dan lenyap tertiup angin.


“Wah pekat.“

__ADS_1


Itu yang kemudian terlihat. Maklum percampuran antara hasil ledakan dengan debu-debu dari benda yang dikenainya sehingga menghasilkan keadaan yang seperti itu.


As Kriting juga terkejut, saat melihat tempat dia menembak demikian gelap, penuh asap dan kengerian.


__ADS_2