
Musim gugur sudah berjalan lebih dari sebulan. Daun-daun mapel di sekeliling kampus Universitas Kent yang pada musim panas berwarna hijau segar, kini mulai dihiasi warna kuning, jingga serta merah yang ceria. Sebentar lagi daun-daun tersebut akan mengering dan luruh mengotori bumi. Daun-daun yang malang. Hanya sebentar mereka sempat memamerkan keindahan warnanya sebelum nasib menentukan tempat mereka yang lain. Menyatu dengan tanah.
Puti yang sedang duduk di dalam perpustakaan menatap daun-daun tersebut dengan kekaguman penuh. Dia melupakan buku yang ada di depannya. Matanya mengembara dari satu pohon ke pohon lain. Tak jemu-jemu. Tiba-tiba matanya terasa sangat penat. Sedetik kemudian dia tidak melihat apa-apa lagi. Semuanya serba hitam dan pekat. Puti tersentak kaget. Untuk beberapa saat jantungnya sempat berhenti berdetak.
‘Ya Tuhan, kembalikanlah penglihatanku,’ doa Puti sambil melepas kacamatanya. Kemudian dia menekan pelupuk matanya yang terkatup dengan jari telunjuk. Setelah menanti beberapa saat dia membuka matanya kembali dan tersenyum lega ketika menampak bayangan rak-rak buku yang mengelilinginya. Walau masih agak kabur.
‘Aku membutuhkan kacamata baru,’ ucapnya dalam hati.
Begitu penglihatannya kembali normal, Puti segera mengemasi buku-bukunya. Niatnya untuk belajar di perpustakaan hingga malam terpaksa dia urungkan. Dia takut kejadian serupa akan menimpanya lagi. Dikenakannya kacamatanya kembali dan bergegas meninggalkan tempat duduknya.
‘Sudah mau pulang, Puti?’ tegur Jane, pustakawan yang bertugas melayani mahasiswa yang ingin membawa buku keluar. Puti mengangguk lesu sambil menyodorkan beberapa buku teks tebal.
‘Tolong inputkan buku-buku ini, Jane. Aku ingin membacanya di asrama,’ pintanya.
‘Sebanyak ini?’ tanya Jane tidak percaya. ‘Kamu punya waktu untuk membacanya?’
‘Kamu tahu Mr. B, Jane,’ sahut Puti sambil tersenyum kecut. Dia tidak akan puas sebelum melihat mahasiswanya setengah mati mengerjakan tugas-tugasnya.‘
‘Mr. Bilunka maksudmu?’ tanya Jane sambil memindai kartu perpustakaan Puti di scanner.
‘Ya,’ jawab Puti. Jane tertawa geli.
‘Kalau begitu kamu sekelas dengan Billy McCroom?‘
‘Billy McCroom? Oh, dia itu biangnya,’ jawab Puti kesal. ‘Tugas-tugas untuk dua minggu dia selesaikan dalam seminggu. Tugas untuk seminggu dia selesaikan sehari. Tentu saja si tua Bilunka jadi berang. Itulah sebabnya tugas-tugasnya makin lama makin tidak masuk akal.
‘Jangan kecil hati. Hampir seluruh hidup McCroom habis di perpustakaan ini,’ hibur Jane. ‘Nah itu dia mahluknya,’ lanjutnya berbisik sambil menunjuk seorang pemuda jangkung berkulit hitam yang sedang asyik memilih buku. Puti menahan senyum.
‘Titip bukuku sebentar, Jane. Ada yang harus kubicarakan dengan Billy,’ ucapnya. Tanpa menunggu kesediaan Jane, Puti segera melangkah mendekati Billy. Billy yang sedang membolak-balik buku tidak menyadari kehadirannya. Puti berdecak tiga kali. Serta merta Billy menoleh. Senyumnya langsung terkenbang begitu melihat Puti.
‘Hallo, Puti,’ sapanya berbisik tapi hangat.
‘Hai,’ balas Puti. ‘Emm … Billy, aku membutuhkan bantuanmu,’ lanjutnya tanpa basa-basi.
‘Apa yang dapat kulakukan untukmu?’ Billy bertanya penuh perhatian.
‘Kamu dulu pernah menawarkan pekerjaan sambilan kepadaku kan? Waktu itu kukatakan kepadamu kalau aku belum membutuhkan pekerjaan dan bila nanti aku membutuhkannya aku akan mengatakannya kepadamu. Well, saat ini aku butuh pekerjaan,’ ucap Puti lancar. Billy tersenyum melihat kekuatiran yang terekspresi di wajah Puti.
__ADS_1
‘Kamu benar-benar butuh pekerjaan atau hanya iseng?’ tanya Billy. ‘Kalau hanya iseng aku takut tak seorang pun yang akan menerimamu.’
‘Aku benar-benar membutuhkannya,’ sahut Puti cepat.
‘Bukankah beasiswa yang kamu terima sudah mencukupi?’
‘Ada kebutuhan lain yang begitu mendesak, Bill.’
‘Baiklah akan kuusahakan. Kuberi tahu kamu hasilnya besok pagi. ‘ucap Billy. ‘Berapa lama kamu akan bekerja? Permanen atau … ‘
‘Sampai gajiku cukup untuk membeli kacamata baru.’
‘Apa?’ tanya Billy tidak mengerti.
‘Aku membutuhkan kacamata baru,’ jawab Puti jujur.
‘Kacamata mahal harganya. Belum lagi ongkos dokternya yang mencekik leher,’ gumam Billy.
‘Kalau begitu carikan aku pekerjaan yang bergaji besar,’ usul Puti sambil tertawa.
‘Bagaimana kalau kucarikan saja dokter mata untuk jadi suamimu?’ balas Billy tidak mau kalah. Puti tidak menjawab hanya menunjukkan jari manisnya. Di sana melingkar cincin pertunangannya. Cincin dari platina dengan berlian soliter yang gemerlap menyilaukan mata. Billy tersenyum lebar.
Puti melotot. ‘Dia terlalu berharga untuk ditinggalkan,’ ucapnya.
‘Oke, akan kucarikan kamu pekerjaan yang bergaji besar,’ janji Billy. Puti lega mendengarnya. Dia yakin Billy akan berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan untuknya. Billy telah membuktikan kepada teman-temannya yang lain bahwa dia mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat kecil Kent. Semua teman-temannya selalu berlari kepada Billy bila membutuhkan uang, dan Billy denga mudah bisa menyalurkan mereka ke tempat pekerjaan.
‘Terima kasih untuk bantuanmu, Bill,’ ucap Puti.
‘Tidak seberapa, Puti. Aku senang bisa membantumu,’ jawab Billy merendah.
‘Oke, sampai besok kalau begitu,’ ucap Puti dan berjalan meninggalkan Billy.
Setelah mengambil buku-buku yang ditinggalkannya di meja Jane, Puti keluar dari perpustakaan. Tiupan angin musim gugur menyambutnya hangat dan mempermainkan rambut hitamnya yang tergerai hingga ke bahu.
Berjalan di jalanan kampus yang agak senyap membuat Puti lengah. Matanya bukannya melihat jalan yang dilaluinya melainkan pada pepohonan yang merimbuni kampus dengan tupai-tupai yang berloncatan di dahannya. Dia heran dimana tupai-tupai itu bersembunyi pada musim-musim yang lain karena tupai-tupai itu hanya muncul di musim gugur. Apakah mereka datang dari langit, pikir Puti sambil menatap mereka terpesona. Begitu terpesonanya, hingga dia tidak mendengar seruan yang diteriakkan seseorang dengan keras. Dia tidak mendengar apa-apa. Tahu-tahu tubuhnya tertabrak sesuatu dari belakang dengan keras kemudian terseret dan terbanting di atas aspal jalan.
‘Are you okay?’ tanya seorang pemuda yang tiba-tiba saja telah berjongkok di depannya. Puti menoleh ke kiri dan ke kanan dan melihat dirinya sendiri duduk di atas sepeda yang roboh. Sadarlah dia bahwa dia telah tertabrak sepeda dari belakang.
__ADS_1
‘Kamu tidak apa-apa?’ ulang pemuda itu lagi.
Puti tersadar dan menatap pemuda di depannya. ‘Pemuda paling tampan yang pernah kulihat,’ pikir Puti sambil menilai pemuda berambut emas dengan wajah yang begitu sempurna. Matanya yang sebiru langit menatap Puti dengan cemas.
‘Kurasa tulang-tulangku patah semua,’ gurau Puti sambil berusaha untuk bangkit. Dia terduduk kembali karena kakinya menginjak ban yang segera berputar. Secepat kilat pemuda di depannya berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Puti berdiri.
‘Maaf, aku tidak bisa mengontrol sepedaku tadi,’ ucap pemuda itu setelah melihat Puti bisa berdiri dengan tegak.
Puti ingin sekali mengatakan bahwa dialah yang bersalah, tetapi entah mengapa dia tidak mengatakannya. Dia hanya tersenyum sambil memegang pinggulnya yang terasa nyeri. Sejenak kemudian dia mulai mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan. Melihat Puti memunguti barang-barangnya, pemuda yang menabraknya ikut membantu.
‘Ya, Tuhan!’ tiba-tiba pemuda itu berseru kaget. Puti menoleh.
‘Ada apa?’ tanyanya.
‘Aku telah memecahkan kacamatamu,’ jawab pemuda itu pelan sambil menatap kacamata Puti yang ada di tangannya. Puti melihat kacamatanya telah retak lensanya. Ternyata kacamata itu tadi telah melayang dari wajahku, pikir Puti.
‘Aku telah memecahkan kacamatamu,’ ulang pemuda itu sambil berjalan mendekati Puti. Diulurkannya kacamata yang telah pecah itu kepada Puti. ‘Aku akan menggantinya, ‘sambungnya.
Dengan cepat Puti menggeleng. ‘Aku yang salah tadi. Aku terlalu asyik mengamati tupai-tupai itu hingga tidak memperhatikan jalan. Jadi bukan kamu yang salah.’
‘Jangan menyindir,’ balas pemuda itu sambil tersenyum menamerkan giginya yang berderet rapi dan putih. ‘Aku yang lengah oleh daun-daun itu.’ Puti menatapnya tidak percaya. Pemuda itu mengangguk untuk meyakinkannya.
‘Dengar … ‘ sambung pemuda itu lagi. ‘Aku harus menemui salah seorang dosenku. Tetapi tidak akan memakan waktu lama. Paling lama sepuluh menit. Maukah kamu menungguku di sini sepuluh menit? Sesudah itu kita bisa mencari pengganti kacamatamu yang pecah.’
‘Aku tidak mau,’ jawab Puti seketika.
‘Bagaimana kalau lima menit?’ pemuda itu menawar. Dia menyangka Puti menolak karena harus menunggunya terlalu lama. Puti tergelak geli.
‘Sudah kubilang jangan kamu risaukan kacamataku. Kacamataku itu sudah tidak berguna bagiku jadi kamu tidak perlu repot menggantinya.’
‘Tapi aku benar-benar ingin menggantinya. Kalau tidak aku akan selalu merasa bersalah,’ bantah pemuda itu lagi sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Dia nampak tergesa-gesa. Puti merasa iba.
‘Pergilah. Nanti kamu terlambat,’ sarannya.
‘Tapi maukah kamu menungguku?’ pemuda itu meminta kepastian.
‘Baiklah aku akan menunggumu,’ jawab Puti asal-asalan. Pemuda itu tersenyum puas kemudian menegakkan sepedanya. Sesudah berpesan sekali lagi kepada Puti agar dia menunggunya, dia segera melarikan sepedanya. Kencang sekali.
__ADS_1
Begitu pemuda dan sepedanya itu hilang dari pandangan, Puti segera meninggalkan tempat itu. Walaupun dia membutuhkan kacamata tetapi dia tidak mau
pemuda itu yang membelikannya. Pemuda itu sama sekali tidak bersalah. Lagipula pecah atau tidak kacamata itu harus diganti lensanya. Dan dialah yang wajib menggantinya bukan pemuda bersepeda itu.