
Memang sulit untuk melupakan Mike. Dia begitu sempurna, kata Steve pada dirinya sendiri. Dia berusaha untuk memusatkan perhatiannya pada acara di TV tetapi gagal. Pikirannya akan kembali pada Puti dan cintanya pada Mike. Kalau saja keluarga Gray tidak begitu berjasa kepada Puti. Kalau saja Mike tidak begitu sukses dengan kariernya. Kalau saja dia kenal dengan Puti sebelum Puti mengenal Mike. Kalau saja dia bisa lebih sukses daripada Mike. Kalau saja dia mempunyai masa lalu yang bersih dan beribu kalau saja menghantui Steve yang membuatnya semakin tak berdaya. Mungkin bila saat itu Puti tidak berada di dekatnya dia tidak akan merasa malu untuk menangis. Steve mengelengkan kepalanya dengan keras untuk menghalau kemelut di kepalanya. Sekali lagi dia berusaha untuk mengikuti acara TV.
‘Put, kemarilah!’ dia segera memanggil Puti ketika matanya melihat tulisan Emma Walden di layar TV. Puti segera datang mendekati Steve, duduk di sampingnya dan menanti dengan tegang. Sukses bagi Cara merupakan sukses baginya pula.
Begitu tulisan Emma menghilang dari layar, bermunculan aneka topeng berwarna-warni dengan selendang-selendang berkibaran. Kemudian dari dalam topeng-topeng itu keluar tulisan ‘Wajah-Wajah Indonesia’ yang disusun dengan munculnya wajah-wajah cantik dari para pemetik teh di Jawa Barat. Kamera memfokuskan pada sebuah wajah dan berhenti di sana. Dari sini suara Emma yang lincah dan segar mulai terdengar.
Emma membuka dengan ucapan selamat datang di Indonesia dalam bahasa Indonesia yang fasih. Puti ingat Emma setengah mati menghafalkan kata-kata itu. Setelah memberikan pengantar umum tentang Indinesia, Emma kemudian mulai berkomentar tentang kain-kain tradisional Indonesia. Apa bahan dasarnya, bagaimana pembuatannya dan berapa lama membuatnya. Emma lebih fokus pada tenun. Untung Puti berhasil mendapatkan beberapa buah film tentang kain Indonesia dari Kedutaan Besar, sehingga Emma tinggal mereproduksi bagian-bagian yang ingin ditonjolkan kemudian menggabungkannya.
Acara ditutup dengan peragaan busana yang didisain Emma dari kain-kain tenun tersebut. Modelnya semua teman-teman Emma yang seratus persen bule tinggi semampai dan berambut pirang. Musik pengiringnya adalah gamelan Bali yang gemuruh yang didapatnya dari sebuah perkumpulan tari.
Secara keseluruhan acara Emma benar-benar memikat. Steve yang biasanya tidak tertarik pada acara-acara TV kini memperhatikan setiap gerakan di layar dengan penuh perhatian. Mungkin karena yang memproduksi acara itu adalah adiknya. Tiba-tiba Steve merasakan tangan Puti mencengkeram pahanya dengan kuat.
‘Puti, ada apa?’ tanya Steve kaget.
‘Aku tidak bisa melihat, Steve,’ jawab Puti lirih sambil berdiri dari tempat duduknya dan menggerakkan wajahnya ke segala arah.
‘Apakah vas bunga itu menghalang-halangimu?’ tanya Steve.
‘Bukan! Aku tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap, Steve. Aku tidak bisa melihat!’ jerit Puti kalut. ‘Aku buta sekarang. Aku buta.’ Steve segera sadar. Dengan cepat dia menangkap tubuh Puti kemudian di dekapnya.
‘Tenanglah, Put,’ bisik Steve untuk menenangkan Puti. Tetapi Puti bukannya tenang, dia justru meronta-ronta dan menjerit-jerit histeris. Steve menggoncang-goncangkan bahu Puti agar sadar, tapi jeritan Puti makin keras. Tidak ada jalan lain bagi Steve untuk menghentikan kepanikan Puti kecuali mencium mulut Puti. Seketika Puti terdiam. Steve masih terus mencium Puti hingga dia yakin Puti sudah tenang.
‘Maafkan aku. Aku terpaksa melakukanya,’ ucap Steve. Puti tergugu dan mulai menangis tetapi dia sudah tak berteriak-teriak lagi. Steve memeluknya kemudian mendudukkannya di kursi.
‘Apa yang dapat kulakukan kini, Steve? Apa yang dapat kulakukan?’ gumam Puti putus asa. Steve tidak menjawab karena dia memang tidak tahu jawabnya. Dia hanya bisa memeluk Puti dengan harapan bisa menemukan jawaban yang tepat.
‘Inilah akibat kekeraskepalaanku dan ketinggihatianku,’ desah Puti. Steve tahu apa yang dimaksud dengan ucapan Puti itu. Pasti mengenai tawaran operasi dari dokter Conneally. Tapi tawaran itu sudah tidak berlaku lagi sekarang. Sudah terlambat. Dokter Conneally pernah berkata bahwa bila sudah terlanjur buta maka operasi itu hampir sia-sia bila dilakukan. Steve makin mempererat pelukannya. Tiba-tiba Steve merasakan tubuh Puti yang tadi tegang kini mulai relaks.
‘Steve, lepaskan aku,’ bisik Puti. Suaranya adalah suara yang biasa Steve kenal. Bukan suara orang yang sedang ketakutan. Steve mengendorkan pelukannya, tetapi tangannya masih berada di bahu Puti. ‘Aku bisa melihat! Steve, aku bisa melihat lagi,’ teriak Puti girang. Steve memandangnya tak percaya.
‘Kamu bisa melihatku?’ tanya Steve.
‘Ya. Aku bisa melihatmu. Aku bisa melihat TV. Aku bisa melihat apa saja,’ sahut Puti senang. Steve segera bangkit. Dia berjalan menuju ke lemari dan mengambil dua buah jaket tebal. Jaketnya dan jaket Puti.
__ADS_1
‘Kemana?’ tanya Puti.
‘Ke klinik mata. Kamu harus menjalani operasi mata segera.
‘Steve!’ protes Puti. ‘Aku tidak memerlukan operasi mata. Aku sudah bisa melihat lagi.’
‘Kita pergi, Puti,’ jawab Steve tegas.
‘Dengar dulu, Steve. Aku pernah kehilangan penglihatan seperti tadi tetapi akhirnya aku bisa kembali melihat. Jadi tidak perlu dirisaukan. ‘
‘Puti, apakah aku harus menggendongmu?’ tantang Steve. Puti terdiam. Dia merasa tak ada gunanya berbantah dengan Steve. Steve telah melihat keadaannya tadi, tetapi bagaimana dengan …
‘Steve dengar dulu alasanku,’ pinta Puti memelas.
‘Aku tidak mau mendengarnya. Alasanmu tidak masuk akal. ‘
‘Steve, ini alasanku yang sesungguhnya bukan alasan yang dulu pernah kukatakan kepadamu.’
‘Aku akan mendengarnya dalam perjalanan. Sekarang kita pergi,’ jawab Steve tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dia mendekati Puti kemudian setengah memaksa dia memakaikan jaket Puti.
‘Puti, kamu boleh mengemukakan alasanmu,’ ulang Steve lagi.
‘Sudah tidak ada gunanya lagi. Tapi harap kamu ingat, Steve, kamu akan semakin menjerumuskanku,’ jawab Puti lirih.
‘Puti, operasi ini akan banyak manfaatnya. Lupakan tentang resikonya. Buta adalah resiko paling jelek. ‘
‘Bukan itu yang kukuatirkan sebenarnya,’ jawab Puti. ‘Tetapi efeknya. Efek tidak langsungnya yang kumaksud. Dengan operasi nanti maka aku akan semakin berhutang budi kepada keluarga Gray. Mereka telah berbuat terlalu banyak untukku. Di saat seharusnya aku sudah bisa berdiri sendiri, aku justru memerlukan biaya yang besar. Tadinya aku berniat untuk menjalani operasi setelah uangku cukup untuk membiayaiku sendiri.’
‘Bukannya operasimu dijamin asuransi?’tanya Steve.
‘Karena kondisi mataku yang membutuhkan operasi terjadi sebelum aku ikut asuransi, jadi tidak ditanggung asuransi.’
‘Jadi selama ini hanya itu yang kamu kuatirkan?’ tanya Steve.
__ADS_1
‘Steve, bagiku itu hal itu sangat besar. Setiap kali aku menerima pertolongan dari keluarga Gray aku bukannya merasa senang, tetapi aku justru merasa tertekan. Rasa-rasanya aku lebih baik memilih buta daripada …’
‘Kalau begitu jangan minta tolong pada mereka. Biayai operasimu sendiri,’ potong Steve.
‘Kamu tahu aku tidak bisa,’ sahut Puti marah. ‘Aku tidak punya uang. Sedikit tabungan yang aku punya karena bekerja di Belmont sudah kukembalikan ke Mike.’
‘Apa maksudmu?’ Tanya Steve berubah menjadi sangat serius.
‘Mrs. Belmont tidak pernah menggajiku selama aku kerja di sana. Karena sejatinya dia tidak pernah membutuhkan kasir tambahan. Mike yang membayar gajiku,’ jawab Puti pelan.
‘Kamu serius?’ Tanya Steve. Puti mengangguk.
‘Kamu tidak tersinggung? Kamu tidak marah?’ Tanya Steve lagi.
‘Sangat tersinggung dan sangat marah. Makanya uangnya kukembalikan kepadanya.’
‘Dan dia mau menerima uang darimu. Uang yang kamu hasilkan dari kerja kerasmu?’
‘Aku tidak tahu. Mungkin. Ceknya aku titipkan ke Billy McCroom dan sejak Natal aku selalu menghindari Billy,’ ucap Puti.
‘Jadi kamu tidak punya uang?’ Tanya Steve sambil tersenyum. Puti mengangguk pasti. ‘Kamu bisa hutang kepadaku,’ Steve memberi jalan keluar.
‘Hutang padamu? Tidak, terima kasih. Mungkin akibatnya akan lebih parah lagi,’ tolak Puti.
‘Aku tahu apa yang kamu takutkan. Kamu takut aku akan menggunakannya sebagai senjata agar kelak kamu mau kawin denganku. Benar?’
‘Ya,’ jawab Puti. Steve tertawa keras.
‘Jangan takut, Put. Aku tidak seperti itu. Kalau hanya ingin memaksamu kawin denganku kurasa aku tidak memerlukan jalan itu. Tapi kalau kamu masih belum bisa mempercayaiku, kita buat perjanjian resmi nanti.’
‘Tapi bagaimana aku bisa membayarmu kembali? Aku belum bekerja. Satu-satunya pekerjaanku telah kulepas,’
‘Take your time, Puti. Lagi pula bukankah kita partner? Aku bisa saja langsung memotong dari hadiah yang kita peroleh bersama. Bagaimana?’
__ADS_1
☘️