
Aku hutang makan malam pada Steve, pikir Puti sambil membereskan buku-buku di atas bangku kuliahnya. Tapi apakah aku ingin bertemu lagi dengannya? Sebenarnya dia baik untuk dijadikan teman, sayang kedatangannya tidak tepat waktunya. Dia datang di saat aku sinis kepada semua orang, Puti menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
‘Hei, mengapa tersenyum sendiri?’ tiba-tiba sebuah suara terdengar di dekatnya. Puti melihat Billy McCroom berjalan mendekati bangkunya kemudian duduk di kursi di samping Puti. Billy McCroom tersenyum memamerkan giginya yang sempurna.
‘Aku sedang ingat kejadian yang lucu,’ sahut Puti.
‘Bagaimana hasil tugas Mr. Bilunka?’ tanya Billy. Puti menggelengkan kepalanya prihatin.
‘Sangat jelek. Mr. B menegurku karena tugas-tugasku makin hari makin ngelantur. Tak ada yang benar. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk bangun dan memperbaiki diri.’
‘Mudah-mudahan saja kamu segera sadar. Cepat atau lambat kamu harus keluar dari kedukaanmu,’ nasehat Billy. Puti mengangguk.
‘Seharusnya aku dulu mendengarkan usulmu untuk meninggalkan Mike. Jadi bukan aku yang ditinggalkan, melainkan aku yang meninggalkan,’ ucapnya sambil mencoba untuk tertawa. ‘Tetapi dua-duanya sama-sama menyakitkan,’ ralatnya cepat.
‘Kamu masih menangisinya?’ tanya Billy penuh perhatian.
‘Tidak lagi kurasa. Kalau aku menangis, aku menangisi diriku sendiri.’
‘Ayo, Puti, jangan cengeng. Aku mengenalmu sebagai gadis yang gagah. Tunjukkanlah kalau kamu mampu menemukan kebahagiaan pada pria lain. Masih banyak pria yang menantimu.’
‘Tidak semudah itu, Billy. Tapi percayalah aku sudah dan sedang berusaha.’
‘Ya, aku percaya...,’ sahut Billy. ‘Mrs. Belmont bilang kalau ada cowok yang naksir kamu,’ sambungnya.
‘Yang benar? Kok dia bisa lebih tahu dari aku?’
‘Cowok berambut emas yang datang setiap menjelang matahari terbenam dan pura-pura membeli sikat dan pasta gigi...’
Tawa Puti meledak. Ugh.. Mrs. Belmont membicarakan tentang Steve Carroll. Dan dia tahu kalau Steve selalu beli sikat dan pasta gigi. Puti tidak bisa menghentikan tawanya.
Billy senang mendengar tawa Puti yang dia kira telah hilang selamanya. Dia memperhatikan Puti dengan seksama. Dia melihat kacamata cantik yang dikenakan Puti.
‘Hei, kamu sudah mengenakan kacamata lagi,’ Billy mengalihkan pembicaraan. ‘Kamu sudah mampu membeli kacamata baru? Bagaimana dengan pekerjaanmu di Belmont’s? Mau kamu lepas?’ tanya Billy gencar. Puti bingung yang mana yang akan dijawab dahulu.
‘Aku tidak akan melepas pekerjaanku, Bill. Aku senang bekerja di sana,’ akhirnya Puti mampu juga menjawab.
‘Kamu tahu, Mrs. Belmont bangga sama kamu. Dia cerita kalau kamu kasir terbaik yang pernah dia miliki.’
‘Apakah dia juga cerita aku membuat banyak kesalahan ketika Mike baru saja memutuskan hubungan?’ ajuk Puti. Billy tertawa.
‘Kamu dulu bilang kalau kamu hanya butuh pekerjaan sampai kamu bisa beli kacamata.’
‘Kurasa aku akan butuh uang untuk jangka waktu yang lama, Billy. Kecuali kamu bisa mencarikan aku suami yang kaya raya,’ ucap Puti becanda.
‘Yang mengendarai Porche 911 kurang kaya?’ Tanya Billy. Puti terkejut. Bagaimana Billy bisa tahu tentang Steve Carroll dan Porche 911-nya?
__ADS_1
‘Dia bukan dokter mata..’ Puti pura-pura mengacuhkan pertanyaan Puti.
‘Kalau kamu butuh uang, mengapa tidak kamu jual saja cincin pertunanganmu?’ tanya Billy. Puti menatapnya tidak percaya.
‘Billy!!’ Protes Puti.
‘Dia sudah mencampakkanmu. Kamu tidak mau lagi pakai cincin itu. Mengapa tidak dijual saja?’
‘Cincin itu sudah kukembalikan ke Mike.’
‘Apa...!!!’ Giliran Billy yang berteriak tidak percaya. ‘Mengapa kau kembalikan ke Mike. Cincin itu milikmu. Mike sudah memberikannya kepadamu.’ Billy benar-benar penasaran.
‘Cincin itu hadiah bersyarat, Billy. Conditional Gift. Mike memberikannya kepadaku sebagai hadiah karena aku bersedia untuk menjadi istrinya. Karena tidak bakal ada perkawinan antara aku dan Mike, ya kukembalikan cincin itu kepadanya,’ Puti berusaha menjelaskan mengapa cincin itu dia kembalikan ke Mike.
‘Omong kosong,’ balas Billy sengit. ‘Aku tidak mengira kamu begitu bodoh. Kalau kamu yang meninggalkan Mike, kamu boleh mengembalikan cincin itu. Kalau Mike yang meninggalkanmu untuk mengawini asistennya, kamu jual cincin itu. Uangnya kamu pakai keliling Eropa sisanya kamu belikan mobil jadi kamu bisa bebas pergi kemana saja dan melupakan sakit hatimu,’ lanjut Billy berapi-api.
‘Billy, aku yakin harga cincin itu tidak seberapa. Boro-boro cukup untuk keliling Eropa. Untuk pergi ke New York pun kurasa pas-pasan,’ ucap Puti kalem.
‘Menurutmu, berapa harga cincin itu?’
‘Dua ribuan. Maksimal tiga ribu,’ jawab Puti. Billy menggelengkan kepalanya.
‘Minimal 80 ribu dollar,’ ucap Billy yakin.
‘Tidak mungkin,’ desis Puti.
‘Tadi malam aku nonton final The Bachelor, cincin yang diberikan ke pemenangnya harganya 80 ribu dolar. Berliannya tidak sebesar dan secantik punyamu.’
Puti meragukan informasi Billy.
‘Aku bisa menjualnya 50 ribu dolar dengan mudah. Minta kembali cincin itu dan aku jualkan untukmu. 5 persen komisi untukku sudah kebih dari cukup,’ ucap Billy yakin.
☘️
Puti berjalan menuju halte bis. Dinginnya udara membuat dia malas untuk berjalan kaki hingga ke asrama. Untung dia tidak harus menunggu bisnya. Begitu dia sampai di halte, sebuah bis berwarna kuning muncul dari tikungan.
Sesampai di apartemen Puti masih menjumpai Emma berbaring di sofa di ruang tamu..
‘Belum berangkat kerja, Em?’ tanyanya.
Emma menyngkirkan buku teks yang menutupi wajahnya.
‘Aku mengambil libur seminggu,’ jawabnya.
‘Mengambil libur seminggu? Untuk apa?’
‘Kamis yang akan datang adalah hari Thanksgiving, Puti. Tidakkah kamu ingat? Dan aku ingin pulang ke Youngstown,’ Emma mengingatkannya.
__ADS_1
‘Bukankah Thanksgiving jatuh di hari Kamis terakhir bulan November?’ Tanya Puti.
‘Kamis ke-empat bulan November, Put. Kamis depannya lagi kamis ke lima,’ jawab Emma sambil duduk.
Puti mengangguk. Dia salah hitung. Dia pikir Kamis terakhir di bulan November adalah Thanksgiving. Saat seharusnya Mike dan Cathy melangsungkan pernikahan mereka.
‘Mengapa kamu mengambil libur begitu lama?’ Tanya Puti mencoba melupakan pikirannya tentang Mike.
‘Semester ini aku jarang pulang ke Youngstown. Dan aku ingin menyiapkan acaraku untuk program TV. Bulan depan aku sudah bisa mempergunakan fasilitas studio.’
‘Acara apa yang ingin kamu tampilkan?’ tanya Puti mulai tertarik.
‘Bagaimana bila menampilkan fashion dari negara-negara di sisi lain dari bumi ini?’ Emma meminta pendapat Puti.
‘Kukira akan sangat menarik. ‘
‘Kamu mau membantuku?’
‘Kalau aku mampu aku bersedia.’
‘Good! Yang ingin kutampilkan pertama kali adalah fashion dari negaramu. Aku akan membutuhkan banyak sekali informai mngenai Indonesia. Aku sudah mempunyai gambaran dari cerita-ceritamu, tapi aku ingin yang lebih nyata. Kamu tidak akan keberatan bila barang-barangmu kupinjam untuk acaraku ‘ kan?’
‘Tentu saja tidak,’ jawab Puti.
‘Kalau kamu ingin yang lebih komplit lagi kamu bisa meminjam dari Tanti dan Don. Mereka banyak sekali membawa kain khas Indonesia. Dan kalau kamu menginginkan video tentang Indonesia kurasa aku bisa meminjamkannya dari keluarga Abdullah yang tinggal di Akron. Mereka punya koleksi lengkap.’
‘Puti kuhargai ide cemerlangmu,’ puji Emma. ‘Sesudah libur Thanksgiving ini aku akan segera menyusun acaraku.’
‘Semoga berhasil,’ ucap Puti sambil duduk di sofa di samping Emma.
‘Em, boleh aku tanya sesuatu..?’
‘Ya...’ jawab Emma.
‘Menurutmu aku harus mengembalikan cincin pertunanganku ke Mike?’ tanya Puti hati-hati.
‘Tentu saja tidak,’ jawab Emma cepat. ‘Cincin itu sudah diberikan Mike kepadamu. Apakah Mike meminta kembali cincinmu?’
Puti menggeleng. ‘Aku mengembalikannya ke Mike begitu dia bilang hubungan kami berakhir.’
‘Mike menerimanya?’ Tanya Emma. Puti mengangguk.
‘Dasar pelit!’ Komentar Emma. ‘Kamu akan mendapatkan cincin yang lebih bagus nanti, hibur Emma sambil memeluk pundak Puti. Lebih bagus dari cincin seharga 80 ribu dollar? Kurasa tidak akan , pikir Puti
‘Thanksgiving nanti kamu akan pulang ke Salem, Put?’ tanya Emma mengalihkan topik pembicaraan.
Untuk beberapa saat Puti sempat terdiam. Tahun-tahun yang silam mereka: Nancy, William, Mike dan dirinya selalu berkumpul pada Thanksgiving day untuk memanjatkan doa syukur bersama. Tahun ini pun Puti yakin Mike pasti akan pulang ke Salem, sedangkan dia belum siap untuk menghadapi Mike. Terlebih lagi bila tahun ini Mike berniat mengajak Cathy serta.
__ADS_1
‘Kurasa tidak,’ jawab Puti. Emma memandang Puti sejenak dan memaklumi jawaban itu.
‘Bagaimana kalau merayakan Thanksgiving bersama keluargaku?’ Emma menawarkan.