
‘Terserah. Tapi aku akan terus mengikutimu hingga kamu memberikan treat kepadaku,’ kejar si drakula tidak mau kalah. Puti kehabisan kalimat. Dia mempergegas langkahnya tidak mempedulikan hantu itu lagi. Count dracula tidak menyerah. Dia tetap membuntuti Puti. Hingga keluar dari kompleks Arbor Circle, drakula itu masih setia di belakangnya. Puti benar-benar naik pitam.
‘Hei, look,’ dia berhenti dan menghadapi drakula di belakangnya. ‘Kalau aku memberimu uang untuk membeli coklat, maukah kamu berjanji untuk meninggalkanku?’ tanya Puti. Wajah pucat di depannya mengangguk. Puti segera membuka tasnya untuk mencari uang receh. Tiba-tiba drakula itu tertawa ngakak. Tawa manusia, bukan tawa hantu. Puti menatapnya tidak senang. Drakula itu menghentikan tawanya sambil membuka topeng silikon yang menutupi wajah dan kepalanya.
‘Steve Caroll! Kamu benar-benar keterlaluan,’ teriak Puti jengkel. Dia benar-benar marah sekarang. Dengan cepat dia berjalan meninggalkan hantu yang telah kembali ke wajah aslinya. Steve berlari menyusulnya.
‘Puti, tidak seharusnya kamu marah. Malam ini segala tipu daya dihalalkan. Namanya juga malam trick or treat.’ Steve mencoba menjelaskan.
‘Yang berhak hanyalah anak-anak kecil, bukan laki-laki iseng macam kamu,’ protes Puti.
‘Maafkan aku,’ ucap Steve sambil mengiringi Puti.
Mengapa aku tidak mengenali suaranya? Sesal Puti dalam hati. Dia terus melangkah. Steve menyesuaikan langkah supaya tetap berada di samping Puti. Setelah berjalan beberapa saat, Steve menawarkan coklat yang ada di kantong kertasnya. Puti mengambil sepotong. Ternyata cukup banyak juga hasil jarahannya.
‘Aku sengaja menunggumu tadi,’ Steve menjelaskan. ‘Untuk mengingatkan kalau kita ada janji tanggal 2 pagi.’
‘Ya, aku ingat,’ sahut Puti. ‘Nah, sekarang tinggalkan aku.’
‘Kuantar kamu. Malam ini malam Halloween dan hantu-hantu di Kent semuanya keterlaluan.’
‘Tidak usah. Aku berani,’ Puti menolak. Steve tidak mempedulikan penolakan Puti. Dia masih tetap saja berjalan di samping Puti. Pada akhirnya Puti harus berterimakasih kepadanya.
Halloween tahun lalu Puti berada di Salem jadi dia tidak tahu seperti apa Halloween di Kent. Ternyata hantu-hantu gadungan Kent lebih sadis dari pada hantu sungguhan. Apalagi bila hantu-hantu tadi berpredikat mahasiswa. Segala kemampuan mereka kerahkan untuk menakut-nakuti orang. Kampus KSU mereka sulap menjadi kuburan yang angker. Lampu-lampu taman semuanya diboikot dan mayat-mayat hidup kembali. Lentera-lentera kecil yang bergelantungan di pohon-pohon melengkapi kesan angker tersebut.
__ADS_1
Mahasiswa-mahasiswa teknik listrik menunjukkan kemampuan mereka dengan sorotan-sorotan dan jerit-jerit yang meremangkan bulu roma. Mahasiswa biologi mengeluarkan persediaan kerangka-kerangka mereka dan mereka letakkan di tempat-tempat yang strategis. Semuanya ingin unjuk gigi. Puti tidak bisa membayangkan apa jadinya bila dia harus berjalan seorang diri menuju dormitory-nya yang ada di dalam kampus. Mungkin dia sudah pingsan sejak awal.
‘Terima kasih, Steve,’ ucapnya tulus setelah mereka tiba di halaman asrama.
‘Perlu kuantar sampai ke unitmu?’ Steve menawarkan. Dia tahu Puti tadi takut setengah mati. Entah berapa puluh kali lengannya tertembus kuku Puti setiap Puti mencengkeram lengannya karena kaget. Puti menggeleng sambil berusaha untuk tersenyum.
‘Selamat malam,’ ucapnya sambil berjalan melalui lorong menuju Gedung Pengelola. Dia menyangka terror Halloween sudah selesai. Tetapi ketika dia melewati lobby, pintu lobby terbuka dan tertutup sendiri , ringkik setan betina yang genit menggema memekakkan telinga.
‘Kapan orang-orang ini berhenti iseng?’ pikir Puti ketika dia sudah tiba dengan selamat di depan apartemennya. Masuk ke unitnya, dia kembali dikagetkan dengan adanya hantu wanita yang berpakaian satin putih, rambut putih tergerai, wajah tebal berwarna putih dan bau wangi yang menyengat hidung.
‘Emma, apa yang kamu lakukan!’ tegur Puti. Hantu wanita itu menyeringai mendengar teguran Puti.
‘Ayo cepat ganti pakaianmu, Put. Kita gentayangan malam ini. Aku sudah menyediakan pakaian untukmu,’ ucapnya sambil melemparkan seonggok pakaian persis seperti apa yang dikenakannya. Puti menatapnya bingung.
‘Emma’ hentikan!’ protes Puti. ‘Aku tidak mau ikut gila.’
‘Oh, ya? Kamu harus menurut. Malam ini semua penghuni asrama menjelma menjadi hantu. Tak terkecuali kamu,’ Emma memaksa sambil membuka lemari pakaian dan mengeluarkan pakaian senam Puti. We’ll have fun, honey. We’ll have fun,’ ucapnya berkali-kali. Tanpa sadar Puti menuruti kemauan Emma. Tidak ada salahnya ikut-ikutan iseng. Sekejab saja pakaian hantu sudah melekat di tubuhnya. Emma tersenyum lebar. Kemudian dia memerintahkan Puti untuk duduk di depan kaca rias.
‘Kupermak dulu wajahmu hingga kamu tidak bisa lagi membanggakan warna kulitmu yang sempurna,’ gumam Emma sambil memoles bedak basah berwarna putih. Puti curiga jangan-jangan yang dipoleskan di wajahnya itu kapur.
‘Emma, hati-hati. Masuk ke mataku semua,’ tegur Puti ketika matanya terasa pedih.
‘Tutup matamu,’ saran Emma sambil meneruskan pekerjaannya. Setelah wajah Puti selesai. Emma memasangkan wig putih ke kepala Puti dilengkapi dengan tanduk merah. Ketika Puti membuka matanya kembali yang nampak di cermin bukan lagi Puti yang dikenalnya melainkan setan yang mengerikan. Emma tersenyum puas.
__ADS_1
‘Sekarang giliranku,’ ucap Puti. ‘Bukan kamu saja yang bisa menyulap wajah,’ lanjutnya sambil memaksa Emma untuk duduk di tempatnya tadi. Kemudian dia mengambil lipstik merah menyala. Dengan gerakan ahlinya dia mulai mengecat bibir Emma menjadi bibir badut. Lebar dan lucu. Perpaduan yang aneh. Mengerikan sekaligus lucu. Puti tak dapat menahan tawanya. Dia tertawa lepas. Emma ikut tertawa. Dia senang melihat Puti bisa tertawa lagi setelah hubungannya dengan Mike putus.
Setelah dandanan mereka beres, mereka segera keluar asrama untuk mencari mangsa. Seluruh penghuni asrama pun ke luar. Dengan menenteng tas katun, berdua mereka menuju ke rumah-rumah penduduk. Kadang mereka bergabung dengan anak-anak kecil mengetok setiap pintu. Kadang mereka memisahkan diri untuk masuk ke apartemen-apartemen. Tas mereka sudah hampir penuh dengan segala macam kembang gula dan coklat, tetapi nampaknya Emma masih enggan untuk menghentikan kegiatan yang mengasyikkan itu. Apalagi semakin larut semakin banyak hantu yang keluar.
‘Em, tasku sudah berat. Kurasa sebaiknya kita pulang,’ usul Puti yang sudah mulai merasa capai.
‘Apartemen yang di depan sana belum kita masuki,’ jawab Emma.
‘Demi Tuhan, Emma, kakiku sudah penat. ‘
‘Satu lagi, dear Puti. Sesudah itu kita langsung pulang,’ bantah Emma keras kepala. Puti mengalah.
Mereka memasuki sebuah apartemen yang tampak mewah. Emma masuk ke lobby tanpa merasa canggung sedikit pun padahal Puti sudah bersiap-siap untuk keluar ketika melihat orang-orang menoleh ke arah mereka sambil tersenyum. Emma kemudian mengajak Puti masuk ke dalam lift. Kemudian dia menekan tombol bernomor 5. Beberapa saat kemudian mereka sudah berkeliaran di lantai lima. Tiba-tiba Emma menyentuh bahu Puti untuk menekan bel di sebuah pintu. Jari telunjuknya tidak dia lepaskan dari bel itu hingga dia mendengar langkah-langkah yang mendekat.
‘Trick or treat!’ teriak Emma begitu pintu terkuak. Puti tidak bisa ikut berteriak. Dia kaget melihat wajah yang muncul dari pintu itu. Bukan wajah wanitanya yang dia kagetkan, tapi wajah prianya. Steve Carroll. Pakaian drakulanya sudah dia ganti dengan celana jeans dan kaos lengan panjang berwarna merah. Dan Puti bersyukur telah mengenakan make up dan pakaian yang sebegitu rupa sehingga Steve tidak bisa mengenalinya.
Jadi di sini dia tinggal? Dan siapakah wanita itu? Istrinyakah? Puti mengira-ngira. Steve mengulurkan sekeranjang coklat ke arah Emma. Emma mengambil beberapa potong dan di masukkan ke dalam tas Puti, kemudian mengambil beberapa potong lagi untuk dirinya sendiri. Steve tersenyum melihat keserakahan Emma.
‘Aku akan senang bila kalian sering mampir ke sini,’ komentarnya. Wanita di samping Steve menatap tidak senang.
‘Gracias, senor,’ ucap Emma dalam bahasa Spanyol sambil memberi tanda kepada Puti untuk segera berlalu. Puti tidak mengucapkan terima kasihnya. Dia takut Steve akan mengenali aksennya.
‘Hei, kurasa aku mengenalimu!’ teriak Steve lantang. ‘Emma, kamukah itu?’ tanyanya. Puti bernafas lega. Dia tadi menyangka kalau Steve mengenalinya. Ternyata yang dikenalinya Emma.
__ADS_1
‘No, senor,’ sahut Emma sambil terus berjalan.