
Ternyata duka tinggal lama di hati Puti. Berhari-hari dia seakan berada di planet lain. Dia merasa asing terhadap lingkungannya. Dia bahkan merasa asing terhadap dirinya sendiri.
Emma bersikap ekstra manis terhadapnya. Pulang kerja dia selalu membawakan pizza jamur dan es krim kesukaannya. Tetapi Puti sendiri tidak bergairah. Dia tidak merasa lapar. Dia tidak merasa apa-apa. Kosong. Hampa.
Kuliah Puti pun terbengkelai. Kalau saja dia tidak malu hati kepada Billy McCroom yang sudah bersusahpayah mencarikan pekerjaan untuknya, mungkin dia pun akan mangkir dari pekerjaannya. Jadi walaupun dia tidak bersemangat dia paksakan juga untuk datang ke Belmont setiap sore.
Untung Mrs. Belmont tidak secerewet dan sebawel yang digambarkan Emma. Kalau dia persis gambaran Emma dulu, Puti pasti sudah dipecat karena sering melalaikan tugasnya. Seperti sore itu dia tidak menyadari kalau seorang pelanggan telah lama berdiri di depannya siap untuk membayar. Puti baru tersadar setelah Mrs. Belmont meneriakkan namanya.
‘I’m sorry,’ sesal Puti sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Pemuda di depan Puti membalas dengan senyuman pula. Tiba-tiba pemuda itu membelalakkan matanya.
‘Akhirnya aku menemukanmu,’ serunya.
‘Maaf?’ ucap Puti tidak mengerti.
‘Kamu tidak mengenaliku? Kacamata? Tupai? Daun-daun musim gugur? Aku yang menabrakmu dengan sepeda dan memecahkan kacamatamu. Kamu lupa?’ Pemuda itu berusaha keras untuk mengingatkan Puti.
Puti mengamatinya lebih lama. Sekarang dia baru ingat. Mata biru secerah langit, rambut pirang platinum dan wajah paling tampan yang pernah dia lihat. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan wajah yang begitu sempurna? Ya, dia ingat. Pemuda itu adalah pemuda yang menabraknya beberapa minggu lalu.
‘Ya. Aku ingat sekarang,’ ucap Puti sambil tersenyum. Senyum pertama yang tidak dia paksakan.
‘Waktu itu kamu berjanji akan menungguku. Mengapa kamu ingkari janjimu?’
‘Eeer … eer, waktu itu tiba-tiba aku sadar kalau aku ada kuliah,’ jawab Puti gagap. Dia tidak menyangka bakal ketemu lagi dengan pemuda itu sehingga dia tidak pernah menyiapkan alasan yang tepat.
‘Aku kembali lagi ketempat itu dan tidak menemukanmu. Aku keliling kampus untuk mencarimu.’
‘Tapi usahaku sia-sia. Setiap hari aku kembali ke tempat yang sama dengan harapan kamu akan lewat. Tetapi, kamu tidak pernah muncul lagi
‘Maafkan aku,’ ucap Puti sambil mengambil barang-barang pemuda itu dan menghitungnya di cash register. Sembilan dolar tiga puluh lima sen,’ katanya sambil memasukkan barang-barang tadi ke dalam kantong kertas. Pemuda itu mengulurkan uang sepuluh dolar kepada Puti.
‘Nah, sekarang katakan kapan kamu punya waktu untuk mencari pengganti kacamatamu,’ tanya pemuda itu sambil menanti uang kembalian
‘Apa?’
‘Aku ingin mengganti kacamatamu yang kupecahkan.’
‘Lupakanlah,’ sahut Puti. ‘Aku tidak membutuhkan kacamata lagi. Aku masih bisa melihat dengan jelas walau tanpa kacamata,’ lanjutnya sambil mengulurkan uang kembalian. Pemuda itu menghitungnya kemudian tawanya meledak. Kalau dia tertawa seperti itu mata birunya yang secerah langit Kent semakin berbinar.
__ADS_1
‘Apanya yang lucu?’ tegur Puti.
‘Kamu bilang kamu masih melihat dengan jelas. Tetapi mengapa kamu beri aku kembalian tujuh puluh lima sen padahal aku hanya berhak enam puluh lima sen?’ goda pemuda itu. Dia mengembalikan 10 sen kelebihannya. Puti tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menyesali dirinya sendiri. Tuhan, aku kembali tidak teliti lagi. Kalau terus-terusan begini Belmont bisa bangkrut.
‘Jadi? Kamu belum menentukan waktunya,’ desak pemuda itu.
‘Sudah kukatakan aku tidak … ‘
‘Aku sudah mendengarnya,’ potong pemuda itu cepat. ‘Tetapi aku benar-benar ingin mengganti kacamatamu. Sebelum aku menggantinya aku seperti dikejar dosa. Ijinkan aku mengganti kacamatamu. Aku kenal seorang dokter mata yang hebat. Kita pergi ke sana dulu untuk mendapatkan ukuran lensa yang tepat. Kapan kamu punya waktu? Besok pagi?’
‘Tidak. Aku tidak bisa. ‘
‘Lusa?’
‘Aku juga tidak bisa. ‘
‘Kapan?’
‘Aku tidak tahu,’ sahut Puti dongkol.
‘ Oke … Aku ke sini lagi besok untuk menanyakan kepastiannya,’ pemuda itu memutuskan. ‘See you,’ lanjutnya sambil berjalan menjauhi Puti. Beberapa detik kemudian dia sudah kembali lagi berdiri di depan Puti dengan senyum lebar. Puti baru menyadari kalau ada lesung pipit di kedua pipinya bila dia tersenyum. Bagaimana aku bisa jengkel melihat senyum seperti itu, pikir Puti
‘Kita belum berkenalan,’ jawab pemuda itu. ‘Aku Steve. Steve Caroll,’ dia menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya.
‘Puti. P..u..t..i,’ balas Puti sambil mengeja namanya.
‘Puti siapa?’
‘Hanya Puti.’
‘Nomer telpon?’
‘Aku tidak punya.’
☘️
Keesokan harinya Steve Caroll benar-benar datang ke Belmont. Dia pura-pura beli sikat dan pasta. Begitu antrian di kasir Puti kosong dia langsung mendekatinya dan membayar belanjaanya. Ketika dia menanyakan kapan Puti punya waktu, Puti berhasil mengelak dengan berbagai macam alasan.
Namun Steve Caroll pantang menyerah. Dia tetap datang dan datang lagi hingga Puti menyadari dia tidak mungkin mengelak terus-menerus.
__ADS_1
‘Jadi besok sore kamu akan datang lagi beli sikat dan pasta gigi?’ Tanya Puti ketika di hari ke lima Steve muncul di depannya untuk membayar belanjaannya.
‘Maksudmu?’ Tanya Steve sambil menahan senyum.
‘Kamu kurang kreatif. Biar tidak kentara seharusnya kamu beli barang yang lain. Jangan setiap hari beli barang yang sama,’ Puti menjelaskan.
‘Kamu saja yang tidak peka,’ sahut Steve. ‘Aku sengaja beli barang yang sama setiap hari biar kamu sadar kalau aku kesini bukan untuk belanja.’ Ganti Puti yang menahan senyum.
‘Lantas untuk apa?’
‘Kapan kamu bisa pergi cari kacamata?’
‘Tanggal 2 November,’ akhirnya dia menyerah.
‘Mengapa harus tanggal 2?’ Kejar Steve.
‘Karena hanya hari itu aku luang,’ bohong Puti. Dia tidak mau mengatakan kalau hari sebelumnya dia baru akan menerima gaji mingguannya. Tanpa gaji itu Puti tidak yakin kalau keseluruhan uangnya cukup untuk menutup ongkos dokter mata yang terkenal mencekik leher.
☘️
31 Oktober. Hari terakhir bulan Oktober. Orang Amerika menyebutnya Halloween. Malam berjuta hantu. Di setiap halaman rumah orang memasang pumpkin yang telah dikosongkan isinya dan dipahat menyerupai tengkorak manusia. Di dalam pumpkin-pumpkin kosong tadi dipasang lentera kecil yang menyala sehingga sinarnya bisa keluar melalui ‘mata, hidung dan mulut’-nya. Kesan angker benar-benar ingin ditunjukkan.
Malam Halloween. Segala macam ‘hantu’ akan bergentayangan menyerbu ke rumah-rumah penduduk. Bahkan mereka memasuki pula toko-toko. Teriakan Trick or Treat bergema dimana-mana.
Belmont Drugstore pun menjadi sasaran. Puti yang berdiri di depan cash register berkali-kali harus tersentak kaget bila tiba-tiba muncul hantu kecil yang menyeramkan dan menadahkan tangan ke arahnya minta sepotong coklat. Mrs. Belmont begitu menikmati hantu-hantu itu. Tawanya terdengar bila melihat hantu yang berbusana aneh. Dia sengaja menyediakan berkilo-kilo kembang gula utuk mereka.
‘Bawalah beberapa potong coklat, Put. Siapa tahu kamu nanti dicegat segerombolan hantu,’ Mrs. Belmont menyarankan ketika melihat Puti mengenakan jacketnya siap untuk pulang.
‘Ah, tidak ada hantu yang berani menganggu saya,’ kilah Puti. Sesudah berpamitan dengan Mrs. Belmont dia segera keluar tanpa membawa coklat.
Suasana Arbor Circle benar-benar berubah. Lampu-lampu semuanya bersinar redup.
Hanya lampu-lampu di tempat parkir saja yang menyala terang. Dan di bawah terangnya lampu itu Puti bisa menyaksikan segerombolan hantu kecil yang tengah membandingkan hasil operasi mereka. Puti tersenyum melihat kejadian itu . Belum lagi senyumnya hilang dari bibirnya sebuah bayangan berpakaian serba hitam berdiri menghadang jalannya.
‘Trick or treat,’ ancam bayangan itu. Puti kaget setengah mati, untung dia segera teringat kalau manusia berpakaian ala Count Dracula dengan wajah pucat itu hanyalah drakula gadungan.
‘Aku tidak mempunyai coklat yang dapat kuberikan,’ jawab Puti.
‘Bagaimana kalau sebuah ciuman?’ drakula itu menawar. Puti benar-benar geram mendengar kalimat melecehkan itu. Tetapi dia sadar bila dia menunjukkan kemarahannya, hantu di depannya itu akan semakin menggodanya.
__ADS_1
‘Persediaan ciumanku pun sudah habis,’ jawab Puti berusaha menekan emosinya.