Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Pulang ke Salem


__ADS_3

Mike dan Puti berjalan beriringan menuju ke mobil Mike. Salju yang berbentuk bagai bunga kapas melayang turun seakan menyambut mereka.


Mereka sudah berada di samping mobil dan Mike sudah membuka pintu ketika tiba-tiba saja Puti mendengar namanya dipanggil. Dia menoleh ke arah datangnya panggilan itu dan melihat Steve yang tengah berlari ke arahnya. Langkahnya ringan dan yakin, tanpa mempedulikan salju yang telah membeku di aspal yang sangat licin.


Puti tidak jadi masuk ke dalam mobil dan menanti Steve. Mike yang melihat sikap Puti menjadi heran tetapi segera mengerti ketika mengikuti arah pandangan Puti.


‘Untung kamu belum berangkat,’ kata Steve begitu tiba di dekat Puti. Senyumnya cerah. Walaupun nafasnya masih belum teratur tetapi dia kelihatan lega. ‘Sebenarnya aku sudah berangkat dari rumah sejak tadi, tapi mobilku selip di dekat pintu masuk kampus. Usahaku untuk mengembalikannya ke jalan sia-sia. Maka dari pada terlambat aku memutuskan untuk jalan kaki.’ Steve menjelaskan sambil mengulurkan bungkusan yang ditentengnya ke arah Puti.


‘Ini hadiah Natal untukmu,’ ucapnya. Puti menerimanya sambil tersenyum manis. Ditimangnya bungkusan sepanjang sekitar satu meter lebar 20 sentimeter tersebut dengan rasa ingin tahu. Panjang, ringan dan terbungkus rapi dengan pita sutera dobel berwarna merah dan hijau.


‘Terima kasih, Steve,’ ucapnya. ‘Hadiahku untukmu kutitipkan Emma.’ Steve mengangguk sambil memandang Mike. Puti segera menyadari dan memperkenalkan mereka berdua.


‘Oh ya, Steve, kenalkan abangku, Mike Gray. Mike, kenalkan temanku, Steve Carroll,’ ucap Puti. Mike dan Steve saling berjabat tangan, saling mengucapkan kalau mereka senang berkenalan dan saling menilai.


Steve menilai Mike dengan kritis, berusaha menemukan kelemahan Mike sebanyak mungkin. Dia tidak menemukannya. Steve langsung mengerti mengapa Puti begitu mencintainya. Mike begitu ganteng dengan rambut gelap dan mata kelabunya. Pembawaannya tenang, dewasa serta serius, sangat bertolak belakang dengan dirinya.


Steve menyadari dirinya bukan apa-apa bila dibandingkan mantan tunangan Puti. Mike ahli hukum lulusan Yale, anak seorang diplomat yang juga meniti karier ke arah itu. Sedang dia hanyalah anak dari sebuah perkawinan yang pecah. Tidak heran Puti begitu mengagumi pria ini, pikir Steve.


Sementara Mike menilai Steve dengan iri. Muda, tampan, atletis, mempesona dan mengagumi Puti secara terbuka. Pemuda yang tidak takut untuk mengungkapkan isi hatinya.


‘Kami harus segera pergi, Steve.’ Puti memecahkan pertempuran psikologis dalam hati antara Steve dan Mike.


‘Oh ya … ya, selamat jalan,’ Steve tergagap. ‘Sampai jumpa di tahun baru, Puti.’


‘Apakah kamu mau menumpang mobil kami, Steve?’ Mike menawarkan dengan simpatik.


‘Tidak terima kasih,’ Steve menolak tawaran tersebut. ‘Aku sudah telpon AAA, satu jam lagi mereka baru bisa datang menarik mobilku. Aku mau nunggu di apartemen Emma saja.’


Mike dan Puti segera masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil berjalan, Puti menjulurkan kepalanya keluar.


‘Selamat hari Natal, Steve! ‘teriaknya.

__ADS_1


‘Selamat hari Natal,’ balas Steve sambil mengembangkan senyum hangatnya.


Mike menjalankan mobilnya dengan hati-hati. Maklum belum semua jalanan kampus sempat ditebari garam. Dia tidak menginginkan kejadian yang menimpa Steve menimpa mereka pula. Di dekat pintu gerbang utama kampus mereka melihat sebuah mobil Porche warna merah menyala terperosok ke dalam timbunan salju.


‘Kurasa itu mobil Steve,’ Mike berkata sambil menunjuk mobil berwarna merah. tersebut.


‘Ya,’ Puti mengiyakan dengan malas. Kemudian mereka berdiam diri.


‘Puti, apakah Steve itu anak John Stuart Carroll?’ tanya Mike ketika mereka mulai masuk ke highway meninggalkan kota Kent. Puti mengangguk.


‘Kamu mengenalnya?’ tanya Puti.


‘Tidak, hanya pernah dengar namanya saja. John Caroll adalah seorang industriawan paling sukses di Ohio. Salah seorang paling berpengaruh di negeri ini kukira.’ Mike menjelaskan.


‘Dia teman kuliahmu?’ Mike bertanya setelah terdiam beberapa saat.


‘Bukan,’ jawab Puti pendek.


‘Dari mana kamu kenal dia?’ tanya Mike gencar.


‘Emma Walden?’ tanya Mike lagi. Puti mengangguk.


Sesudah itu mereka kembali berdiam diri. Puti heran mengapa mereka bisa sekaku itu. Padahal beberapa bulan lalu, bila mereka sedang berdua, mereka mempunyai begitu banyak bahan yang bisa dibicarakan. Terutama yang menyangkut masa depan mereka.


Untuk menghilangkan kesenyapan di antara mereka, Puti memutar radio. Serangkaian lagu-lagu Natal menggema syahdu. Puti termangu. Di malam Natal tahun yang lalu dia dan Mike meresmikan pertunangan mereka. Dengan iringan lagu-lagu Natal, Mike memasukkan cincin ke jari manis Puti. Puti mencuri pandang ke arah Mike untuk melihat reaksi Mike mendengar lagu-lagu Natal tersebut. Apakah Mike masih ingat saat-saat indah ketika dia melamar Puti untuk menjadi istrinya. Puti sangat kecewa karena ternyata Mike sama sekali tidak bereaksi.


Pertunangan itu sama sekali tidak berarti baginya, pikir Puti dengan hati duka. Bagaimana dengan pertunangannya yang baru? Steve benar, aku pulang hanya untuk menyakiti hatiku sendiri.


Puti merasa begitu lega ketika akhirnya mereka tiba di rumah besar keluarga Gray di Salem. Dia bahagia bisa bertemu dan berbagi cerita dengan William dan Nancy.


Hari-hari di Salem berlalu dengan lambat sekali. Walaupun Puti sudah berusaha menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan: mengatur hiasan Natal, membuat kue-kue kering dan main kereta luncur di halaman belakang yang luas, namun toh Puti masih merasa bosan juga. Apalagi bila malam tiba, dimana hampir tidak ada kegiatan yang bisa dilakukannya. Baik Mike, Puti, Nancy maupun William semuanya menyadari kejanggalan suasana rumah mereka namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaan memang sudah berubah.

__ADS_1


☘️


Siang itu Puti memutuskan untuk jalan-jalan di hutan lindung yang berbatasan dengan halaman belakang rumah keluarga Gray. Hutan yang di musim lainnya rimbun, kini kehilangan daun. Dahan dan ranting-ranting yang tersisa berusaha menahan salju yang turun lebat malam sebelumnya.


Biasanya di musim dingin seperti ini, banyak penghuni hutan yang kelaparan dan berusaha mendekati pemukiman untuk mencari makan. Puti pun mencari wortel untuk dia bawa ke hutan. Siapa tahu bertemu dengan kelinci atau kijang.


‘Mom, tidak punya ekstra wortel ya?’ Tanya Puti kepada Nancy yang tengah nonton TV dengan William di ruang keluarga.


‘Ada di kulkas basement, Honey. Untuk apa?’


‘Aku mau jalan ke hutan sebentar,’ jawab Puti.


‘Biar aku yang ambil. Kutemani kamu ke hutan. Tubuhku perlu gerak.’ William Gray bangkit dari sofa dan langsung berjalan menuju ke lantai bawah untuk mengambil wortel. Beberapa saat kemudian dia muncul kembali sudah mengenakan jaket tebal, sepatu boot dan topi serta tas berisi wortel di tangannya.


‘Mom, tidak ikut?’ Puti bertanya kepada ibunya. Tidak perlu ditawari dua kali, Nancy langsung berdiri dan mengambil jacket dan topi di kloset di samping toilet ruang tamu. Bertiga mereka segera keluar dari rumah.


Mike Gray yang mengurung diri di kamarnya di lantai 2 sejak selesai sarapan, mendengar langkah-langkah dan kegaduhan di lantai dasar. Dia berjalan menuju jendela dan melihat keluar. Tampak bapak ibunya dan Puti berjalan berangkulan menjauhi rumah menuju ke hutan. Derai tawa mereka terbawa angin terdengar jelas di telinganya. Mike merasa tersisih.


Selama tiga hari Mike berusaha dan gagal berkomunikasi dengan Puti. Pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan ke Puti hanya dijawab dengan satu dua patah kata tanpa emosi. Setiap berkumpul di meja makan atau ruang tamu, Puti selalu menghindari untuk menatap ke arahnya. Di mata Puti, aku sudah tidak eksis lagi. Dia pulang ke Salem untuk menghabiskan waktu bersama Mom dan Dad. Bukan bersamaku


Sekitar dua jam setelah William, Nancy dan Puti masuk ke hutan, Mike mendengar suara bel berbunyi beberapa kali.


‘Huh, mereka lupa membawa kunci rupanya,’ gerutu Mike sambil menuruni anak tangga.


Ketika pintu terbuka, bukan orangtuanya dan Puti yang berdiri di depannya, melainkan Cathy Kates dengan senyum lebarnya.


‘Surprise!!!’ Teriak Cathy sambil menghambur ke pelukan Mike.


‘Cathy, apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu natalan bersama keluargamu?’ Tanya Mike bingung.


‘Kamu tidak senang aku datang?’ Tanya Cathy merajuk.

__ADS_1


‘Tentu saja aku senang bertemu denganmu. Tapi sudah kubilang jangan datang dulu sebelum kuluruskan masalah pribadiku dengan keluargaku,’


‘Mereka nanti akan jadi keluargaku juga. Jadi kita selesaikan masalahmu bersama,’ sahut Cathy masa bodoh sambil menerobos masuk ke dalam rumah. Langkahnya tiba-tiba terhenti dan dia membelalak kaget. Beberapa meter di depannya berdiri mematung Nancy, William dan Puti.


__ADS_2