
Sudah lama Puti tidak bermain catur. Terakhir kali dia main catur sebelum dia datang ke Amerika. Berarti sudah lebih dari 4 tahun lalu. Dengan memeras keringat dan otak akhirnya Puti berhasil memenangkan permainan melawan Christy.
‘Wah baru sekarang aku dapat lawan yang tangguh,’ komentar Christy sambil tersenyum puas.
‘Bagaimana kalau aku mencoba melawan yang menang?’ Steve menantang. Barulah Puti sadar kalau Steve begitu dekat dengannya.
‘Aku sudah tidak sanggup lagi bermain,’ tolak Puti. Steve tersenyum lucu.
‘Mau main bersamaku, Christy?’ dia beralih kepada adiknya.
‘Nggak mau. Kamu selalu curang kalau main.’ Christy menolaknya pula.
‘Bagaimana kalau kita main canasta? Kamu dan Emma melawan aku dan dad?’ Usul Mrs Walden.
‘Aku harus pergi ke rumah Nick. Keluarga Nick sedang kumpul di sana. Aku mau mampir sebentar untuk bertemu mereka,’ jawab Emma. ‘Kamu mau ikut aku, Put?’ Emma menawarkan.
‘Aku di rumah saja, Em. Mau coba main canasta,’ jawab Puti yang tidak ingin menganggu kebersamaan Emma dengan keluarga Nick.
‘Yakin?’ Tanya Emma ragu.
‘Ya, dia yakin.’ Steve yang menyahut sambil mengeluarkan kartu dan menyuruh Puti duduk di seberangnya. Mr. dan Mrs Walden juga segera mengambil posisi.
Begitu Emma dan Nick pergi, Steve segera mengocok kartu dan membagikan sebelas kartu ke masing-masing pemain. Meletakkan sisanya ke tengah-tengah meja dan membuka kartu yang paling atas.
Mr. Walden ternyata pemain yang serius. Lama dia mempertimbangkan kartu mana yang akan dibuka, mana yang akan disusun menjadi meld dan mana yang akan dibuang.
‘Kayaknya kita baru akan selesai Natal nanti,’ olok Steve. Mr. Walden tersenyum dan mempercepat tempo permainannya.
Ketika giliran Puti, Steve memandangnya lama seakan memberinya isyarat kartu mana yang harus dibuangnya. Tiba-tiba Puti menyadari mata Steve yang kalau berada di luar cerah seperti langit di musim panas, berubah menjadi biru gelap. Gelap. Dan Puti tahu kartu mana yang harus dibuangnya. Kartu kecil berwarna hitam. Steve tersenyum setuju.
Berlawanan dengan suaminya, Mrs.Walden pemain yang sangat spontan. Cepat memutuskan tanpa banyak pertimbangan. Prinsipnya asal kartu di tangan cepat habis.
Tengah serunya mereka bermain Christy muncul membawa piring-piring kecil berisi pie lemon buatannya.
‘Christy darling, tolong siapkan bantal dan selimut untuk abangmu,’ ucap Mrs. Walden. ‘Steve kamarmu dipakai Puti jadi kamu tidur di sofa,’ alihnya pada Steve.
‘Biar saya saja yang tidur di sofa,’ sahut Puti cepat.
‘Puti bisa tidur di kamarku. Malam ini aku mau mengantri di The Electronics. Besok Black Friday. Ada laptop yang ingin kubeli, mumpung diskonnya besar,’ usul Christy.
__ADS_1
‘Aku saja yang tidur di kamarmu. Puti biar tetap tidur di kamarku,’ jawab Steve.
‘Tapi kamu ngedrop aku di The Electronics ya? Aku sudah janjian sama teman-temanku untuk ketemuan di sana.’ Christy menawar.
‘Oke, aku selesaikan permainan ini dulu. Tidak akan lama,’ ucap Steve yakin. Dan dalam tiga kali putaran skor yang dicapai Steve dan Puti sudah lebih dari 5000 poin. Game Over.
‘Permainan yang bagus, Mom..Dad’ ujar Steve sambil merapikan kartu yang baru saja mereka pakai dan memasukkannya ke dalam kotaknya.
‘Kalau kalian tidak bermain mata, kami bisa mengalahkan kalian,’ komentar Mrs. Walden sambil tersenyum.
‘Main mata bagaimana?’ Tanya Steve.
‘Jangan pura-pura. Setiap giliran Puti, kulihat kalian saling pandang dan mengirim isyarat,’ jawab Mrs. Walden. Steve tertawa keras mendengar tuduhan ibunya.
‘Mom, itu strategi. Tidak melanggar aturan permainan,’ jawab Steve seakan membenarkan tuduhan ibunya.
Jam satu dini hari, Steve sudah siap untuk mengantar Christy menuju ke Mall untuk antre barang obral dalam rangka menyambut Black Friday.
‘Tidak ada barang yang ingin kamu beli, Put?’ Tanya Steve kepada Puti.
‘Aku tidak tahan untuk antre berjam-jam hingga toko buka di suhu udara yang dingin seperti ini,’ jawab Puti.
‘Mau nemani aku ngedrop Christy dan keliling kota Youngstown di malam hari?’ Ajak Steve.
☘️
Walau pun semuanya tidur sesudah matahari terbit, tapi pada saat makan siang semuanya sudah berkumpul di meja makan keluarga Walden. Termasuk Christy yang baru datang dan memamerkan laptop barunya yang dia beli dengan harga diskon.
‘Kamu jadi ikut lomba desain rumah murah, Steve?’ Mr. Walden bertanya.
‘Entahlah. Aku belum menemukan partner untuk menangani interior, padahal sebelum Natal, maket dan perincian biayanya sudah harus masuk,’ jawab Steve.
‘Hei, Emma, apakah ada temanmu yang ahli interior?’ tanyanya beralih pada Emma.
‘Kalau pun ada aku tidak akan memperkenalkan dia kepadamu,’ sahut Emma ketus.
‘Ayolah, Emma, tidak bisakah kita berdamai? Sudah lebih dari dua tahun kamu menyalahkanku. Padahal Tracy sudah ganti pacar tiga kali,’
‘Jadi kalian bermusuhan itu gara-gara Tracy? Tracy Hall?’ Celetuk Christy.
__ADS_1
‘Tracy Hall sahabatku, Chris, gara-gara Steve tidak setia aku kehilangan sahabat,’ bela Emma.
‘Menurutku, gara-gara Tracy Hall tidak setia kamu kehilangan seorang kakak,’ sahut Christy yakin. Semua mata tertuju pada Christy untuk memberikan penjelasan lebih jauh.
‘Sewaktu masih pacaran dengan Steve, Tracy juga pacaran dengan.... Siapa itu, Em, pemain quarter back angkatanmu yang keturunan Italia?’ Christy bertanya ke arah Emma.
‘Danny Romano?’ Sahut Emma dengan pertanyaan.
‘Ya, itu dia. Beberapa kali aku memergoki mereka tengah ciuman di bawah bangku penonton di lapangan bola. Aku senang ketika Steve akhirnya meninggalkan dia.’ Christy menyelesaikan argumentasinya. Mengangguk dan tersenyum bangga ke arah abangnya. Steve mengembangkan senyum kikuk yang sulit diartikan. Sementara Emma nampak kaget.
‘Jadi, Emma, maukah kamu memperkenalkan temanmu?’ Steve mengalihkan pembicaraan ke topik semula. Matanya menatap Emma penuh harapan bagai anak kelinci yang menanti lemparan wortel.
‘Tidak ada temanku yang ahli dekorasi,’ akhirnya Emma menjawab.
‘Pasti ada!’ sanggah Steve yakin. ‘Bukankah kamu dan teman-teman asramamu yang telah menggarap interior rumah jompo yang baru di Kent? Siapa perencananya?’ Emma dan Puti berpandang-pandangan mendengar Steve menyebut tempat itu.
‘Aku tidak tahu apakah dia mau bekerja sama denganmu atau tidak,’ ucap Emma sambil melemparkan senyum ke arah Puti. Nada suaranya tidak lagi seketus tadi.
‘Kenalkan dulu aku padanya dan serahkan aku untuk membujuknya. ‘
‘Stephen Carroll!’ Emma berseru geram. Matanya bersinar marah. Steve segera menyadari kalau dia telah kelepasan bicara.
‘Sorry, Em. Bukan seperti itu maksudku,’ ucap Steve tulus. ‘Aku benar-benar memerlukan seseorang dengan sentuhan artistik. Tidak ada gunanya aku merencanakan bangunan yang indah kalau komposisi warna dan dekorasinya kedodoran . Tapi kalau kamu memang tidak bersedia untuk memperkenalkan dia kepadaku, ya tidak apa-apa. Hanya sayang rasanya melewatkan kesempatan yang bagus ini. Bukan hadiahnya yang kujadikan sasaran tapi aku perlu untuk porfolioku.’
‘Bagaimana pembagian hadiahnya?’ tanya Emma. Steve memandangnya tidak percaya.
‘Katakan dulu pembagian hadiahnya,’ Emma tidak mau kalah.
‘Tujuh puluh lima - dua puluh lima. Apakah kira-kira dia mau?’
‘Itu namanya kamu merendahkan dia. Kamu menganggap dirimu lebih baik. ‘
‘Tapi porsi pekerjaanku memang lebih banyak,’ bantah Steve. ‘Dia hanya melengkapi desain utama yang sudah kurancang.‘
‘Baru saja kamu bilang kalau kamu tidak membutuhkan hadiahnya,’ Emma mengingatkan.
‘Oke. Bagaimana kalau separo-separo,’ Steve mengalah.
‘Ya, kurasa memang sebaiknya begitu. Tapi lebih baik lagi kalau kamu menanyakan langsung kepadanya.’
__ADS_1
‘Jadi kamu mau memperkenalkan aku kepadanya?’ tanya Steve penuh semangat. Emma mengangguk. ‘Kapan?’ tanya Steve lagi.
‘Sekarang juga bisa,’ jawab Emma sambil berdiri. ‘Stephen Carroll, aku ingin memperkenalkan interior designer yang telah merencanakan dan mendekor rumah jompo baru di Kent, Miss Puti Larasati. ‘