
‘Kamu akan pulang ke Salem?’ tanya Steve tidak percaya.
‘Ya. Kamu pikir aku mau tinggal di asrama sendirian?’
‘Bukan itu maksudku. Kukira kamu tidak mau pulang ke Salem lagi.’
‘Memangnya kenapa?’
‘Emma bilang kalau pertunanganmu telah putus. Apakah dia bohong?’ tanya Steve. Puti tertegun. Dia tidak menyangka Steve sudah tahu banyak tentang dirinya. Dan dia tidak menyangka Emma bisa bercerita banyak tentang dirinya kepada Steve. Sejak kapan mereka berdua akrab kembali dan jadi teman bergunjing? Bukankah Emma jarang berbicara dengan Steve?
‘Emma tidak bohong, cuma seharusnya dia tidak menceritakan itu kepadamu,’ kata Puti tanpa emosi. ‘Anyway, putusnya pertunangan kami tidak berarti putusnya hubungan keluarga. Sebelum jadi tunangan, Mike lebih dulu jadi kakak.’
‘Puti, mungkin ini agak mencampuri urusan pribadimu. Tapi aku heran bagaimana kamu akan bersikap bila berhadapan dengan bekas tunanganmu, lebih-lebih bila dia datang bersama calon isterinya? Tidakkah kamu hanya akan menyakiti hatimu sendiri?’
‘Aku tidak tahu, Steve. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah pulang ke Salem. Cepat atau lambat, siap atau tidak siap aku harus bertemu dengan mereka. Aku tidak bisa terus menerus menghindar. Mereka satu-satunya keluarga yang kumilik di dunia ini,’ jawab Puti lesu sambil meneruskan pekerjaannya kembali.
Steve memandangnya dengan perasaan iba. Kalau saja dia berhak, dia akan melarang Puti pulang ke Salem. Dia tidak ingin Puti merana. Dia tahu dengan pasti Puti masih mencintai bekas tunangannya. Dia membayangkan betapa hancur hati Puti bila harus berkumpul dengan pria yang dicintainya bersama dengan wanita yang telah merebut pria itu darinya. Tiba-tiba Steve merasa geram. Marah pada pria yang dicintai Puti itu. Pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Satu-satunya yang diketahui Steve tentang pria ini hanyalah bahwa dia telah menghancurkan hati satu-satunya wanita yang tidak mengejar-ngejar dia. Satu-satunya wanita dengan siapa dia bisa nyaman bekerjasama tanpa melibatkan cinta. Tanpa melibatkan cinta? Benarkah?
Jam sepuluh malam semua perincian biaya telah selesai disusun, tinggal menggabungkannya di dalam format presentasi. Steve menawarkan diri untuk mengerjakannya.
Setelah ngopi di cafe di dekat apartemennya, Steve mengantar Puti berjalan kaki pulang ke asramanya. Malam itu udara benar-benar hangat. Tidak ada salju. Salju yang turun sebelumnya telah mencair kembali. Hangatnya udara tak ubahnya seperti hangatnya malam di musim panas. Musim panas di tengah-tengah musim dingin. Orang menyebutnya Indian Summer. Selama kurang lebih seminggu matahari bersinar dengan terik. Indian Summer ini dibenci semua orang bila datangnya bertepatan dengan hari Natal karena White Christmas yang mereka idam-idamkan tidak menjadi kenyataan.
‘Kamu tahu, Put, separo dari hatiku senang pekerjaan kita akhirnya selesai, tetapi separonya lagi tidak?’ kata Steve ketika mereka hampir sampai di asrama Puti.
‘Mengapa?’ tanya Puti.
‘Berarti kerja sama kita sudah rampung. Kamu pasti tidak ingin bertemu lagi denganku.’
‘Mengapa aku tidak ingin bertemu lagi denganmu?’ tanya Puti sambil tersenyum manis.
__ADS_1
‘Apakah itu berarti aku boleh menemuimu’ tanya Steve tidak yakin.
‘Kalau kamu tidak berniat jahat tentu saja boleh,’ jawab Puti. Dari pergaulan mereka selama ini membuat Puti lebih memahami Steve.
Sejak Christy lahir, Steve secara resmi hidup bersama ayah kandungnya, seorang industriawan sukses di Ohio dan salah satu orang terkaya di Amerika. Sejak kecil Steve telah bergelimang uang. Keadaan ayahnya yang tetap membujang dan hubungannya yang bebas dengan segala macam wanita memberikan pengaruh pada Steve kecil. Kepincangan dalam kasih sayang membuat Steve kecil tumbuh menjadi Steve yang sekarang ini. Steve yang haus akan cinta dan berusaha mencarinya di tempat yang salah.
Wajah tampannya, tubuh atletisnya, penampilan kerennya dan dukungan finansialnya yang kuat, merupakan magnet bagi gadis-gadis untuk mendekatinya. Dan Steve sangat menikmati perhatian dari gadis-gadis tersebut.
‘Apa yang kamu maksud dengan niat jahat?’ tanya Steve lagi.
‘Kukira kamu lebih tahu, Steve,’ jawab Puti singkat sambil tersenyum lucu. Mereka kemudian berjalan dengan berdiam diri. Ketika tiba di depan asrama Puti, Steve bertanya.
‘Apakah memberimu ciuman selamat malam juga termasuk niat jahat?’
Puti tertawa geli mendengar pertanyaan itu. ‘Untuk malam ini ya,’ jawab Puti sesudah tawanya reda. ‘Tapi entah beberapa tahun yang akan datang,’ lanjutnya. Ganti Steve yang tertawa geli. Gadis satu ini memang lain, pikir Steve. Tapi dia benar-benar menyenangkan.
Hubungan Puti dan Steve yang kelihatannya semakin akrab itu bukannya tidak mengundang banyak tanggapan. Billy McCroom, manusia yang kenal semua penduduk Kent, jauh-jauh hari sudah memperingatkan Puti untuk berhati-hati. Menurut McCroom, Steve bukannya tipe orang yang ‘bisa dipercaya’ untuk dijadikan teman.
Puti membiarkan saja pendapat itu. Tidak membantahnya tapi juga tidak mengiyakannya. Dia tahu tidak ada orang yang percaya kalau dia mengatakan bahwa hubungannya dengan Steve adalah hubungan kerja. Hubungan platonis. Bukan hubungan cinta. Tidak ada orang yang percaya bila Puti mengatakan kalau Steve tidak berusaha mengejarnya. Steve justru berusaha menjaga jarak dan respek terhadap Puti.
☘️
Indian Summer sudah berlalu. Udara kembali dingin. Salju mulai turun ke bumi. Makin lama makin lebat. Atap rumah, rerumputan, semak-semak dan jalan sudah ditimbuni salju. Putih merupakan warna dominan.
Puti dan Emma berdiri di depan jendela unit mereka, memperhatikan truk yang hilir mudik menyingkirkan timbunan salju yang ada di parkiran dan menaburkan garam agar salju-salju yang memadat dan membuat jalan licin mencair. Tiba-tiba pintu apartemen diketuk dari luar. Dengan malas Emma beranjak dari depan jendela dan membukakan pintu.
‘Puti, kamu sudah dijemput. Dia tidak bisa masuk ke kompleks kita karena timbunan salju,’ Tim, barista Cafe Gedung Pengelola yang sekarang berdiri di muka pintu itu mengumumkan. Puti mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia segera mengambil backpack yang sudah siap di atas sofa ruang tamu.
Emma berjalan mendekatinya dengan sebuah bungkusan kecil di tangannya.
__ADS_1
‘Hadiah Natal untukmu, Put,’ katanya sambil mengulurkan bungkusan itu kepada Puti. Puti mengucapkan terimakasihnya. Setelah memasukkan hadiah itu ke dalam tasnya, Puti segera berjalan menuju ke kamarnya dan mengeluarkan dua buah bungkusan.
‘Ini hadiah Natal untukmu,’ ujarnya sambil mengulurkan bungkusan yang berwarna merah muda. ‘Dan ini titip untuk Steve,’ lanjutnya sambil menyerahkan bungkusan yang satunya lagi.
‘Terima kasih Puti,’ ucap Emma. ‘Steve tahu kamu pulang ke Salem hari ini?’
‘Ya,’ jawab Puti. ‘Aku sudah pamit ke dia kemarin.’
‘Kurasa dia benar-benar kena batunya sekarang,’ gumam Emma.
‘Maksudmu?’
‘Dia dulu selalu meremehkan cinta wanita. Baru sekarang ini dia kelabakan karena gadis yang benar-benar dicintainya ternyata mengacuhkannya,’ Emma menerangkan.
‘Siapa gadis itu?’ tanya Puti.
‘Kamu,’ sahut Emma.
‘Aku?’ tanya Puti sambil tertawa ramai. Emma menganggukkan kepalanya.
‘Emma, kamu salah duga. Steve tidak tertarik kepadaku. Apalagi cinta,’
‘Berani taruhan?’ tantang Emma yakin. Puti tidak menanggapi taruhan itu. Dia mendekati Emma kemudian mencium pipi kanannya sebagai salam perpisahan. Sesudah saling mengucapkan selamat Natal, Puti segera ke luar dari apartemen.
Puti begitu terkejut ketika melihat siapa yang menunggunya di dalam mobil yang parkir tidak jauh dari pintu gerbang kompleks apartemennya. Dia pikir yang datang menjemputnya adalah William Gray, ayah angkatnya. Dia tidak menyangka Mike yang datang menjemputnya. Tahun-tahun yang lalu memang Mike yang selalu bertugas menjemputnya, tapi bukan untuk tahun ini, pikir Puti.
Begitu melihat Puti muncul di depan pintu gerbang, Mike segera bergegas menghampirinya. Kemudian dia mencium pipi Puti lembut.
‘Apa kabar, Put?’ tanya Mike berbisik.
__ADS_1
‘Baik,’ jawab Puti masih belum bisa menenangkan hatinya akibat perubahan ciuman Mike. Biasanya bila mereka bertemu Mike akan mencium bibirnya. Bukan pipinya.
Kamu harus puas dengan ciuman pipi, Put. Selebihnya bukan milikmu lagi, tutur Puti pada dirinya sendiri.