
‘Terima kasih, Emma. Tetapi kurasa aku hanya akan menganggu keluargamu saja.’
‘Enggaklah!’ sanggah Emma. ‘Mereka akan senang menerima kedatanganmu. Ayolah, Puti, kamu belum pernah ke rumahku kan? Padahal aku sudah puluhan kali menginap di Salem.’
‘Akan kupikirkan dulu, Em,’ jawab Puti. Sesaat kemudan dia mulai bersiap-siap untuk berangkat ke Belmont. Sebelum pergi dia berdiri lama di depan jendela memperhatikan salju yang melayang turun dengan lebatnya.
Setelah berpikir selama sehari penuh, akhirnya Puti memutuskan untuk menerima ajakan Emma. Dia sadar dia membutuhkan suasana yang sama sekali berbeda. Dia berharap mudah-mudahan bersama keluarga Emma dia bisa menemukan dirinya kembali.
☘️
Nancy, William dan Mike Gray sudah selesai makan malam, tapi masih berada di meja makan ketika hape Nancy bergetar.
‘Puti...,’ bisiknya sambil menyalakan speaker agar semua bisa ikut mendengar.
‘Hai, Nak, tumben nelpon malam-malam. Ada ayahmu di sini, jadi kunyalakan speaker-nya,’ sapa Nancy sengaja menyembunyikan fakta bahwa di meja itu ada Mike juga. Mike yang baru datang sore tadi.
‘Hai, Mom. Hai Dad...,’ Puti menyapa. Suaranya terdengar ringan tanpa beban. Mike menghela nafas panjang. Ada rasa nyeri di dadanya menyadari kalau Puti tidak menyapanya.
‘Aku tidak menganggu kan?’ Sambung Puti.
‘No..no, kami baru saja selesai makan malam,’ jawab William dengan suara beratnya.
‘Dad..Mom, aku tidak bisa pulang ke Salem besok. Emma mengajakku ke rumahnya di Youngstown,’ kata Puti. William, Nancy, Mike saling berpandang-pandangan. Hening. Mereka sudah menduga kalau pelan-pelan Puti akan menyingkir dan meninggalkan keluarga mereka.
‘Mom...?’ Tanya Puti ketika dia tidak mendengar respon dari orangtuanya.
‘Puti...bukannya kamu sudah berjanji untuk pulang?’ Nancy mencoba mengingatkan.
‘Emma sudah beberapa kali menginap di rumah kita, Mom, aku ingin kenal keluarganya juga..’
‘Tapi kita biasa kumpul di hari Thanksgiving, Put. Mike juga sudah merencanakan untuk datang...’
‘Mommy... aku belum siap untuk ketemu Mike. Please let me go with Emma,’ pinta Puti memelas. Ada tangis di dalam suaranya.
‘Pergilah ke rumah Emma,’ potong William Gray mantap. ‘Akhir pekan berikutnya kujemput kamu di kampus untuk pulang ke Salem.’
__ADS_1
‘Thank you, Dad. Thank you, Mom. I’ll see you both next week end,’ janji Puti sambil cepat-cepat menutup telponnya. Dia kuatir Nancy akan berusaha membujuknya untuk pulang.
Untuk beberapa saat ruang makan senyap. Mike membeku. Dia menatap ibunya, dan melihat mata ibunya merah berkaca-kaca. Hanya William saja yang nampak tenang. Diraihnya tangan Nancy dan digenggamnya erat.
‘Beri Puti ruang untuk bernafas. Dia akan baik-baik saja,’ bisiknya.
Mike bangkit dari kursinya. ‘Aku harus menelpon atasanku,’ pamitnya kepada orangtuanya dan berjalan menuju ke kamarnya.
Di kamarnya, Mike mematung di depan jendela. Di luar salju melayang turun. Ucapan Puti mengiang di telinga Mike. Jelas dan menyesakkan dadanya.
‘Mommy... aku belum siap untuk ketemu Mike. Please let me go with Emma.’
Bayangan wajah Puti yang tidak berdaya dan bersimbah air mata menghantuinya. Mike mencoba menepis bayangan itu dari kepalanya. Tidak berhasil.
‘Mommy... aku belum siap untuk ketemu Mike. Please let me go with Emma.’
‘Terima kasih, Emma, telah menemani Puti di hari-hari gelapnya,’ bisik Mike. ‘Bodohnya aku menganggap Puti akan berlapangdada melepaskanku pergi.’
☘️
‘Aku ke Pengelola dulu untuk menitipkan kunci, Em,’ ucap Puti setelah mengunci pintu apartemen mereka. Emma mengangguk dan bergegas menuju ke parkiran.
Keluar dari gedung pengelola, hape Puti berbunyi. Puti tidak mengindahkannya. Dia mengira telepon itu berasal dari Salem. Pasti ibunya, berusaha membujuknya untuk pulang.
Ketika mendekati mobil Nick, telpon genggamnya kembali berbunyi, Puti mengeluarkannya dari dalam tas. Di layarnya tertulis dr. Conneally.
‘Dokter Conneally?’ gumam Puti. Cepat-cepat dia jawab telpon tersebut. Dr. Conneally menerangkan bahwa dia telah memeriksa foto-foto mata Puti dengan lebih teliti. Dari hasil pemeriksaan itu dia menemukan kemungkinan untuk menyembuhkan mata Puti melalui operasi kecil. Dia menelepon Puti agar Puti mau datang ke klinik matanya hari Senin setelah Thanksgiving untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Agar pembicaraan tidak berlarut-larut, Puti menyanggupi untuk datang. Tetapi tidak hari Senin.
‘Senin saya ada kuliah sampai sore, dok. Hari Senin saya telpon untuk membuat perjanjian,’ janji Puti.
‘Ada apa, Put?’ tanya Emma menjulurkan kepalanya keluar.
‘Bukan apa-apa, Em,’ jawab Puti sambil masuk ke dalam mobil dan menyapa Nick.
‘Itu tadi telpon dari ibumu?’ TanyaEmma kuatir.
__ADS_1
‘Bukan. Itu tadi dari dokter mataku. Dia ingin memeriksa mataku kembali. Tetapi aku sudah merasa enak dengan kacamata ini. Jadi tidak ada lagi masalah.’ Jawab Puti.
Cuaca sepanjang perjalanan dari Kent ke Youngstown cerah. Salju yang kemarin turun cukup lebat hari ini tidak muncul. Yang tersisa hanyalah gumpalan-gumpalan salju yang belum mencair di tepi jalan
Hari sudah malam ketika mereka bertiga tiba di Youngstown. Sesudah makan malam bersama keluarga Walden, keluarga Emma, Nick segera pamit untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Puti melanjutkan obrolannya dengan Emma dan keluarganya. Sebuah keluarga yang hangat, pikir Puti. Ayah dan ibu Emma kedua-duanya senang bercanda. Christy, adik perempuan Emma, seperti halnya Emma senang ngomong. Sebentar-sebentar tawa mereka meledak. Puti belum pernah melihat rumah yang begitu penuh tawa seperti rumah keluarga Walden.
Ketika Puti mau membantu ibu Emma membereskan meja makan, bantuannya ditolak.
‘Christy, antar Puti ke kamarnya,’ perintah ibu Emma. ‘Biar Emma yang bantu mommy.’
Christy yang duduk di bangku terakhir SMU mengantar Puti menuju ke kamar tidur yang disediakan untuknya. Kamar tidur yang khas cowok. Dari ranjang hingga perlengkapan kamarnya beraura cowok. Meja belajar dengan monitor yang lebar. CPU komputer rakitan yang tembus pandang. Di sudut kamar tergantung beberapa glove baseball bertandatangan pemain-pemain profesional. Di bawahnya bersandar 3 tongkat pemukul.
‘Kamar siapa ini?’ Tanya Puti.
‘Kamar abangku,’ jawab Christy.
‘Abang? tanya Puti heran. ‘Aku tidak tahu kalau kalian punya abang. Emma tidak pernah bercerita kalau dia punya saudara laki-laki.’
‘Ya … tidak mengherankan,’ gumam Christy. ‘Emma tidak cocok dengannya. Entah mengapa. Seingatku mereka dulu kompak. Tiba-tiba saja mereka tidak saling berbicara.’
‘Abangmu tidak pulang Thanksgiving ini?’ Tanya Puti kuatir kalau si pemilik kamar harus mengungsi karena dirinya.
‘Dia jarang pulang,’ sahut Christy pendek. Kemudian Christy menunjukkan kamar mandi yang terletak di dalam kamar.
Sebelum tidur Emma mencek apakah Puti nyaman di kamarnya.
‘Nyaman sekali, Em. Kamar ini hangat dan menentramkan,’ jawab Puti. ‘Kamu yakin abangmu tidak kebetatan aku tidur disini?’
‘Pertama, dia tidak pernah pulang. Kedua, kalau tahu kamu yang tidur di kamarnya, dia akan bahagia sekali,’ jawab Emma. ‘Jadi tidurlah yang nyenyak.’
‘Jam berapa biasanya keluargamu bangun?’ Tanya Puti berencana untuk menyesuaikan dengan kebiasaan keluarga Walden.
‘Kamu boleh bangun jam berapa saja, Put. Keluargaku keluarga yang sangat santai. Jangan merasa menjadi tamu,’ saran Emma sebelum keluar meninggalkan Puti.
__ADS_1
Puti tidak melebih-lebihkan ketika dia bilang ke Emma kalau kamar yang ditempatinya hangat dan nyaman. Juga menentramkan. Begitu dia selesai mandi dan merebahkan diri di tempat tidur, dia merasakan ketentraman yang luar biasa. Mike Gray dan sakit hatinya terasa jauh dan tidak signifikan lagi. Dia merasa damai. Dia bisa tidur dengan pulas. Keresahan yang selalu muncul beberapa minggu terakhir hilang entah kemana.