
Keesokan harinya Puti bangun dengan kesegaran penuh. Sakit yang bersarang di ulu hatinya selama 2 bulan ini, tidak lagi menyesakkan dadanya. Masih terasa. Tetapi tidak menyiksanya.
Dengan penuh semangat dia membantu Mrs Walden, ibu Emma mempersiapkan hidangan untuk Thanksgiving dinner: kalkun panggang dan bermacam-macam hidangan istimewa lainnya. Sementara itu Emma dan Christy sibuk membuat cake dan kue-kue kering. Sambil bekerja mereka bercerita kisah-kisah masa kecil mereka yang lucu, seru dan menggemparkan.
Kelelahan mempersiapkan hidangan hilang manakala mereka semua telah berkumpul dan duduk mengelilingi meja makan. Nick juga hadir malam itu. Dia sudah dihitung sebagai salah satu anggota keluarga Emma. Tepat pada saat Mr. Walden akan memulai doa syukurnya tiba-tiba bel pintu berdentang. Mr. Walden menunda doanya.
‘Biarlah aku yang membukakan pintu.’ Christy bangkit dari kursinya kemudian berjalan menuju ke pintu depan. Beberapa saat kemudiana terdengar bunyi gerendel pintu yang dibuka.
‘Steve, kukira kamu tidak datang,’ Christy berseru nyaring.
Mendengar seruan itu, Emma segera menyusul adiknya. Sekejap kemudian omelnya yang panjang tetapi tidak jelas terdengar di telinga setiap orang yang duduk di meja makan. Tidak terdengar sahutan sedikit pun. Yang terdengar hanyalah langkah-langkah kaki yang berjalan mendekati meja makan.
Christy berjalan di samping Emma. Wajah Christy berseri-seri sementara Emma kelihatan jengkel. Di belakang mereka berdua muncul seorang pemuda berambut emas yang sangat tampan dengan senyuman yang bisa mencerahkan malam tergelap sekali pun. Steve Carroll!! Untuk beberapa detik jantung Puti sempat berhenti berdetak. Namun otaknya segera berputar.
Jadi rupanya Steve adalah abang yang disebut Christy semalam? Tetapi kenapa namanya Steve Carroll bukan Steve Walden?
Steve mendekati Mrs. Walden dan memberikan ciuman ringan di pipinya.
‘Dad, Nick, Puti,’ sapanya pada semua yang duduk di meja makan itu. ‘Apa kabar, Puti?’ lanjutnya sambil duduk di kursi di samping Puti yang tadi diduduki Christy. Terpaksa Christy bergeser.
‘Kukira kamu ada di Cleveland, Steve.’ Mrs Walden membuka percakapan. ‘Puti, kamu sudah kenal Steve, anak sulungku kan?’ Sambungnya. Puti mengangguk. Steve tersenyum lebar ke arahnya.
‘Ayah sedang di London, jadi kuputuskan untuk kesini. Semoga kedatanganku tidak merepotkan,’ jawab Steve.
__ADS_1
Ayahnya ada di London.. Berarti Mr. Walden bukan ayahnya. Mungkin ayah tirinya. Emma dan Christy adik tiri Steve, Puti berhasil menyimpulkan mengapa nama belakang Steve berbeda dengan nama belakang Emma dan Christy.
‘Ini rumahmu juga, Steve. Kamu bisa datang kapan saja,’ sahut Mr. Walden hangat.
‘Maaf aku terlambat,’ ucap Steve ‘Apakah sudah berdoa?’ tanyanya.
‘Belum,’ jawab Mr. Walden. ‘Bagaimana kalau kamu yang memimpin, Steve?’ usulnya. Steve memenuhi usul itu dan mulailah dia berdoa dengan suara yang dalam dan tenang.
‘Tuhan Yang Maha Kasih, kami panjatkan syukur atas kesempatan yang Kau berikan sehingga kami bisa duduk di meja makan ini bersama keluarga dan sahabat. Kami bersyukur atas makanan yang telah disiapkan oleh kekasih-kekasih kami. Kami bersyukur atas kehidupan kami dan kebebasan untuk menikmati semua Anugerah-Mu. Pada saat kami menikmati hidangan ini, Tuhan, beri kami kesehatan dan kekuatan untuk melangkah maju dan angkatlah beban yang menghambat kami. Terima kasih, Tuhan. Amin.’
Selesai berdoa mereka segera menyantap hidangan yang tersedia di meja makan. Semua makan dengan lahap seakan sudah berhari-hari tidak melihat makanan. Kecuali Emma yang duduk tepat di seberang Puti. Wajahnya manyun. Kelihatan sekali kalau dia tidak senang dengan kehadiran Steve. Beberapa kali Puti melihat Emma menatap Steve dengan tajam. Tetapi Steve sendiri tenang-tenang saja menghadapi semua itu.
Begitu makan malam utama selesai dan semua orang pindah ke ruang keluarga, Emma menyentuh bahu Puti sambil mengisyaratkan agar Puti mengikutinya menuju ke kamarnya di lantai atas.
‘Puti kamu pasti bingung melihat kedatangannya bukan? Apa hubungan dia dengan keluargaku? Mengapa aku tidak pernah bercerita tentang dirinya dan mengapa dulu aku pernah berpura-pura tidak mengenalnya?’ kata Emma begitu pintu kamarnya telah tertutup.
‘Aku memang brengsek,’ Emma berkata. ‘Tapi Steve lebih brengsek lagi. Sudah beberapa thanksgiving dia tidak pulang. Dia selalu berada di Cleveland dengan ayahnya. Aku sudah tanya ke mommy apakah dia akan datang. Mommy bilang tidak. Christy juga sudah menelponnya dan dia bilang dia tidak bisa pulang. Eh, ternyata dia muncul‘
‘Emma, aku tidak mengerti mengapa kamu bersikap dingin terhadap Steve. Bukankah dia juga … well … berhak untuk datang?’
‘Karena kamu ada di sini, Puti. Aku tidak ingin dia bertemu denganmu.’
‘Emma, aku sudah kenal Steve. Bahkan sebelum kita halloweenan ke apartemennya waktu itu. Walaupun aku tidak tahu kalau dia abangmu. Aku baru tahu malam ini ...’
__ADS_1
‘Itulah yang tidak kuinginkan,’ ucap Emma. ‘Aku tidak ingin kamu bergaul terlalu akrab dengannya. ‘
‘Emma…?’
‘Jangan punya pikiran negatif dulu.’ Emma memperingatkan. ‘Aku justru akan senang sekali bila kamu menjadi keluargaku. Tapi masalahnya justru sebaliknya. Steve tidak pernah serius. Ceweknya banyak. Seperti ayahnya, dia tidak mempercayai perkawinan. Tapi dia senang cewek. Mungkin aku tidak akan begitu peduli bila cewek yang dipacarinya tidak kukenal. Tapi bila cewek itu sahabatku, Puti, aku akan berkeras menentangnya. Setiap aku punya teman akrab, Steve selalu mendekatinya. Pacaran dengan intensitas tinggi. Begitu hubungan mereka putus, aku kehilangan teman akrab, sementara Steve sudah ganti cewek lain.
‘Emma, tidak ada apa-apa antara aku dan Steve.’
‘Puti, aku tahu benar sifat Steve,’ bantah Emma. ‘Aku yakin Steve sedang berusaha mendekatimu. Aku tidak tahu kalau kamu sudah kenal Steve. Aku kaget ketika aku melihat Steve mengantarmu ke apartemen kita. Aku datangi dia dan meminta dia untuk tidak mengganggumu lagi.’
‘Dia tidak menggangguku, Em. Dia hanya mengantar aku ke klinik mata.’
‘Steve ahli dalam mendekati cewek. Aku takut kamu menjadi korbannya. Apalagi kamu sedang sakit hati terhadap Mike.’
‘Emma, tenanglah,’ hibur Puti. ‘Aku tidak apa-apa. Setelah kejadian dengan Mike, aku benar-benar kapok. Aku tidak berniat untuk punya pacar lagi. Apalagi dia abangmu. Tidak mungkin aku pacaran sama abang temanku.’
‘Hah, tidak percaya aku!’ Bantah Emma sengit. ‘Kamu pacaran bahkan tunangan dengan Mike Gray, abang asuhmu sendiri’ lanjut Emma.
‘Itu cerita lama, Emma. Kurasa aku akan mampu menjaga diriku. Dan kalau toh nasib membuatku jatuh cinta kepada Steve dan dia meninggalkanku, rasa-rasanya aku kuat menghadapinya. Aku sudah punya pengalaman ditinggalkan orang.’ lanjut Puti bercanda. Mau tak mau Emma tersenyum, walau dia masih merasa kuatir juga. Dia sama sekali tidak meragukan kemampuan abangnya dalam memikat wanita.
‘Kalau nanti terjadi apa-apa jangan bilang kalau aku tidak memperingatkan kamu ya...,’ pesan Emma sebelum mereka turun ke bawah.
Ketika Puti dan Emma kembali bergabung dengan anggota keluarga yang lain, Steve tengah berusaha menyalakan tungku api. Dia menoleh ke arah Puti dan Emma kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Emma sebagai isyarat kalau dia tahu apa yang Emma perbincangkan dengan Puti. Emma melengos dan berjalan mendekati Nick dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Puti berjalan dan duduk di seberang Christy yang tengah mengatur papan catur. Sejenak kemudian mereka berdua bermain dengan asyik sampai Puti tidak menyadari kalau Steve telah berhasil menyalakan tungku dan duduk di dekatnya memperhatikan mereka bermain.
BERSAMBUNG