
Asrama mahasiswa atau dormitory Puti terletak di salah satu sudut kampus Kent State University. Asrama yang terdiri dari belasan bangunan berlantai tiga. Setiap lantai terdapat empat unit. Masing-masing unit terdiri dari 2 kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil dan ruang tamu.
Unit yang ditempati Puti terletak di lantai dasar salah satu bangunan, bersebelahan dengan bangunan fasilitas umum yang dipakai untuk kantor pengelola, kotak pos, mesin cuci dan minimart. Puti menempati unit tersebut bersama Emma Walden dari Yongstown.
Sekitar 10 menit berjalan dari tempat insiden tertabrak sepeda, Puti sampai di asramanya. Puti segera membuka kembali laci mejanya yang paling bawah yang sudah beberapa bulan tidak pernah dibukanya. Sesudah mengobrak-abrik beberapa saat akhirnya dia menemukan apa yang dicari-carinya. Kotaksoft-lens . Sudah agak lama dia menanggalkan soft-lens tersebut karena matanya sering terasa pedih. Tetapi sekarang, setelah kacamatanya pecah, mau tidak mau dia harus mengenakannya lagi. Paling tidak sampai dia mampu membeli kacamata yang baru.
Sedang dia berdiri di depan cermin untuk memasang soft-lens terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
‘Masuk saja, tidak kukunci,’ teriak Puti. Sejenak kemudian pintu kamar itu terkuak. Melalui cermin Puti bisa melihat siapa yang masuk.
‘Hei, Mbak Tanti, apa kabar? Lama nggak kelihatan’ tegur Puti sambil membalikkan badannya. Dia mengejap-ngejapkan matanya beberapa kali agar softlens tepat posisinya.
‘Kenapa matamu?’ tanya Tanti tidak menjawab pertanyaan Puti.
‘Nggak apa-apa cuma ingin pakai softlens lagi saja,’ sahut Puti kemudian mendekati Tanti dan mencium pipi kiri dan kanannya. ‘Kemana saja selama ini, mbak?‘
‘Di rumah saja sibuk mengurus suami dan anak. Kamu sendiri kenapa nggak pernah datang ke rumah?’
‘Lha kalau aku disuruh ke rumah mbak Tanti itu mau naik apa? Jalan? Yang benar saja? Kan Mbak Tanti yang punya mobil. Jemput dong, atau gimana,’ bantah Puti sengit. Tanti tertawa sambil duduk di atas tempat tidur Puti.
‘Kamu ada acara nanti malam, Put?’ tanyanya.
‘Kenapa? Mau ngundang makan malam?’ sela puti cepat. Tanti segera menggelengkan kepalanya.
‘Tidak sekarang. Lain kali. Nanti malam aku dan mas Don dapat undangan dari Profesor Miller. Maksudku... kalau kamu tidak ada acara.’
‘Mau ngajak aku ke pesta Professor Miller?’ lanjut Puti ngawur sambil tertawa. Dia sudah tahu arah pembicaraan Tanti. Tanti mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
‘Kamu ini ada-ada saja. Bisa kan, Put? Enggak tega mau nolak undangan Profesor Miller. Aku sudah berusaha mencari baby sitter, tetapi tidak berhasil. Lagi pula aku merasa tidak nyaman kalau harus meninggalkan Tino dengan orang asing,’ bujuk Tanti.
‘Tapi besok pagi aku ada kuliah.’
‘Kuantar,’ sahut Tanti cepat.
‘Oke kalau begitu. Memang orang senegara itu harus tolong-menolong. Tapi anehnya aku selalu kejatuhan bagian menolongnya,’ komentar Puti sambil mengambil baju dari dalam lemarinya dan memasukkannya ke dalam backpack.
‘Aduh, Put. Jangan mengeluh dong. Aku selalu siap untuk menolongmu, tetapi kamu sendiri tidak pernah minta tolong. Bagaimana aku tahu kalau kamu butuh pertolongan?’
‘Jangan dimasukkan ke dalam hati, mbak. Aku cuma bercanda,’ ucap Puti sambil tersenyum. ‘Selama ini aku memang belum membutuhkan pertolongan. Nanti kalau aku butuh pasti aku akan berlari ke mbak Tanti dan mas Don,’ sambungnya sambil memasukkan buku-buku yang tadi dipinjamnya dari ke dalam ransel. Sesudah semua siap, Puti segera menulis pesan untuk Emma.
Emma, aku tidak pulang malam ini. Nginap dirumah Tanti. Nomor telepon (330) 425-4355. Pesan itu kemudian dia tempel di pintu kamar Emma.
☘️
‘Di sini aku akan memasang sebuah penyekat ruang setinggi lutut. Kalau tidak dari bambu,’ pikir Puti sambil berdiri di antara ruang tamu dan ruang makan. ‘Dan hiasan dinding itu akan kupindah ke sudut sehingga sudut itu mempunyai kesan romantis. ‘
Selagi dia berkhayal tentang apartemen impiannya, Tanti memanggil dari dalam kamar.
‘Orang tuamu sudah pulang dari Tanzania?’ tanya Tanti dari dalam kamarnya yang pintunya sengaja dia buka.
‘Sudah, seminggu yang lalu,’ jawab Puti. ‘Dari mana mbak Tanti tahu kalau mereka pergi ke Tanzania?’
‘Aku membacanya di Ohio Post beberapa hari yang lalu.’ Tanti muncul dari kamarnya. Dia sudah selesai berdandan. Dia nampak begitu cantik dengan longdress batik berwarna hijau lumut bergambar burung elang berwarna kuning. Suaminya membuntuti di belakangnya dengan celana hitam dan jas batik yang serupa dengan yang dikenakan Tanti.
‘Wow!’ seru Puti memuji.
__ADS_1
‘Eh, Put, senang ya punya orangtua angkat diplomat yang sering melawat ke sana ke mari? Tentu oleh-oleh untukmu unik-unik,’ komentar Don.
‘Sebenarnya istilah orang tua angkat kurang tepat untuk mereka. Orang tua sponsor kurasa lebih tepat. Tapi yang paling tepat adalah calon mertua,’ Puti mengkoreksi sambil tertawa ramai.
Memang Puti bukanlah anak angkat keluarga Gray. Tidak ada proses adopsi secara formal. Walaupun Puti memanggil Nancy dan William Gray dengan sebutan Mom dan Dad, serta dia sudah menjadi tanggungan mereka sejak dia berumur tujuh tahun hingga sekarang, tetapi Puti tetap bebas untuk menggunakan nama aslinya tanpa embel-embel Gray di belakang namanya.
Semuanya berawal dari tabrakan maut di luar Cirebon antara bis yang ditumpangi Puti dan keluarganya dengan sebuah kereta api. Tabrakan yang telah menewaskan belasan orang. Pada saat kecelakaan itu terjadi, suami istri William Gray sedang berkunjung ke Indonesia. Mereka menyempatkan diri untuk pergi ke Rumah Sakit menjenguk korban kecelakaan. Perhatian mereka segera saja tertuju pada si kecil Puti yang sedang berjuang untuk mempertahankan nyawanya. Si kecil yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali neneknya yang renta yang menangis di sisi tempat tidurnya tanpa daya. Mereka begitu terkesan sehingga meminta perawatan yang lebih khusus bagi Puti dan menanggung seluruh pembiayaannya.
Sejak saat itulah Puti menjadi ‘anak sponsor’ keluarga Gray. Setiap bulan dia akan menerima kiriman uang untuk biaya hidup dan sekolahnya. Puti sendiri belum pernah melihat penolongnya. Dia kenal mereka melalui surat-surat yang mereka kirimkan yang dibacakan oleh tetangganya. Puti merasa bangga ketika duduk di kelas tujuh dan menulis surat balasan yang pertama kalinya. Komunikasi di antara mereka berjalan lebih lancar.
Pertama kali Puti bertatapan muka dengan Nancy dan William Gray adalah ketika nenek Puti meninggal dunia. Mereka sengaja datang ke Indonesia untuk menghibur Puti dan sekalian menawarkan kepada Puti untuk bersekolah di negeri mereka. Karena tidak ada lagi sanak yang dimilikinya di Indonesia akhirnya Puti memutuskan untuk menerima tawaran itu. Jadilah dia pergi ke Amerika dan kuliah di Universitas Kent.
‘Kapan kamu dan Mike akan melangsungkan perkawinan?’ tanya Tanti mengalihkan pembicaraan.
‘Entahlah. Kami belum memikirkannya,’ jawab Puti sambil duduk di sofa dan memeluk bantal.
‘Cepat-cepat lah, Put. Bukankah kalian sudah lama bertunangan? Sudah hampir setahun ini kan?’ saran Tanti.
‘Ah lebih enak begini. Jarang kumpul jadi ada perasaan rindu segala. Kalau kumpul terus jangan-jangan nanti bosan,’ balas Puti sambil tersenyum lucu.
‘Kalau dia dicuri orang gimana?‘
‘Ah, enggaklah. Dia terlampau mencintaiku,’ bantah Puti kalem.
‘Sudah jam delapan kurang seperempat, Tan, berangkat yuk,’ ajak Don pada isterinya setelah tanpa disengaja matanya menatap jam di pergelangan tangannya. ‘Titip Tino ya, Put?’ alihnya pada Puti. Puti mengangguk sambil bangkit dari duduknya.
‘Oh ya, Put, kalau kamu mau makan itu ada beberapa potong ayam goreng yang sengaja kutinggal di oven,’ Tanti menawarkan kemudian bergegas menyusul suaminya yang sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
‘Jangan kuatirkan aku. Nanti kalau lapar aku bisa cari sendiri,’ ucap Puti sambil mengantar Tanti hingga ke depan pintu.