Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Menolak Adopsi


__ADS_3

Puti mematut diri di depan cermin yang terpasang di ruang tamu apartemennya. Dia sengaja memakai blus linen warna ungu yang senada dengan kacamatanya. Kacamata yang sangat pas untuknya. Ringan, nyaman di telinga dan hidungnya. Steve pintar memilih, dengan berat Puti mengakui dalam hati.


‘Hai, sudah mau berangkat kerja?’ Tiba-tiba Emma muncul dari pintu masuk apartemen. Puti membalikkan badan dan mengembangkan senyumnya.


‘Wow, kacamatamu keren,’ puji Emma ketika melihat kacamata baru yang bertengger di wajah Puti. ‘Jadi akhirnya kamu mampu beli kacamata?’ Sambungnya.


‘Ternyata asuransi kesehatanku mencakup mata,’ jawab Puti.


‘Preminya pasti mahal sekali,’ komentar Emma. ‘Frame juga termasuk?’


‘Ada limitnya. Jadi harus nambah,’ jawab Puti. Sengaja dia tidak menjelaskan kalau yang menggenapi harganya Steve Caroll. Secara khusus Emma sudah mewanti-wanti untuk menjauhi Steve. Sampai dia tahu pasti hubungan antara Emma dan Steve, dia akan berusaha menghindari Steve.


‘Kalau sudah bisa beli kacamata, berarti kamu tidak harus kerja lagi dong?’ Tanya Emma yang tahu kalau alasan Puti bekerja sambilan adalah untuk membeli kacamata.


‘Kurasa aku harus mencoba untuk hidup mandiri. Untuk sementara kerja di Belmont aku pertahankan dulu, sampai dapat pekerjaan yang lebih bagus,’ jawab Puti.


Setelah ngobrol beberapa saat dengan Emma, Puti keluar apartemen untuk berangkat ke Arbor Circle. Sewaktu melewati Gedung Pengelola, dia mendengar seseorang memanggil namanya dengan kencang. Puti menghentikan langkahnya dan menoleh.


‘Dad!’ teriak Puti gembira ketika melihat siapa yang memanggilnya. William Gray. Dengan cepat Puti berlari menghampirinya. William Gray merentangkan tangannya siap untuk memeluk Puti.


‘Apa kabar, gadis kecilku?’ Tanyanya ketika Puti sudah ada dalam pelukannya.


‘Great! ‘jawab Puti sambil tertawa. ‘Dimana, Mom?’


‘Ada di lobby menunggumu. Mau kemana kamu?’


‘Ke Arbor Circle, Dad. Aku punya pekerjaan sampingan sekarang. Aku tidak tahu kalau kalian akan datang kemari. Mengapa tidak menelepon dulu, jadi aku bisa siap-siap? Sudah lama menunggu?’ tanya Puti sambil menggandeng William Gray memasuki lobby.

__ADS_1


‘Belum begitu lama,’ jawab William. Puti sudah tidak mendengar jawabannya. Dia sudah berlari menghampiri Nancy yang sudah tampak lelah menunggunya. Puti memberikan ciumannya di pipi Nancy untuk menghapus kelelahannya.


‘Aku dan ayahmu datang untuk mengantar pakaian musim dinginmu,’ Nancy mulai bercerita. ‘Kami takut kamu akan mati kedinginan nanti. ‘


‘Ah, kalian lupa salju takut kepadaku,’ sahut Puti. ‘Kalian ingat tahun pertamaku di sini? Natal tahun itu tidak ada salju. Dan Dad bilang, salju takut turun karena badan Puti yang terlampau panas. Ingat?’ Puti mencoba mengingatkan. Nancy dan William Gray tertawa gelak. Mereka ingat sekali saat itu. Natal tanpa salju dan Puti yang hampir menangis karena terus-menerus digoda bahwa gara-gara Puti salju tidak mau turun.


‘Tapi jangan lupa, Put, kamu pernah sakit hampir dua minggu gara-gara berada di luar rumah terlampau lama,’ William mengoda Puti, Puti tersenyum lucu.


Malam itu Puti berhasil meminta ijin dari Mrs. Belmont untuk tidak bekerja. Dia menemani Will dan Nancy makan malam. Selama bersama mereka Puti berusaha sekuat tenaga untuk bersikap ceria. Sakit hati dan sakit matanya dia buang jauh-jauh. Walau pun Will dan Nancy masih menangkap kesan duka dalam diri Puti. Dan itu benar-benar meresahkan mereka.


‘Puti aku dan ayahmu ingin kamu memiliki ini,’ bisik Nancy ketika makan malam utama sudah selesai dan mereka masih duduk di restoran menikmati kopi. Sebuah bungkusan sebesar buku teks dia ulurkan ke arah Puti.


‘Apa ini?’ tanya Puti. ‘Aku tidak berulang tahun.’


‘Bagaimana kalau dianggap sebagai kado Halloween?’ usul Will.



‘Aku tidak berhak menerimanya,’ ucap Puti lirih sambil mengangsurkan kotak mahoni ke tangan Nancy kembali.


‘Puti kami ingin kamu memilikinya,’ ujar Nancy tulus.


‘Tidak. Aku tidak berhak,’ Puti menolak. ‘Bukankah Mommy pernah mengatakan kalau kalung ini sudah ada di keluarga Gray untuk beberapa generasi? Kalung yang hanya akan diberikan kepada wanita pertama yang mengubah nama keluarganya menjadi Gray. Cathy Kates yang berhak atas kalung ini, bukan aku. Mom, Dad, jangan ubah tradisi keluarga demi aku.‘


‘Siapa yang akan mengubah tradisi keluarga?’ tanya Will. ‘Sebelum Cathy memakai nama Gray di belakang namanya, kamu sudah akan memakai nama Gray di belakang namamu.’


‘Maksud kalian?’ tanya Puti benar-benar bingung.

__ADS_1


‘Kami akan mengadopsimu secara resmi, Puti. ‘


‘No!’ Seru Puti kaget.


‘Mengapa? Kami mencintaimu, Puti. Sejak dulu sebenarnya kami ingin mengadopsimu. Tetapi kami selalu menangguhkannya. Kemudian kami pikir tidak perlu karena toh dengan kawin dengan Mike kamu sudah akan memakai nama Gray di belakang namamu secara otomatis,’ William menerangkan.


‘Dad, Sejak belasan tahun lalu, aku sudah menjadi anak kalian walau tanpa adopsi secara resmi,’ ucap Puti


‘Tetapi kalian tahu dengan pasti, yang dimaksud dengan wanita pertama yang memakai nama Gray adalah menantu. Bukan anak,’ lanjut Puti. ‘Aku merasa kalian tidak begitu suka menerima Cathy sebagai istri Mike. Cathy gadis yang baik dan dia dan Mike saling mencinta. Aku bukan jodoh Mike. Aku bahagia melihat Mike bahagia. Jangan kuatirkan aku.’


‘Puti, bukannya kami menolak kehadiran Cathy di tengah-tengah keluarga kita,’ Nancy membela diri. ‘Tetapi yang kami takutkan adalah, bila sesudah perkawinan mereka nanti kamu akan mengambil jarak dari kami. Kami mencintaimu, Put, dan membayangkan kamu mengacuhkan kami benar-benar tak tertanggungkan.’


‘Mom, aku tidak akan pernah mengacuhkan kalian. Hanya kalian yang aku miliki di dunia ini. Sampai kapan pun aku akan tetap anak kalian,’ janji Puti.


‘Bagaimana kalau kami tetap meneruskan proses adopsi kamu?’ Tanya William Gray penuh harap.


‘Dad, aku merasa terhomat sekali. Tetapi aku rasa tidak perlu. Aku sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Tapi aku tetap anak kalian. Kita tidak butuh surat resmi untuk menjadi keluarga,’ ucap Puti sungguh-sungguh.


Nancy dan William Gray menatap Puti dengan mata bersinar lembut. Puti yang penuh kasih. Di saat dia membutuhkan hiburan dia justru menghibur orang lain, pikir mereka.


‘Berjanjilah kalau kamu akan tetap pulang ke rumah, Puti, walau pun Mike dan Cathy mungkin berada di Salem di hari-hari khusus. Kami tidak ingin kamu menyingkir karena mereka,’ ucap Nancy.


‘Tentu, Mom,’ ucap Puti ragu. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tetapi aku harus mulai belajar menyesuaikan diri demi Mom dan Dad, pikir Puti galau.


☘️


Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Salju pertama mulai turun memutihi bumi. Seperti halnya salju yang turun tanpa pilihan lain, Puti pun menjalani hari-harinya karena dia harus menjalaninya. Dia tidak kuasa menolak hari-hari yang datang menghampirinya. Setiap pagi dia bangun, sarapan, kuliah hingga sore, bekerja di Belmont’s, pulang apartemen, dan tidur lagi. Hari-harinya berlalu tanpa kesan sedikitpun. Kadang dia heran untuk apa dia menjalani semua itu. Apa sebenarnya tujuan hidupnya? Semuanya serba jauh dan kabur.

__ADS_1


Steve Carroll tidak pernah lagi muncul dalam hari-hari Puti. Seperti datangnya yang tidak terduga, perginya pun tidak terduga pula. Tetapi setiap kali tanpa sengaja Puti menyentuh gagang kacamatanya, bayangan seorang pemuda berambut emas, bermata biru, berwajah sempurna dan berperilaku seenaknya melintas di kepala Puti.


__ADS_2