Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Separo Harga


__ADS_3


‘Tidak. Aku sudah terbiasa dengan frame ini,’ sahut Puti sambil mengulurkan kacamatanya kepada optisian itu.


‘Aku sependapat denganmu. Membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan frame baru,’ optisian tua yang bernama Julie itu berkata sambil menerima kacamata Puti.


‘Hei, bukankah itu retak di bridge-nya,’ seru Steve sambil menunjuk bagian tengah kacamata Puti. Julie memeriksanya dan mengangguk.


‘Ya, memang ada retak di sini. Kurasa kamu harus mengganti frame juga. Kamu bisa memilih yang mirip dengan frame lamamu,’ sarannya.


‘Ugh..’ keluh Puti. Tidak ada pilihan lain. Dia harus mencari frame yang paling murah. Tetapi harus nyaman dipakai.


‘Bagaimana kalau yang ini?’ Steve mengambil sebuah frame yang terbuat dari kerang mutiara dengan semburat ungu. Benar-benar cantik. Namun melihat logo di sudut atasnya, Puti langsung tahu, kalau frame itu terlalu mahal. Tidak sesuai dengan kantongnya.


‘Aku mencari yang lebih sederhana. Yang lebih murah,’ ucap Puti. Steve hampir membuka mulutnya untuk menyanggah, tetapi diurungkannya. Dia ingat Puti tadi mengkritik mobil yang dikendarainya.


‘Mengapa tidak kamu coba dulu,’ usul sang optisian, seakan membaca yang ada di pikiran Steve. ‘Kalau sesuai, nanti aku kasih diskon yang menarik.’


Puti mencobanya dan melihat wajahnya di cermin. Kacamata itu seakan dibuat khusus untuk dirinya. Mata bulatnya yang pekat mirip buah kelengkeng ping-pong nampak lebih cemerlang dengan frame tersebut.


‘Bagaimana menurutmu?’ Puti menoleh ke arah Steve. Steve memandangnya terpukau dan tidak berusaha menyembunyikan kekagumannya.


‘Sempurna,’ pujinya. Puti tersenyum ragu dan mengalihkan pandangannya ke optisian.


‘Berapa harga frame ini setelah diskon?’ Puti memberanikan diri untuk bertanya.


‘Kamu punya asuransi?’ Tanya Julie.


‘Punya. Tapi kurasa tidak mencakup gigi dan mata,’ jawab Puti.


‘Berikan kartu mahasiswamu, coba aku cek,’ ujarnya. Puti mengulurkan kartu mahasiswanya. Julie menerimanya dan masuk ke dalam kantor.


‘Kacamata itu sangat cocok untukmu. Dan aku sudah berjanji untuk mengganti kacamatamu yang pecah. Aku yang akan membayar kacamatamu,’ bisik Steve hati-hati.


‘Aku tidak akan mengijinkan kamu membayar kacamata yang mahal, Steve. Kacamataku yang rusak, kacamata murah.’


‘Aku sudah berjanji,’ sahut Steve pendek. Puti berharap setelah diskon, frame itu tidak terlalu mahal, jadi dia bisa membayar separonya.


Sekitar lima belas menit kemudian Julie muncul dengan senyum lebar di bibirnya. Di tangannya ada beberapa lembar kertas.

__ADS_1


‘Kamu memiliki asuransi yang lengkap dan prima,’ ucapnya gembira. ‘Gigi dan mata termasuk di dalamnya. Jadi semua biaya pemeriksaan mata dan lensa ditanggung asuransi. Namun untuk frame ada limitnya. Tidak boleh melebihi 100 dolar.’


‘Julie, anda yakin kalau pertanggungan asuransiku mencakup mata?’


Julie mengangguk sambil membaca kertas yang ada di tangannya


‘Puti Larasati, 20 tahun, tinggal di Salem Ohio, guardian: Willian dan Nancy Gray. Benar?’


‘Ya, itu aku,’ sahut Puti sambil menghembuskan nafas lega. Coba tahu dari kemarin-kemarin, pikirnya. ‘Sekarang tunjukkan frame yang harganya di bawah 100 dolar,’ sambungnya.


‘Kalau frame yang tadi dicoba Puti, kami harus tambah berapa?’ Tiba-tiba Steve yang berdiri tepat di belakang Puti bertanya.


‘Setelah diskon dan pajak, kurang 232 dolar,’ jawab Julie cepat. Ternyata dia sudah menghitungnya.


‘Oke, kami ambil itu,’ sahut Steve yakin.


‘Steve, aku mau cari yang ditanggung asuransi saja,’ cegah Puti. Steve menggeleng.


‘Kamu cocok sekali mengenakan kacamata itu. Kacamata itu didisain khusus untukmu.’


‘Kalau begitu aku bayar separo,’ Puti mencoba menawar. Steve menggeleng. Wajahnya kelihatan serius.


Sementara menunggu pembuatan lensanya. Puti dan Steve pergi ke bagian administrasi untuk mengambil obat, menyelesaikan urusan administrasi dan kekurangan pembayaran frame.


‘Kamu cantik dengan kacamata itu,’ Steve memuji ketika Puti mengenakan kacamata barunya.


‘Terima kasih, tapi aku akan lebih senang jika kamu membiarkan aku membayar separo dari harga kacamata ini,’ jawab Puti.


‘Aku sudah berjanji untuk mengganti kacamatamu.’


‘Aku tidak mau dituduh memanfaatkanmu.’


‘Tidak ada yang akan menuduhmu,’ ucap Steve untuk meyakinkan Puti.


‘Bagaimana dengan istrimu? Dia tidak marah kamu mengeluarkan uang sebegitu besar untuk wanita lain?’


‘Apa yang kamu omongkan?’ tanya Steve sambil tertawa keras. ‘Kamu bilang istriku? Ha … ha …ha. Baru kali ini ada orang yang mengira aku sudah beristri. Mengapa kamu bisa berpendapat seperti itu? Apakah tampangku mirip laki-laki beristri? Puti … Puti,’ sambung Steve masih dengan tawa.


Lalu siapa wanita yang ada di apartemenmu malam itu? tanya Puti. Tetapi pertanyaan itu tidak diucapkannya. Mengajukan pertanyaan itu sama saja mengakui kalau dia telah keluyuran sampai ke apartemen Steve pada malam Halloween. Padahal beberapa saat sebelumnya dia mengatakan kepada Steve bahwa yang berhak atas malam Halloween itu hanyalah anak-anak kecil. Itulah pula sebabnya dia juga tidak menyinggung tentang Emma Walden. Walau sebenarnya ingin benar dia menyingkap sikap Emma yang misterius . Ada apa sebenarnya antara Emma dan Steve?

__ADS_1


‘Kemana kita sekarang?’ tanya Steve kembali serius.


‘Pulang,’ sahut Puti pendek.


‘Kamu benar-benar ingin pulang? Kita masih punya waktu untuk pergi ke taman dan melihat mawar terakhir.’


‘Aku harus pulang. Aku harus kerja nanti.‘


‘Oke,’ ucap Steve kecewa sambil membelokkan mobilnya ke arah kampus. Beberapa saat kemudian mereka mulai memasuki kampus.


‘Aku tidak ada acara sore ini. Mau kuantar ke Arbor Circle?’ Steve masih mencoba untuk bersama Puti lebih lama.


‘Tidak usah. Aku biasa jalan atau naik bis kampus.’


‘Kamu masih marah soal harga kacamata?’ tanya Steve ketika mereka sudah mendekati asrama Puti


‘Mengapa aku harus marah? Ada orang berbaik hati kok marah,’ sindir Puti.


‘Bagaimana kalau sekarang kamu tidak harus membayar separo harga kacamata, tetapi kapan-kapan kamu mentraktirku makan malam? Makan malam yang agak fancy,’ usul Steve sambil menghentikan mobilnya di halaman parkir asrama Puti.


‘Oke,’ jawab Puti sambil turun dengan tenang. ‘Terima kasih, Steve,’ lanjutnya sambil menutup pintu. Serta merta Steve membunyikan klakson. Puti yang sudah siap meninggalkannya menoleh.


‘Kapan kita bertemu lagi?’ tanya Steve setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.


‘Entahlah,’ sahut Puti pendek.


‘Kapan kamu berniat untuk mentraktirku?’ kejar Steve tidak puas.


‘Kita atur nanti,’ ucap Puti kemudian melambaikan tangannya ke arah Steve yang memandangnya bingung. Puti sadar, Steve tersinggung atas sikapnya. Seharusnya dia bersikap lebih manis. Tetapi keadaan matanya yang memprihatinkan tidak memungkinkan dia untuk bermanis-manis kepada orang lain. Dia sedang risau memikirkan datangnya suatu saat. Suatu saat dimana kedua matanya tidak bisa berfungsi lagi.


‘Tuhan, bila saat itu tiba, adakah tangan yang akan membimbingku? Aku sendirian di dunia ini, Tuhan,’ keluh Puti lirih sambil menengadahkan wajahnya seakan dia tahu Tuhan berada di atasnya.


☘️


Steve Caroll menarik nafas panjang. Dengan matanya dia ikuti langkah Puti hingga Puti masuk ke dalam unitnya. Ada sesuatu pada Puti yang membuat Steve ingin mengenalnya lebih dalam. Tapi nampaknya Puti sangat tertutup dan mengambil jarak darinya.


Sedang Steve menatap nanar pada apartemen Puti, tiba-tiba kaca jendela di sampingnya diketuk dari luar. Steve menurunkan kaca jendelanya.


‘Emma!’ Serunya ketika dia melihat siapa yang mengetuk kaca jendelanya.

__ADS_1


‘Jangan coba-coba mendekatinya. Dengar baik-baik, jangan ganggu dia!’ Ancam Emma dengan dingin.


‘Bagaimana kalau Puti yang mendekatiku?’ Tanya Steve sambil tersenyum tipis.


__ADS_2