
Beberapa mahasiswa nampak berada di lobby ketika Puti memasuki gedung Business Administration. Puti menyapa mereka ramah sebelum berjalan menuju ke escalator yang membawanya ke lantai 2. Dia belok ke kanan melalui lorong yang di kiri dan kanannya rapi berjajar locker untuk mahasiswa. Puti menuju ke locker-nya dan masukkan beberapa buku tebal ke dalam locker itu dan mengambil sebuah bundel kertas. Paper yang harus dia kumpulkan. Sesudah mengunci locker kembali dia berjalan menuju ke ruang kuliahnya di lantai 3 dengan penuh semangat. Ada seseorang yang akan ditemuinya pagi ini. Billy McCroom.
Alangkah kecewanya hati Puti ketika tiba di ruang kuliahnya dan tidak menjumpai McCroom di sana. Bahkan hingga kuliah dimulai pun Billy masih juga tidak kelihatan. Puti merasa heran, bukan sifat Billy untuk mangkir dari kuliah. Apalagi dia sudah berjanji untuk mengabarinya tentang pekerjaan sambilan yang diinginkannya.
Usai kuliah, Puti menyalakan hp-nya. Tidak ada pesan dari Billy McCroom. Juga tidak ada pesan dari Mike Gray. Puti menulis pesan singkat ke Mike, ‘Masih di Oregon?’ sebelum dia mematikan gadgetnya kembali.
Harapan Puti untuk bisa bertemu dengan Billy musnah ketika pada kuliah yang berikutnya dia juga tidak berhasil menjumpai Billy.
‘Barangkali aku memang ditakdirkan untuk tidak berpenghasilan sendiri,’ keluh Puti dalam hati sambil berusaha memusatkan perhatiannya pada kuliah dan melupakan janji Billy.
Jam dua belas dua puluh menit hingga jam satu adalah jadwal makan siang Puti. Bergegas dia menuju ke cafetaria, takut tidak mempunyai cukup waktu. Melihat antrian yang panjang di depan cafetaria hampir saja membuatnya putus asa. Kalau tidak ingat bahwa dia harus berada di kampus hingga sore hari rela rasanya melepaskan makan siangnya. Dengan berat hati terpaksa dia berdiri di dalam antrian.
Menu di cafetaria ini tidak bisa diharapkan. Kadang enak tapi tidak jarang di bawah standar “asal bisa dimakan”. Puti berusaha membaca menu hari ini yang ditempel di dinding dekat pintu masuk, tapi tidak berhasil. Pandangannya terhalang oleh tubuh besar pemuda yang berdiri tepat di depannya. Dia berjinjit, berdiri di atas ujung kakinya, masih juga tidak berhasil.
‘Lasagna dan salad,’ tiba-tiba terdengar suara tepat di belakangnya. Puti merasa mengenali suara itu. Cepat-cepat dia menoleh.
‘Billy!’ serunya senang. ‘Kemana saja kamu? Mengapa tidak mengikuti kuliah?’
‘Aku baru saja balik dari Arbor Circle,’ jawab Billy sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih cemerlang, kontras dengan warna kulitnya. Arbor Circle adalah pusat perbelanjaan kecil, tidak jauh dari pintu masuk kampus Kent.
‘Arbor Circle? Apa yang kamu lakukan di Arbor Circle?’
‘Mencarikan pekerjaan untukmu.’
‘Astaga, Billy. Kamu tidak harus mengorbankan kuliahmu untuk itu,’ ujar Puti merasa berdosa.
‘Majulah, Puti, kita sudah tertinggal jauh,’ Billy mengingatkan tanpa berniat untuk menanggapi pendapat Puti. Puti maju beberapa langkah mengikuti pemuda di depannya.
‘Kamu tidak menanyakan hasil usahaku?’ tanya Billy.
‘Apa? Tentu saja. Bagaimana hasilnya?’
‘Aku berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan untukmu. Bukan pekerjaan yang keren, tapi kurasa tepat untukmu. Kamu akan mempunyai cukup waktu untuk santai atau membaca pelajaran,’ jawab Billy. Berdua mereka melangkah maju lagi. Kemudian Puti mengambil dua buah baki. Sebuah dia ulurkan kepada Billy.
‘Apa pekerjaanku?’ tanyanya.
‘Kasir.’
‘Kasir?’ ulang Puti. Billy mengangguk. ‘Billy, kamu pasti bercanda. Bagaimana kamu bisa berkata kalau aku akan punya waktu untuk bersantai? Kasir selalu sibuk sepanjang hari.’
‘Tergantung tokonya,’ sahut Billy tenang. ‘Sudah kukatakan kepadamu tadi, bukan pekerjaan yang keren. Kamu tidak akan bekerja di department store besar seperti Strauss, Macy’s atau Hill. Kamu hanya akan bekerja pada sebuah drug-store kecil yang sepi pengunjung. Kamu tahu kan Belmont Drugstore di Arbor Circle?’
‘Belmont Drugstore? Ya, aku pernah dua atau tiga kali ke sana. Pemiliknya seorang wanita tua kan?’ jawab Puti sambil membungkuk dan mengambil sebuah karton orange juice kemudian dia letakkan di bakinya. Tanpa disadari dia telah berdiri di deretan paling depan.
__ADS_1
‘Hallo, Puti,’ sapa wanita gemuk petugas cafetaria kepada Puti.
‘Oh, hai, Mrs. Snyder. Apa kabar?’ balas Puti hangat.
‘Wonderful,’ jawab Mrs. Snyder. ‘ Apa yang kamu inginkan? Sandwich Tuna atau Lasagna?’
‘Saya ambil Lasagna,’ jawab Puti.
‘Engkau tahu, Puti, aku baru saja pulang dari mengunjungi anak dan cucuku di Wisconsin,’ Mrs. Snyder bercerita sambil mengambilkan sepiring Lasagna untuk Puti.
‘Bagaimana keadaan mereka? Sehat-sehat saja?’
‘Ya. Semuanya baik. Kedua cucuku sudah besar. Pat tahun ini mulai di Junior High dan Christ adiknya sudah kelas empat,’ jawab Mrs. Snyder bangga. ‘Oh ya, Puti, apakah kamu punya perangko dari Indonesia? Pat sedang keranjingan mengumpulkan perangko. Aku bermaksud untuk mengirimnya.’
‘Kurasa saya punya banyak. Nanti saya carikan,’ janji Puti sambil cepat-cepat meletakkan makanannya ke atas baki. Dia tahu kalau dia teruskan obrolannya, orang-orang di belakangnya akan menggerutu.
‘See you, Mrs. Snyder, ‘ucap Puti kepada Mrs. Snyder sebelum berlalu. Wanita itu membalasnya dengan lambaian tangan.
Puti dan Billy berhasil mendapatkan tempat kosong di sudut ruangan.
‘Puti, berapa orang yang tak kamu kenal di Kent?’ tanya Billy begitu mereka duduk.
‘Apa?’ tanya Puti tidak mengerti.
‘Oh itu …,’ desah Puti. ‘Kurasa itu salah satu kelemahanku. Aku selalu ingin tahu kehidupan orang lain. Bahkan orang yang tidak aku kenal sekali pun. Aku tidak bisa bersikap acuh, terutama kepada orang yang kukenal baik. Aku akan merasa sangat berdosa bila tidak menyapa mereka, ‘jawab Puti. ‘Kembali ke masalah kita tadi, Billy. Kapan aku bisa mulai bekerja?’
‘Kapan saja kamu mau,’ jawab Billy. ‘Aku sudah bilang pada Mrs. Belmont dan dia mengharapkan secepatnya kalau bisa. Dia benar-benar membutuhkan kasir.’
‘Baiklah. Aku akan ke sana nanti sore sehabis kuliah.’
☘️
Pada hari-hari biasa, Puti selalu masuk kompleks asramanya melalui gerbang yang dekat dengan halaman parkir. Tetapi sore ini Puti sengaja lewat pintu utama. Pintu yang mempunyai akses langsung ke gedung fasilitas umum. Dia masuk di lobby kemudian berjalan menuju bagian informasi.
‘Apakah kemarin sore ada orang yang mencari atau meneleponku?’ tanya Puti pada petugas informasi.
‘Kamarmu nomer berapa, Puti?’ petugas itu ganti bertanya. ‘
‘Unit L-104‘
‘L ... satu ... kosong... empat,’ ulang petugas itu sambil mengurutkan kartu berita yang disusun menurut nomor kamar. ‘No. Tidak ada pesan untukmu, ‘lanjutnya. Puti kecewa tapi dia masih berusaha tersenyum.
‘Kalau nanti ada yang menelepon atau mencariku, tolong katakan padanya untuk menelepon HP-ku sesudah jam delapan tiga puluh atau minta dia meninggalkan nama dan nomer teleponnya,’ pesan Puti.
__ADS_1
‘Oke,’ sahut petugas itu lagi sambil mencatat pesan Puti di kartunya.
‘Thanks,’ ucap Puti sebelum berlalu.
Puti berjalan dengan lesu menuju ke unitnya. Tadi dia berusaha nelpon Mike Gray, namun telpon Mike tidak aktif. Sms yang dia kirimkan pun belum dibalas. Sebelum memasuki unitnya, Puti menghembuskan nafas panjang, mengusir kekuatiran yang ada di dadanya.
‘Hai, sudah pulang?’ sapa Emma yang ternyata sudah berada di dalam apartemen mereka.
‘Ya Tuhan, Em, apa yang kamu lakukan? Rumah kita seperti kapal pecah,’ ucap Puti tidak menjawab sapaan Emma. Dia melihat ruang tamu mereka berantakan penuh dengan gulungan kain, kertas sketsa, pakain, hanger dan segala macam barang lainnya. Emma yang duduk bersila di atas karpet mengamati sekelilingnya kemudian tersenyum lebar.
‘Besok ada deadline bikin disain pakaian pantai. Nanti kalau sudah selesai aku beresin,’ janji Emma yang kuliah di fakultas Fashion Design. Puti mengangguk, melemparkan tas dan buku-bukunya di atas sofa. Di antara bikini dan handuk pantai milik Emma. Sesudah melepas sepatunya dia segera menuju ke kamarnya.
‘Mau ke mana?’ tanya Emma ketika melihat Puti ke luar kamar lagi dengan membawa pakaian dan perlengkapan mandi.
‘Mandi,’ jawab Puti pendek, sambil menutup pintu kamar mandi. Emma curiga. Puti tidak pernah langsung ke kamar mandi begitu tiba di asrama. Biasanya dia akan berbaring dulu untuk beberapa menit. Dan sering dia baru mandi menjelang tidur.
‘Kamu ada acara?’ tanya Emma ketika Puti sudah kembali lagi ke kamar tamu dan berbau harum.
‘Ya,’ sahut Puti sambil memasukkan pakaian kotornya ke dalam kantong plastik dan memasukkan kantong itu ke salah satu lemari dapur bagian bawah. ‘Hari ini aku mulai bekerja,’ lanjutnya dengan bangga.
‘Apa?!!’ teriak Emma.
‘Kamu sudah mendengarnya, Emma manis. Aku mulai bekerja sore ini. ‘
‘Kamu? Kamu akan bekerja? Wow aku tidak pernah menyangka kalau kamu akan bekerja,’ komentar Emma.
‘Di mana?’ tanya Emma ingin tahu.
‘Belmont Drugstore. Arbor Circle,’ jawab Puti sambil menyisir rambutnya.
‘Kurasa perlu kamu ketahui, Put, Mrs. Belmont itu amat cerewet dan bawel. Tidak seorang pun yang betah bekerja di sana. Kalau kamu menginginkan pengalaman kerja yang manis, jangan kerja di sana,’ nasehat Emma.
‘Emma Walden, apakah kamu sedang berusaha menakut-nakutiku?’
‘Sama sekali tidak. Buktikan sendiri kata-kataku. ‘
Mendengar kata-kata itu hati Puti menjadi kecut. Dia membutuhkan uang tapi kalau harus dicereweti dan dibaweli dulu dia masih harus berpikir seribu kali.
☘️
Ternyata kata-kata Emma sama sekali tidak terbukti. Paling tidak untuk hari ini. Nyonya Belmont menyambut Puti hangat kemudian mengajarkan apa-apa yang harus dilakukannya. Setelah Puti bisa dilepas sendiri, wanita itu segera meninggalkannya dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Di Belmont Drugstore itu ada tiga orang pekerja. Empat dengan Puti. Dua orang di antara mereka bekerja di toko obatnya dan dua lainnya, termasuk Puti di toko umum. Bersama Nyonya Belmont, Puti bertindak sebagai kasir. Puti menyukai suasana tempat itu. Hanya sesekali saja pembeli datang. Dan di antara waktu-waktu senggang mereka bisa duduk dengan santai.
__ADS_1