
Bulan Desember merupakan bulan sibuk bagi Puti. Emma sudah mulai dengan produksi acara TV-nya yang bertema Traditional Textiles for Trendy Fashion, dengan episode pertama membahas tenun ikat dan batik Indonesia. Mau tidak mau Puti harus terlibat di dalamnya. Untung ada mahasiswa Indonesia, Nita, yang baru kembali dari Indonesia dan tidak keberatan untuk membawakan tenun dan batik, sehingga Emma tidak kesulitan mengumpulkan bahan.
Sementara itu kerja samanya dengan Steve telah menyita hampir seluruh waktunya. Pada awalnya Puti menolak menjadi partner Steve. Dia benar-benar buta mengenai desain interior. Perencanaan dekorasi untuk rumah jompo yang pernah dikerjakannya dulu hanya berdasar pada naluri semata. Tanpa teori dan pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Waktu itu Kota Kent memperingati Senior Day. Mahasiswa yang tinggal di dormitory Gedung L, dimana unit Puti dan Emma berada, menawarkan diri untuk menjadi tenaga sukarela untuk menyelesaikan interior rumah jompo. Karena tidak ada seorang pun yang bersedia menjadi perencana, Puti mengangkat dirinya sendiri sebagai perencana sekaligus memimpin teman-temannya. Kebetulan saja usaha mereka berhasil. Keberhasilan mereka diliput beberapa TV lokal dan TV kampus. Juga menjadi berita utama koran the Record-Courier yang bermarkas di Kent.
Jadi tidak berarti Puti mahir dalam hal desain interior. Tapi steve tidak mau tahu. Dia melihat interior rumah jompo itu begitu sempurna. Dari dinding, hiasan dinding, lantai bahkan sampai ke perabotannya begitu fungsionak dan sempurna. Itulah sebabnya dia bersikeras untuk menjadikan Puti sebagai partnernya.
Mulailah Puti bergelut dengan cat, keramik, lampu, dan segala macam peralatan rumah. Begitu dia mempunyai waktu luang, dia akan berkeliaran di Home Depot atau mengutak-utik maket rumah yang telah dibuat Steve. Sambil berkhayal mempunyai rumah sendiri dan dihiasi sendiri pula.
Kegiatannya yang padat membuatnya lupa atau dia memang sengaja melupakan keadaan dirinya. Telepon dokter Conneally berkali-kali mengingingatkan dia untuk datang ke klinik mata tidak dia hiraukan. Dia lupa kebutaan mengancamnya setiap saat.
Dokter Conneally tidak putus asa. Puti tidak mau datang kepadanya, dia yang datang kepada Puti. Dengan setia dia menunggu kedatangan Puti di asrama. Dan ketika Puti pulang dari Belmont, dia tidak menyangka dokter tua itu sudah menunggunya di lobby Gedung Pengelola.
‘Saya tidak akan menjalani operasi itu,’ ucap Puti ketika dokter Conneally menyatakan maksud kedatangannya.
‘Puti, paling tidak biarkan aku menjelaskan prosedur dan hasil-hasil yang bisa dicapai dengan operasi itu,’ ucap dokter Conneally sabar.
‘Silakan, saya akan mendengarkannya,’ jawab Puti. Mulailah dokter Conneally menjelaskan dengan panjang lebar segala sesuatu yang berhubungan dengan operasi mata dengan harapan hati Puti akan terbuka dan mau menjalani operasi itu. Tapi kelihatannya usahanya yang mulia itu akan sia-sia.
‘Apa resikonya bila operasi itu gagal?’ tanya Puti ketika dokter Conneally telah selesai dengan kuliahnya.
‘Resiko paling jelek adalah kamu tidak bisa melihat lagi setelah operasi selesai,’ jawab dokter itu jujur.
‘Kalau begitu saya memilih untuk tidak menjalaninya,’ ucap Puti.
‘Puti, yang kukatakan tadi adalah resiko yang paling jelek. Dokter-dokter di klinik sudah berpengalaman melakukan operasi semacam ini puluhan kali‘
__ADS_1
‘Tapi kan kemungkinan terjelek itu bisa saja terjadi?’
‘Dengarkan baik-baik, Puti,’ perintah dokter Conneally tegas. ‘Bila kamu tidak menjalani operasi, dapat di pastikan matamu akan mengalami kebutaan. Tetapi bila kamu mau dioperasi, kebutaan itu mungkin tidak akan terjadi.’
‘Baik akan saya pertimbangkan, dokter. Bukan keberhasilan operasi itu yang saya pikirkan. Tapi kegagalannya yang menbuat saya bimbang. Kalau gagal, berarti dalam waktu singkat mungkin saya tidak akan mampu melihat lagi. Saya ingin bisa melihat agak lebih lama. ‘
Berbagai macam bujuk rayu dan upaya untuk membujuk Puti agar mau menjalani operasi mata tidak ada yang berhasil. Keputusan Puti sekuat karang di tengah samudra. Tidak tergoyahkan. Dia mengatakan dia berhak memilih untuk dirinya sendiri.
Akhirnya dokter Conneally menghentikan usahanya. Dia tidak lagi mendatangi Puti. Tetapi Puti begitu kaget ketika Steve menyinggung-nyinggung tentang operasi mata yang diusulkan dokter Conneally.
‘Dari mana kamu tahu tentang operasi mata yang harus kujalani?’ tanya Puti. Waktu itu dia tengah berada di apartemen Steve untuk membicarakan desain rumah yang mereka susun bersama.
‘Dokter Conneally mengatakan kepadaku,’ jawab Steve.
‘Dokter Conneally? Dia mengatakannya kepadamu?’ tanya Puti berang. ‘Bukannya itu melanggar doctor and patient confidentiality? Dia tidak seharusnya melakukan itu. Dia tidak berhak mengatakan kepada siapapun tanpa ijinku. Aku akan menegur dokter Conneally,’ lanjut Puti emosi.
‘Bukan salah dokter Conneally, Put. Tapi aku yang salah.’ Steve mencoba meredakan kemarahan Puti. ‘Sewaktu mendaftarkan kamu untuk memeriksakan mata dulu, aku memperkenalkan kamu sebagi calon isteriku. ‘
‘Calon isteriku,’ jawab Steve tidak merasa bersalah sedikit pun. Puti memelototkan matanya geram, tapi Steve tenang-tenang saja melanjutkan bicaranya. ‘Makanya ketika dokter Conneally menemui kesulitan untuk meyakinkanmu untuk menjalani operasi, dia meminta bantuanku. Hal yang wajar, toh aku calon suamimu,’ Steve tertawa geli.
‘Kamu mengira kamu akan berhasil membujukku?’
‘Tidak ada salahnya mencoba,’ jawab Steve.
‘Tidak ada gunanya, Steve. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau menjalani operasi.’
‘Mengapa?’
__ADS_1
‘Karena aku tidak mau buta sekarang. ‘
‘Puti, apakah sudah kamu pertimbangkan untung ruginya?’
‘Sudah.’
‘Aku tidak menyangka kamu sepengecut itu dalam mengambil resiko. Apakah kamu tahu bila kamu terlanjur buta maka kemungkinan dapat disembuhkan sangat kecil sekali?’
‘Aku sudah tahu semuanya. Dan aku tetap tidak mau menjalani operasi,’ jawab Puti masa bodoh.
‘Sekarang tinggalkan pembicaraan tentang mata. Mari kita kembali pada bangunanmu,’ Puti mengalihkan pembicaraan.
‘Nah, Steve, mana daftar bahan-bahan yang paling murah dan alternatifnya‘
‘Kamu tahu, keras kepala,’ komentar Steve sambil memandang Puti tajam.
‘Daftar bahan-bahannya, Steve,’ ucap Puti tidak mengacuhkan komentar Steve. Steve menggeleng-gelengkan kepalanya gemas kemudian mulai menyusun daftar yang diminta dan mengirimkannya ke email Puti.
Sesudah daftar semua bahan tersusun Puti meminta Steve untuk membuat daftar pekerja dan waktu yang di butuhkan untuk menyelesaikan bangunan itu. Sementara Steve membuat daftar yang dimintanya, Puti memulai membuat analisa biaya bahan. Dia ingin mendapatkan biaya seminimal mungkin karena penilaian lomba desain ini selain didasarkan pada keindahan juga didasarkan pada penghematan biaya.
Steve benar-benar mengagumi cara kerja Puti. Berkali-kali dia mencuri pandang ke arah Puti yang sibuk dengan kalkulator dan rumus-rumus analisa biaya. Steve semakin yakin kalau dia tepat telah memilih Puti sebagai partnernya. Maket bangunannya pun tampak lebih indah setelah Puti menorehkan cat pada kayu-kayunya, memperlengkapinya dengan mebel-mebel kecil dan menyempurnakan hal-hal kecil lainnya. Selain itu, Puti telah membantu dia dalam memerinci biayanya.
‘Gadis satu ini pantang menyerah,’ pikir Steve ketika melihat Puti mengerutkan dahinya dalam-dalam pertanda dia sedang berpikir keras.
‘Put, istirahatlah kalau capai,’ saran Steve merasa kasihan. ‘Mau kubuatkan sandwich?’
‘Aku masih kenyang,’ sahut Puti. ‘Pekerjaan ini harus segera kuselesaikan,’ lanjutnya tanpa memindahkan perhatiannya pada obyek yang sedang dihadapinya.
__ADS_1
‘Siapa yang mengharuskannya?’ tanya Steve.
‘Aku,’ jawab Puti sambil mendongakkan kepalanya. ‘Aku ingin semuanya cepat selesai biar aku bisa segera pulang ke Salem dan menikmati liburan akhir tahunku‘