Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Gadis Asia


__ADS_3

Rumah yang dicari Puti adalah sebuah rumah bercat jingga yang menyolok mata. Kontras dengan onggokan salju yang berada di jalan dan halaman rumah. Puti segera turun dari mobilnya. Tidak lupa dia menutup jendela mengunci pintu. Daerah ini memegang rekor dalam pencurian mobil.


Seorang wanita berkulit hitam berbadan gemuk muncul setelah Puti menekan bel panjang.


‘Apa yang kamu cari di tempat seperti ini, Gadis Asia?’ Tanya wanita itu dengan suaranya yang sengau.


‘Saya mencari Billy McCroom,’ jawab Puti sopan.


‘Billy, ada gadis Asia mencarimu! ‘teriak wanita itu lantang. Terdengar sahutan Billy yang tak kalah lantangnya. Sejenak kemudian Billy muncul. Dia kaget melihat kedatangan Puti.


‘Kukira kamu sudah pulang ke Salem,’ ucap Billy sambil mempersilakan Puti masuk ke dalam rumah. Rumah yang sederhana namun bersih. Billy memperkenalkannya dengan wanita gemuk tadi yang ternyata adalah ibu Billy.


‘Memang. Tapi aku kembali lagi karena ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu,’ jawab Puti setelah Mrs. McCroom meninggalkan mereka.


‘Apa yang ingin kamu bicarakan, Put?’ tanya Billy sesudah Puti duduk dengan nyaman. Puti merenung sejenak untuk mencari kata-kata. Selama dalam perjalanan tadi dia sudah mereka-reka kata-kata apa yang bakal dia muntahkan pada Billy. Tapi ternyata kata-kata itu tidak sesuai. Dia butuh kata-kata yang lain.


‘Billy,’ ucap Puti akhirnya. ‘Selama ini kamu kuanggap sebagai temanku. Salah satu teman yang terbaik. Tapi ternyata kamu tidak menganggapku sebagai teman. Bahkan kamu mematai-mataiku. ‘


‘Puti, aku tidak mengerti maksudmu? Aku temanmu,’ Billy mengelak dengan cepat.


‘Tidak perlu pura-pura lagi. Tadi malam, secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraanmu dengan Michael Gray. Aku tahu apa yang sedang kalian lakukan saat ini. Menyelidiki Steve Carroll. Untuk apa?’ Puti memutuskan untuk langsung menyerang. Tanpa basa-basi. Matanya bersinar marah. Billy tidak berkutik. Dia tidak bisa lagi mengelak.


‘Puti, aku … ‘

__ADS_1


‘Apa hak kalian untuk menyelidiki Steve? Apakah kalian merasa lebih baik dari Steve? aku sama sekali tidak mengerti,’ Puti berhenti sejenak. ‘Kurasa aku berhak untuk bergaul dengan siapa saja. Dengan orang baik-baik maupun orang jahat. Aku ingin kamu menghargai hak pribadiku ini. Mulai sekarang aku tidak ingin kamu berada di dekatku. Karena aku tahu kamu akan segera lapor kepada Mike. ‘


‘Demi Tuhan, Puti, aku tidak bermaksud jahat,’ sumpah Billy.


‘Nah, jelaskan maksud baikmu,’ tantang Puti berani. ‘Dan sejak kapan kamu kenal Mike? Dia bukan alumni KSU dan dia tidak pernah tinggal di Kent.’


‘Aku ketemu Mike di pesta Prof. Miller, di malam yang sama ketika kamu minta aku untuk mencarikan pekerjaan,’ Billy mulai menjelaskan. ‘Dia yang mendekatiku. Entah dari mana dia bisa tahu kalau aku teman kuliahmu. Singkat cerita, Mike meminta aku mencarikan pekerjaan yang tidak begitu melelahkan. Dia yang akan membayar gajimu.’ Billy berhenti sejenak untuk mengamati reaksi Puti. Yang diamati tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Wajahnya masih tetap dingin.


Malam dia datang untuk memutuskan pertunangan dan kabur tanpa bertemu aku, pikir Puti.


‘Sejak saat itu, Mike rajin menghubungiku untuk menanyakan bagaimana keadaanmu. Ketika aku tahu kalau pertunangan kalian putus, aku menghubunginya untuk menanyakan komitmennya dengan Mrs. Belmont. Dia bilang untuk dilanjutkan, sampai kamu sendiri yang memutuskan untuk berhenti.’


‘Lalu apa kaitannya dengan Steve?’


‘Kalau dia ingin tahu tentang Steve, dia bisa menanyakannya kepadaku. Kurasa aku lebih kenal Steve daripada siapa saja di dunia ini,’ jawab Puti membual. ‘Kamu tak perlu mencari informasi yang lengkap mengenai Steve. Aku sudah mengetahui semuanya, dan aku tidak peduli. Apakah kamu akan membeberkan tentang kisah cinta Steve dengan puluhan wanita? Aku sudah tahu bahkan aku juga sudah tahu siapa-siapa wanita itu. Jelas, Billy? Aku tidak mau kamu ganggu lagi. Stay out of my life, will you?’


‘Puti, kamu benar-benar tidak mengerti maksud kami.’


‘Mungkin dan aku tidak ingin mengerti. Yang kuinginkan hanyalah menjalani hidup ini semauku tanpa ada yang mengatur,’ sahut Puti rendah sambil mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.


‘Dan ini adalah gaji yang berhasil kukumpulkan selama aku bekerja di Belmont. Kamu boleh mengembalikannya pada Mike atau mau kamu apakan pun boleh. Juga katakan kepada Mrs. Belmont, kalau mulai detik ini aku keluar dari tokonya,’ lanjut Puti sambil berdiri.


‘Puti, dengarkan dulu penjelasanku,’ pinta Billy kalang kabut.

__ADS_1


‘Tidak perlu. Seharusnya aku menyadari dari awal. Semua orang mengatakan Mrs. Belmont itu cerewet dan bawel, tetapi anehnya tidak kepadaku. Seharusnya aku curiga karena sekecil toko itu tapi mampu menggajiku lebih besar daripada departemen-departemen store. Ternyata sesungguhnya aku bekerja di sana tanpa gaji. Mike yang menggajiku,’ ucap Puti hampir diiringi tangis. Kemudian dia melangkah keluar. Billy mengikutinya. Puti sama sekali tidak memberi dia kesempatan untuk membela diri. Datang langsung menyerang.


‘Puti ijinkan aku untuk menjelaskan. Tidak lebih dari lima kalimat,’ Billy menghadang di depan Puti. Puti menanti. ‘Mike melakukan semua itu karena dia mencintaimu. Terlepas siapa wanita yang akhirnya akan dikawininya. Tetapi dia tidak ingin kamu menderita. Dengan jalan yang ditempuhnya sekarang ini dia ingin membahagiakanmu. Apakah kamu tidak merasakannya?’


‘Aku tidak ingin orang lain membahagiakanku. Aku bisa mencari kebahagiaanku sendiri,’ sahut Puti sambil meneruskan langkahnya kembali. Dia berjalan mendekati mobilnya, membuka pintu, masuk dan menjalankannya tanpa sekali pun menoleh lagi kepada Billy.


Dengan cepat dia meninggalkan perkampungan kumuh itu. Sesampai di pusat kota Kent, Puti merasakan pandangan matanya kabur. Dia melihat ke kaca spion dan melihat wajahnya sudah basah dengan air mata.


Sejak kapan aku menangis? pikir Puti sambil meminggirkan mobilnya. Kemudian memasuki halaman parkir sebuah salon kecantikan yang masih buka. Dia tidak mau mengambil resiko mengendarai mobil dengan pandangan kabur. Sebelum turun dari mobil Puti memandang wajahnya lama di kaca spion.


‘Tuhan belum lagi aku buta tetapi aku sudah tidak bisa melihat siapa diriku sebenarnya,’ bisiknya. ‘Orang lain yang mengatur diriku,’ lanjutnya. Air mata yang sudah dihapus dari wajahnya kembali turun.


Setelah tangisnya benar-benar berhenti, Puti baru turun dari mobil. Pelan-pelan dia melangkah menuju salon dan masuk. Seorang cowok yang cantik dan modis menyambutnya hangat.


‘Aku tidak punya reservasi, kira-kira masih mungkin enggak untuk potong rambut?’ Tanya Puti ragu.


‘Sekedar potong atau ditata ulang?


‘Ditata ulang. Aku ingin penampilan yang benar-benar baru,’ sahut Puti.


‘Berapa lama waktu yang kamu punya?’


‘Sepanjang kamu butuhkan. Aku tidak ada acara apa-apa...’

__ADS_1


__ADS_2