Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Masuk Final


__ADS_3

Suasana di rumah keluarga Gray tidak lagi tegang. Walau pun tidak bisa dibilang hangat, namun Puti dan Mike berusaha saling menjaga diri. Saling berbicara hal-hal yang bersifat umum. Rencana perkawinan Mike dan Cathy sama sekali tidak pernah disinggung. Tanggal 31 Desember, Mike pulang ke Maryland karena dia sudah berjanji untuk merayakan Tahun Baru dengan Cathy, sedangkan Puti masih tinggal di Salem hingga tanggal 3 Januari.


☘️


Kabar gembira telah menanti Puti di Kent. Begitu dia kembali ke kampus, Steve dan Emma mengajaknya makan malam di Bricco, salah satu restoran termewah dan termahal di Kent.


‘Kalian merayakan apa kok memilih tempat semewah ini?’ tanya Puti ketika mereka telah duduk di dalam restoran.


‘Bukan aku yang merayakannya,’ jawab Emma. ‘Tapi kamu dan Steve.’


‘Aku dan Steve?’ tanya Puti tidak percaya. Emma dan Steve tersenyum sambil menganggukkan kepala mereka. Puti semakin bingung. Dia menatap Steve lama untuk mencari jawab.


‘Steve, apakah rumah kita …?’ akhirnya Puti bertanya dengan ragu.


‘Ya.’ Steve menjawab sambil tersenyum lebar.


‘Rumah kita?’ Puti masih belum bisa percaya. ‘Apakah sudah diumumkan?’


‘Aku sudah menerima telepon dari direktur Gloss Housing bahwa rumah kita masuk final. Salah satu dari lima rumah yang terpilih. Kelima rumah itu akan dibangun di High way 73 kira-kira dua mil dari rest area untuk dipilih yang terbaik. Mereka menyediakan lima kontraktor untuk membangunnya. Kita harus memilih salah satunya dan mengawasi pelaksanaannya dengan ketat. Tiga bukan kemudian, rumah itu sudah harus persis dengan maket yang telah kita buat dulu. Kita harus kerja keras lagi.’Steve menerangkan dengan rinci.


‘Hai mengapa diam saja, kamu tidak senang mendengar kabar itu?’ Steve menegur Puti yang kelihatannya sedang merenung.


‘Tentu saja aku senang. Aku masih belum bisa mempercayainya,’ jawab Puti sambil tertawa.


‘Sudah kubilang dari dulu, Put, kamu punya bakat dalam bidang interior, tapi kamu tidak mau percaya,’ Emma menyela. ‘Tapi anehnya mengapa apartemen kita berantakan seperti itu ya?’ lanjut Emma. Puti tertawa.


‘Tunggu sampai kita dapat hadiah, baru kita upgrade perabotan rumah kita,’ janji Puti


‘Aku mau sofa Thomasville di ruang tamu kita,’ sahut Emma cepat.

__ADS_1


‘Thomasville? Kamu kayak orang tua saja,’ kata Steve.


‘Klasik, Steve. Aku tidak suka perabotan yang minimalis. Kurang hangat menurutku,’ sanggah Emma.


‘Apartemen kalian minimalis sekali. Thomasville tidak sesuai.’


‘Mentang-mentang punya apartemen luas,’ komentar Emma sambil mengiris filet mignon yang sudah ada di depannya,’


‘Tugas apa lagi yang harus kita kerjakan, Steve?’ tanya Puti mengalihkan topik pembicaraan.


‘Banyak,’ jawab Steve. ‘Tapi sebelum tugas-tugas itu kubicarakan ijinkanlah aku mengucapkan selamat dulu kepadamu,’ lanjutnya sambil memegang dagu Puti kemudian mencium pipinya lembut. Puti merasa canggung apalagi ketika melihat Emma mengedipkan sebelah matanya.


☘️


Tugas yang dihadapi Steve dan Puti memang benar-benar banyak. Sementara desain rumah Steve dibangun, Gloss Housing Company mengirim cek kepada Steve untuk membeli peralatan dan perlengkapan rumah tangga lainnya sesuai dengan anggaran yang telah mereka cantumkan dulu. Berarti itu merupakan tugas Puti karena dulu yang memilih perabot rumah tangga adalah Puti. Untung Puti sudah tidak bekerja lagi di Belmont, sehingga dia bisa mencurahkan waktunya untuk itu. Setiap hari dia ke luar masuk toko dan pergi ke rumah-rumah yang sedang mengadakan garage sale untuk mencari kalau-kalau ada barang kecil yang sesuai. Kadang Steve menemaninya. Steve tidak bisa sering-sering menemani Puti karena dia sendiri sibuk mengawasi jalannya pembangunan rumah. Dia tidak ingin adanya penyimpangan dari konstruksi bangunan yang telah diusulkannya.


Malam itu Puti dan Steve berada di toko mebel. Beberapa hari yang lalu, Puti sudah memilih beberapa tempat tidur, seperangkat meja tamu dan meja makan serta beberapa drawer. Harganya pun sudah sesuai dengan harga yang diperincikannya dahulu. Tetapi Puti masih membutuhkan Steve untuk memberinya kata akhir. Untuk pembelian yang berjumlah besar Puti tidak berani mengambil keputusan sendiri.


‘Puti.’ Steve memanggil Puti yang tengah berjongkok memeriksa kaki sebuah kursi. Puti mengangkat kepalanya ke arah Steve.


‘Ya?’


‘Kamu tahu aku merasa seperti pengantin baru yang tengah belanja untuk mengisi rumah baru,’ ucap Steve. Puti tidak berkomentar hanya tersenyum lucu, karena dia sendiri pun merasakan apa yang dirasakan Steve. Steve kemudian bangkit dari tempat tidur itu dan berjalan mendekati Puti.


‘Mengapa kita tidak kawin saja,’ usul Steve ketika dia sudah berjongkok di dekat Puti. Puti membelalakkan matanya kaget.


‘Jaga bicaramu, Steve!’ Tegur Puti.


‘Apa salahnya?’ sahut Steve merasa tidak berdosa.

__ADS_1


‘Salahnya, Steve, karena kita sama-sama tidak ingin kawin,’ jawab Puti sambil bangkit dari posisi berjongkoknya. Dia kemudian mencari seorang petugas yang akan melayani mereka. Sesudah petugas itu datang Puti segera menerangkan apa yang diinginkan serta perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.


Dari toko mebel, Puti dan Steve menuju ke apartemen Steve. Puti masih harus mengukur dan memotong kain-kain tirai yang dibelinya sebelum dikembalikan lagi ke toko mebel itu untuk dijahit. Puti tidak mengijinkan petugas toko itu yang memotongnya karena takut ukuran serta motifnya tidak tepat seperti apa yang diinginkannya. Untuk melakukan pemotongan itu di apartemen Puti tidak mungkin karena ruangannya terlampau sempit. Maka satu-satunya tempat yang tepat hanyalah apartemen Steve.


‘Puti, ketika aku mengajakmu kawin tadi kamu mengatakan kalau kita sama-sama tidak ingin kawin. Aku tidak mengerti maksudmu,’ Steve berbicara pada Puti. Puti yang duduk di atas lantai kayu dan sedang mengukur kain tirai menghentikan pekerjaannya dan menatap Steve sejenak.


‘Bukankah kamu memang tidak ingin kawin?’ ucap Puti sambil kembali ke pekerjaannya.


‘Siapa bilang?’ sahut Steve cepat. ‘Tentu saja aku menginginkan sebuah perkawinan. Sebuah perkawinan yang manis dengan anak-anak yang manis pula. Aku mendambakan perkawinan seperti itu. Selama ini aku mencari wanita yang tepat untuk kujadikan isteriku. Mencari wanita yang tepat untuk melahirkan anak-anakku. Mencari wanita yang tepat untuk menerima cintaku dan mencari wanita yang tepat untuk mencintaiku. Tetapi ketika aku menemukan wanita yang tepat itu ternyata wanita itu telah mendengar terlampau banyak tentang sepak terjangku di masa lalu,’ lanjut Steve kecut.


‘Steve, apakah kamu sedang berusaha mengatakan kalau aku wanita yang tepat untukmu? Apakah kamu sedang berusaha mengatakan kalau kamu mencintaiku?’ tebak Puti.


Steve menganggukkan kepalanya mantap. Puti terpana. Mereka kemudian berdiam diri untuk beberapa saat. Tidak tahu apa lagi yang harus saling diucapkan. Tiba-tiba muncul keberanian di hati Puti. Dia bangkit dari tempatnya kemudian berjalan mendekati steve dan duduk di sampingnya. Steve kemudian mengambil tangan Puti dan digenggamnya erat.


‘Steve,’ bisik Puti. ‘Aku mempercayaimu. Aku percaya aku bisa mengandalkanmu. Tetapi masalahnya, Steve, aku belum bisa melupakan Mike. Tidak adil bagimu bila aku menerima cintamu sementara pikiran dan hatiku masih dipenuhi bayangan Mike. ‘


‘Tapi, Puti, kamu harus melupakan Mike. Dia akan segera kawin dengan wanita lain. Kamu tidak boleh mengharapkannya lagi. ‘


‘Aku tahu. Aku sudah merelakannya. Aku sudah memutuskan untuk melupakannya. Aku sudah berusaha keras untuk melupakannya. Tapi aku tidak bisa melupakannya. Bantulah aku, Steve. Bantulah aku melupakan dia,’ ucap Puti tersendat.


Sebutir airmata menggulir di pipinya. Steve melihat airmata itu. Cepat-cepat dia meraih tubuh Puti dan dipeluknya erat. Seakan melalui pelukan itu dia berusaha mengusir kegalauan di hati Puti. Lama mereka berdua berada dalam keadaan seperti itu hingga tiba-tiba saja mereka mendengar suara telepon yang berdering. Mereka mendiamkannya dengan harapan telepon yang berdering itu akan berhenti dengan sendirinya. Tapi deringan telepon itu tak mau tahu kehendak mereka, bunyinya makin menjadi-jadi.


‘I’ll get it,’ ucap Steve malas sambil berdiri. Sebelum berjalan menuju ke pesawat telepon dia menepuk punggung Puti dengan lembut. Sementara Steve berbicara di telepon, Puti kembali ke pekerjaannya seakan tidak pernah terjadi kejadian apa-apa di antara mereka. Sesaat kemudian Steve muncul kembali di ruangan itu.


‘Dari Emma.’ Steve memberitakan. ‘Dia mengingatkan acaranya akan disiarkan malam ini.’


‘Oh, ya!’ seru Puti. ‘Aku hampir lupa.’


‘Kalau begitu sebaiknya kuhidupkan TV-nya sekarang jadi kita tidak mungkin lupa. Apakah suaranya akan menganggu konsentrasimu?’ tanya Steve. Puti menggeleng.

__ADS_1


Steve segera menghidupkan TV. Kemudian dia duduk di depannya. Dia menoleh ke arah Puti yang sedang menggunting kain. Berbagai macam perasaan bergolak di dadanya. Dia memandang Puti lama kemudian ia menyadari kalau dia sama sekali tidak berdaya . Sama tidak berdayanya dengan Puti.


__ADS_2