Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Cincin Berlian


__ADS_3

‘Puti …,’ desah Mike tidak berdaya.


‘Antarkan aku pulang, Mike,’ pinta Puti sambil beranjak dari tempat duduknya.


‘Demi Tuhan, Puti, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu,’ ucap Mike sambil mengiringi langkah Puti. Puti tidak menghiraukannya. Dia berjalan tegap menuju ke mobil Mike.


Sudah lebih dari lima menit Puti dan Mike berada di dalam mobil tetapi Mike belum juga menghidupkan mesin mobil. Dia memandang kegelapan malam dengan pandangan kosong. Di sampingnya, Puti duduk bersandar di jok. Tangannya mempermainkan cincin di jari manisnya. Cincin yang sudah berada di sana hampir satu tahun. Pelan-pelan cincin itu dia lepas.


‘Kukembalikan cincinmu, Mike,’ ucapnya setelah terlebih dahulu membasahi bibirnya yang tiba-tiba menjadi kering. Mike menatapnya lama. Puti menghindari tatapan itu. Tatapan yang biasanya berkisah tentang cinta dan masa depan. Tapi tatapan lembut itu kini bukan lagi miliknya.


‘Maukah kamu tetap menyimpannya?’ tanya Mike. Puti menggeleng.


‘Tidak ada gunanya bagiku, kecuali bila calon suamiku kelak juga bernama Michael Gray. ‘


☘️


Emma dan pacarnya, Nick, sedang menonton film di ruang tamu, ketika pintu apartemen terbuka. Emma menoleh dan melihat Puti berdiri membeku di depan pintu. Wajahnya pucat pasi dan nafasnya terengah-engah. Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Emma bangkit dan berjalan mendekati Puti.


‘Puti, apa yang terjadi?’ tanya Emma kuatir.


‘Mike meninggalkanku,’ bisik Puti. Emma memeluknya dan tangis Puti pun pecah. Air mata yang sengaja ditahannya ketika berada di dekat Mike, tumpah tidak terbendung lagi. ‘Dia akan segera kawin dengan asistennya.’


‘Ceritakan semuanya kepadaku,’ ucap Emma sambil menuntun Puti mendekati sofa.


Nick mematikan TV begitu menyadari ada peristiwa serius yang menimpa Puti. Dia tahu Puti dan Emma membutuhkan privacy. Dia memberi tanda ke Emma kalau dia akan pulang. Emma mengangguk. Sebelum keluar Nick menepuk bahu Puti.


‘Be strong,’ bisiknya menguatkan.


☘️

__ADS_1


Ketika Mike membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Gray di Salem, dia melihat lampu di ruang keluarga masih menyala. Mom dan Dad belum tidur. Mereka sengaja menunggu kedatanganku, pikir Mike gamang. Dia tetap berada di dalam mobil, mencoba menunda selama mungkin pertemuan dengan ayah dan ibunya. Setelah menghimpun cukup keberanian, akhirnya dia turun juga.


Melewati ruang keluarga untuk menuju ke kamarnya, dia melihat ibunya tengah merajut dan ayahnya tengah membaca.


‘Kalian belum tidur?’ tanyanya berusaha bersikap biasa.


‘Mike, bagaimana...’


‘Mom, jangan sekarang,’ potong Mike. ‘Suatu saat nanti akan aku ceritakan semuanya.’


‘Aku cuma mau menanyakan bagaimana Puti menerimanya keputusanmu?’ Nancy Gray tidak mau menyerah.


‘Kurasa aku telah membunuh jiwa dan semangatnya,’ ucap Mike penuh penyesalan.


‘Puti masih sangat muda. Dia akan move on dan segera melupakanmu,’ William Gray menyahut. Ucapannya datar tanpa emosi. Nancy dan Mike menatapnya heran.


‘Ya, dia akan segera melupakanku,’ bisik Mike kecut sambil berjalan meninggalkan kedua orangtuanya. Baru beberapa langkah dia berhenti, berbalik dan berjalan mendekati ibunya kembali. Dari saku jaketnya dia mengeluarkan cincin berlian yang dikembalikan Puti tadi.


‘Puti mengembalikan cincin ini kepadamu?’ Tanya Nancy sambil menerima uluran cincin dari Mike. Mike mengangguk.


‘Dia bilang cincin itu tidak ada gunanya baginya, kecuali calon suaminya kelak bernama Michael Gray,’ ujar Mike getir. Nancy memahami Puti. Di bagian dalam cincin tersebut ada grafir bertuliskan ‘Michael Gray’


‘Lalu harus aku apakan cincin ini?’


‘Aku membelikan cincin itu untuk Puti. Tolong simpankan untuknya,’ ucap Mike dan berlalu.



Puti terbangun dengan perasaan yang asing. Ditebarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya, tetapi tidak berhasil menemukan sesuatu yang berubah. Perabot dan susunan kamarnya masih tetap sama. Bahkan sprei tempat tidurnya tetap sama, belum diganti. Dia begitu yakin kalau ada sesuatu yang berubah, hanya dia tidak tahu dimana letak perubahan itu.

__ADS_1


Pelan-pelan dia bangkit dari tempat tidurnya. Tiba-tiba dia merasakan kepalanya berdenyut-denyut nyeri. Cepat-cepat dia duduk di depan cermin dan melihat matanya berwarna merah.


‘Iritasi,’ gumamnya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa merah matanya itu bukan akibat tangis. Untuk lebih meyakinkan lagi dia membuka softlens yang lupa dia lepas semalam.


Puti tidak tahu dan tidak ingat lagi apa yang dilakukannya sesudah itu. Tahu-tahu dia sudah duduk di sebuah bangku di Pancake House. Empat potong Pancake yang terhidang di hadapannya belum dia jamah. Pikirannya benar-benar ruwet. Kemarin pagi dia masih bisa bermimpi tentang masa depan yang akan ditempuhnya bersama Mike. Kemarin pagi dia masih mempunyai Mike untuk bersandar. Kemarin pagi dia masih mempunyai seseorang yang mencintainya. Tapi pagi ini semuanya lebur. Impiannya buyar. Tempatnya bersandar hilang dan orang yang mencintainya telah meninggalkannya.


‘Tuhan, mengapa orang-orang yang kucintai selalu meninggalkanku?’ keluh Puti putus asa. ‘Dulu Kau ambil orangtuaku. Kemudian Kau ambil pula nenekku. Sekarang mengapa Mike harus pergi pula?’ Ditelungkupkan wajahnya di meja dan menangis terisak-isak. Tiba-tiba dia merasakan bahunya disentuh dengan lembut dari belakang.


‘Puti...,’ terdengar sebuah panggilan yang dikenalnya. Puti mendongakkan wajahnya dan melihat Nancy Gray berdiri di depannya. Cepat-cepat Puti menghapus air mata yang membasahi pipinya. Nancy segera duduk di sampingnya dan memeluknya dengan hangat. Seakan melalui pelukan itu dia ingin menyerap duka di hati Puti.


‘Puti, kamu akan kuat menghadapi cobaan ini, nak,’ bisik Nancy penuh kasih. Puti mengganggukkan kepalanya.


‘Ya...,’ desahnya berat. ‘Aku sudah terbiasa menghadapi perpisahan. Bahkan perpisahan yang abadi,’ lanjutnya.


Nancy mempererat pelukannya. Dia tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkannya. Sengaja dia datang ke Kent untuk menghibur Puti. Tetapi kini dia tidak mampu menghiburnya. Melihat keadaan Puti sekarang seperti melihat keadaan si kecil Puti belasan tahun yang lalu. Seperempat hidup dan tiga perempat mati. Dia pernah menolong Puti untuk hidup lagi tetapi ironisnya sekarang justru anak kandungnya sendiri yang telah menghancurkan hidup Puti.


‘Puti, aku yakin semua ini hanyalah halangan belaka. Mike akan segera kembali kepadamu,’ bisik Nancy. Dengan cepat Puti menggeleng.


‘Tidak. Mike benar-benar mencintai Cathy. Mereka akan segera kawin. Aku harus merelakannya. ‘


‘Hati kecilku mengatakan bahwa semua ini hanyalah gangguan yang akan segera berlalu. Aku tidak bisa menyetujui kalau Mike dan Cathy akan kawin pada Thanksgiving day yang akan datang . Kuminta mereka menunda perkawinan mereka hingga tahun depan. Aku yakin sebelum saat itu tiba Mike pasti akan kembali kepadamu.’


‘Mom,’ Puti tersentak kaget. ‘Mom, itu tidak fair untun Mike. Biarkanlah Mike memilih jalan hidupnya sendiri. Biarkan mereka kawin secepatnya. Dia berhak untuk mendapatkan kebahagian,’ kecam Puti.


‘Tidak fair bagi Mike katamu?’ tanya Nancy. ‘Apakah tindakan Mike fair bagimu? Dengar baik-baik, Puti. Aku mencintai Mike dan aku mencintaimu. Yang paling kuidamkan didunia ini hanyalah melihat kebahagiaan kalian berdua.’


‘Mike akan bahagia bersama Cathy,’ ucap Puti.


‘Bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu juga akan bahagia?’

__ADS_1


‘Pada gilirannya aku juga akan bahagia, Mom,’ sahut Puti. Dia heran dari mana dia bisa mendapatkan kata-kata itu. Beberapa jam yang lalu dia masih merasa yakin kebahagiaan untuknya tidak ada di dunia ini.


__ADS_2