
Telepon yang Puti nanti-nanti tidak juga kunjung tiba. Telpon Mike masih tetap tidak aktif.
Apakah Mike Sibuk? Sakit? atau telponnya rusak? Barangkali Mbak Tanti dan Mas Don telah salah lihat,’ Puti menenangkan kekuatirannya,
Ketika hari keempat Puti masih juga belum menerima telepon dari Mike, Puti menelpon Nancy Gray, ibu Mike yang selama belasan tahun sudah Puti anggap sebagai ibunya.
‘Aduh, Puti, hampir saja aku meneleponmu. Sudah lama kamu tidak berkabar. Bagaimana keadaanmu, hon?’
‘Baik-baik saja, Mom. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini.’
‘Kamu bisa pulang week-end yang akan datang? Kalau bisa nanti kujemput.’
‘Aku belum bisa pulang, Mom. Aku mempunyai pekerjaan sambilan sekarang,’ jawab Puti. Kemudian dia mulai menceritakan tentang pekerjaannya yang baru. Juga tentang orang-orang yang bekerja bersamanya.
‘Kalau kamu memang tidak bisa datang, kapan-kapan aku dan Dad akan datang mengunjungimu,’ janji Nancy.
‘Mom, apakah Mike baru saja pulang ke Salem?’ tanya Puti ketika dia menemukan kesempatan untuk bertanya.
‘Ya. Minggu lalu. Bukankah dia pergi ke Kent juga?’ jawab Nancy. Jawaban yang sama sekali tidak Puti duga. Jadi Mike benar-benar datang ke Kent? Tapi mengapa dia tidak menemuiku, pikir Puti galau.
‘Puti, kamu masih di situ?’ pertanyaan Nancy segera menyadarkan Puti.
‘Ya,’ sahut Puti cepat.
‘Apakah Mike tidak menemuimu?’ tanya Nancy mulai kuatir.
‘Barangkali Mike terlalu sibuk,’ hibur Puti. Dia tidak tahu siapa yang dia coba hibur. Dirinya sendiri atau Nancy.
‘Terlalu sibuk?’ ulang Nancy. ‘Come on, Puti. Mike pamit pada kami untuk menemuimu di Kent. Bagaimana dia bisa tidak mempunyai waktu untukmu?’
‘Well … Mungkin ada sesuatu yang mendadak,’ Puti masih mencoba mencari pembenaran atas tindakan Mike. ‘Jadi sekarang dia sudah kembali ke Maryland?’
‘Kurasa ya. Mengapa tidak kamu telepon saja dia?’ saran Nancy.
‘Sudah aku coba dari empat hari yang lalu, tapi telponnya tidak aktif. Mungkin dia benar-benar sibuk dan tidak mau diganggu..,’ kilah Puti.
Nancy terdiam beberapa saat. Perasaannya mulai tidak enak. ‘Dari mana kamu tahu kalau Mike ada di Kent? Kamu melihatnya?’
‘Aku tidak tahu kalu Mike ada di Kent, Mom. Aku rindu dia dan alangkah senangnya bila dia berada di Salem,’ Puti berbohong. Dia tidak ingin Nancy gusar lantaran mengetahui Mike tidak menjumpainya tetapi justru datang ke pesta Profesor Miller. Nancy tertawa mendengar jawaban Puti.
__ADS_1
‘Mengapa kalian tidak segera kawin saja sehingga tidak harus hidup berjauhan?’ tanya Nancy. ‘Apalagi yang kalian tunggu? Kamu bisa tetap melanjutkan sekolahmu sesudah kawin.’
Akan kupikirkan, Mom. Aku berjanji,’ jawab Puti. Sesudah berbincang ke sana-ke mari akhirnya tiba saatnya bagi mereka untuk saling mengucapkan salam perpisahan.
Nancy duduk termangu di kursi dapur. Perasaannya tidak enak. Dia mempunyai firasat kalau ada sesuatu yang tidak beres. Mike selalu menyempatkan diri untuk datang ke Kent bila dia sedang berada di Salem. Dan orang pertama yang ingin dijumpainya adalah Puti. Tetapi kini dia pergi ke Kent tanpa berusaha untuk menjumpainya. Alangkah ganjilnya.
Dengan sigap Nancy menelpon anaknya. Mike Gray harus menjelaskan tindakannya. Tidak berhasil menelpon telpon genggamnya, dia langsung menelpon ke kantornya.
☘️
Hari demi hari berlalu dengan lembut bagai daun-daun yang luruh karena musim. Tanpa terasa sudah sepuluh hari Puti bekerja di Belmont Drugstore. Dia sangat menyukai pekerjaannya. Kekuatirannya mengenai kebawelan Mrs. Belmont ternyata tidak beralasan sama sekali. Wanita tua begitu manis dan penuh perhatian.
Malam itu, sebelum pulang, Puti menghitung jumlah uang yang ada di kotak cash register-nya. Kemudian dia cocokkan dengan copy penerimaan yang dia cetak dari komputer. Dia ulangi sekali lagi untuk memastikan ketepatan penghitungannya. Sesudah merasa pasti tidak ada kesalahan dia berikan uang dan copy tersebut pada Mrs. Belmont.
‘Terimakasih, Put,’ ucap nyonya Belmont sesudah memeriksa uang dan perinciannya. ‘Mau minum teh bersamaku sebelum pulang?’ sambungnya menawarkan.
‘Terima kasih, Mrs. Belmont, tetapi saya harus segera pulang. Ada tugas sekolah yang harus saya selesaikan,’ tolak Puti.
‘Baiklah kalau begitu. Masih ada lain kali.’
‘Ya, lain kali,’ jawab Puti. Kemudian dia mengambil jacketnya dan berjalan menuju pintu keluar. ‘Good night, Mrs Belmont,’ pamitnya.
Di luar Belmont, Puti bisa merasakan dinginnya udara malam di pertengahan bulan Oktober. Dingin yang memberi isyarat bahwa musim dingin dan salju akan segera datang. Puti berdiri lama di depan pintu masuk toko sambil memperhatikan toko-toko lain yang ada di kompleks Arbor Circle. Pakaian-pakaian musim dingin mulai dipajang di setiap etalase. Tiba-tiba mata Puti menangkap gerakan seseorang yang ke luar dari sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
‘Puti!’ panggil orang itu.
‘Mike!’ seru Puti girang sambil berlari mendekati Mike. Mike memeluknya kemudian mendaratkan sebuah ciuman ringan di bibirnya.
‘Kapan kamu datang, Mike? Mengapa tidak menelpon dulu?’ tanya Puti.
‘Telponmu mati. Jam enam tadi aku datang ke asramamu dan mendapatkan informasi bahwa kamu bekerja di Belmont hingga jam delapan. Nah sekarang aku datang untuk menjemputmu,’ jawab Mike sambil membukakan pintu untuk Puti. Puti masuk. Sebentar kemudian Mike sudah duduk di sampingnya di belakang kemudi.
‘Kamu sudah makan malam, Put?’ tanyanya.
‘Belum,’ jawab Puti sambil menatap Mike lama. Betapa aku mencintainya, pikir Puti bahagia.
‘Oke, kita makan dulu,’ Mike memutuskan.
Mereka makan malam di sebuah restoran Cina di seberang pintu gerbang utama Universitas Kent. Selama mereka makan Puti menyadari kalau Mike sering mencuri pandang ke arahnya. Dia juga menyadari Mike hanya makan sedikit dan tampak tidak berselera.
__ADS_1
‘Kamu belum menyentuh makananmu, Mike,’ Puti menegur. Mike terkejut kemudian buru-buru dia mengembangkan senyum.
‘Aku baru saja ingat kalau aku tadi sudah makan di Salem,’ ucapnya sambil berusaha menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Puti tertawa.
‘Jangan paksa dirimu, Mike. Kalau kamu benar-benar kenyang kamu tidak harus menghabiskan makananmu,’ ucap Puti lembut. Mike tersenyum dan menuruti perintah Puti. Dia letakkan garpunya kemudian memperhatikan Puti makan. Tiba-tiba Puti menyadari kalau pandangan Mike agak lain. Dalam matanya Puti bisa membaca sebuah beban berat.
‘Ada persoalan, Mike?’ tanya Puti sambil menyentuh tangan Mike. Mike menggeleng lesu. Justru dalam gelengan kepala itu Puti melihat adanya persoalan. Tetapi dia tidak mendesak Mike. Dia tahu bila Mike memang ingin berbagi masalah dengannya, cepat atau lambat Mike pasti akan bercerita. Itulah sebabnya dia juga tidak menanyakan mengapa Mike tidak menghubunginya ketika datang ke Kent tempo hari.
Seusai makan malam, Mike dan Puti berjalan-jalan di Student Park. Puti bergayut manja di lengan Mike sambil menikmati bulan di langit yang bersinar penuh. Cahayanya menyaingi terangnya lampu-lampu taman. Sesekali angin malam bertiup dan daun-daun yang sudah kering melayang turun menimpa daun-daun yang telah jatuh sebelumnya.
Lelah mengelilingi taman mereka duduk pada sebuah bangku beton dibawah pohon buckeye. Mike mengambil tangan Puti kemudian digenggamnya erat di tangannya.
‘Puti, ada sesuatu yang harus kukatakan kepadamu,’ bisik Mike berat. Kemudian dia lama terdiam tak mampu meneruskan kata-katanya. Puti menatap Mike penuh penantian.
‘Ya, Tuhan, aku tidak sanggup untuk mengatakannya,’ erang Mike sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Puti menyentuh bahu Mike lembut.
‘Katakanlah, Mike. Aku siap mendengarnya,’ bisik Puti lirih. Ada kekuatiran luar biasa dalam bisikan itu. Mike menggelengkan kepalanya berkali-kali.
‘Aku tidak bisa, Puti. Aku tidak bisa.’
‘Apakah ada kaitannya dengan hubungan kita?’ tanya Puti. Pertanyaan yang langsung datang dari hati kecilnya. Mike mengangguk kemudian memeluk Puti dengan erat.
‘Maafkan aku, Puti. Maafkan aku,’ bisik Mike berkali-kali sambil membelai rambut Puti. Puti melepaskan diri dari pelukan Mike dengan curiga.
‘Mike, kamu belum mengatakan persolannya,’ ujar Puti. Walau pun dia tahu dengan pasti kalau kabar yang akan diterimanya merupakan kabar buruk, tapi Puti ingin mendengarnya. Mike kembali ragu. Dia harus bertempur dulu dengan nuraninya sebelum mempunyai keberanian untuk berterus-terang kepada Puti.
‘Aku ingin mengawini Cathy Kates,’ ucap Mike lirih. Tapi yang lirih itu terdengar bagai petir di telinga Puti. Untuk beberapa saat dia diam tak bergerak seakan dia tidak mendengar ucapan Mike. Dia sudah mempunyai firasat bakal mendengar kabar yang buruk tetapi dia sama sekali tidak menduga bahwa kabar itu seburuk ini. Dia menyangka Mike akan menunda perkawinan mereka untuk beberapa saat lagi atau bahkan ingin mempercepatnya. Tapi ternyata Mike akan kawin dengan wanita lain. Cathy Kates, asistennya.
‘Puti, aku tahu ini tidak adil bagimu. Tapi aku mencintai Cathy. Aku dan dia … ‘
‘Stop it,’ bentak Puti gusar. Mike berusaha memeluknya agar dia tenang, tetapi dengan sigap Puti menghindar. ‘Belum begitu lama kamu masih menyatakan cinta kepadaku,’ bisik Puti.
‘Tapi itu benar, Puti. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa mengingkarinya. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Aku masih mencintaimu. Tapi masalahnya aku juga mencintai Cathy dan aku tidak bisa berpisah darinya,’ Mike berusaha menjelaskan. Hampir saja Puti naik pitam mendengar pengakuan itu. Tapi cepat-cepat dia membungkam mulutnya dengan telapak tangan sambil mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba gemuruh bagaikan laut yang sedang pasang. Dia mengejapkan matanya yang terasa sangat panas.
‘Sebaiknya kita pikirkan lagi hal ini, Mike,’ ucapnya tenang.
‘Aku sudah memikirkannya dengan matang, Put. Sepuluh hari yang lalu aku datang ke sini dengan niat untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Tetapi aku tidak mampu. Selama sepuluh hari aku memikirkan jalan ke luar yang terbaik bagi kita. Dan hanya satu jalan yang bisa kutemukan. Mengatakan secara jujur kepadamu,’ bisik Mike. Tiba-tiba Puti melihat langit di atasnya runtuh menimbun dirinya. Dan tak seorang pun yang bisa menolongnya. Puti terengah-engah mencari napas.
‘Puti, aku memohon pengertianmu,’ pinta Mike memelas.
__ADS_1
‘Kamu mendapatkannya, Mike,’ jawab Puti. ‘Bukankah aku sudah tidak mempunyai pilihan lain kecuali melepaskanmu?’ lanjut Puti tanpa emosi. Pasrah. Dia pantang mengemis cinta. Sudah terbukti Mike lebih mencintai Cathy daripada dirinya. Dia harus menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Sekuat tenaga dia menahan tangis yang ingin meledak di matanya. Tangismu sudah habis bertahun-tahun yang lalu, Puti.