Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Cowok Yang Harus Dijauhi


__ADS_3

‘Kamu kenal dia, Em? Dia tadi mengenalimu kan?’ tanya Puti dalam perjalanan pulang.


‘Aku tidak kenal mereka. Begitu pun sebaliknya. Dia tadi hanya menyebut nama dengan acak,’ jawab Emma.


Puti tidak mempercayai jawaban itu. Emma bukanlah nama yang gampang ditebak. Bukankah tadi Emma memasuki apartemen itu dengan yakin dan memilih pintu yang tepat? Emma tahu pasti siapa yang bakal keluar dari pintu itu. Tapi mengapa Emma harus pura-pura tidak mengenalnya? Dan kalau Steve mampu mengenali Emma dalam kostum seperti itu, berarti Steve benar-benar kenal Emma.


‘Apakah dia mantanmu?’ Kejar Puti.


‘Tentu saja bukan,’ sanggah Emma. ‘Aku tidak punya mantan. Dari dulu cowokku cuma satu. Nick.’


‘Lantas? Siapa dia?’


‘Dia cowok yang harus kamu jauhi. Sengaja aku tunjukkan dia kepadamu supaya kamu waspada. Jangan dekati dia, Put.’


‘Emma, hatiku masih patah berkeping-keping, aku tidak ingin mendekati siapa pun. Aku tidak ingin punya cowok lagi,’ sahut Puti.


‘Kamu salah. Kamu harus segera cari cowok baru. Sebanyak-banyaknya. Kalau perlu pacari seluruh cowok Kent. Kecuali dia.’


☘️


2 November.


Jam delapan tepat Puti berjalan menuju ke Gedung Pengelola. Ternyata Steve sudah berada di lobby menikmati secangkir kopi yang segera dia letakkan di meja begitu melihat kedatangan Puti.


‘Mau ngopi dulu sebelum pergi?’ Steve menawarkan.


‘Aku baru saja ngopi di unitku,’ tolak Puti.


‘Machiato Latte di sini paling enak se Ohio, Puti,’ bujuk Tim, bartender yang mendengar penolakan Puti. Jadi cewek ini senang machiato latte, Steve mencatat dalam hati.


‘Nanti sore aku mampir ke sini, Tim,’ janji Puti sebelum dia keluar dari lobby bersama Steve.


Di halaman parkir, di dekat mobil yang pintunya Steve buka untuknya, Puti terpaku. Selagi kebanyakan mahasiswa mengendarai mobil Chevrolet, Ford atau mobil-mobil bikinan Jepang, mobil yang Steve kendarai adalalah Porche 911 merah menyala. Mobil yang baru saja diluncurkan dengan bandrol 90 ribu dolar. Lebih dari satu miliar rupiah. Tidak ada mahasiswa yang berkeliaran dengan mobil semahal itu. Apalagi mahasiswa KSU.


‘Porche 911 untuk ke dokter mata? Wow, sangat classy,’ komentar Puti ketika Steve sudah masuk dan duduk di depan kemudi. Mendengar nada mengkritik di suara Puti, Steve tersenyum, lengkap dengan lesung pipinya.


‘Hanya yang terbaik untukmu, Puti,’ ucapnya ringan.


Mereka menuju ke sebuah klinik mata di pusat kota Kent. Klinik yang didirikan oleh beberapa orang ahli mata. Puti ditangani oleh dokter Conneally, dokter mata yang telah melewati usia enam puluh tahun. Seluruh rambutnya berwarna kelabu dan wajahnya menggambarkan kebijakan dan pengalaman. Puti yakin dokter ini akan memeriksanya dengan teliti.


Setelah Puti masuk ke kamar pemeriksa, Steve pamit untuk pergi ke universitas dan berjanji akan menjemputnya.


‘Tidak usah, Steve. Aku bisa pulang sendiri naik bis,’ Puti merasa segan.

__ADS_1


‘Tidak. Jangan pulang dulu sebelum kujemput,’ bantah Steve. ‘Dokter tolong pastikan gadis cantik ini tidak pulang sebelum aku datang,’ pesannya pada dokter Conneally.


‘Jangan kuatir, Steve. Kujamin hingga kamu datang nanti, pemeriksaannya belum selesai,’ sahut dokter Conneally sambil tertawa. Putri tersenyum. Ternyata dokter ini bisa bercanda, pikirnya. Pemeriksaan matanya paling lama hanya akan memakan waktu setengah jam. Sedang pulang balik ke kampus memakan waktu lebih lama dari itu. Kabur dari klinik ini merupakan pekerjaan yang gampang.


Perkiraan Puti ternyata meleset jauh. Pemeriksaan matanya tidak hanya berlangsung setengah jam, tetapi berjam-jam. Diawali dengan tes baca. Kemudian matanya ditetesi cairan. Tes baca lagi. Ditetesi lagi. Tes baca lagi. Sesudah itu seorang perawat memeriksa tekanan darah dan mengambil sampel darahnya.


Usai itu dokter Conneally memeriksa kemampuan mata Puti dalam membedakan warna. Membedakan kecembungan, kecekungan. Sesudah itu mata Puti disinari. Ketika Puti sudah lelah melakukan serangkaian pemeriksaan itu, dokter Conneally menetesi matanya dengan obat yang sangat pedih. Seketika itu pula Puti tidak bisa melihat apa-apa.


‘Saya tidak bisa melihat,’ keluh Puti cemas.


‘Tidak apa-apa, Puti,’ dokter Conneally menenangkannya. ‘Kamu istirahat dulu. Bila kamu sudah bisa melihat lagi, panggil aku,’ lanjutnya. ‘Suster, tolong bawa Puti ke kamar,’ perintah dokter Conneally kepada perawatnya. Dengan kursi roda Puti dibawa ke sebuah kamar dan disuruh berbaring.


Pemeriksaan tidak selesai sampai disitu. Begitu Puti bisa melihat kembali pemeriksaan pun dilanjutkan. Mata Puti ditetesi cairan yang lain lagi yang berfungsi untuk memperbesar pupil matanya. Dengan pupil mata sebesar hitam matanya, dokter Conneally mulai memeriksa. Seorang petugas lain mengambil rontgen bola mata Puti. Puti tidak habis pikir. Buat apa pemeriksaan ini semua? Dan kapan pemeriksaan ini akan usai?


Ketika Steve datang menjemput, pemeriksaan mata Puti belum seluruhnya selesai. Seorang perawat tengah mengukur besar dan kecembungan hitam matanya.


Setelah pengukuran itu selesai, Puti disuruh istirahat sejenak sambil menunggu hasil pemeriksaan foto.


‘Bagaimana?’ tanya Steve mengambil tempat duduk di samping tempat duduk Puti.


‘Semua ini gara-gara kamu. Kalau kamu tidak memaksa untuk mengganti kacamataku, aku tidak harus menjalani serangkaian pemeriksaan gila ini,’ sahut Puti jengkel. Steve tertawa ringan.


‘Aku membawa makan siang untukmu,’ katanya setelah tawanya reda. ‘Aku tidak tahu makanan apa kesukaanmu jadi kubeli saja hamburger.’ Puti kini mendapat giliran untuk tertawa. Steve menatapnya bingung.


‘Aku sudah makan, Steve,’ Puti menjelaskan. ‘Apakah kamu tidak tahu kalau pasien klinik ini mendapat jatah makan siang?’


‘Duduklah, Puti,’ perintah dokter Conneally halus. Puti menurutinya.


Sejenak kemudian dokter Ceneally mentes Puti dengan huruf-huruf.


‘Puti, pernahkah kamu kehilangan penglihatan total?’ tanyanya.


‘Pernah,’ jawab Puti ragu.


‘Berapa kali dan kapan?’


‘Dua kali. Kira-kira sebulan yang lalu. Tetapi sesudah itu tidak pernah lagi,’ cerita Puti. Dokter Conneally mengangguk-anggukkan kepalanya dan duduk.


‘Seluruh pemeriksaan telah selesai,’ dia mengumumkan. ‘Ukuran kacamatamu sudah aku kirim ke bagian lensa. Kamu tinggal memilih frame dan warna lensa. Tapi kunasehatkan pilihlah lensa yang jernih. Matamu terlalu indah untuk disembunyikan di balik kacamat gelap,’ lanjutnya. Puti tersenyum.


‘Dokter, saya ingin tahu hasil pemeriksaan mata saya,’ tanya Puti karena dia tidak mendengar komentar dokter Conneally sehabis mengetahui bahwa dia pernah kehilangan penglihatan.


‘Tidak begitu baik,’ jawab dokter Conneally.

__ADS_1


‘Bisakah lebih spesifik lagi?’ kejar Puti tidak puas. Dokter Conneally nampak ragu.


‘Well …,’


‘Hanya masalah waktu bukan, dokter?’ Puti membantu.


‘Maksudmu?’


‘Mata saya sudah tidak ada harapan lagi. Setiap saat saya bisa mengalami kebutaan total. Koreksi saya bila saya salah. ‘


‘Dari mana kamu tahu?’ tanya dokter Conneally sekaligus menjawab pertanyaan Puti. Puti berusaha untuk tertawa. Dan tawanya terdengar begitu sumbang.


‘Dulu, dokter mata saya pernah mengatakan kalau sedikit demi sedikit saya akan kehilangan penglihatan kemudian akan menjadi … buta. Waktu itu saya menertawakannya karena saya anggap dia hanya menakut-nakuti saja agar saya mau mengenakan kacamata. Tetapi setelah sebulan yang lalu saya mengalami … penglihatan saya hilang, saya mulai memikirkan kata-katanya,’ cerita Puti.


‘Puti, apakah kira-kira kamu tahu penyebabnya? Aku yakin ini bukan penyakit keturunan,’ tanya dokter Conneally.


‘Ya, saya mungkin tahu,’ jawab Puti ragu. ‘Mungkin karena kecelakaan itu.’


‘Kecelakaan apa?’


‘Waktu saya masih kecil saya pernah mengalami kecelakaan berat. Bis yang saya tumpangi tertabrak kereta api. Saya mengalami pendarahan dalam otak, kalau tidak salah. Apakah kecelakaan itu bisa jadi penyebabnya?’


‘Ya, bisa jadi itu penyebabnya,’ gumam dokter Conneally.


‘Apakah memang tidak bisa disembuhkan, dok?’ tanya Puti penuh harapan.


‘Aku tidak yakin, Puti. Yang bisa kulakukan kini hanyalah memperlambat prosesnya saja. Obat-obat untuk itu nanti dapat kau ambil di bagian farmasi. Mereka sudah sediakan tadi. Tapi kurasa aku akan memeriksa lagi dengan lebih teliti foto-foto matamu. Bila aku menemukan sesuatu kamu akan kuhubungi. Akan lebih baik lagi bila engkau mau melakukan kontrol dua bulan atau sebulan sekali. Dan jangan lupa hubungi kami bila kamu mengalami kesukaran dengan matamu,’ pesan dokter Conneally.


‘Terima kasih, dokter,’ ucap Puti sambil bangkit. Dokter Conneally mengantarnya hingga ke depan pintu. Steve yang melihat kemunculan mereka segera mendekat.


‘Sudah beres semua?’ tanyanya.


‘Yap,’ jawab dokter Conneally mantap. ‘Ngomong-ngomong, Steve mengapa kamu jarang datang ke rumah?’


‘Aku sedang menghadapi proyek besar, dok. Pernah dengar tentang lomba desain rumah berhadiah seratus ribu dolar yang diselenggarakan Gloss Housing Company? Nah, aku berniat untuk memenangkannya. Harus kerja keras untuk itu,’ jawab Steve.


‘Semoga sukses,’ jawab dokter Conneally sambil menepuk bahu Steve seakan seorang bapak yang bangga atas prestasi anaknya.


Setelah berpamitan dengan dokter Conneally, Steve dan Puti turun ke bawah ke bagian lensa. Di bagian ini tersedia ribuan bingkai dari ribuan mode dan warna. Puti melihat bingkai-bingkai itu sekilas tanpa bermaksud untuk lebih memperhatikan lebih seksama.


Seorang wanita tua, seusia dokter Conneally muncul.


‘Sudah memilih frame yang kamu inginkan, dear?’ tanyanya. Puti menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


‘Ehm … saya tidak memerlukan frame baru. Yang saya butuhkan hanyalah lensanya saja,’ ucap Puti sambil mengeluarkan dari dalam tasnya bingkai kacamata lamanya.


‘Kamu tidak ingin ganti frame?’ tanya Steve.


__ADS_2