Musim Gugur Di Kent

Musim Gugur Di Kent
Mike Gray Muncul di Kent


__ADS_3

‘Puti … Puti,’ sayup-sayup Puti mendengar panggilan itu. Tetapi karena dia tenggelam dalam objek yang dibacanya dia tidak begitu menghiraukannya. Dia masih juga menunduk dan membaca buku di hadapannya. Tekadnya ingin menyelesaikan satu buku teks malam ini juga. Dia tidak mau besok pagi menjadi patung di dalam kelas. Patung yang tidak mengerti sedikit pun apa yang diomongkan dosennya.


‘Puti … ‘ panggilan itu kini makin jelas dan tahu-tahu sebuah tangan mungil menggoyang-goyangkan lengannya dengan lembut. Puti menoleh.


‘Gee, Tino, sudah lama bangun?’ tanya Puti dengan bahasa Inggris Amerika yang penuh dengan tekanan khas Ohio. Menghadapi Tino yang seratus persen Indonesia, Puti tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia. Tino mengangguk lesu. Kantuk masih terbayang jelas di wajahnya.


‘Mau makan?’ tanya Puti sekenanya. Tanpa diduga Tino menganggukkan kepalanya mantap.


‘Uph!’ seru Puti kaget. ‘Belum makan ya tadi?’


‘Belum,’ sahut Tino serak. Wah sembrono banget Mbak Tanti, pikir Puti.


‘Yuk kita lihat apa yang bisa kita makan malam ini. Aku juga belum makan,’ ajaknya sambil menggandeng tangan Tino menuju dapur. Dia dudukkan Tino di atas kursi dan dia sendiri kemudian menyibukkan diri dengan membuka beberapa lemari untuk mencari makanan dan piring.


‘Mau ayam goreng?’ tanya Puti sambil mengeluarkan baki dari dalam oven.


‘Nope,’ sahut Tino pendek sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Puti segera membuka kulkas untuk mencari barangkali masih ada sisa makanan. Tidak ada! Dia membuka lemari di samping kulkas dan menemukan beberapa makanan dalam kaleng.


‘Bagaimana kalau sup?’ Puti menawarkan.


‘Ya,’ jawab Tino bersemangat. ‘Sup tomat,’ sambungnya. Puti menghembuskan nafas lega. Tadi dia kuatir jangan-jangan Tino tidak mau makan makanan yang ditawarkannya.


‘Oke, tunggu sebentar ya? Puti masakkan dulu untukmu.’


Ketika sup tomat siap dimakan, Puti melihat Tino sudah terlelap. Kepalanya yang kecil terkulai di meja sementara nafasnya terdengar lembut dan teratur. Pelan-pelan Puti menyentuh pipinya.


‘Hey, honey, sup sudah siap. Ayo makan dulu,’ bisik Puti lirih. Tino menggeliat lesu, tetapi matanya segera terbuka lebar ketika melihat sup tomat di depannya.


Ternyata sup tomat mampu menghilangkan kantuk Tino. Sambil makan dia berceloteh riang. Dia berceloteh tentang anjing boxer tetangganya yang diberi nama Jenny persis nama temannya yang suka nangis di sekolah. Dia juga bercerita tentang guru taman kanak-kanaknya yang cantik sekali seperti seorang putri.

__ADS_1


Sesudah makan, Tino bersedia untuk tidur kembali dengan syarat Puti harus membacakan sebuah cerita untuknya. Puti memenuhi syarat itu. Dia duduk di sisi tempat tidur Tino dengan buku ‘The Pink Fairy Book’ di tangannya.


‘Cerita apa yang ingin kamu dengar?’ tanya Puti sambil memeriksa daftar isi buku dongeng tersebut. ‘Putri di dalam laci? Merpati Putih? Pria tanpa hati? Urachimataro ...’


‘Urachimataro and the Turtle,’ pilih Tino yakin. Suatu pilihan yang tepat karena cerita itu tidak terlalu panjang. Hanya 6 halaman.


Mulailah Puti membacakan dongeng Urachimataro yang berasal dari Jepang. Kalimat demi kalimat diucapkannya dengan menawan sementara Tino mendengarkannya dengan penuh perhatian.


Ketika sampai di tengah-tengah cerita, Puti menyadari huruf-huruf yang dibacanya makin lama makin kabur kemudian menyatu membentuk garis-garis hitam yang tidak terbaca oleh matanya. Puti menyipitkan matanya dengan harapan penglihatannya akan terfokuskan kembali. Ternyata tidak. Huruf-huruf itu masih juga belum tampak.


‘Ayo, Puti, teruskan,’ tegur Tino ketika menanti beberapa saat dan Puti masih tetap berdiam diri. Puti tertegun.


‘Sampai di mana tadi?’ tanya Puti gagap.


‘Kura-kura besar muncul dan membawa Urachimataro ke istana di bawah laut,’ sahut Tino.


‘Oh ya,’ gumam Puti. Kemudian dia meneruskan ceritanya tanpa membaca buku. Dia pernah mendengar cerita itu sebelumya, jadi tidaklah begitu sukar baginya untuk berimajinasi. Dan Tino pun tidak mencurigainya.


‘Dua kali dalam sehari tidak boleh dianggap enteng,’ pikir Puti dan memutuskan untuk melelas softlens-nya dan pergi tidur saja.


☘️


Keesokan harinya ketika dia berdiri di depan cermin dan memeriksa matanya, Puti tidak menemukan secuil pun tanda-tanda yang menunjukkan ketidakberesan matanya. Matanya tampak segar dan jernih. Bahkan urat-urat tipis berwarna merah di putih matanya yang sering tampak bila dia mengenakan soft-lens sama sekali tidak terlihat.


Mungkin semalam mataku sedang menyesuaikan dengan softlens yang kukenakan.’ Puti menghibur dirinya sendiri sambil beranjak menuju ke ruang makan. Tanti dan Don sudah menantinya di sana.


‘Puti, tebaklah tadi malam kami ketemu siapa?’ sambut Don begitu Puti duduk.


‘Profesor Miller tentu saja,’ jawab Puti.

__ADS_1


‘Bukan seseorang yang istimewa.’


‘Keanu Reeves?’ tebak Puti sambil mengambil dua potong roti bakar dan memolesnya dengan selai strawberry.


‘Tepat!’ seru Don mengejutkan.


‘Apa? Kalian benar-benar ketemu dengan Keanu Reeves?’ Puti mencecar.


‘Iya. Keanu Reeves-mu. Michael Gray,’ Tanti menerangkan.


‘Oh … kukira kalian benar-benar ketemu Keanu,’ keluh Puti kecewa. ‘Tadi kalian bilang ketemu siapa? Mike?’ lanjutnya berubah antusias.


‘He eh,’ sahut Tanti.


‘Tidak mungkin. Pasti bukan Mike. Mike saat ini sedang berada di Oregon. ‘


‘Sumpah mati. Kami melihat Mike,’ bantah Tanti sengit.


‘Tapi bagaimana mungkin Mike yang berada di Oregon bisa berada di pesta Profesor Miller?’


‘Mungkin dia baru saja datang,’ Don memberikan alternatif.


‘Ya, mungkin juga,’ desah Puti ragu. Kemarin pagi Mike mengirim sms mengabarkan kalau dia masih akan berada di Oregon selama beberapa hari lagi.


‘Kalau Mike berubah rencana dan berada di Kent mengapa dia tidak menghubungiku?’ pikir Puti. ‘Ah barangkali saja dia sudah mencariku di asrama dan karena Emma belum pulang jadi dia tidak punya bayangan di mana aku berada,’ bantahnya dalam hati.


☘️


Karisma dari kampus Kent State University terletak pada perpaduan yang manis antara bangunan-bangunan kuno yang berusia lebih dari satu abad dengan bangunan-bangunan kontemporer modern. Gedung-gedung kuliah bagi mahasiswa yang memperdalam business administration, hukum, komunikasi yang didominasi oleh bata merah ekspos dan bergaya Inggris yang kuat membaur dengan bangunan-bangunan gaya muktahir dari gedung Arsitektur, Auditorium dan asrama-asrama mahasiswa. Bahkan menyatu pula dengan stadion olahraga yang baru saja selesai dibangun di tengah-tengah kampus. Padang-padang rumput yang mengelilingi setiap bangunan serta ribuan pohon oak dan mapel memberikan nafas tersendiri. Puti jatuh cinta pada kampus ini begitu dia melihatnya untuk yang pertama kali.

__ADS_1


Don menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan tua di bagian barat Universitas Kent. Belum lagi mobil berhenti dengan sempurna, Puti sudah meloncat turun kemudian berhenti dengan tegak di pinggir jalan.


‘Terima kasih, mas Don,’ serunya. Dia masih sempat melambaikan tangannya kepada Don sebelum berjalan melintasi halaman berumput menuju ke gedung fakultasnya.


__ADS_2