
Hanna mengetukkan jarinya. Gadis itu mengingat pembicaraan sebelumnya dengan Ronin. Dia akhirnya membuka hubungannya dengan Mayleen. Menceritakan info apa saja yang sudah Mayleen bagi. Tapi responnya sungguh di luar dugaan.
"Mayleen? Dia informan lo?" Ronin bertanya, tak percaya.
Hanna mengangguk antusias. "Emang lo kenal?" tanyanya. Pasalnya mereka beda kelas. Hanya sekedar tahu mungkin iya tapi kalau kenal rasanya tak mungkin.
Ronin mengangguk. "Dia satu circle sama gue," jawabnya yang membuat Hanna keheranan. Mereka satu circle? Kok Hanna tak tahu? Dan bagaimana bisa 2 orang dengan prioritas berbeda ini berteman?
"Sebenarnya si May ini sahabatnya Jun, temen sekelas lo. Ya karena gue lumayan akrab sama si Jun, jadi ikut akrab juga sama May. Tapi dia nggak pernah cerita apa-apa soal lo tuh? Gue pikir kalian nggak kenal malah."
Jun, oh Jun yang waktu itu sempat bilang Hanna si queen of late game, sahabatan sama May? Dan Hanna tak tahu? Informasi apalagi yang Hanna tak tahu tentang gadis ini?
"Tapi May ok sih, dia bisa dipercaya," ungkap Ronin meyakinkan.
Hanna mengangguk setuju. Sejauh yang dia lihat, gadis itu memang bisa dipercaya. Tak pernah menyebarkan informasi apapun tentang Hanna pada orang lain. Tak juga sesumbar tentang kedekatannya dengan Hanna. Tapi yang Hanna masih tak mengerti, apa motifnya? Adakah orang yang mau melakukan ini tanpa alasan?
“Tapi udahlah, nggak perlu terlalu dipikirkan. Hanna nih bos, si queen of late game yang terlanjur OP, masak pusing gegara gosip murahan begitu?” Ronin mengerling separuh meledek. Hanna meninjunya dengan keras. Hingga membuat Ronin meringis kesakitan. Dia segera berlari menjauh karena Hanna masih memukulnya. “Han, lo cewek apa cowok sih, aduh.” Ronin mengelak. Pemuda sangar bermata elang yang kekar dan tinggi ini meringis kesakitan karena ditinju oleh seorang gadis yang jauh lebih pendek darinya.
“Gue cowok, puas lo.” Hanna memberengut sambil masih berusaha memukuli pemuda itu.
Ronin tertawa renyah melihat ekspresi gadis itu. Tangannya merentang, meraih kedua tangan Hanna agar berhenti memukulnya, meletakkannya pada dada bidangnya. Lalu melingkarkan kedua tangannya sendiri pada pinggang Hanna. “Gitu dong, kalau ada yang berani ganggu, libas aja. Hanna-ku masak kalah sih?”
Hanna terhenyak. Ada sesuatu yang membuncah ketika Ronin memandangnya dan mengatakan seperti itu. Gadis itu menyembunyikan rona pipinya dibalik dada bidang pemuda ini. Membuat Ronin tersenyum melihat tingkahnya, kemudian balas memeluk gadis itu.
Hanna semakin tak mengerti dengan perasaannya. Mengapa pemuda ini justru membuatnya tak karuan begini?
—
Pagi yang cerah. Hanna menatap langit sebelum gadis itu melewati gerbang sekolah. Gadis itu lalu berjalan dengan penuh percaya diri. Beberapa pasang mata masih memandangnya sinis, tapi siapa peduli? Hanna tidak semudah itu ditumbangkan. Coba sini lawan Hanna langsung kalau berani.
Kecuali yang satu ini.
__ADS_1
Pemuda tampan yang selalu berwajah ramah itu menatap dingin pada Hanna sekilas. Ia baru saja mengantarkan pacarnya, berjalan keluar kelas. Lalu bertemu dengan Hanna yang baru tiba. Tidak tertarik untuk menyapa sama sekali.
Pemuda itu melewatinya. Seperti Hanna gadis tak kasat mata yang memang sudah sewajarnya tuk diabaikan.
Hanna tak mampu menyapa pemuda ini. Sebenarnya, Hanna memang jarang menyapa karena pemuda ini lah yang selalu menyapanya duluan. Kini ia baru tahu rasanya diabaikan.
Bagaimana Hanna harus bertahan jika teman terdekatnya pun menjauh? Hanna tak peduli dengan yang lain, tapi bagaimana bisa Ken juga melakukan ini padanya?
Hanna menipiskan bibir, memilih untuk mengabaikan pemuda itu juga. Gadis itu melepas sepatunya, lalu berjalan ke dalam kelas, menghampiri teman sebangkunya yang tampak sibuk membaca. Sepertinya Hanna dengannya sebelas dua belas. Sama-sama terlalu rajin.
“Hai.” Hanna menyapa gadis ini.
Felline menoleh, gadis itu tersenyum ramah pada Hanna. “Hanna sudah belajar?” tanyanya antusias.
Hanna mengerutkan kening.
Apakah akan ada ujian?
“Hari ini tes tulis Sejarah, Hanna. Lupa kah?”
Aduh, Sejarah ya?
Hanna hanya ber oh ria, gadis ini sebenarnya lupa kalau hari ini akan ada tes tulis. Dan apa itu tadi, Sejarah? Susah sekali mengingatnya, bikin pusing. Hanna hanya bisa pasrah kali ini.
—
Suasana ruang osis terlihat sepi saat Hanna mengunjunginya. Hanya tampak beberapa siswa yang terlihat sedang mengobrol, sepertinya tak punya tujuan lain selain ke ruang sekretariat mereka. Gadis itu mengedarkan pandangan, mencari seorang gadis yang biasanya setiap hari selalu disini. Seperti biasa, selalu sibuk dengan laptopnya.
Hanna memperhatikannya, gadis itu masih saja menyahuti jokes-jokes receh yang teman-temannya lontarkan seraya sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya. Anak ini memang terkenal ramah dan pandai bergaul, berkebalikan dengan Hanna yang terkenal dengan kesombongan dan keangkuhannya.
“Mayleen,” panggil Hanna. Gadis itu menoleh. Keadaan menjadi sunyi hanya dengan kehadiran Hanna. “Gue mau minta notulensi rapat selama gue nggak ada, sekalian tolong jelasin ke gue.” Hanna duduk di kursi tepat di hadapan Mayleen. Gadis itu menyilangkan kakinya, tidak menghiraukan teman-temannya yang lain yang jadi berbisik sambil memandang sinis. “Oh ya, yang lain bisa tolong pergi dulu,” lanjutnya sambil mulai membuka ipadnya. Dia lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, begitu mengintimidasi hingga membuat beberapa tampak melipir pergi, tak ingin mencari masalah.
__ADS_1
Mayleen tersenyum geli. Temannya ini selalu saja menunjukkan aura angkuh seperti tak dapat disentuh. Padahal aslinya begitu rapuh dan lembut. Dia menoleh ke arah teman di sebelahnya yang tak beranjak, mencoba membuat konfrontasi dengan Hanna.
“Ngapain kita-kita harus pergi? Lo mau apain May?”
Hanna terperangah. Mayleen malah menahan tawa. “Guys, its ok, gue mau rapat khusus sama Hanna, kalian bisa ninggalin kita dulu.” pintanya seraya tersenyum ramah.
Beberapa temannya tampak tak rela dan malah jadi membisikinya, “lo nggak takut apa?”
Mayleen akhirnya tertawa. “It’s ok, gue nggak mungkin dijambak. Lagian gue atlet taekwondo, lo lupa?” jawabnya sambil tersenyum geli.
“Emangnya gue mau ngapain sih? Kalian jadi nganggep gue kayak penjahat.” Hanna mengatakan itu sambil masih sibuk dengan ipadnya.
Akhirnya dengan berat hati beberapa teman Mayleen yang sedari tadi bercanda dengannya, meninggalkan mereka berdua. Tak lupa juga menutup pintu karena Mayleen yang meminta mereka.
Mayleen memperhatikan Hanna yang seperti tak berniat membuka obrolan. Dia lalu berdehem, lalu kembali beralih ke laptopnya. “Gue kayaknya udah ngirim semuanya di grup,” lapornya santai. Meskipun mereka jarang sekali mengobrol langsung, tapi Mayleen cukup mengenal Hanna. Gadis itu hanya tampak keras di luarnya. Sehingga Mayleen tak merasa terintimidasi meskipun gadis itu selalu terlihat dingin.
“Memang.” Hanna menjawab santai. “Gue cuma… lagi gabut.”
Itu bohong. Hanna mencari seseorang disini.
Mayleen tersenyum. “Apa kita cukup dekat sampai ketika lo gabut malah nyariin gue?” tanyanya sarkastik.
Hanna mengedikkan bahu. “Nggak juga.”
Mayleen memandangnya. Menggelengkan kepalanya heran. Sepertinya gadis di depannya memang benar-benar galau. Dia memilih membiarkan saja gadis ini disini menemaninya.
Hening sebentar. Sampai Hanna kembali berbicara. “Gue nggak tahu ternyata lo deket sama Jun.”
Mayleen kembali menoleh. Merasa heran tiba-tiba gadis ini malah membicarakannya. “Lo tahu dari… Ronin?” tebaknya. Hanna cuma mengangguk membuat gadis ini seperti menemukan info baru yang sangat penting. “Lo cerita tentang gue?” tanyanya lagi.
Hanna kembali mengangguk. “Apa masalah kalau gue cerita ke dia?”
__ADS_1
Mayleen menggeleng cepat. “No… cuman berarti lo beneran dekat dengan dia? Really?” Mayleen mendadak antusias. Ditutupnya laptopnya yang sedari tadi dia gunakan. Hingga sekarang benar-benar fokus pada gadis di hadapannya.