Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 25


__ADS_3

Dua hari berselang. Akhirnya tiba juga acara yang dinantikan para siswa kelas sebelas. 


Sebenarnya tidak dinanti-nantikan banget sih tapi anggap saja begitu ya kawan.


Hanna bersama kelompoknya sibuk mengatur tempat mereka akan tidur nanti. Di setiap kelas, akan dipakai oleh 3 kelompok. Setiap kelompok berhak mengatur tatanan tempat kelompoknya seperti di tenda — tentunya tanpa menggunakan tenda. 


Seperti biasa, masalah sepele diributkan perihal Ronin yang ogah-ogahan kalau tidurnya nanti harus bersebelahan dengan sesama cowok, geli katanya.


“Fair-fairan aja lah, kalian pasti lebih demen kalau tidurnya sama pasangan masing-masing. Lo ketua osis sama cewek lo, gue sama Hanna, lo Jun sama kesayangan lo ini.” Ronin menunjuk May yang langsung digeplak oleh gadis itu. “Aduh.” Ronin meringis, namun tetap melanjutkan kalimatnya. “Dah lah, nggak perlu disendiriin cewek cowok, macam anak sd aja.” 


Kali ini giliran Hanna langsung yang menggeplak pemuda itu. “Nggak usah aneh-aneh,” katanya sambil melirik tajam. Ronin menurut, pemuda itu tak lagi mendebat. Dasar pria bucin.


Acara dilanjutkan dengan berbagai lomba yang diadakan. Setiap waktu, memang dasarnya musuh bebuyutan, ada saja yang diributkan Ronin dengan Ken. Yang Hanna tidak boleh terlalu dekat dengan Ken lah. Yang Ronin terlalu berisik lah. Astaga. Hanna sampai pusing dibuatnya. Ia berasa seperti sedang mengasuh dua adik kembar yang selalu bertengkar. 


Kini tibalah hari kedua. Setelah tenaga terkuras habis-habisan, tibalah lomba lari estafet yang diwakili oleh Ronin dan Jun. Berkali-kali, Ronin mengumpat dalam hati – maupun secara langsung. Bagaimana tidak, setelah capeknya setengah mati, masih ada saja lomba yang harus lari-larian. Astaga, siapa sih panitianya? Ronin rasanya kena prank kali ini. Kalau bukan karena ada Hanna, sudah pasti dia pulang sedari tadi. Serius. 


Ronin dengan Jun sudah bersiap di posisi masing-masing. Melihat ke sekeliling, Ronin kembali mengumpat setelah menyadari siapa saingannya, Aldo, musuh bebuyutannya selama ini. Astaga. Baru dia sadar kalau ini benar-benar konspirasi – seperti yang pernah Ken bicarakan. 


Awalnya, semua berjalan normal, tak ada yang aneh. Ronin hanya merasa sangat-sangat lelah, tapi larinya memang benar-benar luar biasa, pantas Hanna memilihnya. Lalu setelah tiba giliran Jun, pemuda itu juga berlari sangat kencang. Luar biasa, mereka benar-benar seperti atlet sungguhan. Kelompok mereka sudah yakin kalau mereka pasti menang. 


Namun mendadak Aldo berlari keluar jalur. Jun masih tak menyadarinya dan dengan waktu yang sangat singkat, Aldo mengejar lalu menendang pemuda itu. Sangat keras, hingga mampu membuat Jun terjungkal sambil memegangi kakinya.


“Jun!!!” May berteriak. Gadis itu syok, berlari menghampiri Jun yang kesakitan. Semua juga berlari menghampirinya.


Sementara Ronin, pemuda itu menjadi sangat emosi. Pemuda itu memukul Aldo dengan sangat brutal. Tak peduli seberapapun orang memintanya untuk berhenti, pemuda itu masih menghajar lawannya dengan keras.


“Brengsek lo!”


Mereka berkelahi. Suasana menjadi semakin tak terkendali karena Aldo berusaha melawan. Namun dasarnya memang Ronin lebih kuat, pemuda itu mampu membuat Aldo tak mampu lagi melawan.

__ADS_1


“Ronin stop!” Hanna melingkarkan tangannya di pinggang Ronin, menghalanginya. 


Akhirnya, setelah berusaha ditenangkan, Aldo dibawa ke tempat yang aman untuk diobati. Begitu juga dengan Jun, perlu diperiksa lebih lanjut. May juga Felline menemani Jun untuk diperiksa. Sementara Ken, kini menghampiri Hanna dengan Ronin.


“Kelompok Kak Aldo, dengan kelompok Kak Hanna didiskualifikasi.” Rachel mengumumkan.


“Lah kenapa kelompok kita juga? Kan dia yang bikin masalah!” Hanna sewot.


“Iya kak, tapi seharusnya Kak Ronin juga nggak ikut menambah masalah, apalagi sampai separah itu.”


“Lah gimana nggak emosi? Itu temen gue dibikin sampe segitunya masak diem aja? Kalau kakinya kenapa-kenapa memangnya mau tanggung jawab? Emang kalau temen kalian digituin, kalian mau diem aja, hah?” Hanna masih memprotes. Ronin tertegun memperhatikan Hanna yang membelanya. Gadis itu memang terlihat anggun, tapi bisa menjadi sangat tegas dan galak jika merasa memang benar. Benar-benar tidak terlihat terintimidasi. 


“Tapi tetap saja kak, Kak Ronin juga melanggar peraturan.”


“Oke, terserah mau didiskualifikasi, toh kita juga nggak ngejar juara, cuma mau meramaikan.” Ken menengahi, pemuda itu memberi kode pada Hanna untuk berhenti. “Tapi dia dan kelompoknya harus mendapat hukuman. Terutama dia, karena yang bikin masalah pertama kali. Kalau nggak, aku bawa ini ke komite.” Ken menunjuk kelompok Aldo yang terlihat kebingungan. “Aku tinggal dulu, mau lihat kondisi Jun gimana. Ayo, Han.”


Mereka menuju ke tempat dimana Jun dirawat. Pemuda itu sudah agak lebih tenang meskipun masih terlihat kesakitan.


“Gimana?” tanya Ken pada petugas yang merawat Jun.


“Sudah kami berikan pertolongan pertama, tapi tetap harus ke rumah sakit, takut ada masalah dengan tulangnya, jadi sudah kami hubungi ambulans, sebentar lagi datang.”


Bersamaan dengan itu, bunyi sirine ambulance mulai terdengar. Para petugas segera bersiap membawa Jun masuk ke dalam mobil, diikuti dengan May yang ikut masuk.


“Sayang, kamu temenin May ya, aku mau buat laporan dulu,” kata Ken pada Felline membuat gadis itu mengangguk lalu mengikuti May masuk. Kini Ken beralih menghadap Hanna. “Lo obati dia dulu aja, nanti nyusul. Nanti gue juga nyusul.”


Hanna mengangguk, gadis itu menarik Ronin menjauh dari kerumunan, tak peduli seluruh pasang mata kini menatapnya. Mereka masuk ke dalam kelas tempat mereka tidur semalam. Hanna meraih tasnya, mengambil pouchnya yang biasa. Ronin hanya menatapnya saat gadis itu perlahan mengobati lukanya.


“Lo nggak papa?” tanya Hanna setelah sekian lama tak ada suara. 

__ADS_1


“Gue….” Ronin mengalihkan pandangan. Pemuda itu jadi menerawang jauh, mengingat sesuatu. “Aldo itu, anak mantan tunangan papa.”


Berhenti sejenak. Hanna menatap Ronin tak menyangka. Jadi selama ini mereka punya hubungan tak biasa?


“Mamanya Aldo seharusnya menikah sama papa. Tapi papa mencintai mama, jadi lebih memilih meninggalkan keluarganya demi menikahi mama. Sampai akhirnya papa meninggal karena kecelakaan. Mama nggak punya siapa-siapa saat itu. Mama yang memang dari awal hidup sendiri, lalu menikah dengan papa yang meninggalkan keluarga. Jadilah mama yang benar-benar sebatang kara sambil hamil gue.” Ronin menghela napas. Memberi jarak pada ceritanya. “Lalu suatu kali, keluarga Aldo ketemu lagi sama mama yang sudah punya gue, disitulah semuanya dimulai. Gosip-gosip aneh mulai muncul. Gue sama Aldo dari kecil satu sekolah, dan semua yang ada di sekolah nyinyirin gue. Aldo dan mamanya sama aja, semuanya ngomong yang aneh-aneh. Gue emosi. Gue merasa terintimidasi. Sampai akhirnya gue mulai belajar jadi kuat, karena menurut gue itu satu-satunya cara melawan dia, membungkam mereka. Tapi nyatanya sampai sekarang pun itu nggak berhenti.” Ronin menatap gadis itu. “Kali ini gue marah banget, karena dia nggak cuma ganggu gue, bahkan berani ganggu elo, sekarang Jun.”


“Gue?”


Ronin mengangguk. “Berkali-kali dia ngomong yang aneh-aneh soal elo. Semenjak dia tahu gue meluk elo waktu itu. Dia bisa lihat kalau gue suka sama elo, dan mulai manfaatin keadaan. Maafin gue, Han, gara-gara gue, malah jadi nama elo yang rusak.”


Hanna terhenyak. Sebentar. Jadi beberapa kali Ronin berantem dengan Aldo, permasalahan bukan cuma mamanya? Tapi karena Hanna juga?


“Princess.” Ronin memegang kedua tangan gadis itu. “Lo marah sama gue?”


Hanna menatapnya. Gadis itu menggeleng perlahan. “Enggak, gue cuma takut.” Gadis itu malah jadi memeluk Ronin membuat pemuda itu jadi mengerjap bingung. “Permusuhan kalian nggak ada habisnya. Gue takut lo nantinya kenapa-kenapa.”


What? 


“Princess, gue nggak selemah it…..” Ronin menghentikan kalimatnya karena merasakan Hanna yang semakin mengeratkan pelukannya, seperti benar-benar khawatir. Ronin terhenyak. Pemuda itu melepaskan pelukannya, lalu menangkup pipi gadis itu dengan kedua tangannya. “Hei, lo nggak takut lo ikut kena masalah, tapi malah khawatir gue yang kenapa-kenapa?” tanyanya merasa aneh. 


“Gue kan bisa jaga diri.” Hanna menjawab dengan polosnya.


“Lah iya apalagi gue, Sayang.” Ronin bahkan ngegas saat mengatakan ini. Pemuda ini mencubit pipi Hanna. Gemas sekali. Ternyata begini rasanya diperhatikan orang yang kita sayang. 


Hanna mencebikkan bibirnya. Gadis itu menatap Ronin frustasi membuat pemuda itu memeluknya seraya menepuk pundaknya pelan, menenangkan. "Tenang aja, gue bakal jaga diri kok. Lo nggak usah khawatir. Ya?"


Hanna mengangguk sekilas. Kedua muda mudi itu berpelukan seraya saling menguatkan. 


__ADS_1


__ADS_2