Musuhku Kekasihku

Musuhku Kekasihku
Chapter 21


__ADS_3

Ronin menyeringai. "Lo yakin itu alasannya?" Pemuda itu menatap perut Hanna yang sedikit terekspos. Mengelus nya perlahan membuat Hanna harus berusaha keras menahan napas merasakannya. "Lo membiarkan bagian perut lo terekspos di depan gue loh," lanjutnya kembali menyeringai. Pemuda itu begitu menikmati ekspresi Hanna yang berusaha menahan rasa geli sekaligus nyaman yang Ronin sebabkan. Pemuda itu semakin tertantang untuk melanjutkan aksinya hingga ke balik seragam gadis itu. 


"Loh Hanna? Ronin? Kalian ngapain?"


Hanna hampir terlonjak mendengarnya. Gadis itu segera menjauh dari Ronin dengan pipi yang merah padam. Ronin juga tak jauh berbeda. Namun pemuda itu cepat menguasai diri. 


"Hanna sakit perut, Kak." lapornya pada Mela, gadis penjaga UKS di sekolahnya. 


"Hari pertama, Kak." Hanna menambahkan. 


Mela melihat Hanna sekilas. Membenarkan dalam hati menyadari Hanna yang terlihat agak pucat. Gadis itu lalu mengambil stetoskopnya, memeriksa Hanna sebentar. "Kamu mau obat?" tawarnya. Pasalnya, Hanna jarang sekali mau diberi obat saat kondisi seperti ini. 


"Nggak usah, Kak. Lagian ini juga sudah agak mendingan." Hanna tersenyum. 


Mela ikut tersenyum. Pandangannya lalu beralih pada botol air hangat yang masih bertengger di atas perut Hanna. Lalu kini beralih ke Ronin. "Terus kamu ngapain?"


"Nemenin dia," jawab Ronin terus terang. 


Mela mengerutkan keningnya sejenak. "Kalian beneran pacaran?" Entah kenapa, Mela jadi tertarik pada mereka. 


Ronin tertawa. "Kak Mela ngikutin gosip juga?" tanyanya sambil masih tertawa geli. Dirinya memang bisa dibilang agak dekat dengan penjaga UKS sekolahnya ini. Bayangkan, keseringan babak belur, sering masuk UKS, tentu mereka akrab. Apalagi pribadi Mela yang gampang akrab dengan siapa saja. 


Mela ikut tertawa. "Jadi, beneran pacaran?" tanyanya lagi mengabaikan pertanyaan Ronin. 


"Coba tanya dia Kak." Ronin menunjuk Hanna. "Gue sih mau-mau aja, tinggal dianya udah mau terima gue belum."


Dan seperti yang dapat diduga, muka Hanna langsung memerah mendengar pernyataan Ronin. Benar-benar menggemaskan. 


Mela tersenyum. Manggut-manggut sejenak. Mengerti bagaimana hubungan mereka dari interaksi keduanya. “Yaudah, Ronin masuk kelas gih, Hanna biar gue yang jagain.” usirnya sambil mendorong Ronin pelan.


Pemuda itu mengerucutkan bibirnya, memelas. “Ih Kak, gakpapa lah gue disini aja. Biasanya juga gue seharian disini nggak papa.” Ronin masih bertahan dengan ekspresinya yang seperti itu. 


Hanna terperangah menatapnya. Selama ini, pemuda itu selalu menunjukkan wajah garangnya. Dan kalaupun tidak, dia akan begitu lembut dan mengayomi Hanna. Terlihat sangat dewasa. Lalu mengapa sekarang dia terkesan manja pada Mela? Lalu apa itu tadi? Seharian disini? Ngapain?


“Ya kan biasanya lo yang sakit, sekarang Hanna. Jadi lo ke kelas aja. Hanna sama aku aja nggak papa kan?” Mela tersenyum pada Hanna. Gadis itu memang benar-benar keibuan dan menyenangkan. Beda sekali dengan Hanna. 

__ADS_1


“Kak, udah mending Kakak ke depan aja, santai. Hanna biar gue yang temenin. Ya? Atau ya anggap aja lah gue sakit juga. Nih gue disini nih.” Ronin beranjak. Duduk di ranjang sebelah ranjang yang ditempati Hanna. “Kepala gue pusing nih Kak, gue istirahat dulu ya.” Tak mempedulikan Mela yang berusaha mengusirnya, Ronin malah memejamkan matanya.


Mela menghela napas. “Aduh, ya udah lo boleh disini. Jangan coba macem-macem!” Gadis itu akhirnya mengalah. Pandangannya kembali teralihkan pada Hanna yang sedari tadi melihat interaksi mereka. “Hanna istirahat gih. Aku di depan ya, kalau butuh sesuatu panggil aja. Atau minta si Ronin yang ambilkan,” katanya sambil tersenyum manis.


Hanna mengangguk. “Terima kasih, Kak.” Dia ikut tersenyum. Gadis itu perlahan memejamkan matanya setelah memastikan Mela meninggalkan mereka berdua.


Belum sampai 5 menit. Gadis itu kembali membuka mata saat dirasakannya ada selembar selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dada. Gadis itu menatap Ronin yang memandangnya dengan begitu lembut. 


“Takut nanti ada yang lihat.” Ronin tersenyum. Pemuda itu mengusap rambut Hanna sebentar. Lalu mencium pipi gadis itu membuat Hanna menahan napasnya tak menduga hal ini. “Selamat istirahat, sayang,” bisiknya lalu kembali ke ranjangnya.


Dan menit menit selanjutnya diikuti oleh keheningan yang melingkupi mereka berdua. Tak ada yang bersuara. Keduanya masih sibuk menetralkan perasaan masing-masing yang tak karuan.


Hanna tak tau, bukan hanya detak jantungnya yang tak beraturan. Ronin pun merasakan hal yang sama.



Hanna membuka mata saat dirasakannya suasana tak setenang tadi. Gadis itu menatap sekeliling, mendapati Felline yang duduk di sampingnya sambil memainkan ponselnya. “Fel…” panggilnya.


“Hei, udah bangun? Udah baikan?” tanya Felline sambil tersenyum.


Hanna mengangguk singkat. Beralih menatap jam dinding yang berada di situ. Jam 11. Lama juga ia tertidur. Tapi bukankah seharusnya sudah masuk? Kenapa Felline disini?


“Mamanya Kak Mela meninggal dunia.” Felline menjelaskan. 


Hanna menahan napas mendengarnya. Bukankah tadi Mela masih disini? Kenapa cepat sekali kejadian berlalu?


“Kita pulang lebih awal. Sudah banyak yang kesana juga. Tapi kita nggak mungkin ninggalin kamu – ya meskipun ada Ronin. Jadi kita semua disini. Hanna nggak masalah kalau misal ke tempat Kak Mela dulu? Apa mau langsung pulang aja?”


Hanna menggeleng cepat. “Gue harus ikut kesana juga.” Mendadak ada sesak di dada gadis ini. Membayangkan ditinggalkan salah satu orang tua, apalagi di usia muda… tidak, Hanna tidak bisa membayangkan itu terjadi. Pasti sangat berat bagi Mela. 


“Kenapa meninggalnya?”


Felline menghela napas. Menahan sesak juga. “Serangan jantung, pingsan di kamar mandi. Lalu meninggal di tempat. Sedih banget pasti jadi Kak Mel, bahkan nggak bisa melihat untuk terakhir kali.”


Hening sejenak. Keduanya tengah merenung, terbawa suasana. Sampai akhirnya Felline kembali membuka suara. “Yaudah, Hanna mau sekarang? Apa istirahat dulu?”

__ADS_1


“Sekarang aja.” Hanna meraih handphonenya. “Gue kabarin papa dulu, biar nggak jemput gue nanti.”


“Loh, kamu bukannya biasa sama Ronin? Tumben dijemput papa kamu?”


Hanna kembali melirik Ronin. Pemuda itu juga tengah memperhatikannya. Mungkin lebih tepatnya pemuda itu berkali-kali melirik Hanna meskipun sambil mengobrol. Seakan Hanna akan menghilang jika ia tak memantau gadis itu dalam sedetik saja. “Papa ngelarang gue sama Ronin.”


Sejenak setelah mengirim pesan pada papanya, Hanna beranjak perlahan. “Ayo.” Gadis itu berjalan pelan diikuti Felline yang memandangnya iba. Mereka berdua keluar menuju area utama UKS tempat teman-temannya berkumpul. 


Mayleen yang sedari tadi duduk segera berdiri. Dipandanginya Hanna yang masih agak pucat. “Are you ok?” tanyanya pelan yang dibalas anggukan kecil oleh Hanna. May ikut mengangguk. “Yaudah, terus gimana jadinya? Ke Kak Mel? Lo nggak papa kalau kesana?” tanyanya lagi.


“Nggak papa. Maaf ya gaes, gara-gara gue kalian jadi nggak bisa langsung kesana.”


“Ya nggak papa lah. Nggak mungkin juga kita ninggalin lo.” Ken menyambar.


“Yaudah, yuk langsung aja.”


“Gue mau ke toilet dulu, kalian tunggu aja di parkiran.” Hanna tersenyum. Gadis itu meraih tasnya yang berada di atas meja. Sepertinya Felline yang membawakannya dari kelas. 


Keenam anak itu satu persatu keluar dari UKS. Ken tersenyum pada Felline. Mengusap kepala gadis itu sejenak lalu menggandeng tangannya, berjalan lebih dulu. 


Sementara May tampak sibuk mengetikkan sesuatu di handphonenya, berjalan perlahan diikuti oleh Jun di sampingnya. Kedua sahabat ini memang seperti perangko. Hanna merasa bodoh karena tak menyadarinya sedari awal.


Sementara Hanna berbelok ke lain arah, diikuti oleh Ronin di sebelahnya, membuat gadis itu mendongak menatapnya. 


“Gue temenin,” ujar Ronin singkat sambil tersenyum. Pemuda itu menyelipkan jarinya di antara jemari tangan Hanna. 


Hanna mengulum senyum. Tapi di satu sisi, dia bingung. Bagaimana menjelaskan pada pemuda ini nantinya? Apa dia akan kecewa? Hanna jadi pusing memikirkannya.



Suasana tampak ramai saat Hanna dan teman-temannya tiba di kediaman Mela. Beberapa guru dan murid juga masih ada disitu. Mela tampak sibuk, menyalami para tamu yang baru datang maupun yang pergi. Pemakaman baru saja selesai dilakukan sehingga keluarga Mela juga masih banyak yang berada disitu.


Hanna dan teman-temannya disambut dengan hangat oleh Mela dan keluarga. Mereka duduk rapi di ruang tamu gadis itu. Mela menemani mereka sebentar sembari menceritakan apa yang terjadi, juga mengungkapkan kesedihannya.


Tak lama, Mela beranjak, membiarkan mereka agar merasa nyaman. Gadis itu pun duduk sendiri, berusaha untuk tetap tegar di tengah musibah yang menimpanya. Ronin menghampirinya. Entah apa yang mereka bicarakan karena Hanna tak bisa mendengarkan dari posisinya. Hanya saja, mereka tampak akrab sekali. Tak ada teman Hanna yang seperti itu disini tapi kenapa Ronin melakukannya? Apa mereka memang seakrab itu?

__ADS_1


Hanna merasa, ada rasa sesak tak wajar yang ia rasakan karena melihat ini. Gadis ini merasa buruk karena tidak nyaman pada konteks dan situasi yang tidak tepat. Gadis ini diam saja sambil sesekali melirik ke arah mereka berdua.


"Kok mereka kelihatan akrab banget?" Felline berbisik di sebelah Hanna. Membuat gadis berpita merah itu kembali melirik mereka berdua. 


__ADS_2