
Perlahan, bibir kasar Ronin yang penuh luka, menyentuh bibir lembut Hanna yang merona. Gadis itu tak mampu bergerak saat Ronin benar-benar menciumnya dengan sangat lembut.
Seharusnya tak begini. Seharusnya dia menolak. Tapi respon tubuhnya berkata lain. Tangannya semakin menekuri punggung kekar pemuda yang setengah memeluknya, dengan tangan satunya menyusuri rambut pemuda itu. Seperti tak sinkron dengan otaknya.
Sementara Ronin, merasakan getaran hebat pada dirinya karena sentuhan-sentuhan Hanna, semakin menuntut lewat ciumannya. Tangannya menangkup pipi gadis itu, dengan tangan satunya yang bergerak bebas menyusuri perut Hanna yang ramping.
Hanna meremang. Memejamkan mata menikmati segala sentuhan yang Ronin berikan. Bibir mereka saling bertaut, memagut, menghisap dan menggigit perlahan. Ronin menggigit sudut bibir Hanna membuat gadis itu memekik pelan, memberikan kesempatan Ronin untuk mengakses lebih dalam rongga mulut gadis itu.
Hanna tak sanggup lagi. Tangannya menyentuh pundak pemuda itu, memberi tanda untuk mundur dengan menarik tubuhnya.
Tapi yang dilakukan Ronin justru sebaliknya. Dirinya memang melepaskan bibir merah Hanna. Tapi kini beralih menyusuri leher jenjang Hanna yang terbuka aksesnya. Hanna tak mampu berpikir lagi saat bibir Ronin mengendus dan menyesap leher Hanna seperti sebuah candu.
“Ronin..” bisik Hanna tepat di telinga pemuda ini. Terdengar sangat sensual sekaligus menggelitik bagi Ronin.
“Ya sayang…” bisik Ronin semakin meremang. Dirinya ingin sekali segera meloloskan baju pasien Hanna, menyusuri, menyesap, mengendus dan mengulum inci demi inci tubuh gadis ini. Tapi tidak. Sisa-sisa kesadarannya menghentikannya. Dirinya tak bisa membiarkan dirinya larut dalam hawa nafsu yang akan menghancurkan gadis yang mulai disayanginya ini. Dia harus berhenti sekarang, karena kalau tidak, tidak ada yang akan mampu menghentikannya.
Ronin menarik dirinya, mengelus rambut, lalu beralih ke pipi Hanna. Memandangi gadis itu yang kini tengah memandangnya penuh hasrat. Ini yang Ronin khawatirkan. Gadis itu juga menginginkannya. Entah bagaimana jadinya kalau dirinya tak segera menghentikan kegiatan mereka.
}
Ronin mengecup kening gadis itu dengan sayang. Lalu menempelkan kening dan hidungnya dengan kening dan hidung milik Hanna. “Cepat sembuh ya,” katanya seraya tersenyum. Lalu mengecup bibir gadis itu perlahan. Hanya sebuah kecupan. Ia kini merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Menghirup wangi rambut Hanna yang begitu menenangkan.
Sementara Hanna, hanya terdiam menerima segala perlakuan pemuda ini. Dia tak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Tak juga mengerti mengapa mereka menjadi seperti ini. Tapi yang dia tahu, kini dia tak mungkin memandang pemuda ini dengan biasa lagi. Pemuda ini juga tak akan memperlakukannya seperti sebelum-sebelumnya lagi. Entah bagaimana hubungan mereka selanjutnya, Hanna menantikannya.
—
Hanna masih sibuk menelusuri halaman demi halaman buku yang sedari tadi dibacanya. Sambil sesekali melirik ke arah Ronin yang masih tertidur di sofa. Sepertinya pemuda itu kelelahan. Sedari tadi pemuda itu tertidur hingga sekarang saat mentari sudah berada di atas kepala. Sebenarnya tadi Lisa, mama Hanna juga sempat kemari, tapi karena tak tega, dan karena melihat putrinya terlihat nyaman-nyaman saja meskipun ada pemuda ini, jadi ia membiarkan pemuda ini untuk menemani putrinya.
Mungkin beda halnya kalau papanya yang kesini. Hanna sudah membayangkan drama apa lagi yang akan dilaluinya kalau papanya bertemu dengan Ronin lagi.
__ADS_1
Haduh Hanna merasa pusing. Sekarang malah Hanna menjalin hubungan yang entah apa itu namanya bersama dengan pemuda ini.
Eh? Memang mereka berhubungan?
“Hanna chann,” Seorang gadis cantik berkulit putih yang memanggil Hanna dengan aksen Jepang yang imut, membuka pintu dan masuk ke ruang tempat Hanna dirawat, membuat perhatian Hanna teralihkan. Gadis itu tersenyum cerah, namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat pemuda yang duduk di sofa, memandangnya kosong seperti orang yang baru banget bangun tidur. Felline menoleh ke arah Hanna, lalu menoleh ke Ronin lagi. Memandangi mereka bergantian hingga berkali-kali.
“Aku ganggu kah?” tanyanya masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ronin tidak seberapa peduli, malah sibuk merenggangkan tangannya, seperti sudah sewajarnya dia di sini.
“Nggak, udah sini masuk.” Hanna tersenyum ramah. “Lo sendirian?” tanyanya saat gadis barbie itu sudah di hadapannya.
“Iya, Ken nanti nyusul, masih rapat OSIS katanya,” jawab Felline seraya mengganti bunga di dalam vas bunga dekat jendela, dengan bunga yang dibawanya, juga menaruh cemilan kesukaan Hanna.
“Lo bawa banyak banget deh,” Hanna mengomentari bawaan Felline yang kelewat banyak. Selain bunga tadi juga ada martabak telur, martabak manis, cake, juga es krim. Semuanya kesukaan Hanna. Hmm.. mencurigakan.
“Ken bilang, kamu suka ngemil,” jawab Felline sambil memasukkan es krim ke dalam kulkas. Lalu beralih menata cemilan-cemilan itu di atas piring-piring yang tersedia di pantry. Untungnya ruangan Hanna termasuk ruang VVIP jadi semuanya tersedia.
Pemuda itu tanpa izin mencomot satu potong martabak telur yang sudah tersaji, melahapnya dalam sekali makan. Kini beralih ke satu persatu makanan lainnya yang tersedia, melahapnya satu persatu.
Hanna bengong melihat ini. “Laper banget kayaknya?” sindirnya.
Ronin mengangguk, tak malu mengakuinya. “Kelamaan tidur jadi laper,” jawabnya cuek. Kini beralih mengambil gelas, lalu membuka kulkas untuk mengambil es krim yang baru saja dimasukkan Felline. Mengambilnya sedikit. Kali ini bukan buat dia, karena pemuda ini memberikan gelas itu untuk Hanna. “Buat lo.” katanya seraya menyodorkan gelas. Membuat Hanna juga Felline jadi saling pandang.
Pemuda itu masih tak berhenti. Membuka kulkas lagi lalu mengambil susu kotak yang tersedia. Kali ini memberikannya pada Felline. “Makasih buat makanannya, sorry gue laper, nggak sempet ijin,” sodornya. Mau tak mau Felline menerimanya.
Ronin kini melirik jam dinding sekilas. Mengambil tas dan jaketnya. Menghampiri Hanna kembali yang masih kebingungan dengan tingkahnya. “Gue balik dulu, mau jemput mama pulang kerja,” pamitnya. Hanna pikir hanya ini, sehingga gadis itu pun mengangguk. Tapi ternyata tak berhenti sampai disini. Pemuda itu mendekat lalu mengacak rambut Hanna sekilas, kemudian mengelus pipi Hanna seraya tersenyum manis, lalu pergi sebelum gadis itu sempat bereaksi.
Hanna terpaku. Sepertinya sebentar lagi dia harus menjelaskan sesuatu pada gadis yang baru-baru ini menjadi sahabatnya ini.
—
__ADS_1
Felline berdehem melihat gadis di depannya yang tampak salah tingkah. Gadis cantik yang memakai baju pasien ini tampak terlalu fokus menyemili es krim yang ada di tangannya membuat Felline menahan senyum geli.
"Hanna," panggilnya membuat Hanna mendongak. "Nggak ada yang pengen kamu ceritain ke aku?" tanyanya kalem, kini menikmati susu kotak pemberian Ronin.
Hanna mengerjap, berpikir sesaat. "Oh, emm gue baik-baik aja?" jawabnya yang entah kenapa lebih terdengar seperti pertanyaan.
Felline tersenyum, merapikan tempat duduknya di samping Hanna. "Kalau tentang… Ronin?"
"Emang kenapa?"
"I see… something?" Jeda sejenak. "Tapi kalau kamu merasa nggak pengen cerita nggak papa kok, santai aja. Cumaaa kalau misalnya memang butuh teman cerita, aku siap kapanpun." Gadis itu tidak memaksa sama sekali, tapi justru mengundang Hanna untuk bercerita.
Hanna menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. Bagi kebanyakan gadis pada umumnya, mungkin sudah biasa dan normal bercerita tentang hal-hal seperti ini pada orang terdekat. Tapi sebelumnya Hanna merasa tak punya teman dekat, sehingga tidak pernah menceritakan hal-hal seperti ini. Tapi entah kenapa kali ini Felline membuatnya nyaman dan membuka diri.
"Well, sebenarnya, tadi dia sempat ngaku suka sama gue." Akhirnya at the first time, Hanna membuka obrolan semacam ini pada orang lain.
Felline mendengarkan dengan seksama, entah seperti tidak merasa aneh dengan apa yang Hanna katakan. "Ok, I see, terus?"
"Lo percaya?" Hanna bertanya karena melihat gadis itu tidak merasa kaget atau apapun, seperti sudah menduga hal ini.
"Percaya apa?"
"Seorang Ronin suka sama gue, really?" Hanna masih berusaha menyangkal.
Felline tersenyum. Dilihatnya gadis di depannya yang kini jadi sahabatnya ini sedang tidak percaya diri, seperti bukan Hanna yang selalu dibicarakan Ken. "Hanna, kamu menyelamatkan dia dua kali. Seorang Hanna tidak pandang bulu dan selalu berusaha melindungi orang-orang yang ada disekitarnya. Apa alasan dia nggak suka sama kamu?" Felline menjelaskan panjang lebar. "Dan yaa secara fisik, you are awesome, nggak ada yang kurang sama sekali. Justru aneh menurut aku kalau dia nggak suka sama kamu, Hanna." Gadis itu tersenyum. Merasakan sisi lain dari diri Hanna yang baru dia tunjukkan.
"Bukan suka yang seperti itu Felline maksud gue."
"I know. I think he loves you. Ya kan? Tapi, sebelum berbicara tentang perasaan orang lain. Kenapa kita nggak validasi perasaan kamu dulu? Apa yang kamu rasakan, Hanna?"
__ADS_1